Kelahiran Umat Manusia

Kelahiran jabang bayi identik kebahagiaan, selalu disambut suka cita orangtuanya. Panggilan Sang Khaliq, sebaliknya, cenderung disambut duka cita. Kelahiran dan kematian, dua sisi keping hukum Ilahi yang tak terpisahkan.

Bayi terlahir di atas fitrahnya

Bayi terlahir di atas fitrahnya

Lahir

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya setiap kamu dibentuk di perut ibunya selama 40 hari, kemudian berbentuk `alaqah seperti itu juga, kemudian menjadi mudhghah seperti itu juga. Kemudian Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh dan menetapkan 4 masalah.. (HR. Al-Bukhari, Ibnu Majah, At-Tirmidzi)

“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Kedua orangtuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi. Sebagaimana permisalan hewan yang dilahirkan oleh hewan, apakah kalian melihat pada anaknya ada yang terpotong telinganya? (Anaknya lahir dalam keadaan telinganya tidak cacat, namun pemiliknya lah yang kemudian memotong telinganya).” (HR. Al-Bukhari)

Adzan
Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang dianugerahkan bayi, lalu dia mengumandangkan adzan di telinga kanannya dan iqamat di telinga kirinya, maka bayi itu akan dijauhkan daripada Ummu Syibyan (jin perempuan/penyakit/apa saja yang menakutkan).” (HR. Al-Baihaqi)

Catatan: Dalam kitab Ahkamul Maulud Fi Sunnatil Muthahharah, Hukum Khusus Seputar Anak Dalam Sunnah Yang Suci hal 31-36 Pustaka Al-Haura oleh Salim bin Ali bin Rasyid Asy-Syubli Abu Zur’ah Muhammad bin Khalifah bin Muhammad Ar-Rabah dijelaskan, tidak disunahkan adzan pada telinga bayi yang baru lahir, karena lemahnya hadits-hadits yang diriwayatkan soal ini.

Membangun kaum mukmin melalui usia dini

Membangun kaum mukmin melalui usia dini

Doa
Doa yang dipanjatkan untuk bayi setelah adzan dan iqamat, “Allohumma inni u’idzuha bika wadzurriyatiha minasy-syaithoonir rojiim” (Ya Allah hamba mohon perlindungan-MU untuk dia dan anak keturunannya dari godaan syaitan yang terkutuk)

Nama
“Malam tadi telah lahir seorang anakku. Kemudian aku menamakannya Ibrahim.” (HR. Muslim No. 2315)

“Sesungguhnya pada hari kiamat nanti kamu akan dipanggil dengan nama-nama kamu, dan nama-nama bapak kamu. Oleh karena itu, berilah nama yang baik untuk (anak) kamu.” (HR. Abu Daud)

Ibn `Umar berkata: “Nama-nama kamu yang disukai Allah ialah Abdullah dan Abdul Raman.” (HR. Muslim No. 2132)

Ucapan
Ucapan terbaik seperti disebut ulama adalah, “Burika laka fil Mauhub, wasyakartal Wahiba, wabalagha rushdahu waruziqta birrahu (Semoga diberkati untukmu pada kurnia-Nya dan hendaklah kamu bersyukur kepada Pengurnia (Allah) dan semoga anak itu mencapai umur dewasa dan kamu memperoleh kebaktiannya).”

Tahnik
Abu Musa ra berkata, “Saya dikurniakan seorang bayi lelaki. Lalu saya membawanya ke Nabi SAW. Baginda SAW memberikan nama Ibrahim dan mentahniknya dengan kurma.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

  • Tahnik adalah mengambil sedikit kurma pada jari telunjuk lalu dimasukkan ke mulut bayi, lalu digerakkan perlahan ke kanan dan kiri agar menyentuh seluruh mulut bayi.
  • Manisan itu akan masuk rongga tekak dan tahnik ini dilakukan supaya memudahkan bayi ketika menyusu.
  • Sebaik-baiknya orang yang mentahnik bayi adalah orang yang shalih supaya bayi mendapat keberkatan.

Cukur
“Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya, disembelih darinya pada hari ketujuh kelahirannya, dicukur rambutnya dan diberi nama.” (HR. At-Tirmidzi dishahihkan Al-Albani dari Samurah ra)

Dari Ibnu `Umar berkata, “Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam melarang qaza’. Aku (Umar bin Nafi’) berkata pada Nafi’. Apa itu qaza’? Nafi’ menjawab, Qaza’ adalah menggundul sebagian kepala anak kecil, dan meninggalkan sebagian lainnya.” (HR. Al-Bukhari No. 5921 dan Muslim No. 2120)

Dari Abu Rafi’, beliau berkata, “Ketika Fathimah melahirkan Al-Hasan radhiyallahu’anhuma, (Fathimah berkata), Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan perak seberat timbangan rambutnya kepada musafir (atau orang-orang miskin yang tinggal di Shuffah), maka Fathimah pun melakukannya. Ketika ia melahirkan Al-Husain ia pun melakukan seperti itu.” (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi)

Catatan:

  • Syaikh Ibnu `Utsaimin rahimahullah dalam Asy-Syarhul Mumti’ menjelaskan, bahwa boleh bersedekah perak seberat rambut bayi dengan cara ditaksir, apabila pada hari ketujuh belum mendapatkan tukang cukur yang mampu mencukur rambut si bayi.
  • Apabila khilaf, sehingga telah lewat hari ketujuh, pendapat ulama terkuat adalah tak apa-apa dilakukan setelah hari ketujuh jika ada halangan. Penentuan hari ketujuh yang disepakati ulama itu hukumnya sunnah (tidak wajib).
  • Adapun sunnah bersedekah dengan perak seberat rambut bayi yang dicukur, boleh dilakukan kapan saja, karena tak ada dalil yang membatasi harinya, hanya saja lebih afdhol dilakukan segera setelah mencukur rambut bayi.
  • Pemberian nama anak pada hari pertama lahir, boleh dilewatkan pada hari ketiga dan boleh pula hari ketujuh.
  • Tak ada cara khusus memperlakukan tali pusar bayi, sehingga boleh dibuang, dan lebih baik dikubur agar tak menimbulkan bau atau dibongkar anjing dan lainnya. Menyimpan tali pusar untuk obat, tak ada dalilnya dalam syari’at, apalagi untuk jimat justru termasuk perbuatan syirik kepada Allah ta’ala.
Mendidik anak sejak usia dini untuk membentuk anak sholihah

Mendidik anak sejak usia dini untuk membentuk anak sholihah

Aqiqah

“Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya, disembelih darinya pada hari ketujuh kelahirannya, dicukur rambutnya dan diberi nama.” (HR. At-Tirmidzi dishahihkan Al-Albani dari Samurah ra)

Dari `Ali bin Abu Thalib ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengaqiqahi Hasan dengan seekor kambing. Kemudian beliau bersabda, wahai Fatimah, gundullah rambutnya lalu sedekahkanlah perak seberat rambutnya. Ali berkata, aku kemudian menimbang rambutnya, dan beratnya sekadar uang satu dirham atau sebagiannya.” (HR. Tirmidzi No. 1519

“Bersama seorang anak satu aqiqah, maka tumpahkan untuknya darah (sembelihan hewan qurban) dan bersihkan kotorannya (mencukur rambut).” (HR. Al-Bukhari No: 5472)

Dari Aisyah radhiyallahu `anha berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan dua kambing yang sama, dan bayi perempuan seekor kambing.” (HR. Ahmad 2/31, 158, 251, Tirmidzi No. 1513, Ibnu Majah No. 3163)

Menamai bayi yang baik menjadi kewajiban orangtua yang shalih

Menamai bayi yang baik menjadi kewajiban orangtua yang shalih

Firman Allah SWT
(Ingatlah), ketika istri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang shalih dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Ali Imran 3: 35)

Maka tatkala istri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: “Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan, dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu, dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk.” (QS. Ali Imran 3: 36)

“Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.” (QS. Ali Imran 3: 37)

“Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia berdiri bershalat di mihrab (katanya), sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari pengaruh hawa nafsu) dan seorang Nabi serta keturunan orang-orang saleh.” (QS. Ali Imran 3: 38)

Zakariya berkata: “Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan isteriku pun seorang yang mandul?”. Berfirman Allah: “Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” (QS. Ali Imran 3: 39)

“Bagi Allah jualah milik segala yang ada di langit dan di bumi. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dia mengurniakan anak perempuan kepada sesiapa yang dikehendaki-Nya dan mengurniakan anak-anak lelaki kepada siapa yang dikehendaki. Atau Dia mengurniakan mereka kedua-duanya, anak-anak lelaki dan perempuan dan Dia juga menjadikan siapa yang dikehendaki-Nya mandul.” (QS. As-Syura : 49-50)

Ngaji Hati Sabtu Dinihari
Jakarta 15 Desember 2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: