Polisi Memerkosa Tahanan Hamil di Sel
- Ironi Pengabdian Polri di Tengah Perubahan
- Matinya Kecerdasan Emosional & Spiritual
perempuan lahirkan calon polisi, bukan… ?
Siapa sangka ada polisi kebablasan mengumbar hawa nafsu di tempat kerja sehari-hari. Tapi, itulah kenyataan yang dilakukan Briptu Sp (26). Polisi jaga Polres Semarang Selatan itu membuat heboh negeri, gara-gara menodai tahanan hamil.
MARKAS Kepolisian Resort (Polres) Semarang Selatan, Senin 17 Maret 2008, tak seperti hari-hari biasanya. Segenap anggota yang tampil tegas dan meyakinkan, bak kurang darah. Bahkan kurang percaya diri saat melayani masyarakat yang diayomi.
Biang perubahan suasana itu, terbongkarnya ulah Briptu Sp yang diduga telah memaksa Sr (26) berhubungan intim, Jumat 9 Maret 2008 dinihari. Aib ini semula terbungkus rapat, sebelum rekan sesama tahanan korban menceritakan kisah getir itu.
Apalagi, kejadiannya di tahanan. Korban Sr yang tercatat sebagai warga Susukan, Kabupaten Semarang, semula membisu. Lama-lama ia tak mampu lagi menahan gejolak hatinya. Sikap dan perilakunya berubah. Sr yang sempat syok, mengalami depresi.
Dari situlah penyidik penasaran. Dua dari tiga tahanan perempuan di Polres, akhirnya buka mulut kepada petugas piket. Dalam kesaksiannya, Sr diperkosa Briptu Sp sekitar pukul 03.30 WIB.
Dinihari itu, Briptu Sp memerintahkan beberapa tahanan pindah ruangan sementara, kecuali Sr. Briptu Sp kemudian masuk untuk melampiaskan nafsunya. Semula petugas piket tak begitu saja percaya, sehingga langsung ditanyakan Sr.
Betapa terkejutnya ketika Sr menganggukan kepala, tanda kebenaran terjadinya kekerasan seksual dalam Mapolres. Saat hendak diintimi, Sr yang hamil muda sempat meronta. Tapi, apa daya, tenaga Briptu Sp lebih kuat. Karuan saja, segenap warga Mapolres heboh. Teman-teman Sp terperangah, sebelum mengusut kasus asusila itu.
Di tahanan Polres Semarang Selatan, terdapat beberapa tahanan. Tiga di antaranya perempuan, termasuk Sr. Korban sendiri ditahan karena tindak penganiayaan terhadap Asyiah (40) di kantor Sastro (suami Asyiah), Jl Perintis Kemerdekaan, Pudak Payung, Semarang.
Sr merupakan kekasih gelap Sastro. Hubungan gelap Sr-Sastro telah berlangsung lama. Meski Sastro sudah berisitri, Sr tak peduli. Bahkan, konon didasari cinta sejati, hingga Sr hamil muda. Itu sebabnya, Sr sering datang ke kantor Sastro.
Nah, suatu ketika Asyiah datang di kantor suaminya. Tak tahunya, Sr sedang bercengkerama dengan Satro. Kontan Asyiah naik pitam dan mendamprat Sr yang diyakini perempuan idaman lain suaminya.
Merasa terhina, Sr buru-buru mengambil kaleng cat dan memukulkan pada kepala Asyiah berulang kali. Asyiah pun tak berdaya. Kejadian itulah yang mengantar Sr ke tahanan Mapolres Semarang Selatan, 23 Januari 2008 lalu.
Runyamnya, setelah beberapa hari menjalani penahanan, Sr giliran jadi korban. Bukan penganiayaan, tapi pemerkosaan oleh polisi jaga. Sr yang kasmaran terhadap Sastro, tak bisa menerima perlakuan Briptu Sp sehingga mengalami depresi.
Penyidik telah memeriksakan kondisi kejiwaan perempuan itu, namun belum juga diketahui hasilnya, trauma atau tidak. “Hasil pemeriksaan belum keluar. Dia masih ditahan karena hingga kini dia berstatus tahanan,” tutur Kabid Humas Polda Jateng, AKBP Syahroni.
Semula ulah Briptu Sp ditengarai akibat mabuk alkohol atau Narkoba, mengingat peristiwa itu belum pernah terjadi di negeri ini alias langka. Namun, setelah diperiksa secara laboratoris, hasilnya nihil.
Memerkosa tahanan bagi Sr, bukanlah tindak kejahatan pertama. Polisi yang sehari-hari bertugas di bagian Samapta ini, pernah ditahan karena memukuli orangtuanya tanpa alasan. Dia juga sering bolos. Meski pernah menghirup pengapnya jeruji besi, Briptu Sp tak jera juga.
“Tindakan tegas harus dikenakan penegak hukum itu. Sebab seorang tahanan menjadi tanggungan polisi, terlebih para tahanan wanita, seharusnya mendapatkan perlindungan,” tegas Direktur LBH-APIK, Estu Rakhmi Fanani.
Estu menilai ulah oknum polisi tak bisa ditolerir. Polisi seharusnya bertugas melindungi, bukannya jadi pelaku kejahatan. “Dia telah menyalahgunakan kewenangannya. Dan, ini mematikan harkat dan martabat kaum perempuan,” tegas Estu.
Anggota Kepolisian Nasional (Kompolnas), Novel Ali pun menilai kasus ini langka, dan membuktikan masih adanya persoalan mental di tubuh Polri. “Ini tak lepas bagaimana dia dididik saat di Sekolah Polisi Negara. Masalah disiplin dan kepatuhan asas cukup baik, tapi sepertinya pendidikan mental yang kurang,” tutur Novel. (dtc/*)




Juni 3, 2008 pada 11:31 am
polri uda reformasi
Juni 9, 2008 pada 3:43 am
parah, polisi kayak ular, ngaku2 udah reformasi tapi kayak ular yang cuma ganti kulit malah lebih parah dan sewenang2 dengan pisahnya mereka dari TNI. Seharusnya Polisi itu ditempatin dibawah Depdagri aja lagi….biar benar2 ngerasa bahwa mereka itu sipil, bukan sipilis!!!!!
Juni 9, 2008 pada 8:30 am
ironis sekali.. kasian yang bener2 mau jadi polisi. tau gitu aku yang dulu di pilih jadi polisi. mbok ya inget mau jadi polisi itu susah na penuh perjuangan..
Juni 13, 2008 pada 11:51 am
ih..POLISI GILANI
jek tambah nganggo BANGET
Juli 7, 2008 pada 12:55 am
Itu hanya oknum aj, ga semua koq ky gitu.Masih banyak polisi2 baik di Indonesia.Kalau mau itung2 kesalahan, tiap2 instansi PASTI ad yg BRENGSEK ( TAK DAPAT DIPUNGKIRI ).Nah yg brengsek2 seperti itu yg patut di MUSNAHKAN sebelum menjalar pada yg lain.Kasihan yg baik2 ikut kena imbasnya.Wassalam
September 7, 2008 pada 6:06 pm
salah satu borok negara yg terungkap ya itu salah satu aparat negara yg membuat hal yg memalukan, mohon maaf bapak polisi bukan nya mau menyudut kan , tetapi mau tidak mau harus tersudut karena ulah salah satu anggota yg melenceng dari norma dan aturan sebagai mana kita ketahui polisi adalah tokoh dalam masyarakat pembasmi kejahatan dan pembela kaum lemah dari angkara or the ranger yg membuat rasa aman !tapi kenyataan ? LOL !!!
Desember 20, 2008 pada 3:19 pm
Emang harusnya sangsi hukum buat polisi beda dengan orang awam. Polisi yang ini pantasnya dihukum mati.
Desember 26, 2008 pada 9:36 am
sumpe looooooooooooooooooooooooooooooooo
gilak bener,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
Juni 29, 2009 pada 6:08 am
POLISI UDAH PADA KEHILANGAN AKHLAK SEMUA, DI PALEMBANG POLANTASNYA MAKSA MINTA DENDA TILANG HAMPIR SENILAI 350.000,-
GILA NGGAK? PARAHNYA LAGI MEREKA BERANI MENGGODA PENGENDARA WANITA.
Juni 29, 2009 pada 6:09 am
BOBROKNYA MENTAL POLISI, BAGUS JUGA DIBUAT FILMNYA.
POLISI MATI DENGAM PERUT MEMBUNCIT SEHABIS MEMPERKOSA DAN MEMAKAN DENDA TILANG.