Ultah dan Kematian

  • Dongeng Larut Malam di Kantor
  • Kontemplasi dan Makna Diri

 ahmadi

 dimeriahkan atau disyukuri…?  

CAK, temen-temen mau cari talue (telor) busuk! Begitu kata Doni sambil menata lay out halaman utama media di tempat kami bekerja sehari-hari. Saat itu jarum jam, baru saja meninggalkan hari Rabu 12 Maret 2008.

Semula saya abaikan begitu saja, tidak saya tanggapi, karena saya menganggap sekedar canda untuk mengusir kepenatan kerja. Namun, Doni kembali mengulang pemberitahuannya, tanpa menatap saya, lazimnya kalau ngobrol dengan saya.

Sejenak saya terdiam. Apa maksud di balik kata-kata teman yang biasanya aku panggil ustadz itu. “Kata temen-temen, sampean mau dilempari talue busuk!” celetuk Doni di tengah kebingungan saya. “Ohh..” begitu jawabku seraya tersenyum.

Saya baru menyadari, jika saya baru menambah umur, tepatnya 42 tahun. Atau dua tahun lebih tua dibanding usia Nabi Besar Muhammad SAW ketika diangkat sebagai Rasulullah. Saya pun segera beristighfar dan memanjatkan puji syukur ke hadirat Ilahi.

“Alhamdulillah…!” kataku. “Lho, nggak potong kue? Ini harus makan besar, masak cuma Alhamdulillah!?” begitu sahut Doni. “Lalu, apa yang harus saya lakukan?” tanyaku. Saya pun sampaikan, selama 42 tahun usia saya itu, belum pernah merayakan ulang tahun, seperti pesta- pesta ala Barat.

“Biasanya saya cuma merenung semalam, terus berdoa ala kadarnya lah..” begitu penjelasanku. “Mau, tahun depan gak ada ulang tahu lagi?” sergah Al Hafiz, sobat kerjaku yang sehari-hari mengurus di bagian produksi.

“Maksudnya mati? Nggak tahu lah, soal dipanggil Allah itu, bukan hakku untuk menawar- nawar.. Bukankah itu hak prerogatif Gusti Allah?” jawabku sambil bercanda. Rekan-rekan saya pun tersenyum, tanpa saya ketahui maknanya.

Setelah obrolan ringan itu, saya teringat kata-kata ustadz teman saya di Surabaya. Ketika itu ada pejabat pemerintah Surabaya yang berulang-tahun, dan dilansir beberapa media massa. Dalam obrolan tengah malam di Hotel Narita Surabaya, ustadz teman saya itu mengatakan, “Banyak orang keliru memahami ulang tahun..” katanya.

“Ulang tahun ini, bukan tahun kelahiran kita diulangi. Tapi, kita tambah umur… Artinya, usia kita makin pendek. Jadi, sepatutnya kita makin mendekatkan diri kepada Allah. Bukan, pesta pora, apalagi sampai menghabiskan uang ratusan juta..” tutur ustadz.

     apa rasa hidupku…?        me

Sejenak aku terdiam, mencoba memahami kata-kata bijak ustadz, sohib saya itu. “Mending uang itu diberikan anak-anak yatim piatu atau fakir miskin. Kalau ikhlas, itu sudah jaminan ketika setiap saat kita dipanggil Allah,” jelas utsdaz.

Saya pun manggut-manggut saja. Dalam benakku, biasalah ustadz bicara begitu, karena memang tugasnya dakwah. Jadi, semula tak begitu aku masukkan ati. Tiba-tiba, ustadz sohib saya itu mengejutkan saya. “Sudah siap mati ta, sampean?” kata ustadz dengan tekanan nada agak berat.

Sebagai orang awam, tentu saja saya terkesiap. Sejenak saya terdiam, lalu saya katakan belum. “Mengapa?” kejar ustadz sohib saya ini. “Saya merasa banyak kekhilafan dan kesalahan, baik disengaja atau tidak sengaja. Saya merasa belum berbuat baik apapun kepada semesta alam ini, Gus,” kata saya.

“Lalu, kenapa sampean masih takut mati?” Saya makin kebingungan. Pikir saya telah menjawab dengan sepenuh hati, bahwa saya banyak membuat sikap dan perbuatan yang sangat mungkin tidak sesuai bahkan menyimpangi ajaran agama saya.

Tapi si ustdaz tegas menyampaikan. Soal kematian mutlak hak Allah SWT, sehingga siapapun tidak bisa menolaknya ketika malaikat maut menjemput. “Itulah urgensi kita beristighfar setiap saat, dan memperbaiki hati dan pikiran, sikap dan perbuatan kita. Tapi, itu tak boleh hanya di dalam niatan, wajib diamalkan dengan ikhlas,” jelasnya.

Ketakutan akan kematian, kata ustadz, menjadi indikator diri kita belum dekat dengan Allah. Bukan juga artinya kita ‘berani’ kepada Allah, sehingga menantang kematian. “Tapi kita sadar lahir-bathin, jika kematian itu mutlak hak Allah. Allah Maha Tahu dan Maha Perencana atas apa yang diciptakan di dunia maupun akhirat,” tegas ustadz.

Pintu taubat senantiasa terbuka setiap saat, tapi manusia cenderung mengabaikannya. Selalu saja ada alasan klasik. “Ah, … aku kan masih mudah, nantilah soal taubat. Mumpung masih muda, hura-hura dulu. Nanti kalau tua, terlambat. Nah, saat tua nantilah waktu taubat yang tepat,” begitu yang sering aku dengar dari kawan atau kolega.

Repotnya, dasar pemikiran ini berpijak pada pretensi diri yang notabene sedikitpun tak memiliki otoritas dalam menentukan hidup-matinya seseorang. Ya, itu tadi. Hidup-mati itu hak mutlak Allah. Inilah kemudian yang menebalkan ketakutan seseorang akan kematian. Tak heran, jika terjadi bencana alam atau musibah, seringkali orang menangis sejadi-jadinya, karena takut mati.

“Ini tidak akan terjadi, jika kita dekat Allah. Oleh karena apa? Tiap saat pun kita menyadari betapa Allah Maha Kasih sama kita, cuma kita saja yang sering melupakan bahkan mengabaikannya…,” tutur ustdaz. “Apa, buktinya yang paling gampang kita temukan dalam hidup sehari-hari?” kata ustadz.

“Kita hampir tak pernah mensyukuri karunia yang diberikan Allah. Sebaliknya, kita sering menuntut bahkan mau mengatur Tuhan Pencipta kita,” tegasnya. Saya benar-benar terpaku, uraian demi uraian sohib saya itu begitu nyata dalam kehidupanku dan mungkin orang lain di dunia ini.

“Berapakali sampean panjatkan syukur dalam sepekan, setiap sampean bangun tidur?” tanya ustadz sambil mengulumkan bibirnya. Saya pun katakan, bukan pekan tapi mungkin bulan atau tahunan, saya mengalpakan syukur saat bangun tidur.

Kata Alhamdulillah, memang cuma satu kata yang teramat pendek. Tetapi betapa luar biasanya dihayati dan diamalkan, sehingga mampu menjadi kekuatan dahsyat dalam diri kita.

Kekuatan mencintai Allah, malaikat, rasul dan nabi, sesama manusia, binatang, tanaman, bebatuan maupun apa yang isi alam semesta raya. “Itulah pintu penting bagi setiap orang untuk mengenal dan mencitai Allah. Jika ini terus kita tingkatkan, kualitas hidup kita terasa indah, dan Isnya Allah mati kapanpun indah.” Begitu terang ati yang disampaikan ustadz, sohib saya. (*)

4 Tanggapan ke “Ultah dan Kematian”

  1. wa wa wa wa banyak yang tersirat dan tersirat nih cak :-) ….

  2. hem… banyak pelajaran yang bisa di ambil…. baru cak mengingatkan kalau selama ini hanya menuntut dan merasa kurang, tidak mensyukuri nikmat yang telah diberikan…

  3. blognya oke cak :-)

  4. hem… banyak pelajaran yang bisa di ambil…. baru cak mengingatkan kalau selama ini hanya menuntut dan merasa kurang, tidak mensyukuri nikmat yang telah diberikan…

Tinggalkan Balasan