Arsip untuk Juni, 2009

Pilot Tewas Mendadak Saat Terbang

Posted in unik on Juni 28, 2009 by albertjoko

*Penumpang Kendalikan Pesawat
*Hikmah Keniscayaan Cinta Allah

15261680

KING Air melayang di ketinggian 10.000 kaki di atas Florida AS

APA yang Anda bayangkan, ketika mengetahui pilot yang sedang menerbangkan pesawat Anda, mendadak meninggal dunia? Padahal, pesawat berada di ketinggian 10.000 kaki dari permukaan laut.

Tragedi itu terjadi pada pesawat King Air Craft yang terbang di langit Florida, Amerika Serikat, Minggu 12 April 2009 lalu. Pesawat bermesin danda ini memuat lima penumpang, take off dari bandara eksekutif Marco Island.

Menurut pejabat Federal Aviation Administration, pilot pesawat pribadi itu, Joe Cabuk. Ia meninggal setelah take off. Sebelum tewas, pilot sempat mengaktifkan tombol auto-pilot, sehingga pesawat semakin naik ke ketinggian 10.000 kaki.

Doug White  (56) dan keluarganya, penumpang sekaligus pemilik pesawat tersebut, sangat bersyukur karena akhirnya maut bia dihindarkan. Pesawat akhirnya bisa mendarat dengan “mulus” di Soutwest Florida International Airport di Fort Myers.

White terpaksa mengambil alih ruang kokpit ketika pilot Joe Cabuk, tiba-tiba tak sadarkan diri saat mengemudikan pesawat. Meski punya lisensi terbang, White belum pernah menerbangkan pesawat sebesar King Air. “Saya butuh bantuan. Saya perlu berkomunikasi dengan seorang pilot King Air,” tutur White melalui radio.

kedahsyatan doa

18777_500

SELAMAT - Mendarat darurat di Soutwest Florida

WHITE kemudian menoleh ke istri dan dua putrinya, “Kalian semua berdoalah.”  Tubuh istri White pun gemetar, anaknya yang berusia 16 belas tahun menangis, dan putrinya yang berumur 18 tahun muntah-muntah. Pria 56 tahun ini perlu waktu sekitar 30 itu perlu waktu sekitar 30 menit untuk mendaratkan pesawat dengan bimbingan seorang pilot King Air.

Pilot tersebut memberi instruksi pada petugas kontrol udara yang secara jelas dan tepat pada White. White memiliki 150 jam terbang dalam beberapa waktu terakhir dengan menerbangkan pesawat mesin tunggal Cessna 172, tapi tak berpengalaman menerbangkan pesawat yang lebih cepat dan lebih besar, seperti King Air.

Dia menyatakan keadaan darurat kepada petugas kontrol udara. Dan, pada Minggu sore tersebut, ia baru belajar cara mendaratkan pesawat berbadan besar. White dan keluarganya saat itu sedang dalam perjalanan pulang dari Pulau Marco. White memiliki pesawat King Air dan menyewakannya melalui perusahaannya, White Equipment Leasing LLC yang berkantor di Archibald, LA.

Lisensi terbang White diperoleh tahun 1990. Namun 18 tahun berlalu tanpa kegiatan terbang, dan dia mulai terbang lagi baru-baru ini. “Saya sangat ketakutan,” kata White. “Dan, saya seperti berada di suatu zona yang tidak bisa saja jelaskan itu ada di mana.”

Sebelum melaporkan kedaan darurat, selama 30 menit White berusaha menyadarkan sang pilot yang diduga mengalami serangan jantung. Namun, upayanya sia-sia. “Ribuan terimakasih untuk petugas kontrol udara,” kata White. “Mereka tidak digaji cukup, dan tidak mendapat penghargaan atas apa yang mereka perbuat,” kata White.

ikhtiar terpuji

061505 JB with steven walllace bending over

WALLACE saat evakuasi di Florida

STEVEN Wallace, perwakilan National Air Traffic Controller Association di Miami, AS, mengungkapkan, situasi saat itu sangat mengerikan karena pesawat dalam proses naik ke 10.000 kaki. Sebenarnya pilot sempat masuk ke menara pengontrol udara Miami.

“Petugas kami sore itu menjadi sangat sibuk dan mencoba menjelaskan padanya dan memberinya petunjuk naik, namun dia tidak memberi respon pada kami,” ungkap Wallace. Akhirnya, suara lain muncul di radio yang berasal dari pesawat itu.

Seorang penumpang mengatakan, bahwa pilot telah meninggal dunia dan pesawat yang dikendalikan auto-pilot dalam posisi naik. Lalu, petugas pengendali berusaha mengarahkan agar pesawat dalam posisi normal, sementara penumpang itu menolong untuk menon-aktifkan auto-pilot sampai akhirnya pesawat bisa mendarat di Southwest Florida International Airport, landasan terdekat.

art.doug.white.ndn

DOUG White lega usai mendarat darurat

“Ini seperti seorang polisi lalu lintas yang tengah berdiri di  tengah jalan raya pada jam sibuk. Lalu lintas di jalan raya itu tidak dapat dihentikan. Pengendali membantu mengendalikan pesawat-pesawat dalam situasi darurat,” kata Wallace.

“Ini memang unik. Petugas pengendali tidak semua tahu cara menerbangkan pesawat. Tapi ketika menemui masalah, dia harus memberi solusi. Maka saat itu kamu harus mengerahkan segala kemampuan dan sumber daya yang ada untuk bekerja sama memecahkan masalah,” jelasnya.

Boleh dibilang landing berjalan mulus, karena penumpang pengganti pilot itu, menjalankan semua instruksi yang diberikan dengan benar. “Ia bekerja seperti profesional senior,” puji Wallace.

karena Allah

Copy of tangan_tuhan

ALLAH semua karena-Nya

KETIKA publik pada tercengang, ustadz sohib saya di Surabaya hanya tersenyum penuh makna. Mengapa? “Ya, begitulah reaksi umum manusia. Kalau kita ini senantiasa beriman pada Allah SWT, tentu tak perlu kelewat takjub. Sebab, semua itu karena atau seizin Allah,” tutur ustadz, santai.

“Pilot mati mendadak di udara, itu akibat kecerobohan kita sendiri. Mengapa? Kita ini terlalu yakin, bahwa maut bisa diramal secara ilmiah. Atau tak mempercayai, bahwa maut bisa menjemput kapan saja. Ya, jadinya terbang tanpa kopilot.. Kalau pun pesawat pribadi, perlu ikhtiar antisipatif, kan?” kata ustadz.

“Namun, kalau Allah menghendaki, berapa pun kopilot yang tersedia, bisa mati semua secara mendadak. Yang harus dipetik pelajaran adalah hikmah para penumpang pesawat King Air itu, dan segenap masyarakat Amerika. Kita yakin ada hikmahnya dalam kehidupan mereka. Mungkin juga bermakna bagi kita semua…Subhanallah…!” seru ustadz, serius.

Agungkan Allah 2

ALLAH mahakuasa dan penolong

“Percayalah.. naik apapun, dan kapanpun, kalau kita ini senantiasa beriman dan takwah kepada Allah, pasti mendapat perlindungan Allah. Dan, hanya Allah SWT tempat berlindung… Pilot hanya manusia biasa, bisa salah. Atau seperti kejadian di Florida itu, meninggal mendadak,” tutur ustadz. Kita pun jadi teringat tragedi jatuh dan terbakarnya pesawat Garuda di Bandara Adisutjipto Yogyakarta, 7 Maret 2007 lalu.

Ketika itu 22 dari 140 penumpang tewas. Selebihnya mengalami luka bakar, patah tulang dan syok berat, kecuali Din Syamsuddin, sang tokoh sentral Muhammadiyah. Sampai sekarang segar-bugarnya Din dari guncangan dahsyat, kobaran api dan ledakan hebat pesawat, jadi misteri.

“Jawaban bijaknya adalah, semua itu karena Allah SWT,” kata ustadz sohib saya seraya tersenyum. (ap/naplesnews.com/* )

Raja Ngidam Mahkota Surga

Posted in humor on Juni 27, 2009 by albertjoko

humor kaum sufi

abunanawas-fHARI itu, tidak seperti biasanya, Baginda Raja Harun Al Rasyid, tiba-tiba “menjadi” rakyat biasa. Beliau ingin menyaksikan kehidupan di luar istana tanpa diketahui siapa pun. Baginda pun keluar istana dengan pakaian amat sederhana, layaknya rakyat jelata.

Begitu tiba di suatu perkampungan, beliau melihat beberapa orang sedang berkumpul. Setelah mendekat, ternyata ada seorang ulama menyampaikan siraman rohani tentang alam barzah. Di sela itu, ada seseorang datang dan bergabung. Kepada sang ulama ia bertanya.

“Kami menyaksikan orang kafir pada suatu waktu dan mengintip kuburnya, tetapi kami tiada mendengar mereka berteriak dan tidak pula melihat penyiksaan-penyiksaan yang katanya sedang dialaminya. Maka, bagaimana cara membenarkan sesuatu yang tidak sesuai yang dilihat mata?”

Ulama itu terdiam sejenak, lalu menjelaskan. “Untuk mengetahui yang demikian harus dengan panca indera yang lain. Ingatkah kamu dengan orang yang sedang tidur? Dia kadangkala bermimpi digigit ular, diganggu dan sebagainya. Ia juga merasa sakit dan takut, bahkan memekik dan keringat bercucuran pada keningnya.”

misteri mimpi

crown

DIA merasakan hal semacam itu, seperti ketika tidak tidur. Sedangkan engkau yang duduk di dekatnya menyaksikan keadaannya seolah-olah tidak ada apa-apa. Padahal, apa yang dilihat serta dialaminya, dikelilingi ular-ular. Maka, jika masalah mimpi yang remeh saja sudah tak terlihat secara kasatmata, mungkinkah engkau bisa melihat apa yang terjadi di alam barzah?” jelas sang ulama.

Baginda Raja terkesan sekali penjelasan itu. Lalu, ulama itu melanjutkan “kuliahnya.” Dikatakan bahwa di surga tersedia hal-hal yang amat disukai nafsu, termasuk benda-benda. Satu di antaranya, mahkota yang luar biasa indahnya. Tak ada yang lebih indah dari barang-barang di surga, karena barang-barang itu tercipta dari cahaya. Saking indahnya, satu mahkota jauh lebih bagus dari dunia dan isinya.

Baginda makin terkesan. Beliau pun bergegas pulang usai siraman rohani itu. Baginda tak sabar ingin menguji kemampuan Abu Nawas. Beliau pun minta pengawal segera memanggil sang legenda cerdas nan cerdik, Abu Nawas.

“Aku menginginkan engkau sekarang juga berangkat ke surga. Bawakan aku sebuah mahkota surga yang katanya tercipta dari cahaya itu.

tiga pintu alam

diana-hendak-diturunkan-ke-liang-lahat

PINTU BARZAH - Hambah Allah memasuki alam barzah, sebelum sampai alam baqa

APAKAH engkau sanggup Abu Nawas?” tegas Baginda Raja. “Sanggup Paduka yang mulia,” kata Abu Nawas, langsung menyanggupi tugas yang mustahil dilaksanakan itu. “Tetapi Baginda harus menyanggupi pula satu sarat yang akan hamba ajukan.”

“Sebutkan sarat itu.” kata Baginda Raja. “Hamba mohon Baginda menyediakan pintunya agar hamba bisa memasukinya.” “Pintu apa?” sergah Baginda, penasaran. Pintu alam akhirat.” ujar Abu Nawas.

“Apa itu?” tanya Baginda, ingin tahu. “Kiamat, wahai Paduka yang mulia. Masing-masing alam mempunyai pintu. Pintu alam dunia adalah liang peranakan ibu. Pintu alam barzah adalah kematian. Dan, pintu alam akhirat adalah kiamat,” jelas Abu Nawas.

Surga berada di alam akhirat. Bila Baginda masih tetap menghendaki hamba mengambilkan mahkota di surga, maka dunia harus kiamat dulu.” Mendengar penjelasan Abu Nawas, Baginda Raja terdiam. Di sela-sela kebingungan Baginda Raja, Abu Nawas bertanya lagi.

“Masihkah Baginda menginginkan mahkota dari surga?” Baginda Raja tidak menjawab. Beliau diam seribu bahasa. Sejenak kemudian Abu Nawas mohon diri, karena Abu Nawas sudah tahu jawabnya. (e-ketawa/*)

Ngerumpi Gaji

Posted in humor on Juni 27, 2009 by albertjoko

oase rakyat jelata

Copy of laught-please

KACAMATA kuda gaji - laught please

SUATU hari saat rehat, dua pria berkebangsaan berbeda terlibat dalam obrolan Sersan, serius tapi tetap santai di kafe cepat saji. Yang satu warga Indonesia, dan lainnya orang Eropa.

Mereka saling tanya tentang penghasilan masing-masing. “Berapa gaji Anda, dan untuk apa saja uang yang Anda peroleh itu?” tanya orang Indonesia mengawali pembicaraan.

Bule Eropa yang terbiasa bicara bebas, menjawab, “Gaji saya 3.000 euro. Seribu euro untuk tempat tinggal, 1.000 euro untuk makan, 500 euro untuk hiburan.”

“Lalu, sisa 500 euro untuk apa?” desak orang Indonesia. Orang Eropa itu pun menjawab dengan ketus, “Ooh … itu urusan saya, Anda tidak perlu bertanya!” Kemudian orang Eropa balik bertanya, “Kalau penghasilan Anda?”

kebiasaan tak jujur

tri

TEMPEL salam - tri

GAJI saya Rp 950 ribu. Yang Rp 450 ribu untuk tempat tinggal, Rp 350 ribu untuk makan, Rp 250 ribu untuk transpor, Rp 200 ribu untuk sekolah anak, dan Rp 200 ribu, bayar cicilan pinjaman. Sedangkan yang Rp100 ribu untuk….”

Mendadak penjelasan karyawan Indonesia terhenti, karena distop karyawan Eropa. “Uang itu jumlahnya sudah melampaui gaji Anda. Sisanya dari mana?” tanya orang Bule itu keheranan.

Orang Indonesia itu tersenyum lalu menjawab dengan enteng. “Begini Mister, uang yang kurang itu urusan saya. Anda tidak berhak bertanya-tanya!” Bule Eropa yang bersemangat pun, sontak tersipu. Mereka lalu ngeloyor pergi tanpa menjelaskan misteri asal dan penggunaan “uang tambahan” itu.

Pelayan kafe yang nguping mengernyitkan jidat sambil menarik nafas panjang. “Darimana dia (orang Indonesia) dapat uang siluman, ya…? Semoga bukan uang rakyat…,” gumam sang pelayan seraya menggeleng-gelengkan kepala. (e-ketawa/*)

Fitnah Kekuasaan dan Harta (2)

Posted in obrolan ati on Juni 26, 2009 by albertjoko

*Kontemplasi Karyawan Yang Mukmin
*Kemenangan Semu Dari Tikungan Iblis



tahtaJARUM jam di dinding “kafe tombo ati” menunjuk pukul 02.13 WIB, 25 Juni 2009. Namun, sohib lamaku bukannya terkantuk. Sebaliknya, ia begitu bersemangat mendengarkan uraian dan kajian religius kontemporer sang ustadz sohibku di Kota Pahlawan.

Sohib lamaku seolah baru menyadari urgensi iman di era serba canggih. Safaat dan manfaat tahta dan harta pun tak punya “harga” dibanding kezuhudan iman kepada Allah SWT. Ia akhirnya tanpa rikuh mengakui, bahwa kenikmatan-kenikmatan tiada tara yang tertangkap panca indera, tak ubahnya ilusi kehidupan.

“Itulah, kalau kita terjebak perangkap syetan. Kita ini jadi boneka. Seharusnya sebagai pengendali nafsu, malah dikendalikan hawa nafsu sendiri. Kita pun jadi lupa keutamaan-keutamaan yang diwajibkan Allah SWT dalam menjalani hidup di dunia fana ini,” tutur ustadz menimpali sohib lamaku.

harta

“Memang, dunia fana senantiasa memesona setiap orang. Menggiurkan, dan sering membuat kita lupa (Allah). Apalagi, kalau kita diberi rizki, harta berlimpah-limpah oleh Allah. Pangkat dan jabatan tinggi, serta istri cantik… Waahh... lupa semua! Seolah-olah kita jadi raja diraja yang bisa hidup seribu tahun…,” kata ustadz lalu terkekeh.

Tawa ustadz sohibku sontak terhenti, manakala layar televisi menayangkan kematian mendadak seekor king cobra. Kedigdayaan ular yang banyak ditakuti manusia ini lenyap di bawah cengkeraman kuku- kuku seekor elang. Tubuh cobra yang licin dan gesit, koyak dicabik-cabik patukan sang rajawali.

“Itu contohnya… ular itu tak sakit apa-apa, mati mendadak. Sampean lihat kan… tadi si cobra itu begitu perkasa menyergap tikus. Begitu kenyang, dalam perjalanan malah mati diterkam rajawali… Begitulah hukum alam. Kita yang hidup di semesta raya ini, hendaknya jangan lupa Sang Maha Pencipta, bisa terpeleset jadi takabur… dan berakhir hancur!” tegas ustadz mewanti.

kematian

image5

MAUT - Ajal datang tanpa diundang

SOHIBKU pun terdiam seribu bahasa, seolah mencerna petuah sang ustadz. “Lahir, tumbuh dewasa, lalu mati. Jangan sampai terlena. Di antara hal ghoib di dunia adalah kematian. Tak seorang pun, dan apa pun, kecuali Allah SWT yang tahu ajal menjemput kita. Sejatinya, hidup kita adalah mempersiapkan kematian. Jangan dibalik, hidup untuk senang-senang, happy-happywaah.. celaka dua belas kita!” urai ustadz lalu tertawa renyah.

Ustadz “tanpa pondok” ini kemudian mengingatkan kami berdua tentang bahaya laten dari tipu daya iblis. Muslihat kaum dajjaal ini memiliki target utama pada ahli ibadah dan ahli amal (Hujjatul Islam Al Ghazaly). Dikisahkan, menjelang akhir zaman, tipu daya ini makin mengristal.

Terdapat lima muslihat jahat yang wajib diwaspadai kapan pun, dan di mana pun. Pertama, pedaya shalat. Kedua, terpedaya membaca Al-Qur’an. Ketiga, terpedaya dalam haji. Keempat, terpedaya dalam perjuangan (jihad), dan kelima terpedaya dalam zuhud.

“Zaman sekarang makin banyak saja ahli ibadah dan ahli amal yang terpedaya, tergelincir. Sepanjang nafas masih berdengus, amalkan Laa ilaha ilallah, Muhammad-da Rasulullah,” tegas ustadz seraya menatap kami kuat-kuat.

Harta, tahta dan wanita memang senantiasa menebarkan pesona “dajjalai” luar biasa. “Kita harus meneladani Rasulullah SAW. Iman beliau tak pernah goyah sedikitpun, meski mendapat godaan luar biasa. Harta dan kekuasaan yang ditawarkan kaum kafir Quraisy memang sangat menggiurkan orang umumnya. Tetapi, tidak bagi Nabi Muhammad,” tutur ustadz.

“Kenapa? Harta dan kekuasaan itu tak sebanding dengan dakwah yang beliau amalkan sepanjang hayatnya. Naif, kan? Karena dengan menerima tawaran kaum Quraisy itu, sama halnya berhenti berdakwah, sekaligus menolak kenabian beliau. Ini bertolakbelakang dengan perintah Allah SWT,” jelas ustadz.

cinta Allah

mahdi_2

JIHAD - Kafilah wajib menegakkan agama demi Allah SWT

HARTA dan tahta tak mungkin ditukar dengan kewajiban berdakwah bagi setiap Muslimin. Apa kata Rasulullah sebagaimana disampaikan Abu Thalib. “Wahai paman (Abu Thalib), meski pun mereka meletakkan matahari di kananku dan bulan di kiriku agar aku berhenti dari dakwah ini, pastilah tidak akan kulakukan. Hingga nanti Allah SWT menangkan dakwah ini, atau aku mati bersamanya,” tegas Rasulullah SAW.

Kecintaan mutlak Rasulullah untuk berdakwah, sesungguhnya manifestasi kecintaan beliau kepada Allah SWT. “Hanya orang beriman lah, yang selamat dan selalu perkasa menghadapi tipu daya iblis. Rasulullah sebagai nabi besar junjungan kita, harus diteladani. Beliau tak silau harta dan tahta, kecuali harta dan tahta yang diperoleh secara halal dan jujur. Oleh karena harta halal, kekuasaan yang diperoleh secara jujur, itu bagian rahmat dari Allah SWT,” kata ustadz.

Ketika mendengarkan uraian ini, saya teringat kisah Syaikh Haji Rasul, tokoh terkemuka dalam gerakan pembaharuan Islam di Minangkabau pada masa kolonial Belanda. Haji Rasul adalah satu dari beberapa mutiara dari Minangkabau.

Putra ulama terhormat, Syaikh Muhammad Amrullah yang lahir pada 10 Februari 1879 ini, merupakan tokoh di balik gerakan pembaharuan Islam (Reformis) di Minangkabau. Bukan gerakan berorientasi kekuasaan, melainkan pencerdasan umat dengan nilai-nilai dakwah Islam yang benar dan lurus.

Gerakan ini berdiri kokoh di sisi umat, bukan di sisi penguasa. Mereka mengambil jalan para nabi, bukan jalan para pendukung Firaun dengan Bal’am-nya  dan Qarun. Haji Rasul yang menimba ilmu di pusat Agama Islam, Mekkah, berguru pada Imam Masjidil Haram, Syaikh Ahmad Khatib, yang tak lain ulama asal Minangkabau.

Selain itu, ia berguru pada sejumlah ulama di Mekkah. Seperti Syaikh Abdullah Jamidin, Syaikh Thaher Jalaludin, sampai Syaikh Usman Serawak. Haji Rasul terinspirasi ulama-ulama pergerakan, sekaliber Muhammad Abduh dan Jamaludin al Afghani yang mengajarkan faham berbeda dengan arus utama Islam di Minangkabau saat itu, yakni Tarekat Naqsabandiyah.

tetap kokoh

ulama_haji_rasul

TELADAN - Ketegasan Haji Rasul jadi teladan

HAJI Rasul yang dikenal tegas dan berani menyatakan putih, jika putih. Hitam dikatakan hitam, tanpa kiasan. Kolonial Belanda pun menganggap tak bisa diajak bekerjasama. Operasi-operasi intelijen sistematis dilancarkan untuk mencoba menghancurkan kesufian Haji Rasul.

Berita-berita dusta disebar agar umat tidak percaya pada sosok ulama setipikal Haji Rasul. Berbagai dokumen palsu dibikin, isinya fitnah, karirnya dihambat, bahkan tempat mereka mencari nafkah coba dikacaukan.

Jalan terakhir yang dilakukan penjajah, menjebloskan ke penjara lewat peristiwa yang direkayasa. Jika perlu membunuhnya, baik dengan cara diracun atau operasi terselubung. Kematian seolah-olah akibat kecelakaan, atau sakit yang tak bisa disembuhkan.

Ketika kutanyakan kepada ustadz sohib saya, beliau tersenyum. “Sebab itu, ulama jenis ini sangat berhati-hati menjalani kehidupannya, senantiasa memasrahkan diri sepenuhnya kepada perlindungan Allah SWT,” kata ustadz.

Saadah darayn

PASRAH ALLAH - Saadah darayn

Rasulullah SAW telah memberi pedoman untuk memilah ulama baik, dan buruk. Al-Ghazali dalam Ihya `Ulum ad Din menyitir hadits Rasulullah SAW. “Ulama yang paling buruk adalah ulama yang suka mengunjungi penguasa. Sementara penguasa yang paling baik adalah yang sering mengunjungi ulama.” (HR Ibnu Majah)

Namun, Haji Rasul tetaplah Haji Rasul. Ia kokoh menjadi pelopor pembaharuan pemahaman Islam di Minangkabau. Beliau begitu tabah menghadapi serangan demi serangan, termasuk berbagai fitnah yang dilancarkan orang-orang yang tak sepaham dengannya.

“Makanya, kita sebagai umat Islam, selalu waspada, dan menyiapkan diri sebelum fitnah datang. Setiap kebenaran yang haq kita amalkan harus istiqomah, karena sepanjang itu pula iblis menghalangi dengan berbagai fitnah. Tak usah khawatir, apalagi takut. Teladani Rasulullah SAW, selalu pasrah kepada Allah SWT adalah benteng tiada tanding,” tegas ustadz sambil menatap tajam sohib lamaku.

Kami pun bak koor mengucap Alhamdulillah. “Sampean-sampean ini harus bisa lebih tegar. Dengan iman yang zuhud, senantiasa memasrahkan diri kepada Allah SWT, apapun yang sampean lakukan, Insya Allah mampu membalik fitnah terkeji sekalipun. Seorang kafilah sejati, tak boleh ragu, kan? Jihad adalah jalan terbaik dan termulia. Tapi, jangan salah. Jihad tak harus berperang secara fisik, lho,” kata ustadz, bak energi inti superdahsyat yang membuat sohib lamaku berseri-seri. (*)

Fitnah Kekuasaan dan Harta (1)

Posted in obrolan ati on Juni 25, 2009 by albertjoko

*Kontemplasi Karyawan Yang Mukmin
*Kemenangan Semu Dari Tikungan Iblis


fitnah3.jpgUJI IMAN – Indah menikmati fitnah sebagai ujian iman kita

DESAH nafas sohib lamaku begitu menyentak. Embusan angin dari rongga hidungnya, begitu membuncah, bak topan gurun menerjang cadas. Saking kuatnya, kertas bon kopi di atas meja tergelincir dan jatuh tertelungkup di lantai.

Kertas itu segera kupungut, lalu kuletakkan di atas meja. Kucoba tatap erat-erat wajah muram durja sang sohib, sambil tersenyum. Namun, sang sohib tak seperti biasanya. Ia tetap duduk terpaku tanpa ekspresi sambil menatap tayangan televisi.

Sejenak kami terdiam, demikian halnya ustadz sohibku yang duduk di antara kami. Sekitar tiga menit kami berada dalam kosmis kebisuan. Sunyi dan hening arena tombo ati, pekan keempat Juni 2009 itu. Kami hanya memperhatikan seksama rengekan tiga ekor anak elang di sarang, pucuk pepohonan yang ditayang televisi asing.

Suasana “tenang” tak setenang hati sohibku setelah berbulan-bulan tak berjumpa. Di tengah kebekuan suasana itu, ustadz sohibku mengejutkan kami berdua. “Coba, kenapa anak-anak elang itu menjerit- jerit? Apa kira-kira yang dikatakan?” kata ustadz.

Pertanyaan “sederhana” yang senantiasa tak gampang dijawab orang awam. Saya pun mencoba menjauhkan logika otak, dengan harapan mendapat safaat dari “kata hati.” Namun, sebelum saya menggerakkan bibir, sohib lamaku yang termenung, tiba-tiba mengusap-usap wajahnya… lalu pelahan menyunggingkan bibir.

“Ustadz..boleh saya jawab!” ujar sang sohibku lalu tertawa kecil “tanpa rasa.” Ustadz sohibku pun tersenyum sambil mengepulkan asap kreteknya. “Itu memang pertanyaan untuk sampean jawab…,” sahut Ustadz lalu tertawa renyah.

antitesa rasionalitas

32

CINTA - Indahnya kelahiran dan kematian di semesta

SEJENAK hening penuh arti.  “Maaf, Tadz.. Itu kan lazim dalam ilmu pengetahuan…ya, anak-anak elang itu kelaparan, sehingga teriak-teriak memanggilnya induknya…maaf, lho Tadz…,” kata sohibku coba menjelaskan dengan akal sehat.

Lalu apa reaksi sang ustadz? Beliau hanya manggut-manggut sambil tersenyum. Sejenak ustadz membiarkan sohibku larut dalam “kebenaran” atas keyakinan ilmu pengetahuan ilmiahnya. Kami pun kembali terdiam beberapa saat.

“Sampean mungkin benar, tapi bagaimana sampean bisa memastikannya?” tanya ustadz, membuat sohibku sedikit terperanjat. “Itulah kita, sebagai manusia kadang terlalu yakin dengan kemampuannya sendiri, merasa mengerti dari segala-galanya.. lalu lupa diri,” tutur Ustadz sohibku.

Sontak, sohibku yang mulai sedikit “berbinar” kembali terpaku tanpa ekspresi. Belum hilang penasarannya, ustadz meneruskan uraiannya.

“Sampean tak tahu, kan…kalau di bawah sarang elang itu ada seekor ular pohon? Sampean juga tak tahu, kan… kalau orang hutan menggapai dedaunan yang berpucuk sarang itu? Sampean juga mungkin tak tahu, kalau ada seekor elang asing yang terus memperhatikan anak-anak elang itu?” cecar ustadz.

Sohibku hanya bisa tersenyum kecut, seolah mengiyakan. Apa yang diuraikan ustadz betul adanya, saya juga menyaksikan. Namun, sohibku yang berada dalam fokus minimal saat menyaksikan tayangan dunia fauna itu gagal merekonstruksi peristiwa yang ia lihat secara komprehensif.

“Keberadaan ular, orangutan dan elang asing itu dirasakan sebagai teror. Anak-anak elang itu ketakutan. Ini lebih mungkin daripada kelaparan, karena temboloknya masih cukup berisi, kan? Itu coba sampean perhatikan seksama (kebetulan kamera meng-close up anak-anak elang),” pinta ustadz.

barokah senyum

G02b-3QulIKHLAS – Subhanallah.. Betapa indahnya keikhlasan kita…

SOHIBKU pun memperhatikan tayangan anak elang dengan cermat. “Betul…betul ustadz, saya khilaf!” ujarnya seraya tersenyum.

“Alhamdulillah… sampean tersenyum. Kita jangan kehilangan senyum, jika ingin merasakan nikmat Allah SWT. Senyum itu indah, karena sesungguhnya ekspresi nikmat yang dikaruniakan Allah. Dan, senyum menjadi indah, bila terucap dari keikhlasan kita mensyukuri apa pun yang diberikan Sang Maha Pencipta Alam Semesta Raya,” jelas ustadz.

Pelahan-lahan aura sohibku pun menuju derajat nol. Tingkat ketenangan “hati” yang mirip air dalam danau tanpa riak sedikit pun. “Iya, Ustadz… Saya mungkin merasa seperti anak-anak elang itu. Saya merasa diteror, diancam dan difitnah ketika saya coba bersikap dan bertindak benar. Kebenaran haq, dan bukan kebenaran atas dasar kepentingan saya pribadi…,” kata sohibku bertestimoni.

Rupanya, sohibku yang bekerja di perusahaan berplat “Antabrata” ini sedang risau dan gundah atas serangkaian tuduhan yang tidak ia perbuat. Tampak jelas naluriah akal sehatnya yang tak bisa menerima kenyataan yang dialaminya.

Ustadz pun kembali tersenyum dan manggut-manggut. “Ucapkan Alhamdulillah, Insya Allah sampean akan tetap pada kebenaran yang haq, dan tetap mendapatkan kebenaran nanti. Allah Maha Adil dan Maha Pengasih dan Penyayang, apalagi terhadap hamba-Nya yang mukmin!” seru Ustadz sohibku.

jebakan syetan

Copy of animation

SERUAN ustadz bak petir di keremangan “kafe hati.” Energi kebenaran haq pun menebarkan aura kebahagiaan yang terpancar di wajah sohibku. “Astaghfirullah…. Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillaah….Ustadz terimakasih, saya seperti bangun dari mimpi saja. Saya hampir lupa Kemaha- Kuasaan Allah SWT… Alhamdulillah…” ujar sohibku dengan berbinar.

Nah, sampean juga perlu bersyukur karena Allah senantiasa memberi cobaan terhadap keimanan hamba-hamba-Nya. Oleh karena iman yang sejati kepada Allah SWT, tak bisa diucapkan belaka. Tak cukup dengan atribut belaka, berpakaian seolah-olah muslim yang mukmin, tapi perbuatan tidak. Kita ini sering diplesetkan syetan, ya.. berada di tingkungan iblis.”

“Hanya orang-orang muknin yang senantiasa berpasrah diri kepada Allah SWT, ikhlas, sabar, tawadhu’ yang istiqomah mencintai Allah dan disayangi Allah. Haqqul yaqin lah Allah memberi rahmat dan hidayah untuk kehidupan di dunia maupun akherat…,” tutur Ustadz sohibku.

Berkali-kali sohib lamaku pun mengucapkan kata amin dan memanjatkan syukur kepada Tuhan. Ustadz pun menganjurkan senantiasa tenang bak air dalam telaga, dan senantiasa “mampu (hati)” tersenyum dalam mengarungi kehidupan. Artinya, kita tetap sepenuhnya sadar hati sebagai mukmin menghadapi dunia penuh angkara murka, bukan larut dalam perangkap iblis.

Saya pun jadi teringat kisah Rasulullah, sang figur pemimpin terbaik dan teladan sepanjang masa. Talenta cerdas, supel, jujur dan berani Nabi Besar Muhammad SAW menerangi dunia kegelapan melalui fondasi Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Kendati begitu, sepanjang masanya tak kurang dari fitnah hingga ancaman pembunuhan.

ikhlas

ikhlas

HANYA kepada Allah kami menyembah

PERJALANAN dakwah dan jihad adalah perjalanan hidup orang-orang mulia dan terpuji sepanjang sejarah. Perjalanan para Nabi, Rasul Allah dan orang-orang shalih. Episode perjalanan yang tak menawarkan aroma mutiara dan berlian bercahaya, sebaliknya dipenuhi duri, dan kerikil tajam, serta penuh liku.

Hampir tak ada yang ingin mengikuti dan menempuhnya, kecuali hamba-hamba-Nya yang diberi rahmat dan barokah. Teror dan aneka ancaman ditimpakan kepada para Rasul Allah, para sahabat dan orang-orang Shalih dari para ulama dan mujahid sesudah para sahabat, tak ada yang lepas dari kezaliman, siksaan, pembantaian dan pembunuhan.

Ustadz sohibku pun menyitir Surat Al Baqoroh (2) ayat 191: Wal fitnatu asyaddu minal qotli.. “Dan, fitnah itu lebih sangat (dosanya) daripada pembunuhan..” jelasnya. Imam Ibnu Katsir pun telah memberi pelajaran kepada kita, bahwa Imam Abul `Aliyah, Mujahid, Said bin Jubair, Ikrimah, Al Hasan, Qotadah, Ad Dhohak, dan Rabi’ ibn Anas mengartikan fitnah dengan makna syirik yang notabene lebih besar dosanya daripada pembunuhan.

Fitnah dalam konteks budaya negeri kita, mengusung arti tuduhan atas perbuatan yang tidak dilakukan oleh orang yang dituduh. Dalam Al Qur’an, fitnah mengandung makna beragam, sesuai konteks kalimatnya. Fitnah bermakna bala bencana, ujian, cobaan, musibah, kemusyrikan, sampai kekafiran.

Sikap tenang, ikhlas dan sabar pun menjadi senjata terampuh yang diajarkan Allah bagi seorang mukmin. Ustadz sohib saya pun mengingatkan saya dan sohib lamaku, bahwa seluruh sahabat Rasulullah perlu bersikap wara’ dan sangat hati-hati terhadap dunia dan fitnah kekuasaan.

“Dunia membuat orang sibuk dan melupakan urusan-urusan lain. Pengejar dunia tak pernah mendapat sesuatu, selain rasa tak puas. Sungguh, ia tak kan pernah puas pada setiap apa yang diperolehnya.” Begitulah yang tertulis dalam satu di antara surat Ali bin Abi Thalib r.a. kepada Mu’awiyah. (*)

Debat Tanpa Beda Pendapat

Posted in tajuk on Juni 23, 2009 by albertjoko

*Bunga Rampai Pemilu Indonesia

*Kontemplasi Demi Bakti Negeri


idebate

DEMOKRASI - Niscaya perlu debat demi safaat rakyat

DEBAT calon presiden (Capres) yang disiarkan langsung dari Studio Trans Corporation, Jakarta, Kamis 18 Juni 2009 malam, memantik benih-benih kekecewaan publik Indonesia.

Jutaan rakyat di Tanah Air maupun di luar negeri yang berharap mengetahui pandangan dan strategi ketiga Capres dalam membangun pemerintahan bersih, menegakkan supremasi hukum dan hak asasi manusia (HAM), berakhir tanpa jawaban spesifik dan memuaskan.

Tak seorang pun kandidat menjelaskan secara gamblang dan terukur, isu-isu sentral yang diplot dalam tema Tata Kelola Pemerintahan yang Baik dan Bersih serta Menegakkan Supremasi Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Yang ada hanya pandangan-pandangan retorik nan usang, karena publik telah mengetahui sebelumnya, baik saat kampanye maupun pada kesempatan lain. Capres Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), maupun Jusuf Kalla (JK), lebih banyak berpidato daripada menyatakan pandangan serta strateginya memenuhi impian rakyat lima tahun mendatang.

Hampir dua jam debat yang dipandu Rektor Universitas Paramadina Jakarta, Anies Rasyid Baswedan, tak ubahnya “lomba pidato.” Ketika tiba sesi tanggapan Capres atas pandangan Capres lain pun, bukan beda pendapat, kritikan, apalagi serangan ala debat Capres di Amerika Serikat.

Yang terjadi justru sebaliknya. Ketiga Capres saling dukung, saling tawa. Bagus, akrab dan damai memang. Pendek kata, mereka satu visi dengan gaya berbeda.

april_03_rumah miskin_theglobejournal.com

ALLAH - Kepada siapa mereka menggantungkan masa depan?

RAKYAT pun sulit memahami Capres mana yang sungguh-sungguh mampu menciptakan good and clean government. Pemerintahan yang baik, bersih dan berwibawa. Tanpa pungutan liar (Pungli), antikorupsi, kolusi dan nepotisme, serta mampu melenyapkan sikap pejabat yang minta dilayani rakyat.

Harapan rakyat yang membuncah untuk menikmati pemerintahan bersih, tetap terpasung dalam “sejuta impian.” Pungli dan KKN tetap jadi momok, mulai urusan rakyat kecil tentang Kartu Tanda Penduduk, sampai izin usaha yang diperlukan kalangan entrepreneur.

Bukan rahasia umum, sampai saat ini sektor-sektor layanan publik kental gurita Pungli (KKN). Begitu kuatnya gurita ini di sektor layanan publik, Komisi Pemberantasan Korupsi sampai memberi perhatian khusus pada tahun ini.

Sayang seribu sayang, ketiga Capres gagal menjelaskan dan mengurai pandangan dan strateginya menanggulangi masalah pelik rakyat, sekaligus mengentas ke “surga” good and clean government. Isu strategis lain pun, kasus lumpur Lapindo, pertahanan negara (Alutsista TNI), jaminan hukum tenaga kerja Indonesia, terbengkalainya pembahasan RUU Tindak Pidana Korupsi sampai kepastian dan keadilan hukum bagi korban kejahatan HAM, gagal diapresiasi para kandidat presiden.

Ketiga Capres lebih mempertontonkan kesamaan pandangan retoriknya, dan saling dukung. Satu- satunya yang sedikit beda hanya pandangan Megawati tentang kasus Lapindo. Capres PDIP ini menilai pemerintah SBY tak tegas, sehingga memantik masalah makin pelik dan terkatung-katung.

demokrasi

PANCASILA - Urgen Anak Negeri yang berani menyatakan kebenaran danberjuang demi rakyat, bangsa dan negara tercinta ini

SELEBIHNYA Megawati, SBY dan JK “satu kata,” termasuk rekonsiliasi yang diyakini sebagai solusi terkatung-katungnya kasus pelanggaran berat HAM. Keluarga-keluarga korban HAM pun tak bisa dipungkiri kecewa berat. Bertahun-tahun berharap keadilan dan kepastian hukum, namun lima tahun ke depan seolah harapan itu terkubur.

Alasan SBY memilih solusi rekonsiliasi, karena kompleksitas penyelesaian kasus HAM yang menahun. Ironisnya, selama masa pemerintahannya, upaya rekonsiliasi gagal diwujudkan. Bahkan pengajuan nama calon anggota Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi justru berhenti di meja presiden. Ambiguitas yang sangat mungkin terkait masa lalu sang presiden.

Jawaban tak memuaskan serupa dikemukakan dua Capres lain, yang notabene mengusung mantan- mantan jenderal TNI sebagai Cawapres. Sinyal tiadanya komitmen membawa kasus pelanggaran berat HAM ke meja hijau, menjadi parameter kelabunya penegakan supremasi hukum dan HAM lima tahun mendatang.

Akankah janji-janji menggiurkan para kandidat hanya trik menarik dukungan rakyat? Janji terindah tentang kemakmuran rakyat, tak cukup membuat anak bangsa hidup damai lahir batin, tanpa jaminan tegas dan terukur tentang hak-hak asasi. Bukankah hak asasi dan supremasi hukum menjadi sendi berdirinya negara ini?

Sebagai warga yang mencintai negeri ini, kita berharap pada empat debat tersisa, para Capres tak terjebak kerikuhan pribadi dan golongan. Namun, tegas, jelas dan jujur mengurai pandangan dan strateginya secara terukur demi rakyat, bangsa dan negara. Saatnya Capres membuktikan kesungguhnnya kepada rakyat secara terbuka. Semoga! (*)

Mengapa Ahmadinejad Menang?

Posted in politik global on Juni 13, 2009 by albertjoko

Oleh Abbas Barzegar, kandidat PhD studi keagamaan Universitas Emory, Atlanta, Georgia

BUKTI KESALEHAN - Ahmadinejad, putra sang pandai besi - ourkitchensink.com KESALEHAN Ahmadinejad, putra sang pandai besi – ourkitchensink.com

ELITE demokrat di negara maju, pakar serta media Barat, acapkali mengenyampingkan nilai-nilai lokal demi kelompok yang diidentifikasi sedang membawa nilai-nilai yang diyakini sebagai resultan prinsip yang berlaku global.

Taruhlah resultante itu pers dan pandangan liberal, atau imitasi gaya hidup global yang mendahului keperluan memperkuat fondasi lokal.

Pemilu Iran yang dimenangkan pemimpin garis keras Mahmoud Ahmadinejad,  Sabtu 13 Juni 2009, mengajarkan hal itu, di samping menjadi satu materi kuliah penting bagi demokrasi berkembang manapun di dunia, termasuk Indonesia.

Pemilu Iran mengajarkan, jangan pernah mengabaikan realitas lokal hanya karena menganggap nilai lokal telah tersisih oleh modernitas. Penyangkalan lokal,  misalnya tercermin dari perilaku liberal kaum perkotaan dan penepisan simbol atau atribut sosial yang melekat lama dalam masyarakat, karena dianggap kuno atau puritan.

Adalah Abbas Barzegar, sang akademisi AS keturunan Iran di antaranya, mengungkap  penyangkalan lokal itu yang berujung kekalahan kubu yang acapkali diatributi pers Barat, sebagai kaum reformis.

Inilah sadurannya….

KAMPANYE Ahmadinejad menjelang pemungutan suaraKAMPANYE Ahmadinejad menjelang pemungutan suara

SAYA berada di Iran, tepatnya sepekan untuk mengikuti pesta demokrasi pada Pemilu Iran 2009. Semenjak saya tiba di sana, hanya sedikit di negeri ini yang ragu bahwa calon incumbent Presiden Mahmoud Ahmadinejad yang provokatif ini bakal memenangkan Pemilu.

Sopir taksi yang menyertai saya mengingatkan bahwa Si Presiden telah mengunjungi semua provinsi di Irak dua kali dalam empat tahun terakhir.  ”Iran itu bukan (hanya) Teheran,” katanya.

Ketika saya menanyai para pendukung Mir Hossein Mousavi (rival Ahmadinejad dari mazhab moderat), apakah tokoh jagoan mereka benar-benar akan meraih dukungan tak hanya di ibukota (Teheran)? Mereka mengutarakan jawaban-jawaban optimistis gaya Obama seperti,  “Ya, kita bisa,” “Saya kira begitu,” “Jika Anda memilih.”

Pertanyaan yang menghantui media internasional, bahwa “Bagaimana bisa seorang Mousavi kalah?” tampak tak begitu menjadi urusan Komisi Pemilihan Umum Iran dan itu tidak lebih dari persepsi keliru selama ini, yang menolak memahami peran agama di Iran.

Tentu saja, kemungkinan Pemilu curang tetap ada dan orang mesti menunggu sampai pekan-pekan mendatang untuk melihat bagaimana tuduhan itu dapat dibuktikan. Tetapi orang semestinya ingat, bahwa dalam tiga dekade Pemilu Presiden, tuduhan kecurangan jarang sekali dialamatkan ke penghitungan suara.

Pemilu di sini secara khusus dikendalikan dengan cara membatasi gerak-gerik kandidat atau menutup media massa kelompok oposisi. Sebagai tambahan lagi, dalam Pemilu kali ini, ada dua badan pengawas bentukan pemerintah yang terpisah, memungkinkan saksi semua kubu bisa mencegah terjadinya kecurangan massal dalam Pemilu.

ahmadinejad-milih

IKUT MEMILIH - Ahmadinejad bersama pejabat negara ikut memilih

KESANGSIAN atas kemenangan Ahmadinejad yang dituduh pendukung Mousavi sebagai bukti adanya kecurangan oleh negara, seyogyanya selaras ketidakpercayaan sama terhadap merajalelanya korupsi yang berlangsung terang-terangan.

Jadi, sampai ada bukti meyakinkan yang bisa membenarkan tuduhan-tuduhan oposisi, maka kita perlu melihat alasan lain yang menjelaskan, bagaimana begitu banyak orang tersihir oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi seharian itu.

Sejauh yang diperhatikan media internasional, tampaknya hanya wangsit yang layak diberitakan di balik kemenangan itu. Memang benar, bahwa para pendukung Mousavi telah membuat jalanan Kota Teheran macet selama berjam-jam tiap malam sepanjang pekan lalu. Padahal, itu hanya terjadi di bagian utara ibukota yang terkenal lebih makmur.

Para wanita menanggalkan hijabnya dan anak-anak muda berjingkrak di jalanan. Senin malam lalu, setidaknya 100.000 pendukung sang mantan perdana menteri (Mousavi) membuat rantai manusia di sepanjang Kota Teheran.

Namun, beberapa jam sebelumnya, saya juga menghadiri parade massal pendukung sang incumbent yang kurang diperhatikan pers Barat. Jumlah mereka luar biasa banyak, bahkan tidak pernah terjadi sebelum ini.

Perkiraan minimal jumlah massa yang mengikuti pidato kampanye Ahmadinejad saat itu sekitar 600.000 orang, bahkan banyak yang yakin mencapai satu juta orang. Dari loteng gedung, saya menyaksikan para wanita berjilbab dan pria-pria berjanggut, dari segala umur, berduyun-duyun berkerumun bagai aliran lava gunung berapi.

SHALAT - Di mana pun tak lupa Allah

SHALAT - Di mana pun tak lupa Allah

KEKELIRUAN dalam menaksir secara tepat hal-hal yang berkaitan Iran, bukan sekali ini terjadi. Ketika revolusi Islam 1979 berhasil menghancurkan kediktatoran militer negeri itu yang merupakan sekutu terkuat Amerika di Timur Tengah, hanya sedikit pakar di luar Iran yang memperkirakan bahwa kaum revolusioner Islam akan tumbuh menjadi satu kekuatan utama di Iran.

Tapi di Iran sendiri, cendekiawan sekuler seperti Jalal-e-Ahmad, pengarang buku Occidentosis yang terkenal itu pun telah memperkirakan rezim (Shah Iran), bakal tumbang di tangan gerakan revolusi Islam, satu dekade sebelum takdir tahun 1979 itu terjadi.

Filsuf Prancis pemberontak, Michel Foucault, juga secara meyakinkan telah meramalkan peristiwa itu, karena dia merekamnya dari dekat, dalam jarak yang para pengagumnya pun enggan melakukannya.

Sejak revolusi Islam Iran, para akademisi, intelektual dan para ahli telah meramalkan bakal runtuh cepatnya rezim (Islam Iran). Sampai sekarang ramalan mereka itu tak berbukti. Anomali-anomali seperti itu hanya bisa dijelaskan oleh sejarah.

Iran adalah masyarakat yang sangat religius. Nepotisme, otokrasi dan penindasan Shah Iran yang berdekade-dekade diperangi kaum komunis dan liberal gagal diakhiri, tetapi adalah serangan Shah terhadap kemapanan kalangan religiuslah yang mengantarkan kejatuhan Shah yang terjadi nyaris hanya dalam semalam.

Sejak itu rakyat Iran menyalurkan impian-impiannya melalui kotak suara.

2009525Rudal Iran

NUKLIR Iran mencemaskan AS dan Barat

PADA 1997 setelah asap perang Iran-Irak berhenti dan negara itu melewati satu dekade masa stabil, para pemilih berbondong-bondong memberi dukungan pada ulama yang mantan presiden (Mohammad Khatami) dalam menghadapi lawannya Natiq Nouri, anggota senior parlemen Iran.

Para wartawan Barat menyebut momen itu sebagai satu generasi yang terbelah. Yaitu, kaum muda liberal pecinta kebebasan melawan ulama-ulama tua konservatif.

Tetapi Pemilu saat itu sesungguhnya Pemilu untuk memilih kejujuran dan kesalehan (Khatami), melawan kekuatan yang dituduh korup. Dan, kini orang-orang sama yang dulu mendukung Khatami, menyalurkan suaranya untuk Ahmadinejad kemarin, padahal wajah Khatami menghiasai poster-poster kampanye kubu Mousavi.

Selama hampir sepekan dorongan sosial antikorupsi, kerakyatan dan kesalehan religius yang dulu melahirkan revolusi Islam tampak kembali di jalanan untuk dipungut oleh rakyat Iran. Untuk sebagian besar rakyat negeri itu, Ahmadinejad adalah perwujudan dorongan-dorongan impian (tentang pemimpin antikorupsi, merakyat dan saleh) ini.

Sejak pertamakali masuk ke kantornya, Ahmadinejad menolak mengenakan jas mahal. Menolak meninggalkan rumah yang diwarisinya dari sang ayah, dan menolak mengendurkan retorika yang digunakan melawan mereka yang dituduh sebagai pengkhianat bangsa.

Manakala secara terbuka dia menuduh mantan pesaingnya yang tanggal dari kekuasaanya, Ayatollah Ali Akbar Hashemi Rafsanji, sebagai singa terhadap revolusi, koruptor parasit dan membandingkan pengkhianatan Rafsanjani dengan pengkhianatan terhadap Nabi Muhammad SAW yang menyebabkan syiah dan suni bermusuhan selama 1.400 tahun.

Ahmadinejad menawarkan rakyat satu tarikan (moral) yang beberapa generasi lamanya diimpikan rakyat. Ketika Rafsanjani membela diri melalui suratkabar pro-Mousavi, maka tamatlah riwayat kaum reformis.

Iran_Presiden

SAHAJA - Di mana pun tidur bersahaja

Jujur

PEKAN lalu Ahmadinejad bak mengubah Pemilu menjadi referendum untuk menentukan bagaimana sikap bangsa Iran terhadap prinsip asasi revolusi Islam. Slogan jalanan mereka berbunyi, Matilah semua orang yang melawan Imam Tertinggi yang kemudian diikuti ritual dan pepujian religius khas syiah.

Slogan itu bukan tandingan semboyan ceria penuh semangat dari kaum muda Teheran utara, yang menyanyikan, Ahmedi-bye-bye, Ahmedi-bye-bye atau ye hafte-do hafte, Mahmud hamum na-rafte (Sepekan, dua pekan, Mahmoud tidak mandi).

Mungkin sejak awal Mousavi memang ditakdirkan akan gagal, begitu dia berharap bisa menggabungkan energi terang antara kelas sosial atas yang liberal dengan kepentingan bisnis pedagang pasar.

Kampanye lewat facebook dan via SMS pun tidak relevan dengan kaum pedesaan dan kelompok pekerja yang setiap hari berjuang memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mereka. Banyak sekali yang tidak mempunyai waktu untuk sekedar pergi ke warung-warung internet untuk mengecek blog mereka.

Kendati Mousavi berupaya menarik kelas pemilih seperti ini, dengan cara mengupas masalah seputar inflasi dan kemiskinan, mereka malah memilih lawan Mousavi.

Oleh karena itu, di masa mendatang, para pengamat (Barat) mesti mempelajari lebih dalam lagi masyarakat Iran, sehingga diperoleh gambaran lebih faktual mengenai struktur negara ini yang sangat religius organik, untuk kemudian disampaikan dalam narasi keniscayaan liberal.

Adalah aspek-aspek religius unik Persia yang mengantarkan seorang sufi terusir berusia 80 tahun menjadi kepala negara 30 tahun lalu (Ayatollah Ruhallah Khomeini), kemudian ulama kharismatis Khatami 12 tahun lalu, terus seorang putra pandai besi yang jujur, Ahmadinejad mpat tahun silam, dan hal sama terjadi Jumat 12 Juni 2009.  (reuters/antara)

Safaat Ajaran Syekh Siti Jenar

Posted in religi on Juni 13, 2009 by albertjoko

*Menggugat Klaim Era Demak

*Kontemplasi Kesejatian Diri

HANYA ALLAH SWT - Ya Allah Engkaulah Pencipta Semesta Raya ini

HANYA ALLAH - Hanya kepada-Mu hambahmu menyembah

Sang penulis buku Syekh Siti Jenar Achmad Chodjim meminta kita agar tak mengkhawatirkan ajaran Syekh Siti Jenar (SSJ). Bukan momok yang harus ditakuti, karena isi ajarannya justru sarat prinsip egaliter atau persamaan dalam setiap lini kehidupan.

“Ajaran SSJ ini mengedepankan prinsip egaliter, dan sejak lama memperjuangkan hak asasi manusia (HAM), bukan momok yang harus ditakuti,” tutur Chodjim dalam diskusi Kontroversi Ajaran Syekh Siti Jenas dan Relevansinya Kini di Jakarta, Jumat 12 Juni 2009.

Menurut pandangan alumni Pondok Pesantren Modern Gontor, Darul Ulum dan Tebuireng, Jombang, Jawa Timur ini, stigma negatif terhadap SSJ selama ini membuat bingung masyarakat. Sesungguhnya, kehadiran SSJ yang notabene mengajarkan Agama Islam dalam ruang waktu Abad 15, bermaksud meluruskan pembentukan strata sosial, antara hamba dengan raja maupun pengikut dan sunan.

“Islam mengajarkan prinsip persamaan, dan tidak mengenal perbedaan kulit atau status. Inilah yang ingin diluruskan SSJ pada zamannya,” jelas Chodjim, penulis yang telah melahirkan 16 judul buku ini.

“Namun hal itu, justru dianggap mengancam eksistensi kerajaan Demak, sehingga SSJ dikecam sebagai pembawa ajaran sesat,” tegasnya.

CINTA ALLAH - Mencari Allah, mencintai Allah

CINTA ALLAH - Mencari dan Mencintai Allah

AJARAN tarekat SSJ, bahkan dinilai masih relevan hingga kini. Terdapat sembilan pokok ajaran. Di antaranya, tidak mengabsolutkan pendapat, menjadi manusia yang hakiki, yaitu perwujudan dari hak, kemandirian dan kodrat.

Selain itu, segala sesuatu di alam semesta adalah satu dan hidup. Sebagai gambaran, air yang dinilai benda mati, sebenarnya hidup. Ini telah terbukti. Adalah Masaru Emoto, peneliti berkebangsaan Jepang berhasil membuktikan bahwa air akan membentuk kristal yang indah saat diberikan ucapan yang indah-indah.

Sebaliknya, struktur kristalnya akan tidak beraturan dan jelek pada saat disumpahi atau dicaci-maki. Karya penelitian ilmiah Masaru Emoto ini dituangkan dalam buku yang meraih best seller, Mizu Wa Kotae Wo Shitteiru atau Menguak Rahasia Mengapa Air Dapat Menyembuhkan.

“Itu menunjukkan bahwa air memiliki unsur kehidupan karena dapat merespon yang di sekitarnya,” tutur Chodjim. “Dari sekian ajaran tersebut, SSJ ingin menjelaskan bahwa agama adalah jalan hidup dan tidak boleh dijadikan alat kekuasaan negara/kerajaan.”

Konsekuensinya, penganut tarekat ini harus mendapat kebebasan untuk mengeksplorasikan diri, sehingga dapat hidup tenang dan bahagia. Karya Chodjim tentang Syekh Siti Jenar, Makna Kematian, menjadi best seller of book, dan mencapai cetakan ke-13.

Ilmuwan kelahiran Surabaya 1953 ini, sehari-hari lebih banyak berbagai diskusi dan kajian agama. Santri Tebu Ireng ini pernah mendalami ilmu di Institut Pertanian Bogor (IPB) dan program pascasarjana di Sekolah Tinggi Manajemen Prasetya Mulya. (antara/*)