Rombongan Presiden RI Serba Hitam di Iran
- Simbol RI tak Berada di Ketiak Amerika
- Sibuk Sulap Penampilan Muslim di Pesawat
KEPALA Negara RI, Susilo Bambang Yudhoyono tampil beda saat mengunjungi Iran, Senin 10 Maret 2008. Selain menegaskan simbol RI tak berada di ketikak Amerika Serikat, kunjungan ini terasa istimewa bagi rombongan wanita.
Mengapa bagi kaum wanita? Ya, karena adat kebiasaan di Iran yang mengharuskan kaum Hawa mengenakan busana muslim berwarna gelap menutupi seluruh badan, kecuali wajah.
Satu jam sebelum pesawat kepresidenan Airbus 330-300 mendarat di Bandara Internasional Mehrabad, Teheran, Iran, anggota rombongan wanita sibuk membongkar tas masing-masing. Mereka mengeluarkan baju panjang dan kerudung hitam.
Nah, lo! Suasana pesawat kepresidenan pun riuh ketika sesama anggota rombongan saling membantu rekannya mengenakan kerudung, mengingat hampir sebagian besar wanita yang turut dalam rombongan SBY tak mengenakan busana muslim.
Para staf kepresidenan, termasuk para ajudan dan wartawati tidak terkecuali harus mematuhi anjuran itu. Di saat para wanita dsbuk melilitkan kain untuk menutup kepalanya, sejumlah staf kepresidenan melenggang santai setelah mengemasi barang bawaannya.
Usut punya usut, ternyata mereka berpikir lebih praktis membawa kerudung siap pakai. Kerudung yang sudah dijahit seluruh sisinya, sehingga tinggal dipakai seperti memakai topi.
Rampung ‘menyulap diri’ di antaranya mereka sibuk berfoto-ria, terutama mereka yang non-Muslim sehingga pengalaman pertama kalinya mengenakan kerudung.
Sudah rahasia umum, rangkaian kegiatan di Iran senantiasa mewajibkan kaum wanita mengenakan baju abaya atau rufus . Sedangkan bagi pria mengenakan kemeja. Mereka yang tak terbiasa, tentulah merepotkan.
Pejabat KBRI Teheran juga menganjurkan agar rombongan tak merokok di tempat umum dan mengucapkan kata salam sebagai pengganti hai atau hallo. Di Iran juga tabu bagi wanita mendendangkan lagu di depan umum atau bersalaman antara pria dan wanita.
Kehadiran SBY di Iran juga memberi makna simbolik dari resolusi PBB untuk ketiga kalinya yang memberi sanksi Iran. Belum sepekan PBB menjatuhkan sanksi. Iran dianggap membangkang dalam pengembangan teknologi nuklir.
Amerika Serikat dan sekutunya begitu keras menghadapi Iran, karena dilatari prasangka buruk dari karya nuklir negeri tentangga Irak ini. Presiden Iran Ahmadinejad telah sekuat tenaga meyakinkan, pengembangan nuklir Iran bertujuan untuk kemaslahatan umat.
Tidak seperti kecurigaan Barat, Iran sedang mengembangkan senjata pamungkas dengan memanfaatkan energi nuklir. Namun, Amerika bergeming. Indonesia kali ini menyatakan abstain dalam voting sidang PBB, awal Maret 2008.
“Kunjungan itu bisa bermakna Indonesia tak mau dicap negara berpenduduk mayoritas Islam terbesar di dunia yang berada di bawah kendali AS. Kita harus ubah citra itu. Kita tidak di ketiak AS,” tegas Dedy Djamaluddin Malik dari Fraksi Partai Amanat Nasiona DPR.
Dedy menilai kunjungan SBY itu sekaligus bisa memulihkan kembali hubungan harmonis RI – Iran, karena sikap Indonesia yang mendukung resolusi sebelumnya. Pasca dukungan pemerintah Indonesia saat itu, SBY sempat bolak-balik digugat DPR melalui hak interpelasi.
takut ledakan nuklir nih… 
Anggota Komisi I DPR RI, Andreas H Pareira memberi apresiasi sama atas `keberanian` SBY mengunjungi Iran selama 10-12 Maret 2008. Kunjungan SBY bisa diartikan balasan atas kunjungan Ahmadinejad 2007 lalu.
“Tapi, mungkin juga dimuati pesan AS, mengingat beberapa waktu lalu Menteri Pertahanan AS, Robert Gates menemui SBY di Jakarta. Bisa saja kunjungan ke sana dalam rangka membujuk Iran, agar lebih lunak dan mematuhi resolusi PBB mengenai pusat reaktor tenaga nuklirnya,” tuturnya.
Dari sudut kepentingan Indonesia, memang perlu mempererat hubungan dengan Iran. “Karena negara itu di bawah Presiden Ahmadinejad kelihatan mengarah menjadi kekuatan utama di Timur Tengah,” kata Andreas. (ant/*)


