Ketika Politisi Islam Nikmati Ayat-ayat Cinta
- Tontonan Alternatif di Tengah Film Hedonisti
- Relijius dan Berdialog Pakai Bahasa Arab
RUANG studio 2 Bioskop 21 Plaza Senayan Jakarta, pukul 20.00 WIB, Senin 10 Maret 2008 penuh sesak. Bukan penonton biasa yang datang, melainkan politisi yang selama ini lebih banyak berkutat dengan relijiusitas.
Langkah kaki-kaki mereka menuju Bioskop 21 gara-gara film Ayat-ayat Cinta yang beberapa hari membius banyak orang. Tak dinyana, para politisi dan pemuda dalam pergerakan Islam ikut- ikutan ‘terhipnosis.’
Ada Ketua MPR Hidayat Nurwahid. Ada Wakil Ketua MPR, AM Fatwa. Ada anggota DPR dari FPKS Fahri Hamzah bersama anggota legislatif dari PKS lainnya.
Ketua Umum Partai Matahari Bangsa (PMB), Imam Addaruquthni dan Sekjennya Ahmad Rofiq juga tak mau ketinggalan. Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Izzul Muslimim bersama jajarannya pun turut berdesakan.
Wanita-wanita berjilbab yang memenuhi ruangan menggenapi tontonan istimewa itu. Suasana menjadi meriah, apalagi bintang-bintang Ayat-ayat Cinta, seperti Rianti Cartwight, Zaskia Mecca, dan Carissa Putri, secara khusus hadir.
Seperti biasa dalam forum politisi, celetukan-celetukan dan guyonan-guyonan segar mengiringi acara Nonton Bareng Ayat-Ayat Cinta ini. Suasana yang seharusnya sunyi senyap, kadang-kadang berisik.
Meski begitu tak mengurangi kekhusyukan penonton saat menyaksikan film yang diilhami dari novel karya Habiburrahman El Shirazy itu.
“Ini bukan ayat-ayat Cinta, tapi ayat-ayat poligami,” celetuk penonton saat film memperlihatkan adegan Fahri bin Abdullah terpaksa harus berpoligami, menikahi perempuan bernama Maria. Celetukan ini pun membuat penonton terbahak. Jangan dianggap serius!
Sejak film akan dimulai, suasana-suasana yang tak serius memang mencuat. Dengar saja celetukan Imam Addaruquthni. “Inilah politisi-politisi yang mulai ngepop,” kata Imam, mantan Anggota DPR dari PAN saat bersalaman dengan Hidayat Nurwahid.
Imam yang lulusan pesantren juga tampak bercakap dengan Hidayat dalam bahasa Arab. “Isi hati kita ternyata sama dan kita ditakdirkan bertemu di sini. Padahal, kita tidak janjian,” ujar Izzul saat menghampiri Hidayat.
Hidayat yang alumnus Universitas Madinah pun menimpali, “Kan, dari dulu hati kita sama.” Meski banyak celetukan, namun para penonton seolah puas dengan film tersebut.
“Ya, bagus. Tapi, kisah terakhir dari film ini seakan menyederhanakan masalah,” kritik Rofiq, mantan Ketua Umum DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yang saat ini terjun ke dunia politik. Pemutaran film selesai pukul 22.15.
Hidayat memuji pembuatan film ini. Apalagi, banyak menggunakan dialog dalam bahasa Arab, kental nuansa relijius. “Setidaknya, film Ayat-ayat Cinta ini bisa menjadi tontonan alternatif di tengah tontonan-tontonan dan film-film yang hedonistis,” tutur Hidayat. (dtc/* )


Maret 11, 2008 pada 3:28 am
AAC….no comment….lho, ada juga foto Mr. Ogi dan Mr. Mahfudz kalsel??
Maret 11, 2008 pada 3:38 am
ya semoga aja film2 model kayak gini makin banyak bermunculan and film berbau porno and horor semkain tersingkir