Momentum Kebangkitan Kalbar

  • Ritulisme dan Pengamalan Natal 2008
  • Nikmatnya Rahmat Cinta dari Perbedaan
NATAL

SILATURAHMI - Uskup Kardinal Julius Darmaatmadja menyalami seorang muslimah saat silaturahmi tokoh agama usai misa Natal di Gereja Katedral St Petrus, Bandung, Jawa Barat, Kamis, (25/12) - ANTARA/REZZA ESTILY

NATAL kembali tiba. Semua umat Kristiani di Kalimantan Barat, Indonesia dan di dunia begitu suka cita menyambut perayaan hari istimewa ini.

Di Jakarta, segenap umat Kristiani menggelar perayaan bersama di Jakarta Covention Center (JCC), 27 Desember 2008. Tak tanggung-tanggung, puncak perayaan Natal ini menyedot biaya yang fantastis.

Panitia perayaan bersama mengalokasikan dana Rp 3,4 miliar. Dana sebesar itu terbagi Rp 1,4 miliar untuk puncak perayaan Natal, dan Rp 2 miliar kebaktian sosial.

Luar biasa untuk momentum perayaan hari besar keagamaan yang diprakarsai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Purnomo Yusgiantoro ini.

Momentum indah, sekaligus istimewa. Umat Kristiani Jakarta tak hanya suka cita memeringati Natal, tapi sekaligus menjadikan momentum tersebut sebagai ajang mengamalkan hikmah Natal. Kebaktian sosial, identik upaya pengamalan nilai-nilai dasar dari cinta kasih sesama yang diajarkan Tuhan.

Melalui cinta kasih sesama yang tulus, kehidupan damai dan sentosa akan terbangun dengan kokoh. Pendek kata, surga terbuka lebar. Kegiatan nyata seperti inilah yang patut diteladani dan dikembangkan di semua wilayah negeri tercinta ini.

Kebaktian sosial tidak tertuju kepada umat agama Kristen saja, melainkan segenap umat manusia. Artinya, membantu sesama manusia tidak memandang asal agamanya. Tidak juga menilai suku, ras dan golongan apa.
love-clouds

KETULUSAN membantu lebih digerakkan dorongan rasa, hati nurani sebagai manusia sejati. Manusia dengan harkat dan martabat tertinggi di antara mahkluk yang diciptakan Tuhan Yang Maha Esa.

Suatu usaha sederhana yang luar biasa bagi kebangkitan persaudaraan antarumat manusia di Indonesia, bahkan dunia sekali pun. Upaya-upaya seperti ini, apabila dilandasi dengan ketulusan hati nurani, akan menjadi senjata terampuh dalam merekatkan segenap elemen bangsa Indonesia.

Selama tiga dasa warsa lebih, perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara kita, masih diwarnai kejadian-kejadian bermuatan SARA. Sentimen keagamaan begitu kuat tersembunyi di balik kehidupan sehari-hari.

Tak jarang benturan, konflik hingga kerusuhan pernah melanda beberapa daerah di negeri tercinta kita. Toleransi yang dibuktikan dengan kebaktian sosial seperti dilaksanakan umat Kristiani Jakarta, potensial menjadi pintu meluaskan persaudaraan antar anak bangsa.

Tidak lagi terjebak pemikiran sempit, apalagi dipolitisasi sehingga memantik sentimen antarumat beragama. Peristiwa demi peristiwa kerusuhan SARA yang terjadi, menjadikan kita sadar bahwa kita harus menerima perbedaan.

Kita harus kuat dan bersatu dari aneka agama, suku, ras, asal- usul dan golongan. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harus kita perjuangkan bersama melalui ke- Bhineka Tunggal Ika-an kita. Tak ada masyarakat, bangsa dan negara di jagad raya ini yang murni homogen agamanya.

Selalu ada yang beda. Ada yang beragama Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Budha, Khonghucu maupun lainnya. Hak asasi tiap manusia menentukan agama yang dipeluknya. Hak paling hakiki pula bagi manusia meyakini kepercayaannya.

kasih-sesama1

Afirmasi cinta sejari - photobucket.com

DI era global saat ini, tak lagi zamannya memaksakan kehendak. Kebersamaan kita dari keberagaman inilah yang melahirkan negara republik Indonesia. Kita sebagai generasi di abad global, wajib mengokohkan konsensus nasional ini. Bukan sebaliknya!

Para pejuang kemerdekaan telah membuktikan ketangguhan kebersamaan dalam perbedaan ini dalam melawan penjajah. Itu sebabnya, tidak ada alasan sepatah kata pun kita menyatakan tak bisa. Apalagi, situasi dan kondisi, ruang dan waktu kita jauh lebih baik dibanding zaman penjajahan yang dialami para pejuang kita.

Hidup di negara demokrasi seperti Indonesia, membuka peluang luas tiap anak bangsa bersikap dan berbuat kebaikan untuk keluarga, tetangga, masyarakat, daerah, bangsa dan negara tercinta kita.

Soliditas kerukunan umat beragama akan menjadi dasar kuat membangun kehidupan beraneka latar belakang. Kerusuhan etnik, seperti pernah melanda Kalbar, bisa dieliminir, apabila kerukunan antarumat bergama kita kokoh.

Kerusuhan etnik atau apa pun namanya, wajib kita jadikan pelajaran penting. Memetik hikmah dan membangun kemuliaan kehidupan, harus menjadi imperative ideas tiap warga yang mencintai bumi Kalbar ini.

Meneladani cinta kasih tulus Tuhan adalah sumber kemuliaan kehidupan. Di dunia maupun setelah kita mati. Tak setitik noda pun mengandung kebencian, apalagi nafsu membunuh di dalam ajaran Tuhan.

Oleh karena itu, kita wajib introspeksi diri, bila masih ada kebencian terhadap sesama yang berlatar perbedaan agama atau latar belakang lainnya. Apakah kita yang tak mengenal Tuhan atau kita berpura-pura paling taat Tuhan di hadapan sesama manusia.

Natal, sebagaimana Idul Adha dalam Islam, sama-sama memuat hikmah belas kasih sesama. Menyayangi sesama manusia ciptaan Tuhan. Kendati tak mungkin mencampur-adukkan ajaran antaragama, para pahlawan bangsa kita membuktikan mampu menyatukan hati dalam kebersamaan hidup berbangsa dan bernegara.

Kini Natal juga jatuh pada momentum krisis finansial global. Perekonomian negeri kita pun sedang kembang-kempis. Dan, puluhan juta sesama kita hidup di garis kemiskinan. Hanya ketulusan hati nurani kita yang menuntun perbuatan kebajikan demi kemuliaan Tuhan semesta alam. Selamat Natal, semoga Tuhan memberkati kita semua! (*)

Iklan

8 Tanggapan to “Momentum Kebangkitan Kalbar”

  1. langoq kayo Says:

    saya seorang Katolik saya salut dengan anda semoga toleransi beragama dan saling menghargai sesama pemeluk agama di Indonesia semakin kuat dan abadi…salut atas tulisan anda

  2. Morein Putong Says:

    Kalau semua orang di Indonesia (Kalangan Elit dan Grassroot) mempunyai cara pandang demikian tidak mempersoalkan agama apa? suku dari mana? mungkin kita bisa maju melebihi bangsa Amerika Serikat atau negara di Asia dari segi Ekonomi, Politik dan Sosial Budaya bahkan Pertahanan/Keamanan. Bangsa kita akan lebih kokoh dan tangguh sekalipun menghadapi Krisis global saat ini.

  3. semoga ini bisa terus berlanjut dan semakin baik di kemudian hari …

    regards

    pyou@bcozjc

  4. saya setuju dengan pendapat anda. bangsa kita memerlukan carapandang baru terhadap permasalahan yg sedang kita hadapi. dengan berpikir positif, menghargai perbedaan, yakin pada kemampuan bangsasendiri tanpa mengabaikan kemampuan bangsalain, para prmimpinnya mempunyai visi yg jelas tentang bangsa ini dimasa-jauuhhh ke-depan, saya yakin akan membawa bangsa kita dalam jajaran bangsa-bangsa yg akan memimpin dunia

  5. Koling Bariko Says:

    Beginilah salah satu cara menyatukan umat manusia untuk mendorong kemajuan dan perdamaian bangsa tercinta

  6. kamu itu agamanya islam atau nasrani(katholik/kristen) sih???
    kok pakai kata jihad sih kok nama domain blog kamu albert joko ???

    • albertjoko Says:

      Islam Rahmatan lil al-amin, sobat.. Saya muslimin yang senantiasa ingin dan terus belajar menjadi mukminin. Jika sobat berkenan, mohon ajari saya menjadi umat yang takut larangan Allah SWT dan cinta perintah Allah SWT tanpa riya’ 1/7 pun dari rambut kita. Terimakasih, salam keluarga… Wassalam

  7. apakah benar semua itu rahasia tuhan/allah yang pasti tidak akan ada jawaban

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: