Fitnah Kekuasaan dan Harta (2)
*Kontemplasi Karyawan Yang Mukmin
*Kemenangan Semu Dari Tikungan Iblis
JARUM jam di dinding “kafe tombo ati” menunjuk pukul 02.13 WIB, 25 Juni 2009. Namun, sohib lamaku bukannya terkantuk. Sebaliknya, ia begitu bersemangat mendengarkan uraian dan kajian religius kontemporer sang ustadz sohibku di Kota Pahlawan.
Sohib lamaku seolah baru menyadari urgensi iman di era serba canggih. Safaat dan manfaat tahta dan harta pun tak punya “harga” dibanding kezuhudan iman kepada Allah SWT. Ia akhirnya tanpa rikuh mengakui, bahwa kenikmatan-kenikmatan tiada tara yang tertangkap panca indera, tak ubahnya ilusi kehidupan.
“Itulah, kalau kita terjebak perangkap syetan. Kita ini jadi boneka. Seharusnya sebagai pengendali nafsu, malah dikendalikan hawa nafsu sendiri. Kita pun jadi lupa keutamaan-keutamaan yang diwajibkan Allah SWT dalam menjalani hidup di dunia fana ini,” tutur ustadz menimpali sohib lamaku.

“Memang, dunia fana senantiasa memesona setiap orang. Menggiurkan, dan sering membuat kita lupa (Allah). Apalagi, kalau kita diberi rizki, harta berlimpah-limpah oleh Allah. Pangkat dan jabatan tinggi, serta istri cantik… Waahh... lupa semua! Seolah-olah kita jadi raja diraja yang bisa hidup seribu tahun…,” kata ustadz lalu terkekeh.
Tawa ustadz sohibku sontak terhenti, manakala layar televisi menayangkan kematian mendadak seekor king cobra. Kedigdayaan ular yang banyak ditakuti manusia ini lenyap di bawah cengkeraman kuku- kuku seekor elang. Tubuh cobra yang licin dan gesit, koyak dicabik-cabik patukan sang rajawali.
“Itu contohnya… ular itu tak sakit apa-apa, mati mendadak. Sampean lihat kan… tadi si cobra itu begitu perkasa menyergap tikus. Begitu kenyang, dalam perjalanan malah mati diterkam rajawali… Begitulah hukum alam. Kita yang hidup di semesta raya ini, hendaknya jangan lupa Sang Maha Pencipta, bisa terpeleset jadi takabur… dan berakhir hancur!” tegas ustadz mewanti.
kematian

MAUT - Ajal datang tanpa diundang
SOHIBKU pun terdiam seribu bahasa, seolah mencerna petuah sang ustadz. “Lahir, tumbuh dewasa, lalu mati. Jangan sampai terlena. Di antara hal ghoib di dunia adalah kematian. Tak seorang pun, dan apa pun, kecuali Allah SWT yang tahu ajal menjemput kita. Sejatinya, hidup kita adalah mempersiapkan kematian. Jangan dibalik, hidup untuk senang-senang, happy-happy… waah.. celaka dua belas kita!” urai ustadz lalu tertawa renyah.
Ustadz “tanpa pondok” ini kemudian mengingatkan kami berdua tentang bahaya laten dari tipu daya iblis. Muslihat kaum dajjaal ini memiliki target utama pada ahli ibadah dan ahli amal (Hujjatul Islam Al Ghazaly). Dikisahkan, menjelang akhir zaman, tipu daya ini makin mengristal.
Terdapat lima muslihat jahat yang wajib diwaspadai kapan pun, dan di mana pun. Pertama, pedaya shalat. Kedua, terpedaya membaca Al-Qur’an. Ketiga, terpedaya dalam haji. Keempat, terpedaya dalam perjuangan (jihad), dan kelima terpedaya dalam zuhud.
“Zaman sekarang makin banyak saja ahli ibadah dan ahli amal yang terpedaya, tergelincir. Sepanjang nafas masih berdengus, amalkan Laa ilaha ilallah, Muhammad-da Rasulullah,” tegas ustadz seraya menatap kami kuat-kuat.
Harta, tahta dan wanita memang senantiasa menebarkan pesona “dajjalai” luar biasa. “Kita harus meneladani Rasulullah SAW. Iman beliau tak pernah goyah sedikitpun, meski mendapat godaan luar biasa. Harta dan kekuasaan yang ditawarkan kaum kafir Quraisy memang sangat menggiurkan orang umumnya. Tetapi, tidak bagi Nabi Muhammad,” tutur ustadz.
“Kenapa? Harta dan kekuasaan itu tak sebanding dengan dakwah yang beliau amalkan sepanjang hayatnya. Naif, kan? Karena dengan menerima tawaran kaum Quraisy itu, sama halnya berhenti berdakwah, sekaligus menolak kenabian beliau. Ini bertolakbelakang dengan perintah Allah SWT,” jelas ustadz.
cinta Allah

JIHAD - Kafilah wajib menegakkan agama demi Allah SWT
HARTA dan tahta tak mungkin ditukar dengan kewajiban berdakwah bagi setiap Muslimin. Apa kata Rasulullah sebagaimana disampaikan Abu Thalib. “Wahai paman (Abu Thalib), meski pun mereka meletakkan matahari di kananku dan bulan di kiriku agar aku berhenti dari dakwah ini, pastilah tidak akan kulakukan. Hingga nanti Allah SWT menangkan dakwah ini, atau aku mati bersamanya,” tegas Rasulullah SAW.
Kecintaan mutlak Rasulullah untuk berdakwah, sesungguhnya manifestasi kecintaan beliau kepada Allah SWT. “Hanya orang beriman lah, yang selamat dan selalu perkasa menghadapi tipu daya iblis. Rasulullah sebagai nabi besar junjungan kita, harus diteladani. Beliau tak silau harta dan tahta, kecuali harta dan tahta yang diperoleh secara halal dan jujur. Oleh karena harta halal, kekuasaan yang diperoleh secara jujur, itu bagian rahmat dari Allah SWT,” kata ustadz.
Ketika mendengarkan uraian ini, saya teringat kisah Syaikh Haji Rasul, tokoh terkemuka dalam gerakan pembaharuan Islam di Minangkabau pada masa kolonial Belanda. Haji Rasul adalah satu dari beberapa mutiara dari Minangkabau.
Putra ulama terhormat, Syaikh Muhammad Amrullah yang lahir pada 10 Februari 1879 ini, merupakan tokoh di balik gerakan pembaharuan Islam (Reformis) di Minangkabau. Bukan gerakan berorientasi kekuasaan, melainkan pencerdasan umat dengan nilai-nilai dakwah Islam yang benar dan lurus.
Gerakan ini berdiri kokoh di sisi umat, bukan di sisi penguasa. Mereka mengambil jalan para nabi, bukan jalan para pendukung Firaun dengan Bal’am-nya dan Qarun. Haji Rasul yang menimba ilmu di pusat Agama Islam, Mekkah, berguru pada Imam Masjidil Haram, Syaikh Ahmad Khatib, yang tak lain ulama asal Minangkabau.
Selain itu, ia berguru pada sejumlah ulama di Mekkah. Seperti Syaikh Abdullah Jamidin, Syaikh Thaher Jalaludin, sampai Syaikh Usman Serawak. Haji Rasul terinspirasi ulama-ulama pergerakan, sekaliber Muhammad Abduh dan Jamaludin al Afghani yang mengajarkan faham berbeda dengan arus utama Islam di Minangkabau saat itu, yakni Tarekat Naqsabandiyah.
tetap kokoh

TELADAN - Ketegasan Haji Rasul jadi teladan
HAJI Rasul yang dikenal tegas dan berani menyatakan putih, jika putih. Hitam dikatakan hitam, tanpa kiasan. Kolonial Belanda pun menganggap tak bisa diajak bekerjasama. Operasi-operasi intelijen sistematis dilancarkan untuk mencoba menghancurkan kesufian Haji Rasul.
Berita-berita dusta disebar agar umat tidak percaya pada sosok ulama setipikal Haji Rasul. Berbagai dokumen palsu dibikin, isinya fitnah, karirnya dihambat, bahkan tempat mereka mencari nafkah coba dikacaukan.
Jalan terakhir yang dilakukan penjajah, menjebloskan ke penjara lewat peristiwa yang direkayasa. Jika perlu membunuhnya, baik dengan cara diracun atau operasi terselubung. Kematian seolah-olah akibat kecelakaan, atau sakit yang tak bisa disembuhkan.
Ketika kutanyakan kepada ustadz sohib saya, beliau tersenyum. “Sebab itu, ulama jenis ini sangat berhati-hati menjalani kehidupannya, senantiasa memasrahkan diri sepenuhnya kepada perlindungan Allah SWT,” kata ustadz.

PASRAH ALLAH - Saadah darayn
Rasulullah SAW telah memberi pedoman untuk memilah ulama baik, dan buruk. Al-Ghazali dalam Ihya `Ulum ad Din menyitir hadits Rasulullah SAW. “Ulama yang paling buruk adalah ulama yang suka mengunjungi penguasa. Sementara penguasa yang paling baik adalah yang sering mengunjungi ulama.” (HR Ibnu Majah)
Namun, Haji Rasul tetaplah Haji Rasul. Ia kokoh menjadi pelopor pembaharuan pemahaman Islam di Minangkabau. Beliau begitu tabah menghadapi serangan demi serangan, termasuk berbagai fitnah yang dilancarkan orang-orang yang tak sepaham dengannya.
“Makanya, kita sebagai umat Islam, selalu waspada, dan menyiapkan diri sebelum fitnah datang. Setiap kebenaran yang haq kita amalkan harus istiqomah, karena sepanjang itu pula iblis menghalangi dengan berbagai fitnah. Tak usah khawatir, apalagi takut. Teladani Rasulullah SAW, selalu pasrah kepada Allah SWT adalah benteng tiada tanding,” tegas ustadz sambil menatap tajam sohib lamaku.
Kami pun bak koor mengucap Alhamdulillah. “Sampean-sampean ini harus bisa lebih tegar. Dengan iman yang zuhud, senantiasa memasrahkan diri kepada Allah SWT, apapun yang sampean lakukan, Insya Allah mampu membalik fitnah terkeji sekalipun. Seorang kafilah sejati, tak boleh ragu, kan? Jihad adalah jalan terbaik dan termulia. Tapi, jangan salah. Jihad tak harus berperang secara fisik, lho,” kata ustadz, bak energi inti superdahsyat yang membuat sohib lamaku berseri-seri. (*)