Archive for the artikel Category

Obama, Planet Mars, dan Twitter

Posted in artikel on Desember 12, 2008 by albertjoko

Oleh A Jafar M Sidik

Tech Test Twitter

Twitter mengubah dunia jurnalisme global - AP PHOTO

PADA masa berjalan, manakala harga komputer, gadget dan tarif telepon semakin murah, kian kaya fitur.

Puluhan juta orang Indonesia mungkin lebih akrab dengan Facebook, MySpace, Twitter, Flickr, hi5, YouTube, Friendster, Flixter, Yahoo Messenger, mikroblog dan jejaring sosial virtual lain yang pasti bertambah canggih, ketimbang media-media tradisional.

Sementara, dulu, media-media global, seperti CNN, BBC, New York Times, Washington Post, Guardian, Wall Street Journal dan banyak lagi, harus berpayah-payah mengirim wartawan untuk meliput peristiwa eksklusif di semua sudut kolong jagat.

Mereka pernah tak bisa memasuki Korea Utara yang kuper atau Tibet yang saat itu diisolasi China, sehingga tidak bisa mewartakan apa yang terjadi di sana.

Tetapi, dari Teror Mumbai, India, 26 November 2008, media global memperoleh pelajaran berharga bahwa eksklusivitas dan kedalaman liputan tak harus dicapai dengan bersegera mengirim kru ke lapangan atau memaksa para koresponden yang kebetulan tidak di tempat kejadian untuk bergegas ke situs peristiwa.

Mereka kini memanfaatkan betul fenomena di mana warga biasa, mampu mengerjakan fungsi-fungsi jurnalistik seperti melaporkan, mengumpulkan, menata, bahkan memverifikasi informasi dan berita baik teks, audio, video, sampai info grafis, di manapun dan kapan pun.

Profesor Jurnalistik dari Universitas Columbia yang juga reporter Iptek dan pendiri South Asian Journalists Associaton, Sreenath Sreenivasan, menyebut Teror Mumbai menjadi tonggak bagi evolusi jurnalisme, khususnya jurnalisme warga (citizen journalism).

Organisasi berita tradisional memang akan tetap hidup, namun paradigma dan caranya telah berubah.

NYTimes.com misalnya, menawari para saksi Teror Mumbai untuk memublikasikan kesaksian langsung mereka melalui lamannya, tatkala desingan peluru dan lemparan granat teroris mengincar nyawa mereka.

The Guardian, CNN dan situs-situs berita lainnya, bahkan tinggal menadahkan tangan menanti hujan informasi-informasi eksklusif dari Twitter, Flickr, dan jejaring sosial virtual lain, untuk kemudian mereka sunting, rapikan, organisasikan dan publikasikan.

Tanpa mengirim reporter, media massa global memperoleh cerita dan gambar secepat peristiwa teror terjadi, bahkan bisa sedalam investigasi jurnalistik, seekslusif keinginan stasiun-stasiun berita, seaktual dan sefaktual kesaksian langsung para saksi peristiwa.

“Aku percaya, pada masa depan, fungsi terpenting lembaga-lembaga pemberitaan adalah mengorganisasikan berita-berita (dari warga),” kata Jeff Jarvis, pakar internet dan profesor jurnalisme dari City University of New York, seperti dikutip the Guardian (1/12).

obama1

Twitter Menjadi Pisau Kampanye Jitu Obama - http://www.bivingsreport.com

JEJARING sosial virtual di antaranya Facebook dan mikroblog, seperti Twitter, telah memperluas jangkauan layanan berita lembaga-lembaga pemberitaan ke dalam masyarakat global. Media tidak lagi sebagai agen informasi, jendela bisnis dan penarik iklan, juga pintu ke dunia maya (cyberdoor).

Untuk laman CNN.com misalnya, cyberdoor ini berfungsi ganda, menjadi pintu masuk bagi profil, pesan pribadi dan daftar kawan pemilik blog ke dalam CNN Forum, dan menjadi pintu keluar untuk berita-berita, video dan blog favorit dalam CNN.com untuk disebarkan lagi dalam Facebook mereka.

Akibatnya, menurut Arielle Emmett dalam American Journalism Review (AJR) edisi Desember/Januari 2009, portal CNN menjadi semakin kaya, sekaligus bertambah sibuk lalulintas aksesnya berkat komunitas-komunitas dalam Facebook. “Kini, page view CNN setiap bulannya mencapai 1,87 miliar.”

Sementara, laman jaringan televisi PBS (Public Broadcasting Service), pada Oktober 2008, telah menarik pengunjung laman sebanyak 877 ribu per hari, ditambah 20 juta pengunjung temporer (unik).

Twitter

TIGA, empat tahun lalu, orang hanya bisa chatting melalui komputer, namun kini anak-anak muda anteng chatting melalui telepon seluler dan gadget lainnya. Tidak hanya di ruangan, juga di angkot, kereta api, bis kota, busway, ruang tunggu bandara, cafe, mal dan banyak lagi. Mereka bisa bercengkerama di mana saja, kapan saja, dengan siapa saja.

Sembari senyum sendiri, jemari tak henti menekan tuts, berkomunikasi dengan karib dan komunitas virtual mereka sambil melintasi tabir waktu, bangsa, keyakinan, dan geografi.

Mereka berbicara soal asmara, mode, gaya hidup, teroris, UU pornografi, gosip artis, kontrak bisnis, Liga Inggris, hingga konser The Changcuter, Obama dan Paris Hilton.

Sementara di AS, badan antariksa nasional AS (NASA) menggunakan Twitter dari wahana angkasa luar Phoenix, untuk berkomunikasi dari Planet Mars yang diinvestigasi Phoenix, dengan manusia di Bumi yang tentu saja sama-sama pengguna Twitter.

Di dimensi lain, politisi-politisi muda, cerdas dan energik, seperti Barack Obama dan Hillary Clinton memanfaatkan Twitter untuk menyelaraskan diri dengan kekinian. Meraba masa depan dan menjaring pemilih baru yang jumlahnya berlimpah, tapi lebih suka menyambangi dunia gemerlap ketimbang dunia politik yang gelap.

Kolumnis Lee Thornton, dalam AJR edisi Desember/Januari 2009, menyebut, Obama sukses mengeksploitasi new media (internet) sehingga ia meraih kemenangan besar dengan merebut duapertiga suara pemilih muda yang turut pemilu 4 November 2008.

“Tim Obama memahami bahwa keberhasilan kampanye mereka amat tergantung pada teknologi, laman-laman jejaring sosial, wahana-wahana telekomunikasi layar sentuh modern yang mereka rajut, dan BFF Google (best friend forever Google, para peselancar internet fanatik),” kata Lee.

copy-of-300434-01-02

Tragedi Mumbai bukti keunggulan Twitter dalam jurnalisme global - AP PHOTO

APA yang terjadi pada sistem politik kontemporer AS adalah pertautan yang sempurna antara teknologi dengan generasi yang ingin mencari simpul antara sebab dan akibat tanpa didikte kekuatan-kekuatan di luar dirinya.

Obama mengerti ini semua, demikian pula banyak politisi muda di seluruh dunia. Mereka memahami kawula muda kini mengerti bahwa dunia telah berubah menjadi amat terbuka, eksploratif, namun sangat privat.

Mereka bisa seberpengaruh para analis, pengamat dan kolumnis beken, bahkan lebih merdeka mengutarakan opini ketimbang editor dan produser yang bekerja untuk perusahaan-perusahaan media yang dimiliki seseorang, dan acap menuntut kooptasi pada kepentingan pengendali perusahaan.

Mereka juga tak bisa ditarik oleh jargon-jargon politik yang klise dan tidak kreatif dari para politisi usang.

Saking pentingnya mereka, mengutip Washington Post (12/9/2007), Presiden George W Bush pun lebih memilih mengundang para blogger daripada pemimpin redaksi, seolah hendak mengatakan blogger itu sepenting media pemberitaan.

Dan, khusus mengenai Twitter yang dianggap jejaring sosial termutakhir dan bakal mengubah paradigma media, kolumnis AJR, Arielle Emmett, menyebut tool dan fasilitas pengirim pesan mobil di dalamnya, telah membuat anggota-anggota komunitasnya -termasuk para kolumnis dan produser, bisa berbalas kirim teks untuk bertukar pertanyaan. Berbagi komentar dan informasi terkini, hanya dengan 140 karakter, bak layanan pesan singkat sms dan chatting.

Usia Twitter, memang masih sangat muda yaitu baru dua tahun, namun jejaring sosial fenomenal ini sudah dilanggani sejuta orang yang umumnya makmur dan selalu menggali maksimal layanan komunikasi virtual dalam perangkat komunikasi mobil apa pun yang dimilikinya.

Para pelanggan bebas keluar masuk laman Twitter tanpa dipungut bayaran, untuk bertukar pesan melalui komputer dan perangkat mobil yang tersedia.

Debut fenomenal Twitter adalah saat gempa bumi Sichuan, China, pada Mei 2008 manakala informasi, audio dan gambar pertama datang melalui Twitter. Namun, yang paling sensasional adalah ketika invasi 60 jam para teroris di Mumbai pekan lalu.

Para jurnalis, termasuk penulis politik washingtonpost.com Chris Cilliza, komentator politik NYTimes.com Kate Phillips dan kritikus musik The Times Jon Pareles, menjadi pelanggan setia Twitter dan rutin menyapa fans Twitter lewat mikroblog mereka.

“Tidak seperti Facebook, Twitter berpotensi mengubah dunia (karena sangat mudah diakses). Anda tidak perlu menjadi teman dan kontak saya. Jika anda di Twitter, kita semua terkoneksi,” kata pengarang Bringing Nothing To The Party; True Confessions of a New Media, Paul Carr (The Guardian, 3/12).

Dari Teror Mumbai, keunggulan Twitter seperti disebut Paul itu terekspos hingga memaksa dunia mengakui bahwa jurnalisme, cara manusia bermasyarakat dan sistem koneksi sosial, memang telah berubah drastis. (ant)

Iklan

Generasi Click Five

Posted in artikel on Juni 7, 2008 by albertjoko

net generation Asia

GENERASI apakah gerangan para remaja yang berjingkrak histeris tatkala menyaksikan konser The Click Five di Istora Senayan, Jakarta, Rabu malam, 4 Juni 2008? Begitulah pertanyaan pertama yang diajukan Akhmad Kusaeni, seperti dilansir Antara, 6 Juni 2008.

Sepintas, anak-anak berusia belasan tahun itu dikenal sebagai anak-anak baru gede atau populer disebut ABG. Mungkin masih duduk di bangku SMP atau SMA. Ketika menonton konser, tak sedikit di antara mereka yang masih didampingi orangtua. Tapi mereka, kebanyakan gadis, yang punya hasrat dan energi luar biasa.

Mereka menyanyi, mereka berjingkrak, mereka berteriak, mengelu-elukan grup band asal Boston, Amerika Serikat, yang lima personilnya muda usia. Kece-kece pula.

Sahutan, “Kyle, I love you!” untuk si vokalis imut-imut. Juga, “I love you, Joey..” untuk si drumer keren, seakan tak pernah berhenti berkumandang selama dua jam pertunjukan.

Siapakah gerangan para ABG yang malam itu, sambil bernyanyi dan berjingkrak, masih sempat memotret, menelepon di tengah kebisingan musik pop-rock, dan ber-SMS ria dalam kerumunan penonton?

Mereka adalah anak-anak kelas menengah kota yang membeli tiket seharga Rp 250.000 sampai Rp 350.000 lewat Internet atau online banking. Lalu untuk datang ke tempat konser, umumnya dengan sejumlah kawan, atau ada yang membawa sendiri mobil macam Honda Jazz, Suzuki Swift, atau sejenis city car.
five generation

Penontotn muda usia yang lain, diantar orangtua, atau sopir dengan mobil yang lebih mewah lagi. Anak-anak ini adalah generasi yang boleh disebut post-modern yang sekolahnya pun di International School yang berpengantar Bahasa Inggris dan tumbuh menjamur di seantero Ibukota.

Paling tidak, mereka belajar di sekolah favorit yang relatif mahal, mengambil kursus bahasa asing, atau pernah tinggal di luar negeri, sehingga gaya mereka bicara persis Cinta Laura.

Artis remaja blasteran Indo-Jerman itu dikenal suka bicara ‘campur sari’ dalam bahasa Indonesia-Inggris. Kalimat Cinta Laura yang terkenal adalah, “Mana hujan, becek, gak ada ojek… So, I call my parent untuk menjemput”.

Mereka, meminjam istilah Thomas L Friedman dalam buku The Lexus and the Olive Tree, adalah anak-anak masa depan yang dibentuk oleh budaya global yang didominasi tiga M, yaitu Mc Donald, MTV, dan Macintosh.

Anak-anak global diwarnai gaya hidup dan budaya massa global. Mereka menggemari rantai makanan cepat saji dari kedai waralaba internasional, memiliki perilaku dan gaya hidup yang dipengaruhi idola yang tampilnya di MTV, serta terbiasa menggunakan teknologi komunikasi canggih dan bergaul di dunia maya melalui Internet, membuat aktualisasi diri pada blog, dan berkawan lewat friendster.
anak-anak global

Steven D Zink dari Universitas Nevada, Amerika Serikat, menyebut anak-anak global tersebut sebagai Net Generation. Mereka lahir dan besar pada saat meruaknya teknologi Internet dengan world wide web (WWW)-nya.

Net Generation hanya memerlukan satu alat, sebut saja handphone, untuk melakukan apa saja yang diinginkannya: menelepon, menonton, chatting, browsing, downloading, main game, memotret, memesan dan membeli barang.

Dira, siswi kelas 2 SMP Labschool, Rawamangun, Jakarta Timur, termasuk salah seorang Net Generation. Setiap hari merasa harus nginternet satu atau dua jam.

Di depan komputer, ia melakukan berbagai aktivitas sekaligus. Mendengarkan musik, mengirim dan membalas email, chatting, searching, downloading lagu, uploading foto, dan updating blogs miliknya: dirasblogandlyrics.multiply.com.

Ia memiliki 500-an teman di friendster dari berbagai negara, menjadi anggota fans The Click Five bersama jutaan remaja di seluruh dunia lainnya, membeli ticket konser di detik.com atau memesan buku lewat Amazon.com. Ia juga mencari data untuk karya tulis dan PR sekolah di Google dan menganggap Wikipedia sebagai guru yang bisa menjawab apapun yang ingin diketahuinya.

dunia yang beda

Anak-anak global atau Net Generation jelas sangat berbeda dengan generasi orang tuanya. Menurut Thomas Friedman, kebanyakan orangtua sekarang hidup dalam era Perang Dingin, sedangkan Net Generation lahir dan besar dalam era pasca Perang Dingin atau era globalisasi.

Pola pikir orang tua adalah pola pikir Perang Dingin. Yang kuat adalah yang memiliki senjata dan bom lebih banyak. Dunia terbelah menjadi Barat dan Timur, komunis dan kapitalis, kawan dan musuh.

Presiden pertama Indonesia Soekarno pernah melarang musik ‘ngak-ngik-ngok’ dimainkan di Tanah Air, hanya karena musik itu berasal dari Barat. Soekarno pulalah yang pernah menyatakan, “Inggris kita linggis, Amerika kita setrika”.
Sedangkan pola pikir Net Generation adalah pola pikir globalisasi. Kalau masa Perang Dingin pertanyaannya adalah seberapa banyak rudal Anda, maka pada era globalisasi pertanyaannya adalah seberapa banyak “bandwith” Anda? Seberapa kuat sinyal ponsel Anda?

Kalau pada Perang Dingin dunia ditandai keterpisahan (NATO versus Pakta Warsawa), era globalisasi ditandai ketersatuan dan integrasi (WTO, Organisasi Perdagangan Dunia). Tidak ada lagi Barat-Timur, Komunis-Kapitalis, tapi satu dunia.
bung karno

Dalam global village (kampung dunia) semua memiliki peluang dan hak yang sama. Anak-anak di Indonesia, asal memiliki akses ke tiga M (McDonald, MTV dan Macintosh), akan tumbuh sama dan sebangun dengan anak-anak di belahan dunia lain, di benua Amerika, Eropa atau Afrika.

Anak-anak global bisa menyukai jenis makanan yang sama, memiliki idola yang sama, dan gaya hidup yang sama. Fenomena inilah yang tampak pada konser The Click Five di mana saja: di Amerika, Jepang, Cina, Malaysia, atau Indonesia.

Anak-anak kulit putih, kuning, hitam, dan sawo matang bisa bernyanyi bersama, jingkrak-jingkrak bersama, dan memuja idola yang sama. Mereka adalah generasi Click Five. Click atau klik adalah bunyi tombol komputer ketika ditekan.

Mereka adalah Net Generation yang hidup dalam dalam pikiran modern dan masa-masa menyenangkan, sebagaimana slogan tur The Click Five 2008: Modern Minds and Great Times. (*)