Fitnah Kekuasaan dan Harta (1)
*Kontemplasi Karyawan Yang Mukmin
*Kemenangan Semu Dari Tikungan Iblis
UJI IMAN – Indah menikmati fitnah sebagai ujian iman kita
DESAH nafas sohib lamaku begitu menyentak. Embusan angin dari rongga hidungnya, begitu membuncah, bak topan gurun menerjang cadas. Saking kuatnya, kertas bon kopi di atas meja tergelincir dan jatuh tertelungkup di lantai.
Kertas itu segera kupungut, lalu kuletakkan di atas meja. Kucoba tatap erat-erat wajah muram durja sang sohib, sambil tersenyum. Namun, sang sohib tak seperti biasanya. Ia tetap duduk terpaku tanpa ekspresi sambil menatap tayangan televisi.
Sejenak kami terdiam, demikian halnya ustadz sohibku yang duduk di antara kami. Sekitar tiga menit kami berada dalam kosmis kebisuan. Sunyi dan hening arena tombo ati, pekan keempat Juni 2009 itu. Kami hanya memperhatikan seksama rengekan tiga ekor anak elang di sarang, pucuk pepohonan yang ditayang televisi asing.
Suasana “tenang” tak setenang hati sohibku setelah berbulan-bulan tak berjumpa. Di tengah kebekuan suasana itu, ustadz sohibku mengejutkan kami berdua. “Coba, kenapa anak-anak elang itu menjerit- jerit? Apa kira-kira yang dikatakan?” kata ustadz.
Pertanyaan “sederhana” yang senantiasa tak gampang dijawab orang awam. Saya pun mencoba menjauhkan logika otak, dengan harapan mendapat safaat dari “kata hati.” Namun, sebelum saya menggerakkan bibir, sohib lamaku yang termenung, tiba-tiba mengusap-usap wajahnya… lalu pelahan menyunggingkan bibir.
“Ustadz..boleh saya jawab!” ujar sang sohibku lalu tertawa kecil “tanpa rasa.” Ustadz sohibku pun tersenyum sambil mengepulkan asap kreteknya. “Itu memang pertanyaan untuk sampean jawab…,” sahut Ustadz lalu tertawa renyah.
antitesa rasionalitas

CINTA - Indahnya kelahiran dan kematian di semesta
SEJENAK hening penuh arti. “Maaf, Tadz.. Itu kan lazim dalam ilmu pengetahuan…ya, anak-anak elang itu kelaparan, sehingga teriak-teriak memanggilnya induknya…maaf, lho Tadz…,” kata sohibku coba menjelaskan dengan akal sehat.
Lalu apa reaksi sang ustadz? Beliau hanya manggut-manggut sambil tersenyum. Sejenak ustadz membiarkan sohibku larut dalam “kebenaran” atas keyakinan ilmu pengetahuan ilmiahnya. Kami pun kembali terdiam beberapa saat.
“Sampean mungkin benar, tapi bagaimana sampean bisa memastikannya?” tanya ustadz, membuat sohibku sedikit terperanjat. “Itulah kita, sebagai manusia kadang terlalu yakin dengan kemampuannya sendiri, merasa mengerti dari segala-galanya.. lalu lupa diri,” tutur Ustadz sohibku.
Sontak, sohibku yang mulai sedikit “berbinar” kembali terpaku tanpa ekspresi. Belum hilang penasarannya, ustadz meneruskan uraiannya.
“Sampean tak tahu, kan…kalau di bawah sarang elang itu ada seekor ular pohon? Sampean juga tak tahu, kan… kalau orang hutan menggapai dedaunan yang berpucuk sarang itu? Sampean juga mungkin tak tahu, kalau ada seekor elang asing yang terus memperhatikan anak-anak elang itu?” cecar ustadz.
Sohibku hanya bisa tersenyum kecut, seolah mengiyakan. Apa yang diuraikan ustadz betul adanya, saya juga menyaksikan. Namun, sohibku yang berada dalam fokus minimal saat menyaksikan tayangan dunia fauna itu gagal merekonstruksi peristiwa yang ia lihat secara komprehensif.
“Keberadaan ular, orangutan dan elang asing itu dirasakan sebagai teror. Anak-anak elang itu ketakutan. Ini lebih mungkin daripada kelaparan, karena temboloknya masih cukup berisi, kan? Itu coba sampean perhatikan seksama (kebetulan kamera meng-close up anak-anak elang),” pinta ustadz.
barokah senyum
IKHLAS – Subhanallah.. Betapa indahnya keikhlasan kita…
SOHIBKU pun memperhatikan tayangan anak elang dengan cermat. “Betul…betul ustadz, saya khilaf!” ujarnya seraya tersenyum.
“Alhamdulillah… sampean tersenyum. Kita jangan kehilangan senyum, jika ingin merasakan nikmat Allah SWT. Senyum itu indah, karena sesungguhnya ekspresi nikmat yang dikaruniakan Allah. Dan, senyum menjadi indah, bila terucap dari keikhlasan kita mensyukuri apa pun yang diberikan Sang Maha Pencipta Alam Semesta Raya,” jelas ustadz.
Pelahan-lahan aura sohibku pun menuju derajat nol. Tingkat ketenangan “hati” yang mirip air dalam danau tanpa riak sedikit pun. “Iya, Ustadz… Saya mungkin merasa seperti anak-anak elang itu. Saya merasa diteror, diancam dan difitnah ketika saya coba bersikap dan bertindak benar. Kebenaran haq, dan bukan kebenaran atas dasar kepentingan saya pribadi…,” kata sohibku bertestimoni.
Rupanya, sohibku yang bekerja di perusahaan berplat “Antabrata” ini sedang risau dan gundah atas serangkaian tuduhan yang tidak ia perbuat. Tampak jelas naluriah akal sehatnya yang tak bisa menerima kenyataan yang dialaminya.
Ustadz pun kembali tersenyum dan manggut-manggut. “Ucapkan Alhamdulillah, Insya Allah sampean akan tetap pada kebenaran yang haq, dan tetap mendapatkan kebenaran nanti. Allah Maha Adil dan Maha Pengasih dan Penyayang, apalagi terhadap hamba-Nya yang mukmin!” seru Ustadz sohibku.
jebakan syetan

SERUAN ustadz bak petir di keremangan “kafe hati.” Energi kebenaran haq pun menebarkan aura kebahagiaan yang terpancar di wajah sohibku. “Astaghfirullah…. Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillaah….Ustadz terimakasih, saya seperti bangun dari mimpi saja. Saya hampir lupa Kemaha- Kuasaan Allah SWT… Alhamdulillah…” ujar sohibku dengan berbinar.
“Nah, sampean juga perlu bersyukur karena Allah senantiasa memberi cobaan terhadap keimanan hamba-hamba-Nya. Oleh karena iman yang sejati kepada Allah SWT, tak bisa diucapkan belaka. Tak cukup dengan atribut belaka, berpakaian seolah-olah muslim yang mukmin, tapi perbuatan tidak. Kita ini sering diplesetkan syetan, ya.. berada di tingkungan iblis.”
“Hanya orang-orang muknin yang senantiasa berpasrah diri kepada Allah SWT, ikhlas, sabar, tawadhu’ yang istiqomah mencintai Allah dan disayangi Allah. Haqqul yaqin lah Allah memberi rahmat dan hidayah untuk kehidupan di dunia maupun akherat…,” tutur Ustadz sohibku.
Berkali-kali sohib lamaku pun mengucapkan kata amin dan memanjatkan syukur kepada Tuhan. Ustadz pun menganjurkan senantiasa tenang bak air dalam telaga, dan senantiasa “mampu (hati)” tersenyum dalam mengarungi kehidupan. Artinya, kita tetap sepenuhnya sadar hati sebagai mukmin menghadapi dunia penuh angkara murka, bukan larut dalam perangkap iblis.
Saya pun jadi teringat kisah Rasulullah, sang figur pemimpin terbaik dan teladan sepanjang masa. Talenta cerdas, supel, jujur dan berani Nabi Besar Muhammad SAW menerangi dunia kegelapan melalui fondasi Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Kendati begitu, sepanjang masanya tak kurang dari fitnah hingga ancaman pembunuhan.
ikhlas

HANYA kepada Allah kami menyembah
PERJALANAN dakwah dan jihad adalah perjalanan hidup orang-orang mulia dan terpuji sepanjang sejarah. Perjalanan para Nabi, Rasul Allah dan orang-orang shalih. Episode perjalanan yang tak menawarkan aroma mutiara dan berlian bercahaya, sebaliknya dipenuhi duri, dan kerikil tajam, serta penuh liku.
Hampir tak ada yang ingin mengikuti dan menempuhnya, kecuali hamba-hamba-Nya yang diberi rahmat dan barokah. Teror dan aneka ancaman ditimpakan kepada para Rasul Allah, para sahabat dan orang-orang Shalih dari para ulama dan mujahid sesudah para sahabat, tak ada yang lepas dari kezaliman, siksaan, pembantaian dan pembunuhan.
Ustadz sohibku pun menyitir Surat Al Baqoroh (2) ayat 191: Wal fitnatu asyaddu minal qotli.. “Dan, fitnah itu lebih sangat (dosanya) daripada pembunuhan..” jelasnya. Imam Ibnu Katsir pun telah memberi pelajaran kepada kita, bahwa Imam Abul `Aliyah, Mujahid, Said bin Jubair, Ikrimah, Al Hasan, Qotadah, Ad Dhohak, dan Rabi’ ibn Anas mengartikan fitnah dengan makna syirik yang notabene lebih besar dosanya daripada pembunuhan.
Fitnah dalam konteks budaya negeri kita, mengusung arti tuduhan atas perbuatan yang tidak dilakukan oleh orang yang dituduh. Dalam Al Qur’an, fitnah mengandung makna beragam, sesuai konteks kalimatnya. Fitnah bermakna bala bencana, ujian, cobaan, musibah, kemusyrikan, sampai kekafiran.
Sikap tenang, ikhlas dan sabar pun menjadi senjata terampuh yang diajarkan Allah bagi seorang mukmin. Ustadz sohib saya pun mengingatkan saya dan sohib lamaku, bahwa seluruh sahabat Rasulullah perlu bersikap wara’ dan sangat hati-hati terhadap dunia dan fitnah kekuasaan.
“Dunia membuat orang sibuk dan melupakan urusan-urusan lain. Pengejar dunia tak pernah mendapat sesuatu, selain rasa tak puas. Sungguh, ia tak kan pernah puas pada setiap apa yang diperolehnya.” Begitulah yang tertulis dalam satu di antara surat Ali bin Abi Thalib r.a. kepada Mu’awiyah. (*)