Archive for the budaya Category

Duta Gamelan dari Eropa Timur

Posted in budaya on April 29, 2008 by albertjoko

Oleh Zeynita Gibbons

Alena dan suami

ALENA Ondejcikova begitu berbinar usai memainkan angklung bersama Dharma Wanita dan staf KBRI Bratislava di Kota Nitra , 17-20 Maret 2008 lalu. Warga Slovakia ini tampil dalam pameran internasional tanaman Bonsai bertitel, Gala Evening Bonsai Slovakia 2008.

Mengenakan kemeja batik biru, Alena antusias menceritakan alat musik tradisional Indonesia itu. Ajang pameran bonsai yang dikemas dengan Suseiki dan Minuman Teh itu diadakan untuk ke 11 kalinya.

Kegiatan itu diselenggarakan Alena bersama suaminya, Vladimir Ondejcik dibantu putra dan putri mereka. Pasangan itu sejak empat tahun lalu mengandeng KBRI Bratislava untuk meramaikan acara.

Uluran tangan Alena tak sia-sia. KBRI Bratislava kemudian menjalin kolaborasi dengan KBRI Budapest dan KBRI Wina. Selama empat hari pameran, seni tari dan gamelan dipagelarkan.

Alena sendiri tampil sebagai pembawa acara. Ia menjelaskan makna dan asal tari piring yang dibawakan anak anak asuhan KBRI Wina, begitu pula pada penampilan musik gamelan yang dimainkan penerima Dharmasiswa dari KBRI Budapes.

Uniknya, Alena sendiri belum pernah menginjak bumi Nusantara. Namun, kecintaannya terhadap kesenian Indonesia tak kalah dengan seniman Indonesia sendiri. Perempuan Slovakia inipun tak ubahnya duta budaya Indonesia.

“Saya sangat senang dengan kesenian Indonesia dan bangga bisa menampilkan seni budaya yang sangat indah ini,” ujar Alena. Ia menyanjung masyarakat Indonesia yang ramah dan friendly.

Alena tak sia-sia. Publik dunia pun begitu tertarik dating. Tak hanya masyarakat kota Nitra, peserta pameran datang dari berbagai Negara. Mulai Italia, Prancis, Spanyol, Polandia, hingga Hungaria.

Kecintaan Alena ini dilansir dalam majalah Bonsaj a Caj yang diterbitkan bagi pecinta bonsai dengan menampilkan cover penari Indonesia pada dua terbitnya. Selain itu, Alena tampil impresif pada back cover buku Bonsai Slovakia.

Alena tak sendiri. Suami dan putra-putrinya ikut memperkenalkan Indonesia kepada masyarakat Slovakia. Kolega Alena, Kornel Magyar dan istri, Virag Polgar, serta Peter Szilagyi dari Hungaria tak mau ketinggalan. Mereka pun ambil bagian dengan menampikan musik gamelan.

Penerima Dharmasiswa

Kornel (32) pernah belajar di STSI Bandung tahun 1999. Ia fasih berbahasa Indonesia. “Saya belajar gamelan Sunda di Bandung,” tutur ayah dua anak itu seraya mengulumkan bibir.

“Kalau di rumah istri saya selalu masak makanan Indonesia,” ujar Kornel meyakinkan. Tiap pementasan gamelan yang diadakan KBRI Budapes, Kornel tak pernah absen. Ia tampil bersama penerima Dharmasiswa lainnya, seperti Andras Terfy, Gabor Nemeth, Marton Szatai, Peter Szanto, Gabos Gordenyi, Thomas Bernath, serta Anna Lackey.

Kontribusi mereka dalam pameran bonsai, memberi warna tersendiri. Apalagi, setiap kesempatan tampil mereka senantiasa mengenakan kemeja batik. “Musik gamelan memang berbeda dengan alat musik yang ada di Eropa,” puji Peter Szilagyi.

Alumni STSI Solo tahun 1997 itu, mengaku merasakan adanya keasyikan tersendiri saat memainkan gamelan. Perlu keselarasan, sinkronisasi dengan pemain lain. “Ini menjadi tantangan tersendiri,” ujar Peter yang bekerja di Pusat Informasi Perdagangan Internasional Indonesia di Budapes.

Penampilan duta-duta budaya Indonesia menjadi magnitute besar dalam pameran di Slovakia itu. Sangat kontras dengan wajah mereka yang putih dan berambut pirang saat memainkan alat musik tradisional gamelan.

“Pengenalan budaya Indonesia pun lebih mudah diterima, karena mereka menyampaikan pada kalangan mereka sendiri,” kata Kuasa Usaha Ad Interim KBRI Bratislava, Firdauzie Dwiandika.

Sarana promosi

Ajang pameran bonsai pun menjadi sarana promosi pariwisata Indonesia yang efektif. Paviliun Indonesia berada di samping panggung, menampilkan patung Garuda Kencana serta Gapura Bali.

Dua ikon itu tampak menonjol di antara pohon-pohon bonsai. Aneka jenis batik, dan demo membatik makin mengentalkan ‘kosmis’ Indonesia di Slovakia.

Tiap pengunjung dapat menjajal cara mengunakan canting dan malam pada kain putih bergambar bunga. Pengunjung langsung dipandu Hendra Koswara, pengrajin batik asal Jogjakarta.

Walhasil, kolaborasi KBRI Bratislava, KBRI Budapest, dan KBRI Wina berhasil memukau pengunjung. Pagelaran seni budaya Indonesia silih berganti tampil menghibur penonton. Penampilan grup Angklung asuhan KBRI Bratislava tampil berkolaborasi dengan musik harpa yang dimainkan Rama Widi, siswa Vienna Konservatorium, Austria.

Kolaborasi tersebut mendapatkan applaus, terutama saat lagu-lagu Slovakia dibawakan seperti Isla Marina, Na Tu Svatu dan lagu-lagu asing lainnya yang cukup populer di Slovakia, seperti Besame Mucho, O Solemio, dan La Paloma.

Pameran Bonsai Slovakia 2008 dilaksanakan bersamaan dengan pameran lainnya seperti pameran perumahan, lingkungan, pertamanan dan kehutanan di Agrokomplex.

Lokasi itu adalah areal pameran terbesar di Slovakia. Paviliun Indonesia mendapatkan penghargaan tertinggi yang diberikan kepada peserta pameran berupa Prix Beautiful Exposition. (ant/*)