Tauladan Ibu PKL Miskin

Gambar

BLOK S, blok S! Seru seorang sobat muda sambil mondar-mandir di depan meja kerjaku, menjelang tengah malam, Selasa 23 Oktober 2012.

Seperti biasa, sobat-sobat muda di kantor suka bercanda. Canda sebagai bumbu merajut tali silaturrahmi yang nyaris sulit didapat di ibukota, atau sekedar mengusir kepenatan kerja di kala malam larut.

Seruan si sobat muda ini bak pemantik “nyanyian.” Langgam lagu yang bersyair singkat dan sama. “Blok S, blok S!” Begitu sobat-sobat yang lain berseru bersahut-sahutan, bak nyanyian.

Saya memahami maksud sobat-sobat muda ini, kendati saya belum pernah tahu keistimewaan Blok S di Jakarta. Dan, memang bukan mengajak pergi ke Blok S, melainkan sekedar jalan-jalan dan makan di kedai-kedai berlampu neon di antara remang-remang Kota Jakarta.

Bisa dimaklumi, kala malam larut, apalagi dinihari, tentu langka restoran buka 24 jam. Kalau pun ada, di gedung-gedung pencakar langit dengan varian kafe atau hotel and cafe.

Ayo! Sekarang kah?” jawabku ketika sobat-sobat muda pada senyam-senyum. Jadilah kami berenam keluar kantor dinihari. Saya ikut saja ke mana sobat muda menancap gas mobil, mencari kedai-kedai neon di saat Jakarta terbebas kemacetan dinihari.

Sekitar 15 menitan melaju santai, arah mobil tak lagi menuju ke kawasan Hangtuah, Jakarta Selatan. Di kawasan PKL makanan dan minuman ini, ada nasi goreng kambing, lumayan enak dan relatif murah.

“Jadi, kita ke mana ini?” tanyaku pada sobat-sobat muda yang tampak riang melepas kepenatan kerja. “Blok M, Cak!” sahut sobat muda yang duduk di samping sobat yang menginisiasi keluar cari makanan.

Sejenak terbayang dalam benakku. Apa masih ada makanan di bilangan elite pada jam 02.30 WIB, Rabu 24 Oktober 2012? Saya diam saja sambil sesekali menikmati rokok tanpa asap kendaraan motor di Kota Batavia.

Tak lama kemudian, laju mobil melambat hingga berhenti di kawasan Bulungan, Jakarta Selatan. Setelah melongok ke sana-kemari sejenak, mobil kembali bergerak pelahan. Rupanya, kedai yang dicari sudah pada tutup.

Gambar

Joke Taman Ayodya
Jadilah mobil diparkir di pinggiran Taman Ayodya, masih kawasan Bulungan. Begitu aku turun, sempat tercenung sejenak saat menatap kerumunan kaum adam dan hawa berdua-duaan di atas rerumputan, di sela-sela tumbuhan atau di balik bangunan.

“Apa yang dicari di malam dingin begini? Mengapa tidak menggunakan waktu sepertiga malam di atas sajadah, atau istirahat,” begitu tanyaku dalam hati. “Ada apa Cak? Pengen sate paha?” seloroh sohib muda sambil tersenyum.

“Memang sate paha apa?” tanyaku. “Ya, beli sate kambing, ayam atau tikus, tapi dapat paha perempuan,” jelas sobat muda lalu cekikikan. “Edan!” seruku. Saya pun jadi bahan guyonan para sobat muda, layaknya orangtua yang katrok dunia gila kaum muda.

Beruntung mutar-muter di kawasan berkosmis syahwat ini tak lama. Allah Maha Penolong. Menu yang dicari para sobat muda ternyata sudah tutup juga, sehingga mereka memutuskan balik ke Aa’ di Kebayoran Lama, dekat kantor.

Semula saya tak mengerti sebutan Aa,’ saya kira panggilan kakak dalam dunia Arabian. Ternyata, warung mie instan di emperan toko yang terletak di sudut kantor. Begitu tiba di kedai Aa’ saya pun hanya bisa geleng-geleng kepala.

“Kenapa kita putar-putar, kalau hanya makan di sini?” ujarku sambil ngelus dada. Ya, namanya anak-anak muda, para sobat hanya tertawa. Setidaknya mereka berhasil mengerjai saya. Puas bercanda, kami memesan mie instan.

Gambar

Shalat Di Emperan
Jarum jam kala itu telah menunjuk sekitar pukul 03.05 WIB. Ketika kami hendak menikmati mie-mie dalam mangkok yang tersaji, ada pemandangan teramat istimewa.

Di depan kedai mie instan emperan toko, seorang ibu berdiri tanpa gerak menghadap ke arah kiblat. Ibu ini berdiri di atas kertas seadanya, di antara rombong jualan teh atau kopi. Suara riuh, celoteh yang kadang disertai tawa cekakakan, tak mengusik ketenangannya.

Sang muslimah ini tetap khusyuk menunaikan shalat malam. Iseng-iseng aku jepret menggunakan blackberry. “Coba kamu amati foto ini!” kataku sambil menyodorkan hasil jepretan ke sobat-sobat muda.

Para sobat terdiam saja. “Nih, golongan kaum yang sangat berpeluang masuk surga. Dia miskin tapi begitu cinta Allah SWT,” begitu kataku, sok tahu. “Coba kamu cari, berapa banyak orang-orang seperti dia di Kota Jakarta ini! Mungkin hanya hitungan jari,” tandasku mencoba meyakinkan para sobat muda.

Lagi-lagi para sobat hanya tersenyum tanpa kata-kata. “Bayangkan, tanpa rumah dan di saat semua orang tertidur pulas, dia ingat Allah dan menyembah-Nya,” kataku, membuat para sobat terdiam.

“Dia, patut jadi cermin bagi kita. Dan, jangan malu meneladani orang miskin yang saleh. Kita ini sering merasa pintar, hebat, elite dan berkuasa, tapi justru dia lah yang akan masuk surga,” celotehku.

Benar lah itu. Saya haqqul yaqin. Menatap gerak dan bahasa tubuh sang muslimah pedagang teh itu, saya teringat petuah-petuah ustadz, sobatku di Surabaya sekitar 10 tahun silam.

Kala itu, saya diingatkan bagaimana indahnya keutamaan mencintai kaum fakir miskin. Ada delapan hal yang tetap kuingat. “Pertama, mencintai orang miskin itu termasuk kebaikan,” tutur ustadz sohibku, kala itu. Beliau kemudian menyitir hadits Nabi SAW.

Wahai Muhammad, apabila engkau shalat, ucapkanlah doa, Allahumma inni as-aluka fi’lal khairaat wa tarkal munkaroot wa hubbal masaakiin, wa an taghfirolii wa tarhamanii, wa idza aradta fitnata qawmin fatawaffanii ghaira maftuunin. As-aluka hubbak wa hubba maa yuhibbuk wa hubba `amalan yuqorribu ilaa hubbik.

Artinya yang kuingat adalah, Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk mudah melakukan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran, serta aku memohon kepada-Mu supaya bisa mencintai orang miskin. Ampunilah (dosa-dosa)ku, rahmatilah aku. Jika Engkau menginginkan untuk menguji suatu kaum, maka wafatkanlah aku dalam keadaan tidak terfitnah. Saya memohon agar dapat mencintai-Mu, mencintai orang-orang yang mencintai-Mu, dan mencintai amal yang dapat mendekatkan diriku kepada cinta-Mu.

“Ini adalah benar. Belajar dan pelajarilah,” seru sang ustadz, menyitir hadist, HR Tirmidzi No 3235 dan Ahmad 5: 243.

Gambar

Cinta Allah
Keutamaan yang kedua, kata ustadz sohibku, mencintai orang miskin dan dekat dengan mereka akan memudahkan hisab seorang muslim pada hari kiamat.

Beliaupun mengutip Sabda Rasulullah SAW, “Barangsiapa menghilangkan satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, Allah akan menghilangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Dan, barangsiapa memudahkan kesulitan orang yang dililit utang, Allah akan memudahkan atasnya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim No 2699)

Ustadz sohibku pun terdiam, sebelum mengutip hadist yang bertalian. “Dua hal yang tak disukai manusia. Kematian, padahal kematian itu baik bagi muslim tatkala fitnah melanda. Dan, yang tak disukai pula, sedikit harta, padahal sedikit harta menyebabkan manusia mudah dihisab (pada hari kiamat).” (HR Ahmad 5: 427)

Benar dalam benakku. Mungkin tak seorang pun menetapkan mati sebagai cita-cita. “Lalu, keutamaan ketiga, dekat dengan orang miskin, berarti semakin dekat dengan Allah pada hari kiamat,” kata sang ustadz.

Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, matikanlah aku dalam keadaan miskin, dan kumpulkanlah aku bersama orang-orang miskin pada hari kiamat,” kata ustadz, mengutip hadist Tirmidzi.

`Aisyah berkata, Mengapa wahai Rasulullah, engkau meminta demikian? “Orang-orang miskin itu masuk ke surga 40 tahun, sebelum orang-orang kaya. Wahai `Aisyah, janganlah engkau menolak orang miskin walau dengan sebelah kurma. Wahai `Aisyah, cintailah orang miskin dan dekatlah dengan mereka karena Allah akan dekat dengan-Mu pada hari kiamat,” jawab Rasulullah. (HR Tirmidzi No 2352)

“Dan, mencintai orang miskin adalah landasan kecintaan pada Allah juga,” jelas ustadz tentang keutamaan keempat, mencintai orang miskin.

“Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena-Nya, memberi karena-Nya, dan tidak memberi juga karena-Nya, maka ia telah sempurna imannya.” (HR Abu Daud No 4681, Tirmidzi No 2521 dan Ahmad 3: 438)

Sang utadz kala itu makin bersemangat, ketika menjelaskan keutamaan kelima mencintai orang miskin, karena termasuk wasiat Rasulullah SAW.

“Kekasihku (Rasulullah) shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepadaku dengan tujuh hal. Pertama, supaya aku mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka. Kedua, beliau memerintahkan aku, agar melihat orang yang berada di bawahku dan tidak melihat orang yang berada di atasku. Ketiga, beliau memerintahkan agar aku menyambung silaturahmiku meskipun mereka berlaku kasar kepadaku. Keempat, aku dianjurkan memperbanyak ucapan Laa haula wa laa quwwata illa billah (tak ada daya dan upaya kecuali atas pertolongan Allah). Kelima, aku diperintah mengatakan kebenaran, meskipun pahit. Keenam, beliau berwasiat agar aku tidak takut celaan orang yang mencela dalam berdakwah kepada Allah, dan ketujuh beliau menasihatiku agar tidak meminta-minta sesuatu pun kepada manusia.” (HR Ahmad 5: 159)

Gambar

Termasuk Jihad
Uraian hadist yang begitu gamblang. Saya pun manggut-manggut mendengarnya. Ustadz sohibku kemudian menjelaskan keutamaan keenam, memperjuangkan kehidupan orang miskin itu termasuk jihad di jalan Allah.

“Orang yang membiayai kehidupan para janda dan orang-orang miskin, bagaikan orang yang berjihad fii sabiilillaah. Dan, bagaikan orang yang shalat tanpa merasa bosan, serta bagaikan orang yang berpuasa terus-menerus.” (HR Muslim No 2982)

Usai mendengar penjelasan ustadz ini, hatiku serasa adem dan memadat bak batu cadas. “Mengapa aku sering memalingkan muka kepada kaum miskin, bahkan seolah mereka sampah masyarakat,” begitu kata hatiku, penuh penyesalan.

Nah, kini yang (keutamaan) ketujuh!” seruh ustadz, menghentikan lamunanku. “Menolong orang miskin akan mudah memperoleh rizki dan pertolongan Allah, serta mudah mendapatkan barokah doa mereka,” jelas beliau.

“Kalian hanyalah mendapat pertolongan dan rizki dengan sebab adanya orang-orang lemah dari kalangan kalian” (HR Bukhari No 2896)

Ustadz sohibku kemudian memperjelas dengan mengutip hadist, HR an-Nasai No 3178. “Sesungguhnya Allah menolong umat ini dengan sebab orang-orang lemah mereka di antara mereka, yaitu dengan doa, shalat, dan keikhlasan mereka.”

Petuah Ibnu Baththol, “Ibadah orang-orang lemah dan doa mereka lebih ikhlas dan lebih terasa khusyuk, karena mereka tak punya ketergantungan hati pada dunia dan perhiasannya. Hati mereka pun jauh dari yang lain, kecuali dekat kepada Allah saja. Amalan mereka bersih dan doa mereka mudah diijabahi (dikabulkan)”. Al Muhallab berkata, “Yang Nabi shallallahu `alaihi wa sallam maksudkan adalah dorongan bagi Sa’ad agar bersifat tawadhu’, tidak sombong dan tidak usah menoleh pada harta yang ada pada mukmin lain” (Syarh al-Bukhari li Ibni Baththol, 9: 114)

Gambar

Nikmat Bersyukur
“Keutamaan yang kedelapan adalah, memiliki sifat tawadhu’ dan qona’ah,” tutur ustadz. Beliau kembali menunjukkan tuntunan melalui cakrawala hadist.

“Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.” (HR Muslim No 2963)

Mengenai konsepsi orang miskin dalam Islam, ustadz sohibku mengingatkan, bahwa bukanlah pengemis yang sering kita temukan sedang meminta-meminta di traffic light, jalanan atau yang door to door di permukiman.

“Perlu dipahami, orang miskin mana yang pantas dicintai? Tentu bukan orang miskin yang musyrik. Tentu bukan orang yang sering meninggalkan shalat, atau yang lebih parah, tidak pernah shalat,” tegas ustadz sohibku.

“Bukan pula yang malas puasa wajib di bulan suci Ramadhan. Tentu saja bukan juga yang gemar melakukan ajaran, yang tidak ada tuntunan dalam Islam,” tandas ustadz, memperingatkanku.

“Jadi, orang miskin yang bagaimanakah, Gus?” tanyaku. “Yang patut dicintai adalah, seorang muslim yang taat. Jadi, bukan masuk kategori miskin, jika malas-malasan bekerja, hanya menjadikan cara meminta-minta di jalan sebagai profesi harian,” jelas beliau.

Ustad sohibku kemudian mengajak meresapi makna hadits dari Abu Hurairah ra, di mana meriwayatkan Sabda Rasulullah SAW.

“Namanya miskin, bukanlah orang yang tidak menolak satu atau dua suap makanan. Akan tetapi miskin adalah orang yang tidak punya kecukupan, lantas ia malu atau tidak meminta dengan cara mendesak.” (HR Bukhari No 1476)

“Subhanallah…!” seruku. Selama ini banyak di antara kita yang tak paham konsepsi miskin dalam Ajaran Islam yang rahmatan lil al-Amin.

Sebelum mengakhiri ngaji menjelang Subuh, ustadz sohibku minta saya mengamalkan firman Allah SWT tentang ketawakalan.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang apabila disebut Asma Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan Ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), serta hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (QS Al Anfaal:2).

Alhamdulillah… ingatanku menjadi segar kembali atas pencerahan hati dari ustadz sohibku 10 tahun silam. Dan, Alhamdulillah pula kepada ibu pedagang yang shalat dinihari di emperan tokoh Kebayoran Lama. Muslimah miskin patut menjadi tauladan kalbu yang galau. Amin, amin, ya robba al-Amin.

Obrolan Hati Kamis Dinihari
Jakarta 25 Oktober 2012

Iklan

Satu Tanggapan to “Tauladan Ibu PKL Miskin”

  1. Thank you again Jane, my brother. Thank God, if the article is useful for my friend’s daughter. May God bless you and your family, amen .. My respectful greetings. yours respectfully

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: