Konglomerat dan Tukang Becak

aku  Muhibah Ati di McDonald Surabaya, Agustus 2006

APA bedanya konglomerat dengan tukang becak? Begitulah pertanyaan rekan saya yang memilih menjadi ustadz di tengah kantuk yang menyaput mataku malam itu.

Seperti biasanya, kami bertiga, kecuali malam Jumat, menggelar ‘pengajian’ di kedai McDonald kawasan Ngagel Surabaya Timur. Kira-kira waktu itu, pertengahan Agustus 2006. Saya mencoba membisu, berharap teman saya yang menjadi pengusaha real estate menjawab.

Suasana hening sekitar semenitan. Saya mencoba melongok televisi di kedai yang saat itu memancarkan lenggak-lenggok model barat di atas cat walk. Pikirku bisa mengalihkan pertanyaan ‘sederhana’ itu.

Kebetulan para model yang berlanggak-lenggok cantik dan bergerak lumayan erotik. Mataku yang mengantuk pun sedikit ‘segar’. Sesekali saya melirik temanku pengusaha. Ternyata dia juga enggan menjawab.

Teman saya itu asyik memainkan kepulan asap rokok dari mulutnya, bak kepulan asap gunung berapi. Melingkar-lingkar putih lalu lenyap di belantara hampa udara. Teman ustadz saya itu kemudian melirik saya sambil tersenyum.

“Apa menurut sampean, Pak,” ujarnya mengulangi pertanyaannya tentang perbedaan konglomerat dengan tukang becak. Sejenak saya terpaku, bingung. Dalam benakku, mengapa pertanyaan yang bisa dijawab anak-anak, ditanyakan kepada saya yang berusia 40 tahunan, ya?

Itulah pergolakan dalam hatiku. Agar tak kikuk, aku coba alihkan ke temanku pengusaha. Menurut sampean, apa Pak? “Lho, aku ini tanya sampean?” sergah teman ustadz saya itu serius. Mati aku! Begitu pikirku saat itu.

Aku coba jawab. “Tukang becak bisa tidur nyenyak, kalau konglomerat belum tentu, Gus!” Teman ustadz saya itu pun manggut-manggut seraya tersenyum. Aku pikir sudah tuntas, eh...si ustadz malah mengejar terus.

“Mengapa sampean menjawab begitu?” katanya sambil membakar rokok gudang garam international kesukaannya. Aku merasa si ustadz tak main-main bertanya, dan jelas bukan sengaja mengerjaiku. Apalagi saat itu jarum jam menunjuk pukul 02.30 WIB.

 Sesal Akhir…..  jutawan

“Begini, Gus… Aku sering lihat tukang becak tidur pulas di pinggir jalan. Kadang di atas becaknya saat menunggu penumpang. Nah, kalau konglomerat aku nggak tahu pasti, karena nggak punya saudara atau teman yang jadi konglomerat,” jelasku.

Saya pun melanjutkan cerita, karena teman ustadz itu mendengar sungguh-sungguh penjelasanku. Apalagi dia seolah mengajak dialog ati. Aku bilang, soal konglomerat hanya aku dengar melalui berita di televisi, baca koran, majalah, buku atau cerita teman.

Artinya saya tak tahu persis kehidupan konkret hari-hari sang konglomerat sekaliber Liem Soe Liong, Anthony Salim, Eka Tjipta Widjaja, Sjamsul Nursalim, Bob Hasan maupun lainnya di negeri tercinta ini. Kabar yang aku terima dari media massa, mereka memang bisa hidup serba mewah, super mewah bahkan mungkin VVIP hampir di semua sisi hidupnya.

“Tapi sampean jangan salah! Coba suatu ketika sampean tanya langsung, atau sampean ajak makan rawon pedas (khas Surabaya) atau sate Madura (juga pedas).. apa mereka berani? Bukan soal mau gak mau, lho ya..!” sergah ustadz.

Memang kenapa, Gus? “Konglomerat Indonesia memang hidup serba mewah, karena kaya raya. Mereka bisa mengumpulkan harta melimpah, dan tak pernah mau rugi. Jadinya, asetnya seperti gurita, tumbuh dan berkembang,” tutur ustadz.

Pendek kata, beranak-pinak sehingga jadilah mereka miliarder, dan mungkin triliuner. “Tapi, ada konglomerat, walaupun uangnya banyak, tapi tak bisa ‘membeli’ makanan tertentu. Padahal, dia ingin sekali memakannya… Dia bukan tak bisa membeli, tapi dilarang dokter karena sakit..” jelas sang ustadz.

Saya pun manggut-manggut. “Lalu?” tanyaku penasaran. “Lalu apa nikmat hidup konglomerat itu dibanding tukang becak?” tanya ustadz balik. Seperti yang sampean lihat, tukang becak lahap sekali saat makan. Dan, makan apa saja, sesuai kemampuannya mendapatkan upah mbecak seribu dua ribu perak. Tapi, kan hasil keringat sendiri, halal lagi.

Ya, ya..ya…!” pikirku coba menangkap hakekat perbedaan konglomerat dan tukang becak. “Sakit itu juga datangnya dari Allah SWT. Isyarohnya, manusia sakit itu masih dicintai dan diingatkan Allah… tapi rata-rata orang lupa, malah sering menghujat-Nya! Astaghfirullah…!” seruh sang ustadz.

Sampean pernah, kan melihat orang kaya sakit? Mereka mudah merengek, seperti anak kecil, marah-marah kepada yang merawatnya. Bahkan memaki-maki tak jelas, seolah-seolah dia memarahi yang memberi sakit, kan?”

“Itu artinya dia tak memahami, sakit itu juga datang dari Allah selain akibat sikap dan tindakannya sendiri!” tutur ustadz. “Padahal, dengan marah-marah.. kejernihan hati dan pikiran kita makin kacau, tak jernih. Nah, di sinilah tawaran-tawaran untuk menuruti hawa nafsu atau angkara murka sangat besar,” katanya.

Orang umumnya tergelincir dalam perangkap syetan. “Syetan itu juga mengeram dalam diri kita sejak lahir. Tergantung kita, bisa nggak mengalahkannya! Jangan dikira, syetan itu hanya seperti di tayangan televisi… di tempat-tempat gelap dan angker!” tegas sang ustadz.

Nah, mengalahkan angkara murka dalam diri sendiri itu utama, itu baru namanya jihad. Dan, itu utama! Jika ini bisa kita lakukan, tentulah energi yang keluar dari diri kita, apakah sikap dan perilaku, Insya Allah akan menebarkan energi positif. Ya, kalau diilustrasikan tubuh kita bersinar.

 Pesona Dzikir …..        becak         

“Di mana pun kita berada, Insya Allah membawa safaat dan manfaat bagi orang lain, sesama kita dan semesta alam,” jelas ustadz. Sampai di sini aku teringat, saat permulaan dzikir diminta tawasyul, mulai kepada Allah SWT, Malaikat, Rasulullah, Orangtua saya, para almarhum kakek nenek hingga guru-guru tercinta saya.

“Ini yang membedakan konglomerat umumnya. Mereka mengejar untung sebanyak-banyaknya, dengan cara apa saja tanpa mempedulikan akibatnya. Baik akibat terhadap sesamanya maupun alam sekitar,” kata ustadz menyadarkan lamunan saya.

Tanaman, hutan-hutan ditebangi semaunya tanpa reboisasi. Batu bara dieksploitasi sampai habis tanpa reklamasi. Binatang-binatang diburu untuk dijadikan hiasan dinding, bahkan andai laut bisa diuruk (ditutup tanah) akan dijual juga.

“Uang dan harta pikirnya. Materi saja yang diburu konglomerat. Mereka pikir harta melimpah bisa membahagiakannya. Tak sedikit di antara mereka malah hidup susah di tengah harta melimpahnya. Nah, sekarang ini banyak orang seperti itu, bingung dan menyesal.” Pendek kata, mereka sakit ati.

Mengapa? “Ya, setelah jadi kaya raya, malah nggak bisa menikmati rawon atau sate tadi,” jelas ustadz mencoba menjelaskan makna tersembunyi di balik pertanyaannya. Hati para hartawan pun sulit mencapai ketenangan dan kedamaian, oleh karena terus dirongrong bagaimana memupuk pundi-pundi kekayaan di tengah kesadaran palsunya.

Seolah-olah bisa mencapai kebahagian, kenyataannya tidak. “Ya, karena kebahagiaan itu dicapai, kalau kita memiliki keikhlasan yang menuntut ke kebahagiaan ati. Itu tak mudah, yaa… paling tidak bisa menyontoh keikhlasan tukang becak yang menerima pekerjaannya itu! Bersahaja saja,” tutur ustadz.

Dia tak tertekan dan tak dirongrong pikiran untuk mengejar sesuatu atau harta. Tukang becak sadar tak pintar, tak punya kenalan pejabat yang bisa berkolusi dan korupsi, juga tidak memiliki aset bernilai lainnya. Karena keikhlasannya itu, dia gak malu tidur di pinggir jalan.

Yang penting keberadaannya tak mengganggu orang lain dan tidak merusak alam. Biasanya, begitu perutnya diisi, mereka langsung ngantuk dan tidur. Saat dibangunkan penumpang pun, mereka langsung medal becaknya.

Ya, ya, ya…! Tukang becak telah memberi pelajaran teramat penting dalam hidup yang sering kita pandang sebelah mata. “Makanya, sampean jangan hanya melihat orang dengan mata. Lihatlah dengan kedalaman hati sampean...biar kita tak berburuk sangka, su’udzon yang justru membuat kita berbuat dosa!” begitulah ustadz sohib saya mengingatkan. (*)

Iklan

2 Tanggapan to “Konglomerat dan Tukang Becak”

  1. Mas, tulisannya boleh dishare untuk temen saya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: