Jabatan Membutakan Hati

Jabatan di era abad global selalu menjadi simbol kehidupan yang diburu dan kejar siapa pun. Cara apapun ditempuh. Menghalalkan cara jadi trik paling digemari. Tiada rasa malu terhadap sesama, dan tiada takut kepada Sang Khaliq, manakala menafikkan hukum Allah SWT. Astaghfirullah…

 

Jabatan duniawi makin diagungkan hingga mengalahkan keagungan Tuhan

Jabatan duniawi makin diagungkan hingga mengalahkan keagungan Tuhan

 

Masa Ambisius

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya kalian nanti akan sangat berambisi terhadap kepemimpinan, padahal kelak di hari kiamat akan jadi penyesalan.” (HR. Al-Bukhari No. 7148)

Akan datang sesudahku penguasa-penguasa yang memerintahmu. Di atas mimbar mereka memberi petunjuk dan ajaran dengan bijaksana, tetapi kala turun mimbar mereka melakukan tipu daya dan pencurian. Hati mereka lebih busuk dari bangkai. (HR. Aththabrani)

 

“Khianat paling besar adalah penguasa yang memperdagangkan rakyatnya.” (HR.Aththabrani)

“Tidaklah dua ekor serigala lapar dilepas di tengah gerombolan kambing lebih merusak, daripada merusaknya seseorang terhadap agamanya karena ambisi meraih harta dan kedudukan tinggi.” (HR. At-Tirmidzi No. 2482)

“Janganlah engkau menuntut suatu jabatan. Sesungguhnya jika diberi karena ambisimu, kamu akan menanggung seluruh bebannya. Tapi, jika ditugaskan tanpa ambisimu, maka kamu akan ditolong mengatasinya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Asy-Syaikh Ibnu `Utsaimin berkata, “Seseorang yang meminta jabatan bertujuan meninggikan dirinya di hadapan manusia, menguasai mereka, memerintah dan melarangnya, tentunya tujuan yang demikian ini jelek adanya. Maka, sebagai balasannya, ia tak mendapat bagiannya di akhirat. Oleh karena itu, seseorang dilarang minta jabatan.” (Syarh Riyadhush Shalihin, 2/469)

“Kami tidak menyerahkan kepemimpinan ini kepada orang yang memintanya, dan tidak pula kepada orang yang berambisi mendapatkannya.” (HR. Al-Bukhari No. 7149 dan Muslim No. 1733)

Kursi empuk pejabat jadi simbol keangkuhan pejabat dunia kini

Kursi empuk pejabat jadi simbol keangkuhan pejabat dunia kini

Musibah Binasa
Asy-Syaikh Ibnu `Utsaimin berkata, “Sepantasnya bagi seseorang tidak minta jabatan apa pun. Namun, apabila ia diangkat bukan karena permintaannya, boleh menerimanya. Akan tetapi, jangan meminta jabatan tersebut dalam rangka wara’ dan kehati-hatiannya, karena jabatan dunia itu bukanlah apa-apa.” (Syarh Riyadhush Shalihin, 2/470)

“Jabatan (kedudukan) pada permulaannya penyesalan, pada pertengahannya kesengsaraan (kekesalan hati), dan pada akhirnya azab pada hari kiamat.” (HR. Aththabrani)

“Ada tiga perkara tergolong musibah membinasakan. Pertama penguasa, bila kamu berbuat baik kepadanya, dia tidak mensyukurimu, dan bila kamu berbuat kesalahan dia tak mengampuni. Kedua tetangga, bila melihat kebaikanmu dia pendam, tapi bila melihat keburukanmu dia sebar- luaskan. Ketiga istri, bila berkumpul dia mengganggumu dan bila kamu pergi (tidak di tempat) dia mengkhianatimu.” (HR. Athabrani)

“Apabila Allah menghendaki kebaikan suatu kaum, maka dijadikan pemimpin-pemimpin mereka orang-orang bijaksana dan dijadikan ulama-ulama mereka menangani hukum dan peradilan. Allah juga menjadikan harta-benda di tangan orang dermawan. Namun, jika Allah menghendaki keburukan bagi suatu kaum, Dia menjadikan pemimpin-pemimpin mereka orang-orang yang berakhlak rendah. Dijadikan orang-orang dungu menangani hukum dan peradilan, dan harta benda di tangan orang-orang kikir.” (HR. Addailami)

“Pemimpin suatu kaum adalah pengabdi (pelayan) mereka.” (HR. Abu Na’im)

Hawa nafsu manusia makin tak terkendali untuk menguasai dunia

Hawa nafsu manusia makin tak terkendali untuk menguasai dunia

Kembali ke Allah
Allah SWT berfirman, “Dan raja berkata, bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang dekat denganku.” Tatkala telah bercakap-cakap dengannya (Yusuf), raja berkata: “Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini jadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami.” Berkatalah Yusuf, “Jadikanlah aku bendahara negara (Mesir). Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.” (QS. Yusuf: 54-55)

“Sesungguhnya Yusuf itu, termasuk hamba-hamba kami yang terpilih (ikhlas).” (QS. Yusuf : 24)

Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah dia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.” (QS. Al-Qashash: 26)

“Dan, Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan, mereka adalah meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As-Sajdah 32: 23)

“Kami telah menjadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan telah Kami wahyukan kepada mereka untuk mengerjakan kebaikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah.” (QS. Al-Anbiya’ 21: 73)

“Kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi. Dan, kepada Allah-lah segala urusan dikembalikan.” (QS. Al-Hadid 57:5)

Wirid Hati Rabu Dinihari
Jakarta 12 Desember 2012

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: