Hussein Nama Istimewa Si Obama

Posted in politik global on Desember 12, 2008 by albertjoko
  • Teror Di Balik Topeng Demokrasi Koboi AS
saddam-kena-tangkap1

Presiden Saddam Hussein ditangkap secara keji tentara zionis - bp2.blogger.com

PRESIDEN Amerika Serikat terpilih, Barack Obama berjanji mengikuti tradisi pelantikan presiden khas Negeri paman Sam. Ia akan menggunakan nama lengkapnya saat disumpah sebagai presiden AS.

Barack Hussein Obama, nama penuh sang demokrat berkulit hitam ini. Nama tengah nan istimewa Obama itu, pernah menjadi sasaran ‘tembak’ McCain sepanjang kampanye melelahkan di AS.

Lawan politik Obama selalu menggunakan komoditas nama Hussein sebagai black campaign. Hussein diberi stigma, bahwa Obama sebagai pemeluk Islam yang secara diam-diam menjalin hubungan dengan jaringan teroris.

Sejatinya, Obama justru pemeluk Kristen. Nama berbau Timur Tengah ini, bisa jadi memberi kontribusi kemenangan Obama selain kepiawaian, integritas dan kapabilitas politik sang politikus muda itu.
“Saya kira tradisinya adalah mereka semuanya memakai tiga nama, dan saya akan mengikuti hal itu,” tegas Obama kepada Tribune dalam wawancara yang dilansir di laman internet Obama, Rabu, 10 Desember 2008 dinihari.

“Saya sama sekali tak berusaha membuat pernyataan apapun. Saya hanya akan melakukan apa yang diperbuat orang lain,” jelas Obama.

bush_iraq_oil_2003_450

Menjarah Di Balik Kata Mutiara Membela - www.dancewithshadows.com

SAINGAN Obama dari Partai Republik, John McCain, pernah menegur seorang pendukung dalam kampanye karena menyebut Obama dengan nama lengkapnya, dengan menyatakan hal itu sebagai ‘kurang tepat’.

Ketika menyatakan dukungannya pada Obama, Oktober 2008 lalu, mantan Menteri Luar Negeri Colin Powell mengecam mereka para penyebar desas-desus yang tidak benar dengan menyatakan Obama sebagai Muslimin.

Menurut jenderal purnawirawan kulit hitam itu, kabar angin itu mencerminkan prasangka keagamaan. Subhanallah…! Obama memang belum memeluk Islam, sebagaimana saudara Michael Jacson di AS.

Betapa indah dan nikmatnya Islam belum dipahami. Hidayah belum turun dalam diri Obama. Itu faktanya… Namun, gunjingan sampai rumor yang ‘menyerang’ Obama karena bernama Hussein (Muslim), membuktikan betapa menyedihkannya masyarakat yang mengklaim supermodern itu.

Amerika Serikat selalu menjalankan standar ganda dalam berpolitik. Dusta besar, bila mereka telah menerima secara ikhlas, menghormati dan menghargai Islam. Klaim negara demokratis, faktanya democrazy!!!

Amrozi, Imam Samudera dan Ali Gufron boleh secara hukum formil duniawi dianggap teroris. Tapi, sesungguhnya teror psikologik, teror hati ala Amerika Serikat lebih menyakitkan.

Apa yang dilakukan Amerika Serikat di Afghanistan? Irak? Pakistan? Dan, hampir di setiap jengkal bumi ini? Pembunuhan massal setiap invasi, apa pun dalihnya, agresi negeri adidaya itu hakekatnya terorisme yang dilegalkan. Allahu Akbar! (afp/TG/ant)

Obama, Planet Mars, dan Twitter

Posted in artikel on Desember 12, 2008 by albertjoko

Oleh A Jafar M Sidik

Tech Test Twitter

Twitter mengubah dunia jurnalisme global - AP PHOTO

PADA masa berjalan, manakala harga komputer, gadget dan tarif telepon semakin murah, kian kaya fitur.

Puluhan juta orang Indonesia mungkin lebih akrab dengan Facebook, MySpace, Twitter, Flickr, hi5, YouTube, Friendster, Flixter, Yahoo Messenger, mikroblog dan jejaring sosial virtual lain yang pasti bertambah canggih, ketimbang media-media tradisional.

Sementara, dulu, media-media global, seperti CNN, BBC, New York Times, Washington Post, Guardian, Wall Street Journal dan banyak lagi, harus berpayah-payah mengirim wartawan untuk meliput peristiwa eksklusif di semua sudut kolong jagat.

Mereka pernah tak bisa memasuki Korea Utara yang kuper atau Tibet yang saat itu diisolasi China, sehingga tidak bisa mewartakan apa yang terjadi di sana.

Tetapi, dari Teror Mumbai, India, 26 November 2008, media global memperoleh pelajaran berharga bahwa eksklusivitas dan kedalaman liputan tak harus dicapai dengan bersegera mengirim kru ke lapangan atau memaksa para koresponden yang kebetulan tidak di tempat kejadian untuk bergegas ke situs peristiwa.

Mereka kini memanfaatkan betul fenomena di mana warga biasa, mampu mengerjakan fungsi-fungsi jurnalistik seperti melaporkan, mengumpulkan, menata, bahkan memverifikasi informasi dan berita baik teks, audio, video, sampai info grafis, di manapun dan kapan pun.

Profesor Jurnalistik dari Universitas Columbia yang juga reporter Iptek dan pendiri South Asian Journalists Associaton, Sreenath Sreenivasan, menyebut Teror Mumbai menjadi tonggak bagi evolusi jurnalisme, khususnya jurnalisme warga (citizen journalism).

Organisasi berita tradisional memang akan tetap hidup, namun paradigma dan caranya telah berubah.

NYTimes.com misalnya, menawari para saksi Teror Mumbai untuk memublikasikan kesaksian langsung mereka melalui lamannya, tatkala desingan peluru dan lemparan granat teroris mengincar nyawa mereka.

The Guardian, CNN dan situs-situs berita lainnya, bahkan tinggal menadahkan tangan menanti hujan informasi-informasi eksklusif dari Twitter, Flickr, dan jejaring sosial virtual lain, untuk kemudian mereka sunting, rapikan, organisasikan dan publikasikan.

Tanpa mengirim reporter, media massa global memperoleh cerita dan gambar secepat peristiwa teror terjadi, bahkan bisa sedalam investigasi jurnalistik, seekslusif keinginan stasiun-stasiun berita, seaktual dan sefaktual kesaksian langsung para saksi peristiwa.

“Aku percaya, pada masa depan, fungsi terpenting lembaga-lembaga pemberitaan adalah mengorganisasikan berita-berita (dari warga),” kata Jeff Jarvis, pakar internet dan profesor jurnalisme dari City University of New York, seperti dikutip the Guardian (1/12).

obama1

Twitter Menjadi Pisau Kampanye Jitu Obama - www.bivingsreport.com

JEJARING sosial virtual di antaranya Facebook dan mikroblog, seperti Twitter, telah memperluas jangkauan layanan berita lembaga-lembaga pemberitaan ke dalam masyarakat global. Media tidak lagi sebagai agen informasi, jendela bisnis dan penarik iklan, juga pintu ke dunia maya (cyberdoor).

Untuk laman CNN.com misalnya, cyberdoor ini berfungsi ganda, menjadi pintu masuk bagi profil, pesan pribadi dan daftar kawan pemilik blog ke dalam CNN Forum, dan menjadi pintu keluar untuk berita-berita, video dan blog favorit dalam CNN.com untuk disebarkan lagi dalam Facebook mereka.

Akibatnya, menurut Arielle Emmett dalam American Journalism Review (AJR) edisi Desember/Januari 2009, portal CNN menjadi semakin kaya, sekaligus bertambah sibuk lalulintas aksesnya berkat komunitas-komunitas dalam Facebook. “Kini, page view CNN setiap bulannya mencapai 1,87 miliar.”

Sementara, laman jaringan televisi PBS (Public Broadcasting Service), pada Oktober 2008, telah menarik pengunjung laman sebanyak 877 ribu per hari, ditambah 20 juta pengunjung temporer (unik).

Twitter

TIGA, empat tahun lalu, orang hanya bisa chatting melalui komputer, namun kini anak-anak muda anteng chatting melalui telepon seluler dan gadget lainnya. Tidak hanya di ruangan, juga di angkot, kereta api, bis kota, busway, ruang tunggu bandara, cafe, mal dan banyak lagi. Mereka bisa bercengkerama di mana saja, kapan saja, dengan siapa saja.

Sembari senyum sendiri, jemari tak henti menekan tuts, berkomunikasi dengan karib dan komunitas virtual mereka sambil melintasi tabir waktu, bangsa, keyakinan, dan geografi.

Mereka berbicara soal asmara, mode, gaya hidup, teroris, UU pornografi, gosip artis, kontrak bisnis, Liga Inggris, hingga konser The Changcuter, Obama dan Paris Hilton.

Sementara di AS, badan antariksa nasional AS (NASA) menggunakan Twitter dari wahana angkasa luar Phoenix, untuk berkomunikasi dari Planet Mars yang diinvestigasi Phoenix, dengan manusia di Bumi yang tentu saja sama-sama pengguna Twitter.

Di dimensi lain, politisi-politisi muda, cerdas dan energik, seperti Barack Obama dan Hillary Clinton memanfaatkan Twitter untuk menyelaraskan diri dengan kekinian. Meraba masa depan dan menjaring pemilih baru yang jumlahnya berlimpah, tapi lebih suka menyambangi dunia gemerlap ketimbang dunia politik yang gelap.

Kolumnis Lee Thornton, dalam AJR edisi Desember/Januari 2009, menyebut, Obama sukses mengeksploitasi new media (internet) sehingga ia meraih kemenangan besar dengan merebut duapertiga suara pemilih muda yang turut pemilu 4 November 2008.

“Tim Obama memahami bahwa keberhasilan kampanye mereka amat tergantung pada teknologi, laman-laman jejaring sosial, wahana-wahana telekomunikasi layar sentuh modern yang mereka rajut, dan BFF Google (best friend forever Google, para peselancar internet fanatik),” kata Lee.

copy-of-300434-01-02

Tragedi Mumbai bukti keunggulan Twitter dalam jurnalisme global - AP PHOTO

APA yang terjadi pada sistem politik kontemporer AS adalah pertautan yang sempurna antara teknologi dengan generasi yang ingin mencari simpul antara sebab dan akibat tanpa didikte kekuatan-kekuatan di luar dirinya.

Obama mengerti ini semua, demikian pula banyak politisi muda di seluruh dunia. Mereka memahami kawula muda kini mengerti bahwa dunia telah berubah menjadi amat terbuka, eksploratif, namun sangat privat.

Mereka bisa seberpengaruh para analis, pengamat dan kolumnis beken, bahkan lebih merdeka mengutarakan opini ketimbang editor dan produser yang bekerja untuk perusahaan-perusahaan media yang dimiliki seseorang, dan acap menuntut kooptasi pada kepentingan pengendali perusahaan.

Mereka juga tak bisa ditarik oleh jargon-jargon politik yang klise dan tidak kreatif dari para politisi usang.

Saking pentingnya mereka, mengutip Washington Post (12/9/2007), Presiden George W Bush pun lebih memilih mengundang para blogger daripada pemimpin redaksi, seolah hendak mengatakan blogger itu sepenting media pemberitaan.

Dan, khusus mengenai Twitter yang dianggap jejaring sosial termutakhir dan bakal mengubah paradigma media, kolumnis AJR, Arielle Emmett, menyebut tool dan fasilitas pengirim pesan mobil di dalamnya, telah membuat anggota-anggota komunitasnya -termasuk para kolumnis dan produser, bisa berbalas kirim teks untuk bertukar pertanyaan. Berbagi komentar dan informasi terkini, hanya dengan 140 karakter, bak layanan pesan singkat sms dan chatting.

Usia Twitter, memang masih sangat muda yaitu baru dua tahun, namun jejaring sosial fenomenal ini sudah dilanggani sejuta orang yang umumnya makmur dan selalu menggali maksimal layanan komunikasi virtual dalam perangkat komunikasi mobil apa pun yang dimilikinya.

Para pelanggan bebas keluar masuk laman Twitter tanpa dipungut bayaran, untuk bertukar pesan melalui komputer dan perangkat mobil yang tersedia.

Debut fenomenal Twitter adalah saat gempa bumi Sichuan, China, pada Mei 2008 manakala informasi, audio dan gambar pertama datang melalui Twitter. Namun, yang paling sensasional adalah ketika invasi 60 jam para teroris di Mumbai pekan lalu.

Para jurnalis, termasuk penulis politik washingtonpost.com Chris Cilliza, komentator politik NYTimes.com Kate Phillips dan kritikus musik The Times Jon Pareles, menjadi pelanggan setia Twitter dan rutin menyapa fans Twitter lewat mikroblog mereka.

“Tidak seperti Facebook, Twitter berpotensi mengubah dunia (karena sangat mudah diakses). Anda tidak perlu menjadi teman dan kontak saya. Jika anda di Twitter, kita semua terkoneksi,” kata pengarang Bringing Nothing To The Party; True Confessions of a New Media, Paul Carr (The Guardian, 3/12).

Dari Teror Mumbai, keunggulan Twitter seperti disebut Paul itu terekspos hingga memaksa dunia mengakui bahwa jurnalisme, cara manusia bermasyarakat dan sistem koneksi sosial, memang telah berubah drastis. (ant)

Nikmat Kurban di Saat Krisis

Posted in tajuk on Desember 8, 2008 by albertjoko
  • Mencintai Sesama Demi Peradaban Mulia
  • Ironi Kemilau Harta Tahta Sesaat di Dunia
148467r78ouo1j9a2

Selamat Idul Adha saudaraku

SENIN 8 Desember 2008, umat Islam di seluruh dunia merayakan Hari Raya Idul Adha atau juga dikenal sebagai Hari Raya Haji.

Tiap tahun segenap kaum Muslimin diingatkan dan belajar peristiwa luar biasa tentang cinta Nabi Ibrahim As kepada Allah Swt. Begitu besar cinta dan ketulusan Nabi Ibrahim, sampai ikhlas mengorbankan putranya, Ismail As.

Teladan mulia untuk membangun ketaatan kepada Allah. Idul Adha juga potret usaha membangun ketabahan, kekuatan dan persaudaraan sesama manusia.

Idul Adha atau Idul Kurban juga mengandung makna mulia tentang nikmatnya ibadah. Tak hanya memberi teladan membangun persaudaraan tulus, Idul Kurban memberi petunjuk kepada kita semua untuk mencintai alam sekitar demi terwujudnya peradaban mulia.

Di era kini, Idul Adha menjadi pelajaran istimewa. Betapa urgennya dalam dunia super individualistik ini, kita mengamalkan nilai-nilai kemanusian. Bukan hanya yang tertuang dalam tatanan formal, seperti yang diemban Komisi Nasional tentang Hak Asasi Manusia (HAM).

Penghormatan nilai-nilai kemanusian bersifat universal, untuk semua umat Allah. Negara hanya membatasi komunitas manusia yang menjalin kesepakatan hidup bersama dalam tananan legal formal.

Nilai kemanusiaan yang terkandung dalam Idul Adha bersifat hakiki dalam kehidupan di dunia dan akhirat. Cinta ini seiring perjalanan waktu, cenderung aus, bahkan sirna akibat dominannya egoisme yang berpijak pada hawa nafsu.

Amat ekstrem ketika kita berada dalam masyarakat modern, atau negara yang mengklaim diri sebagai negara supercanggih. Kota-kota megapolitan, dan apa pun sebutannya yang umumnya lebih berorientasi pada penghargaan dunia materi.

Ibarat dua sisi mata uang. Makin tinggi menghargai materi, nilai kemanusiaan makin rendah nilainya. Segenap anggota masyarakat pun cenderung alpa terhadap indahnya mencintai sesama manusia, sekali pun bukan saudara sekandung.

Lebih parah lagi, ada yang sampai lupa jati diri sendiri. Dunia modern di Abad Global, memang cenderung  menenggelamkan kesadaran sejati. Kita lebih banyak terperangkap pada kesibukan rutin yang umumnya berorientasi pada materi, kekuasaan dan harta duniawi.

Hati seolah beku di bawah bayang-bayang rasionalitas otak. Tiap detik hanya memikirkan, bagaimana menghimpun dan menguasai harta sebanyak- banyaknya. Merintis karir setinggi-tingginya demi tahta. Kecenderungan nafsu tiada batas.

Tiada lagi kontrol diri. Pupus sudah kesadaran sejati, bahwa kita hanya manusia lemah di hadapan Allah. Manusia bahkan mengidentifikasi diri sebagai mesin hitung.  Semua diukur berapa tekanan pada tuts untuk menghasilkan uang dan kesenangan lain.

87642232

Hanya Allah tempat berlindung - photobucket.com

SIKAP dan perbuatan pun serba instan. Manusia telah bahagia menempatkan dirinya sebagai mesin. Apa saja diukur dari kepentingan diri. Individualistik, egois dan menjauhkan kepedulian kepada sesama.

Menjadi pejabat pun kita cenderung menempatkan diri bak raja. Menjadi penegak hukum juga suka mempedaya sesama. Jadi politikus pun suka-suka mengkhianati rakyat. Maka, korupsi, kolusi, dan nepotisme menjadi metode nyata.

Tak terkecuali saat kita menjadi pengusaha. Umumnya, lebih suka memupuk harta ketimbang mengempati penderitaan sesama. Tanggungjawab sosial perusahaan atau sebutan menterengnya corporate social responsibility (CSR), hanya dijadikan tameng mengatasi kecemburuan sosial.

Allah Maha Adil, lambat laun, pengusaha-pengusaha tak berhati pun terjebak korupsi dan masuk bui.  Siapa pun kita, dan apa pun identitas kita, tak lebih manusia biasa. Manusia yang lahir tanpa daya.

Lahir dengan fitra makhluk berderajat tinggi di antara ciptaan Allah.  Derajat ini merosot, manakala kita lebih menuruti hawa nafsu angkara murka. Allah senantiasa memberi jalan kebenaran sejati menuju dunia akhir, pasca kematian.

Tetapi, kita cenderung mengabaikannya. Terlalu sedikit orang menyadari hakekat hidup sejati. Dan, terlampau banyak yang terpesona harta dan kekuasaan dunia. Kita lupa, bahwa kematian datang kapan saja, menyudahi nafsu tak terbatas kita.

Sentuhan dan kampanye tentang urgensi nilai-nilai kemanusiaan pun jadi ‘tak laku’. Oleh karena dunia modern identik egoisme inheren. Indikator lain dalam tatanan formal, penghormatan HAM di negeri kita terjebak di tataran formalistik.

Belum ada kesungguhan, good will, dan ketulusan mengamalkan sepenuh hati. Perjuangan HAM dalam sejarahnya, bahkan banyak merenggut nyawa. Andai kita meneladani kecintaan Nabi Ibrahim As kepada Allah, tentu penghargaan HAM kita tempatkan di level tertinggi dalam peradaban bangsa dan negara ini.

Tak pernah ada perjuangan tanpa pengorbanan. Perjuangan selalu diikuti pengorbanan. Dan, pengorbanan untuk perjuangan. Filosofi seperti ini benar adanya. Kita semua telah membuktikan sejak RI ini tegak di Bumi Pertiwi.

adha23

Masjid menjadi rumah indah menuju surga - photobucket.com

BANGSA kita mampu merdeka pada tahun 1945, bukan tiba-tiba. Perjuangan teramat panjang telah banyak merenggut jiwa dan harta nenek moyang kita. Pengorbanan para pejuang yang kini jadi pahlawan kita.

Inilah yang hilang dari kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini. Mari periksa diri sendiri, sebelum mencibir orang lain. Berapa banyak, dan apa saja yang kita dapat dari cara halal? Seberapa besar perjuangan kita berpijak kebenaran sejati?

Sebaliknya, seberapa banyak harta dan kekuasaan yang kita rengkuh melalui cara-cara instan atau mengabaikan kebenaran agama?  …. Kita telah banyak terpengaruh kehidupan serba instan ala negara modern (Barat).

Sikap dan mental kita tak mencerminkan lagi sebagai anak bangsa yang berbudaya adi luhung. Yang haram dan halal tak jelas batasnya. Kita cenderung tak mau berjuang dengan tetes keringat sendiri untuk memperoleh harta halal.

Sekadar ingin menjadi PNS, bahkan suka melalui pintu belakang. Suap-menyuap menjadi kebiasaan untuk membangun pegawai pemerintahan kita. Wajar kemudian muncul penipu-penipu CPNS.

Kalau pun lolos menjadi PNS, bukan pelayanan penuh pengabdian kepada rakyat. Sebaliknya, lebih terobsesi mencari uang tak resmi (pungli) untuk mengganti uang suap, sekaligus memperkaya diri.

Momentum Idul Adha, sepatutnya kita hayati. Mari renungkan diri untuk berselanjar pada kedalaman hati. Temukan diri sejati, sebagaimana fitra diri saat lahir dari rahim sang ibu.

Ibu yang senantiasa mencintai anak-anaknya. Nyawa seorang ibu senantiasa dipertaruhkan ketika melahirkan anak-anaknya. Namun, seberapa banyak dan besar kita membalasnya? Durhaka atau berbhakti kita ini?

Nabi Ismail As patut kita teladani pula. Ketika sang ayah mendapat wahyu untuk menyembelihnya, sedikit pun tiada keraguan menerimanya. Ismail justru menyambut gembira, dan meminta sang ayah segera melaksanakan perintah Allah.

Subhanallah… ! Nabi Ibrahim dan Ismail telah lulus ujian Allah Swt. Oleh karena itu Nabi Jibril datang memberitahu pada Ibrahim yang kesulitan menggorok leher Ibrahim. Bukannya menolong dengan menggantikan pedagang dari surga, melainkan meminta mengganti Ismail dengan hewan kurban.

Daging domba-domba pun bisa dinikmati kaum fakir miskin, sebagai bukti cinta sesama. Kini saatnya mengukur sejatinya diri kita. Siapakah saya? Mengapa ada di dunia? Untuk apa? Bagaimana bila kita dipanggil Allah sekarang? Semoga kita menemukan jalan sejati menuju surga. Amin ya robbal alamin! (*)

Ujian Jati Diri Kapoltabes

Posted in tajuk on Desember 6, 2008 by albertjoko
  • Menggugat Ketulusan Polri Mengabdi
  • Hikmah Perjudian di Kota Khatulistiwa
gambling

Wanita menjadi barang judi - illustrationbydido.com

KEPOLISIAN Republik Indonesia (Polri) akhirnya mengungkap secara transparan alasan penggantian Kapoltabes Pontianak, Kombes Pol Son Ani.

Pekan lalu, Kadiv Humas Polri, Irjen Abubakar Nataprawira menepis rumor pencopotan di balik penggantian Son Ani. Kata yang dipilih Abubakar adalah mutasi biasa, tour of duty, penyegaran di tubuh Polri.

Tenaga dan pikiran orang nomor satu di jajaran Poltabes Pontianak itu, diperlukan untuk mengemban tugas sebagai Deputi Biro Perencanaan dan Pengembangan (Renbang) Mabes Polri.

Suatu jabatan yang tak memerlukan pangkat lebih tinggi dari pangkat seorang Kapoltabes.

Rabu (2/12) kemarin, Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri tegas menyatakan telah mencopot tiga dari empat Kapoltabes di Indonesia. Antara lain, Kapoltabes Samarinda (Kaltim), Kapoltabes Pekanbaru (Riau), Kapoltabes Padang (Sumbar), dan Kapoltabes Pontianak (Kalbar).

Khusus Kapoltabes Padang dicopot dalam pekan ini. Tiga kapoltabes lainnya telah dicopot, bersamaan mutasi 78 perwira Polri, 21 November 2008.

Para kapoltabes tersebut, dianggap terbukti mengabaikan sikap tegas dan cepat menanggulangi perjudian di wilayah hukumnya. Kendati tak terlibat membekingi perjudian, kapoltabes yang tak mengambil inisiatif atas maraknya perjudian, dinilai membiarkan.

Kapoltabes yang tak tahu-menahu perjudian pun bisa dicopot, bila anggotanya terlibat. Tiada salah anak buah, komandan lah yang bersalah. Begitulah filosofi Kapolri.

400_f_7289849_aycywj25axifabixgscxb2jaalujav3b

KEBIJAKAN seperti ini, sebelumnya juga memakan korban di Kalbar. Tak tanggung-tanggung, jabatan Kapolda Kalbar saat itu Brigjen Pol Zainal Abidin Ishak, dicopot.

Alasan pimpinan Polri sama, Zainal dianggap membiarkan terjadinya illegal logging di hutan lindung Ketapang.

Pencopotan Zainal hanya beberapa hari setelah Tim Bareskrim Polri menyergap Kapolres Ketapang, AKBP Akhmad Sun’an, Kasatreskrim Polres Ketapang, AKP M Khadapy Marpaung, dan mantan Kapospol Airud Ketapang, Iptu Agus Luthfiardhi.

Ketiga pejabat Polri di Ketapang itu diduga terlibat penyelundupan kayu ke Malaysia senilai Rp 217 miliar. Apa arti kebijakan tegas Kapolri ini? Tujuan Kapolri, baik saat dijabat Jenderal Sutanto maupun Jenderal Bambang Hendarso, hakekatnya sama.

Pucuk pimpinan Polri ingin membuat masyarakat tertib, aman, dan nyaman. Judi dalam syair lagu Rhoma Irama, bisa membawa mati. Mati dalam arti sesungguhnya maupun mati akhlak.

Kenyataannya, judi makin memiskinkan rakyat. Tak ada dalam sejarah, orang jadi miliarder karena judi. Penyakit masyarakat ini justru membawa dampak luas di bidang keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas).

Penjudi yang kehabisan uang, potensial mencuri, merampok atau berbuat kejahatan lainnya. Secara moral, penjudi potensial bersikap dan bertindak menyimpangi norma adat, budaya dan hukum formil.

Kejahatan perjudian pun memiliki dampak buruk yang luas dalam masyarakat. Begitu besarnya mudaratnya, perjudian dilarang negara dan diharamkan agama.

Tak hanya Kapoltabes, warga negara yang baik tak akan membiarkan ‘virus’ perjudian di wilayahnya.  Sesungguhnya, perjudian tak hanya  tanggungjawab polisi.

Tindak perjudian menjadi tanggungjawab kita bersama, termasuk tokoh agama dan masyarakat. Polri menjadi institusi paling bertanggungjawab, semata-mata terkait tugas dan fungsinya menciptakan keamanan dan ketertiban masyarakat.

kapolridlm1

Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri - DETIK.COM

KENDATI demikian akan berbahaya, bila ada penegak hukum sengaja membiarkan praktik perjudian di wilayah hukum yang menjadi tanggungjawabnya. Ini sekaligus menjadi parameter integritas dan loyalitas tiap personel Polri kepada bangsa dan negara.

Apabila kejahatan kecil-kecil, semacam Toto Gelap (Togel), dingdong dan lainnya dibiarkan, bagaimana yang gede-gede? Jangan ditanya kejahatan berkualitas tinggi semacam illegal logging!

Kepekaan sangat diperlukan tiap personel polisi. Tegas juga tak boleh diabaikan. Dan, syarat yang bersifat niscaya adalah memiliki integritas tinggi. Polisi tak boleh lagi silau memandang tugas utamanya.

Tak boleh lagi memanfaatkan jabatan untuk mengail keuntungan. Kapolri memiliki imperative ideas membasmi gurita perjudian, pungli, hingga illegal logging, illegal mining, illegal fishing dan lainnya.

Premanisme jalanan maupun yang berdasi pun diberangus. Kapolri begitu menginginkan Polri kembali jatidirinya. Polri wajib menjadikan dirinya sebagai instituasi kepolisian sipil yang dipersenjatai.

Artinya, tiap personel polisi melekat status kesipilannya di tengah-tengah masyarakat. Senjata api (Senpi) yang dibawa, bukan alat untuk menakut-nakuti masyarakat.

Senpi hanya digunakan bila keadaan darurat, dan bersifat melumpuhkan saja. Tidak membunuh sebagaimana senpi tentara dalam peperangan. Di sinilah urgen dituntut sikap profesional, proporsional polisi.

Tiap anggota polisi tak boleh melupakan jatidiri dan sejarah kelahirannya. Polisi mengemban amanah menciptakan Kamtibmas. Menjadi polisi yang dicintai rakyat. Mampu melindungi atau mengayomi tanpa pamrih.

Stigma buruk polisi menakutkan rakyat harus dikikis habis. Polri ada, karena masyarakat memerlukan keamanan dan ketertiban. Kini, saatnya AKBP Asep Syahrudin menyiapkan diri secara lahir batin. Jangan sia-siakan amanah Kapolri.

Doa dan dukungan penuh masyarakat Pontianak mengiring tiap pelaksanaan tugas polisi yang berorientasi tugas utama dan pengabdian nyata pada masyarakat.  (*)

Selamat Datang Era Demokrasi Thailand

Posted in tajuk on Desember 6, 2008 by albertjoko
  • Thailand Memasuki Babak Kehidupan Baru
  • Belajar Kebijakan dari Sang Penoda Pemilu
ap0812020816

AIR mata bahagia dari impian hidup tanpa kezaliman - AP PHOTO

SELASA 2 Desember 2008 pagi, Pengadilan Konstitusi Thai menorehkan sejarah baru di Negeri Gajah Putih.

Pengadilan memutuskan membubarkan pemerintahan. Sejam kemudian, mahkota Perdana Menteri (PM) Somchai Wongsawat melayang.

Detik-detik menegangkan, sekaligus mencuatkan kecemasan terjadinya pertumpahan darah. Menghadapi situasi genting dan tak menentu, Wongsawat menunjukkan kebesaran jiwanya sebagai negarawan.

Kendati baru 75 hari memangku jabatan PM, ia memilih mundur. Tak ada perlawanan. Wongsawat menyerah tanpa syarat.

Adik ipar mantan PM Thaksin Shinawatra ini menyatakan tak pernah bekerja untuk diri sendiri, melainkan untuk bangsanya. Itu sebabnya Wongsawat tunduk putusan pengadilan.

Inilah yang patut dicontoh, terutama bagi elit politik Indonesia dari seorang Wongsawat. Apalagi, republik ini tak lama lagi menggelar pemilihan umum legislatif dan pemilihan presiden.

Yang patut diteladani lagi, Wongsawat tak tertarik menggunakan kekerasan dengan cara mengerahkan massa Baju Merah. Massa Front Demokrasi Bersatu Anti Kediktatoran (UDD).

Ia tahu betul betapa loyalnya massa Baju Merah. Tinggal perintah, massa militan dari Thailand Utara dan Timur Laut akan bergerak dan melawan.

Wongsawat tak seperti umumnya elit di Indonesia. Sedikit-sedikit suka mengerahkan massa untuk memaksakan kehendak.

Demokratisasi Thailand selangkah lebih maju. Kekuasaan di tangan rakyat yang diidam-idamkan rakyat telah tiba. Selamat memasuki gerbang dunia baru Thailand!

Tak hanya pegiat anti pemerintah, People’s Alliance for Democracy (PAD) yang menginginkan pemerintahan demokratis. Semua warga negara di dunia, termasuk di Indonesia mengimpikan terciptanya pemerintahan bersih, adil, makmur dengan menghargai nilai-nilai hak asasi manusia.

copy-of-ap0812020271811

PERDANA Menteri Somchai Wongsawat Terguling - AP PHOTO

BERAKHIRNYA pemerintahan Wongsawat, bukan lah semata-mata tekanan kuat barisan Aliansi Rakyat untuk Demokrasi (PAD) yang mencuatkan krisis politik.

Wongsawat mundur juga bukan karena desakan Kepala Staf Angkatan Darat, Anupong Paochinda, 26 November 2008. Putusan pengadilan lah yang menjadi ’skak mat’ Wongsawat.

Ketua Pengadilan Konstitusi Thai, Chat Chalavorn memvonis People’s Power Party (PPP), partai yang dipimpin Wongsawat, bersalah. Melakukan kecurangan dalam Pemilu Desember 2007, sehingga tampil sebagai pemenang.

Pengadilan memutuskan membubarkan PPP, sekaligus pemerintahan Wongsawat. Dua partai lain yang bernasib sama, partai Machima Thipatai dan partai Chart Thai.

PPP merupakan partai besar dari koalisi tujuh partai di Thailand. Putusan pengadilan itu didasarkan pertimbangan penting dan mulia. Demokrasi dalam politik!

Putusan pengadilan ini diharapkan menjadi standar politik dan contoh. Hakekatnya, dalam politik urgen etika.  Berpolitik memerlukan kesantuan sebagai perwujudan budaya bangsa. Bukan set back ke abad lampau, di mana budaya dan taraf kehidupan masyarakat terbelakang.

Berpolitik di era global, patut menghindarkan dominasi kekuatan fisik. Di negara-negara fasis, kekuatan militer menjadi pisau politik. Demikian pula di negeri komunis.

Thailand telah menunjukkan diri. Tak ingin menyontek penyelenggaraan pemerintahan fasis maupun komunis. Pengadilan meyakinkan, partai-partai politik yang tidak jujur, dianggap hanya akan mengancam sistem demokrasi.

Sungguh luar biasa! Wongsawat pun tak kuasa melawan. Terlalu mahal, jika Wongsawat membangkang. Apalagi, selama ini dia dituding menyelewengkan kekuasaan dan menghalangi penyelidikan kakak iparnya, Thaksin yang korup serta menginjak-injak HAM di Thailand.

hakim-thailland_chart_ap

Ketua Pengadilan Konstitusi Thai, Chat Chalavorn - AP PHOTO

MELAWAN hanya memantik pertumpahan darah. Belum lagi tekanan dan opini dunia internasional. Negara mana pun, akan kehilangan jatidiri kalau menafikkan urgensi hukum.

Ketentuan formal yang mendasari terciptanya masyarakat dan negara, bersifat niscaya di abad global. Tiadanya penghargaan konstitusi, mengundang stigma tiran, fasis, komunis, bahkan barbar.

Wongsawat sadar. Ia tak ingin reputasinya makin hancur, dan bangsanya tercerai-berai. Kendati kita tak tahu apa yang ada dalam benak Wongsawat, setidaknya politisi yang dituding sebagai boneka Thaksin itu telah memberi pelajaran teramat berharga.

Di luar mainstream pemerintahan Wongsawat, PAD mendapat sokongan militer dan Raja Thailand. Tak heran, jika tentara hanya show of force. Nyaris tiada kekejaman, ‘lazim’-nya tindakan represif militer.

Polisi antihuru-hara pun memilih balik kanan, saat mendapat perlawanan massa PAD yang memblokir bandara internasional Suvarnabhumi beberapa hari lalu.

Wongsawat sadar betul rapuhnya dukungan aparat keamanan, meski telah mencopot Kepala Polisi Nasional, Jenderal Pacharawat Wongsuwan.

Kini rakyat Thailand berpesta. Menyambut era dan babak baru negerinya. Akankah Deputi Perdana Menteri, Chavarat Charnveerakul yang ditunjuk menjadi pejabat sementara PM Thailand, mampu mewujudkan impian rakyat?

Atau justru sebaliknya, Chavarat membangun pemerintahan lebih rapuh dan tiran dibanding Thaksin? Hanya Tuhan yang tahu. Yang pasti, mulai pukul 09.00 2 Desember 2008, bandara Suvarnabhumi dibuka kembali.

Thailand tak perlu kehilangan pendapatan Rp 72 triliuan sampai akhir Desember 2008. Ratusan rute penerbangan ke negara lain, dan sebaliknya berangsur pulih. Pemerintah RI pun tak perlu panik menjemput ratusan WNI di Thailand. (*)

Bersihkan Sisa Longsor Malah Mati Tertimbun

Posted in kisah hidup on November 29, 2008 by albertjoko
  • Tragedi Kerja Bhakti di Mojotengah Wonosobo
  • Hikmah Urgensi Senantiasa Mencintai Allah
jalan-longsor2

Longsor di wilayah jalan perbukitan Wonosobo - FOTO KOMPAS

KERJA bakti berujung maut. Begitulah tragedi yang menimpa Tudji Mustangin (45) dan Pawit (55) sekitar pukul 09.00 WIB, Sabtu 29 November 2008.

Tudji adalah warga Desa Kleyangjurang, Kecamatan Mojotengah, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Sedangkan Pawit, tercatat sebagai warga Desa Kalitulang, Gondang, Kabupaten Wonosobo.

Keduanya tewas dalam sekejab ketika suara gemuruh disertai ambrolan tanah dalam hitungan detik, mendadak mengubur mereka hidup-hidup.

Tudji dan Pawit tak sempat beringsut, karena longsoran begitu cepat dan dahsyat. Musibah mendadak yang mencuatkan tangis warga setempat. Tak seorang pun mudah menerima kenyataan tragis itu.

Hanya dalam hitungan detik, Tudji dan Pawit yang sedang bekerja keras membersihkan saluran irigasi di desa mereka, justru dijemput maut. Tepatnya di Desa Pungungan, Kecamatan Mojotengah.

Tak seorang pun mampu menyelamatkan mereka. Meski warga setempat segera membongkar timbunan tanah longsor, mereka hanya mampu menyelamatkan dua warga lain yang terluka.

Mereka adalah Sadali (60) dan Basir (50). Keduanya segera dilarikan ke RSUD Setjonegoro Wonosobo. Sedangkan Tudji dan Pawit ditemukan sudah tak bernyawa.

200804272051551

Pemandangan Indah Wonosobo - www.kabarindonesia.com

KEPALA Kantor Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat Wonosobo, Makmun Asmara pun hanya mampu menghela nafas panjang.

Ia mengatakan, musibah ini berlangsung saat korban bersama ratusan warga lain dari tiga desa, Gondang, Kaliasem dan Kleyangjurang melakukan kerja bakti bersama.

“Lokasi saluran irigasi yang diperbaiki persis di bawah bukit. Keduanya langsung dimakamkan di tempat pemakaman umum desa kami,” tuturnya.

Menurut Makmun, saat kejadian cuaca di tempat tersebut cerah. Kendati begitu naas tak bisa dielakkan. Wilayah Mojotengah memang rawan longsor, karena kondisi geografisnya yang dipenuhi perbukitan dan pegunungan.

“Karena itu kami meminta warga selalu berhati-hati. Sewaktu-waktu bisa terjadi longsor,” kata Makmun. Desember tahun 2007, dua warga Dusun Jaraksari, Kelurahan Jaraksari, Kecamatan Wonosobo, Kabupaten Wonosobo juga jadi korban amarah alam.

Ketika jarum jam menunjuk pukul 01.30, Jumat 28 Desember 2007, Faturahman (60) dan Zaini (16) tak mampu berkelit dari maut. Di tengah lelap tidur itu pula nyawa mereka melayang. Ketika itu hujan deras mengguyur Wonosobo.

allah-8

Sungguh Indah nan Nikamt Mencintai Allah - picasaweb.google.com

TEBING di Dusun Jaraksari pun tak mampu menahan laju air hingga memicu longsor, dan menimbun Faturahman dan Zaini. Menurut Kabag Kesra Wonosobo, M Rosyid, longsor dinihari itu mengubur dua rumah.

Namun, korban yang tewas hanya dari satu rumah. “Kebetulan para korban tewas ini sedang tidur, dan tak menyadari tebing di belakang rumahnya longsor,” jelasnya.

Pelajaran teramat berharga. Betapa nyawa manusia bisa melayang kapan saja. Subhanallah… tak seorang pun anak Adam tahu, kapan dan dengan cara apa ajal datang.

“Makanya, jangan sampai kita lupa diri kepada Allah Swt. Umumnya orang merasa seolah umurnya seribu tahun, sehingga lupa daratan. Cenderung menuruti hawa nafsu, cari senang- senang saja saat merasa sehat,” tutur Ustadz sohib saya di Surabaya.

“Kita semua baru ingat Allah, ketika terjadi musibah. Atau saat kita jatuh sakit. Coba kalau sehat wal afiat.. kesandung batu saja, tak akan istighfar. Umumnya malah mengumpat. Coba sampeyan renungkan..” kata Ustadz sahabat saya itu.

Subhanallah…! Benar adanya, marilah kita takut kepada Allah Swt! Tak perlu takut jatuh miskin, jika kita telah bekerja keras dengan cara yang dibenarkan agama.

“Memang harus begitu, sebab rizki tak bisa dipaksa. Allah Maha Kaya, dan Pemberi Rizki, bertakwalah kepada-Nya!” kata Ustadz mengingatkan kita semua. Amin.. amiiin, ya robbal al amin! (okezone/kompas.com/*)

Horor Mumbai dan Jati Diri Pejabat BI

Posted in tajuk on November 27, 2008 by albertjoko
  • Tragedi Kemanusiaan Berselimut Politik Narsis
  • Kontemplasi Hidup Sang Pejabat Pabrik Uang
300434-01-02

Taj Hotel Mumbai Membara Dalam Drama Serangan Enam Jam - AP PHOTO

KAMIS (27/11), menjadi hari buruk di dunia. Serangan bersenjata kelompok yang menamakan diri Mujahidin Dakkah mengguncang Taj Hotel Mumbai India.

Serangan bersenjata disertai ledakan granat telah merenggut lebih dari seratus nyawa. Sekelompok teroris ini membidik warga negara Amerika Serikat dan Inggris.

Sekitar enam jam, horor maut melanda Taj Hotel. Tragedi kemanusiaan kembali membuahkan tangis dunia, pasca serangan 11 September terhadap World Trade Center di AS dan bom Bali, 2002.

Sungguh mengerikan, dan memilukan menatap begitu banyak tubuh manusia tewas berlumuran darah di seputar Taj Hotel. Manusia seolah tak berharga lagi. Apa pun dalihnya, kejahatan terorisme seperti ini, hanya menciptakan nestapa baru.

Orang-orang tak bersalah, dan tak tahu menahu politik, ikut menjadi korban. Mereka bukan orang-orang yang berpaham selibat. Ratusan korban itu memiliki keluarga, kerabat dan sahabat. Betapa banyak orang berduka atas serangan maut yang mendadak itu.

Benarkah Tuhan mengajarkan pembunuhan massif seperti ini? Tiada seayat pun di kitab agama mana pun yang menghalalkan nyawa untuk mengajak anak manusia memasuki jalan ke surga.

Sekelompok anak muda yang menembaki dan memborbardir Taj Hotel, boleh jadi mengklaim sebagai mujahidin Dakkah. Tetapi sungguh naif, jika mengatasnamakan Islam sejati.

holygod4

Cahaya Islam Menciptakan Keindahan Dunia Akhirat - photobucket.com

AGAMA Islam sungguh agung dan mulia. Agama Islam begitu menyanjung perdamaian. Nabi Besar Muhammad Saw telah membuktikan, bahwa Islam begitu cinta akan perdamaian.

Rasulullah hanya berperang melawan kekuatan iblis yang ingin memusnahkan umat Islam, bukan menembaki orang-orang tak bersalah. Nabi Muhammad pula telah memberi teladan kita semua, betapa sabarnya beliau menghadapi orang-orang yang sempat membencinya.

Olokan dan lemparan batu, dibalasnya dengan cinta kasih. Terbukti ketika sang penista jatuh sakit, justru Rasulullah lah orang pertama yang menjenguk dan memberi roti serta kurma.

Kenyataan ini menunjukkan betapa ekstremnya perbedaan klaim-klaim kelompok teroris yang menghalalkan nyawa manusia dengan apa yang diperbuat junjungan umat Islam di dunia. Kelompok teroris di India, mungkin pula Osama bin Laden hingga kelompok Amrozi, naif disejajarkan semangatnya membela Islam.

Darah baru mengucur, nyawa baru melayang, apabila umat Islam diberangus penguasa zalim. Jihad mempertahankan agama menjadi kewajiban!

Jihad itu sungguh mulia. Tak bisa disejajarkan dengan serangan teroris yang kenyataannya membawa korban orang-orang tak bersalah. Orang-orang yang tidak memiliki kaitan dan afiliasi terhadap kezaliman maupun motif politik dengan subjek sasaran utama.

Berpesta lah iblis menyaksikan bunuh-membunuh anak Adam di dunia. Seolah-olah ingin membela agama, justru digelincirkan syetan ke kubangan neraka jahanam. Seolah-olah dekat Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang, kenyataannya sangat berjauhan.

Syetan makin cerdas dan pintar menguasai anak-anak Adam yang tersihir peradaban modern saat ini. Umat manusia cenderung silau, tak mampu menatap dengan gamblang jalan berliku menuju kebahagiaan sejati pascakematian.

DITAHAN KPK

Mantan Deputi Gubernur BI Aulia Pohan Akhirnya Ditahan KPK - FOTO ANTARA

KETULUSAN dan kejujuran sejati menurut agama, saat ini menjadi langka. Syetan senantiasa membisikkan jalan berliku menuju ’surga’ dunia belaka. Ruh- ruh ahli neraka ini mengajak manusia menikmati dunia tanpa batas nafsu.

Oleh karena itu mereka mengabaikan belas kasih kepada sesama, apalagi terhadap flora, fauna maupun bebatuan ciptaan Allah Swt di dunia. Manusia telah banyak digelincirkan syetan. Jadilah tragedi-tragedi kemanusiaan di dunia, termasuk peristiwa berdarah di Mumbai India.

Dalam realita sehari-hari, bekerjanya syetan bisa kita temukan dalam sikap dan perbuatan pejabat-pejabat yang gemar mengambil harta negara, harta rakyat di negeri kita. Kolusi, nepotisme dan korupsi, terus menggurita.

Perbuatan korup, jelas bukan pengamalan agama mana pun. Tiada seayat pula yang menghalalkan penikmatan harta yang bukan milik kita. Mana yang haq dan batil sungguh berbeda 180 derajat.

Kenyataannya, terlalau banyak pejabat kita tergelincir bujuk-rayu syetan. Rata-rata mereka ingin kaya mendadak dengan harta melimpah-ruah, yang seolah-olah bisa dibawa mati. Terlampau banyak disebutkan, hampir tiap wilayah di negeri ini telah terperosok ke KKN.

Di pusat apalagi. Tak pandang bulu, pejabat di berbagai instansi larut dalam korupsi. Yang mengejutkan bangsa ini dulu, kasus suap kepada Ketua Tim Jaksa Penyelidik kasus pengembalian aset Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI), Urip Tri Gunawan.

Kasus serupa juga melanda Anggota Komisioner Komisi Pengawas Persaingan usaha (KPPU), M Iqbal. Para wakil rakyat, Hamka Yandhu dan Anthony Zeidra dari Golkar pun tak kuasa menahan nafsu menguasai dana Rp 35 miliar dari Rp 100 miliar yang disediakan Bank Indonesia.

Kamis (27/11) sore pun menjadi hari buruk bagi Aulia Pohan, Maman Soemantri, Bun Bunan Hutapea, dan Aslim Tadjuddin. Keempat mantan deputi gubernur BI itu ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Mereka dianggap bertanggungjawab atas mengalirnya dana Rp 100 miliar dalam penyelamatan para petinggi BI yang tersandung perkara di Kejaksaan Agung, dan menyuap DPR terkait revisi UU BI. Saatnya kita renungkan, apa sejatinya hidup kita ini. (*)

Merindukan Hakim Sang ‘Wakil’ Tuhan

Posted in tajuk on November 27, 2008 by albertjoko
  • Menelisik Jejak Putusan Bermasalah Hakim Ilog
  • Dilema Hitam-putih Pemegang Palu Pengadilan
gavel_court

Arti Palu Kayu Pengadilan - FOTO GAVEL COURT

RABU (26/11) kemarin, Indonesian Corruption Watch (ICW) melaporkan 58 hakim di negeri ini yang dianggap bermasalah dalam menjatuhkan putusan hukum.

Semuanya diprasangkakan menyimpang dari koridor keadilan dan kepastian hukum, khususnya dalam memutuskan perkara-perkara illegal logging (Ilog). Ke-58 hakim itu tersebar hampir di semua provinsi, mulai di Pengadilan Negeri Aceh hingga Papua.

Para pengadil ini diyakini bukan tanpa sengaja membuat kesalahan dalam vonis, sehingga para terdakwa bebas. Ironisnya, mereka justru mendapat reward berupa promosi dan kenaikan pangkat dari institusi mahkamah agung.

Dari 58 hakim yang dilaporkan ICW, tujuh di antaranya hakim yang berdinas di Kalimantan Barat. Mereka adalah I Made Ariwangsa, Dresden Purba, Poltak Pardede, Subaryanto, Cipta Sinuraya, dan Puji Astuti di wilayah hukum PN Pontianak. Sedangn hakim Parulian Saragih dinas PN Ketapang.

Hakim Made Ariwangsa, Dresden Purba, dan Poltak Pardede diduga menjatuhkan putusan bermasalah atas terdakwa Asong alias Prasetyo Gow, pemilik 13.757 meter kubik kayu tanpa dokumen resmi.

Asong yang dituntut lima tahun penjara oleh jaksa, diivonis bebas. Sedangkan , hakim Subaryanto SH, Cipta Sinuraya SH, dan Puji Astuti, memutus bebas pemilik kayu tanpa dokumen, Hayanto alias Ayong, Wakil Direktur PT Sari Bumi Asih.

Vonis bebas juga dijatuhkan hakim Parulian Saragih terhadap terdakwa penggelapan dan penyalahgunaan Provisi Sumber Daya Alam Dana Reboisasi (PSDH-DR) Tony Wong di Ketapang. Jaksa menuntut Tony Wong tujuh tahun penjara.

hakim02

Sesungguhnya Hakim Begitu Mulia - Ilustrasi hakimone.de

RUNYAMNYA ketika jaksa mengajukan kasasi, MA justru mengabulkan tuntutan jaksa. Tony Wong harus dipenjara empat tahun. Kontroversi berselimut kepentingan di balik peradilan inilah yang mendorong para pegiat ICW melapor ke Komisi Yudisial (KY).

Lembaga ekstra peradilan yang dibentuk secara khusus oleh pemerintah untuk mengawasi kinerja hakim di Tanah Air. Busyro Muqoddas, Ketua KY pun langsung merespon dengan janji menindaklanjuti laporan ICW.

Kasus illegal logging memang mendapat perhatian khusus pemerintah. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, bahkan menempatkan sama urgennya dengan korupsi untuk diberantas bersama- sama.

Komitmen dan konsistensi penegakan hukum di bidang korupsi maupun lingkungan di Indonesia memang bersifat niscaya. Jika tidak, carut-marut negeri kita makin parah. Kemiskinan kian meraja-lela, lingkungan hidup pun mengarah pada bencana besar.

Kita semua menyaksikan dan merasakan, betapa besar dampak kerusakan lingkungan terhadap kehidupan bangsa ini. Perubahan cuaca, iklim saat ini, sangat terkait kerusakan lingkungan hutan kita.

Makin banyak hutan yang gundul, baik di tanah Kalimantan, Sumatera, Jawa, dan Papua, telah memberi kontribusi besar dalam perubahan iklim saat ini. Kerusakan lingkungan memang tak terjadi tiba-tiba, berlangsung lama dan akumulatif sejak era Orde Baru.

Hutan Kalimantan yang diakui sebagai paru-paru dunia, kenyataannya tak seelok 30 tahun silam. Tak terhitung berapa banyak pohon yang ditebang secara liar, baik dijual secara ilegal ke luar negeri melalui Malaysia, maupun dijual ke wilayah Asia lainnya.

jangan-pilih-calon-hakim-agung-busuk2

Adakah Yang Seperti Ini - bukuicw.wordpress.com

HUTAN gundul, habitat fauna terganggu, ekosistem berubah, iklim pun berbeda. Panas bumi meningkat, hujan lebat terjadi di luar kebiasaan, air laut juga menelan pantai-pantai. Fenomena di negeri kita dan di dunia yang teramat mencemaskan.

Keterlibatan, kesengajaan dan ketidakobjektifan para hakim memang harus dibuktikan secara hukum. Perhatian dan good will terhadap tegaknya hukum serta lestarinya lingkungan, bersifat niscaya.

Kendati begitu, kita semua tentu tak boleh serta-merta memvonis ke-tujuh hakim di Kalbar salah. Demikian pula hakim-hakim yang lain yang dilaporkan ICW.

Harapan besar kini berada di pundak Busyro Muqoddas dan segenap jajarannya untuk membuktikan dugaan penyimpangan putusan pengadilan. Apabila terbukti tak mampu dibuktikan secara materil, atau meyakinkan, tentulah patut diumumkan secara terbuka.

Hakim hanya manusia biasa yang memiliki rasa malu, bila ternista. Pengumuman ketidakterlibatan, akan memperbaiki nama baik dan kredibilitasnya di mata rakyat.

Sebaliknya, apabila terbukti secara meyakinkan, akan berbahaya negeri ini. Maka, pemecatan menjadi satu-satunya pintu. Teramat berbahaya, bila di era reformasi masih bercokol hakim- hakim yang lebih mementingkan pribadi.

Kita semua tahu, eksistensi pengadilan negeri menjadi muara dari masalah hukum. Oleh karena itu keberadaan hakim yang tak menjunjung tinggi asas keadilan dan kepastian hukum, mutlak dibersihkan.

Negara ini dibangun atas sendi-sendi hukum, akan terancam berantakan, bila para pengadil mengabaikan tugas mulia menciptakan keadilan dan kepastian hukum di Bumi Pertiwi.

Bagaimana pun hakekat hakim adalah ‘wakil’ Tuhan di dunia. Tuhan Maha Tahu dan Maha Adil. Kita tunggu dan ikuti action KY sang pengemban misi vital dalam perbaikan sistem peradilan di negeri tercinta ini. (*)

Menguji Ketulusan Polri Tak Tebang Pilih

Posted in tajuk on November 26, 2008 by albertjoko
  • Mantan Kapolres Keluar Tahanan Beli Sapi
  • Rapuhnya Sendi Hukum di Tanah Ketapang
100_50531

Brimob Mengamankan Bukti Kayu Ketapang - FOTO TRIBUN

MANTAN Kapolres Ketapang, AKBP Akhmad Sun’an kembali membuat kaget publik dan para petinggi hukum Ketapang.

Sekitar pukul 11.00 WIB, Minggu 23 November 2008, terdakwa kasus illegal logging senilai Rp 216 miliar ini asyik dibonceng seseorang menuju Desa Sungai Besar, Kecamatan Pasuguan.

Perwira dua melati itu keluar tahanan, tanpa pengawalan anggota polisi atau jaksa penuntut umum. Ia hanya berdua, bersama seorang pria pengendara motor Tiger hitam nopol KB 2735 GO.

Ketika dipergoki wartawan Tribun Pontianak, Sun’an yang sempat terperangah, berkilah akan beli sapi milik Asjar di Sungai Besar. Hewan itu rencananya diserahkan ke Pondok Pesantren Il Tihad, menjelang Idul Adha.

Apa pun alasan mantan orang nomor satu di jajaran Polres Ketapang ini, tak urung membuat jengah petinggi hukum di Kepatang. Kapolres Ketapang, AKBP Karyoto sempat keukeuh. Ia tak tahu tahanan titipan kejaksaan itu berkeliaran di luar tahanan Polres.

Selama ini izin keluar diberikan hanya untuk mengambil duit di ATM. Sedangkan urusan beli sapi, tanpa izin alias Polres kecolongan. Ada izin atau tidak, Polres hanya mendapat kewenangan menjaga tahanan titipan.

Terdakwa hanya bisa keluar tahanan, bila diinginkan jaksa penuntut umum atau pengadilan. Itu pun terkait proses peradilan, bukan kepentingan pribadi. Fakta bolak-baliknya Sun’an keluar tahanan, menunjukkan betapa diskriminannya perlakuan penahanan di Ketapang.

Apa benar seorang terdakwa yang berstatus ditahan, keluar atas inisiatif sendiri? Bolehkah tahanan sipil atau seseorang yang didakwa mencopet, keluar tahanan untuk membeli sapi atau rokok?

247651859794d7b45f4ock7

Harta Negeri Coba Diselundupkan ke Malaysia - Kaskus.com

BUKANKAH Sun’an dan warga sipil lain di negeri ini memiliki hak sama di depan hukum. Jika tak sama, apa bedanya? Sampai saat ini UUD 1945 belum diubah, khususnya pasal yang mengamanatkan persamaan kedudukan hukum tiap warga negara.

Aib di tubuh kepolisian. Ironis dengan tugas pokok melekat sebagai institusi penegak hukum. Sungguh sangat manusiawi dan mulia, keinginan Sun’an berkurban. Namun, status hukum yang disandangnya, tidaklah memungkinkan bertindak seenak gue.

Undang Undang Dasar berikut ketentuan hukum di bawahnya, mutlak harus dihormati. Martabat negeri ini tak boleh ternoda, dan rasa keadilan hukum wajib berlaku sama untuk seluruh warga negara.

Penyimpangan perlakuan penahanan di Ketapang, tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Apa artinya penahanan, jika secara fisik dan psikis seorang terdakwa bisa bebas sekehendak hati?

Sangat bisa dimengerti, kalau Ketua Pengadilan Negeri Ketapang, Parulian Saragih terjebak kerikuhan ketika mengetahui terdakwa Sun’an berkeliaran di luar tahanan. Parulian menyatakan, dirinya menjadi serba salah, kendati tetap menilai ulah Sun’an tidak dibenarkan hukum.

Kepala Kejaksaan Negeri Ketapang, Bambang S pun terkejut. Ia berjanji segera komplain kepada Kapolres. Namun, adakah jaminan perlakuan sama terhadap tahanan, esok dan pada masa mendatang?

Demikian pula, apakah ada jaminan Sun’an tidak berkeliaran lagi di luar tahanan? Hanya para petinggi Polri yang bisa menjawab, selain Tuhan Yang Maha Esa. Keluar tahanan bagi Sun’an, bukan pertama kali.

1437822628daff0a6cf4bep5

Hutan Ketapang Di Ambang Kehancuran - Kaskus.com

MENJELANG sidang, Juli 2008 lalu, perwira itu juga tak berada dalam tahanan Polres. Sun’an, dan dua terdakwa lainnya dalam kasus sama, mantan Kasat Reskrim Polres Ketapang, AKP M Khadapy Marpaung, dan mantan Kapospol Airud Ketapang, Iptu Agus Luthfiardhi ditempatkan di asrama Polres.

Alasan pemisahan dengan tahanan sipil, dikhawatirkan mereka jadi sasaran amuk tahanan sipil. Bisa dimengerti, tapi tata cara perlakuan tentang esensi hukum penahanan tetap tak boleh dipermainkan.

Kenyataannya, seorang mantan pejabat berinisial R di Ketapang, bahkan pernah tiga kali memergoki Khadapy duduk di warung kopi, depan Hotel Perdana Jl Merdeka.

Bukan rahasia umum lagi bagi publik Ketapang. Namun, perbedaan perlakuan hukum terhadap tahanan jaksa ini menjadi preseden buruk bagi publik dan tegaknya UUD 1945. Terlalu mahal menodai UUD 1945 dengan ‘pemberian’ hak istimewa bagi terdakwa.

Kendati seorang terdakwa, tetap harus dipandang menggunakan asas praduga tak bersalah. Artinya, seseorang yang diajukan jaksa ke meja hijau, belumlah pasti bersalah. Namun, sistem dan pranata hukum wajib dijalankan secara benar dan proporsional.

Kini saatnya petinggi kepolisian di Kalbar memetik hikmah dari perisitiwa keluarnya Sun’an dari tahanan. Polisi juga harus cepat bertindak, mengembalikan sistem penahanan demi tegaknya hukum.

Prosedur telah jelas, apa yang harus dilakukan dari akibat perbuatan keluar tahanan seorang terdakwa yang berstatus tahanan. Pasti ada penyimpangan. Siapa yang terlibat dalam penyimpangan, selayaknya mendapat ganjaran setimpal.

Mari hormati dan tegakkan hukum bersama. Negara kita yang bersendikan hukum, akan carut- marut, bila penerapan hukum melenceng. Apalagi, tak adil. Tebang pilih terhadap terdakwa akan mencederai keadilan dan kepastian hukum di negara tercinta ini. (*)

Menggantang Berkah Ilahi di Jumrotul Aqobah

Posted in tajuk on November 26, 2008 by albertjoko
  • Godaan Mengail Harta Dari Ritual Perintah Allah
  • Realita Ketidakberdayaan Negara Jamin Warganya
HAJI

Jamaah menyaksikan areal lempar jumrah yang direnovasi menjadi tiga lantai di Jumrotul Aqobah - FOTO ANTARA

MUSIBAH yang dialami jamaah haji Indonesia pada musim haji tahun 2008, mencuatkan kerisauan tersendiri. Terlebih bagi keluarga dari 133.822 jamaah yang telah tiba di Tanah Suci saat ini.

Tragedi jatuhnya seorang jamaah dari lantai enam di pemondokan, lift yang sempit dan ngadat, hingga jauhnya jarak pemondokan dengan Masjidil Haram, sungguh patut disayangkan.

Tim terpadu dalam kepanitiaan haji yang dibentuk pemerintah cq Departemen Agama (Depag), seolah tak menimba pengalaman buruk sebelumnya.

Bukan hanya kelayakan pemondokan, ketersediaan kamar sampai terjaminnya menu katering yang memenuhi standar kesehatan begitu mengkhawatirkan, Jarak pemondokan dengan Masjidil Haram yang mencapai sekitar lima kilometer pun, mencuatkan masalah besar.

Sekitar 600 unit bus yang dioperasikan, kenyataannya belum mampu memberi layanan lancar bagi jamaah. Antrean terjadi setiap dua jam. Bisa dibayangkan kerumunan jamaah dalam cuaca ekstra panas di Tanah Suci saat ini.

Demikian halnya antrean di lift ketika jamaah tiba di pemondokan. Gangguan mental organik (GMO) yang dicemaskan dr Agung Sp JK, anggota tim kesehatan pada panitia haji, akhirnya tak bisa dihindari.

Gangguan yang potensial menyerang jamaah berusia lanjut, bahkan sempat mengghinggapi jamaah berusia dewasa. Terbukti seorang jamaah asal Surabaya yang tak sabar menunggu giliran antre, menyerang enam jamaah lain menggunakan balok kayu.

haram211108-1

Jamaah Senantiasa Menyemut di Tanah Suci - FOTO ANTARA

KEHADIRAN jamaah di Tanah Suci, jelas dilatari niat mulai menunaikan rukun Islam kelima. Tak seorang pun jamaah ingin berbuat jahat. Perbuatan menyakiti jamaah lain itu diyakini sebagai manifestasi bekerjanya gangguan mental organik.

Seharusnya panitia bisa mengantisipasi masalah seperti ini, jika menimba pengalaman pelaksanaan haji yang telah puluhan tahun. Jauhnya jarak pemondokan ke Masjidil Haram juga bisa dihindari secara dini.

Keletihan fisik dan psikis jamaah selama melaksanakan kegiatan di Mekkah dan Madinah, tak ditunjang layanan transportasi yang baik. Lebih parah lagi, menu katering yang dipasok Al Ikhwan sempat menyebabkan diare hampr ratusan jamaah.

Bagaimana ini terjadi? Bukankah Indonesia memiliki pengalaman getir tentang kelayakan menu katering pada musim haji sebelumnya. Jelas panitia tidak belajar, dan mengantisipasi secara cermat, sehingga membuat jamaah haji sampai terserang diare secara massal.

Yang patut disadari bersama, bangsa kita paling banyak menunaikan haji tiap musim haji di dunia. Pengelolaan haji yang tak profesional, risikonya teramat besar.

Kecerobohan panitia episode 1990, masih lekat dalam ingatan kita. Ketika jamaah berdesak- desakan di terowongan Mina, telah merenggut 1.426 nyawa jamaah.

Tragedi di tempat sama tahun 1994, juga menewaskan 270 jamaah. Tiga tahun kemudian, 1997, 343 jamaah juga tewas saat terjadi kebakaran tenda di Mina.

Desak-desakan antarjamaah juga kembali meminta korban sebanyak 180 orang pada musim haji 1998. Kota Mina kembali minta korban jiwa pada 2001, tercatat 35 jamaah tewas berdesak- desakan.

sm1hal13

Tragedi Mina 2006 - Suara Merdeka

MAUT seolah terus mengintai. Dua tahun kemudian, 2003, 14 jamaah haji kembali tewas. Dan, terakhir berdesak-desakan pada 2004, merenggut nyawa 251 jamaah haji.

Mencermati tanda-tanda kurang baiknya layanan haji tahun ini, sungguh merisaukan bangsa ini. Kita semua jelas tak menginginkan tragedi hitam kembali terjadi. Kurang baiknya pelayanan panitia ini membuat kita gamang. Tentu saja ketika para jamaah haji melaksanakan lempar jumrah di jumarat.

Sampai menjelang wukuf, areal seputar lempar jumah yang menjadi kewajiban tiap jamaah haji, belum rampung dibangun pemerintah Arab saudi. Berdesak-desakan dalam situasi seperti ini akan mencuatkan potensi buruk bahkan maut.

Kekurangan oksigen, kelelahan lalu terinjak-injak adalah pengalaman buruk yang pernah dialami jamaah haji Indonesia. Ratusan korban telah berjatuhan ketika lempar jumrah bersama ratusan jamaah haji negara lain. Secara fisik, postur tubuh jamaah haji asal Indonesia tak menguntungkan.

Potensi terjepit dan tak mampu mendapat oksigen secara cukup dalam himpitan antarjamaah, potensial merenggut nayawa. Inilah yang menjadi kekhawatiran kita semua. Wajib bagi panitia kini, menyiapkan segala sesuatunya secara benar dan profesional.

Kerjasama dengan pemerintah Arab Saudi secara cermat, dan terukur, mutlak harus dilakukan. Mulai pengaturan jadwal lempar jumrah yang terpisah dengan jamaah haji negara lain yang berpostur tinggi besar, hingga ketertiban jamaah, menjadi kunci teramat penting dalam ikhtiar menyelamatkan jamaah haji kita.

Mari buang jauh-jauh nafsu mencari keuntungan dalam kegiatan berhaji ini. Allah Maha Tahu, Maha Kaya. Ketulusan melayani jamaah dalam menunaikan kewajiban yang diperintahkan Allah, pastilah mendapat ganjaran besar.

Sebaliknya, apabila sinyalemen Tim Pengawas Haji DPR Benar (kapitalisasi layanan haji) benar, bukan rizki yang kita dapat. Celaka dan merugilah panitia yang mendapat kesempatan berinvestasi amal untuk bekal di akhirat.

Kita meyakini segenap panitia haji, baik di pusat maupun daerah ingin tulus dan ikhlas melayani jamaah. Oleh karena itu, marilah kita siapkan tahapan berikutnya dari kegiatan haji secara benar, aman dan nyaman. Kita juga berharap jamaah menjadi haji mahbrur. (*)