Archive for the crime story Category

Polisi Memerkosa Tahanan Hamil di Sel

Posted in crime story on Maret 17, 2008 by albertjoko
  • Ironi Pengabdian Polri  di Tengah Perubahan
  • Matinya Kecerdasan Emosional & Spiritual

polisi     kekerasan

  perempuan lahirkan calon polisi, bukan… ?

Siapa sangka ada polisi kebablasan mengumbar hawa nafsu di tempat kerja sehari-hari. Tapi, itulah kenyataan yang dilakukan Briptu Sp (26). Polisi jaga Polres Semarang Selatan itu membuat heboh negeri, gara-gara menodai tahanan hamil.

MARKAS Kepolisian Resort (Polres) Semarang Selatan, Senin 17 Maret 2008, tak seperti hari-hari biasanya. Segenap anggota yang tampil tegas dan meyakinkan, bak kurang darah. Bahkan kurang percaya diri saat melayani masyarakat yang diayomi.

Biang perubahan suasana itu, terbongkarnya ulah Briptu Sp yang diduga telah memaksa Sr (26) berhubungan intim, Jumat 9 Maret 2008 dinihari. Aib ini semula terbungkus rapat, sebelum rekan sesama tahanan korban menceritakan kisah getir itu.

Apalagi, kejadiannya di tahanan. Korban Sr yang tercatat sebagai warga Susukan, Kabupaten Semarang, semula membisu. Lama-lama ia tak mampu lagi menahan gejolak hatinya. Sikap dan perilakunya berubah. Sr yang sempat syok, mengalami depresi.

Dari situlah penyidik penasaran. Dua dari tiga tahanan perempuan di Polres, akhirnya buka mulut kepada petugas piket. Dalam kesaksiannya, Sr diperkosa Briptu Sp sekitar pukul 03.30 WIB.

Dinihari itu, Briptu Sp memerintahkan beberapa tahanan pindah ruangan sementara, kecuali Sr. Briptu Sp kemudian masuk untuk melampiaskan nafsunya. Semula petugas piket tak begitu saja percaya, sehingga langsung ditanyakan Sr.

Betapa terkejutnya ketika Sr menganggukan kepala, tanda kebenaran terjadinya kekerasan seksual dalam Mapolres. Saat hendak diintimi, Sr yang hamil muda sempat meronta. Tapi, apa daya, tenaga Briptu Sp lebih kuat. Karuan saja, segenap warga Mapolres heboh. Teman-teman Sp terperangah, sebelum mengusut kasus asusila itu.

 rentan perkosaan …      wanita

Di tahanan Polres Semarang Selatan, terdapat beberapa tahanan. Tiga di antaranya perempuan, termasuk Sr. Korban sendiri ditahan karena tindak penganiayaan terhadap Asyiah (40) di kantor Sastro (suami Asyiah), Jl Perintis Kemerdekaan, Pudak Payung, Semarang.

Sr merupakan kekasih gelap Sastro. Hubungan gelap Sr-Sastro telah berlangsung lama. Meski Sastro sudah berisitri, Sr tak peduli. Bahkan, konon didasari cinta sejati, hingga Sr hamil muda. Itu sebabnya, Sr sering datang ke kantor Sastro.

Nah, suatu ketika Asyiah datang di kantor suaminya. Tak tahunya, Sr sedang bercengkerama dengan Satro. Kontan Asyiah naik pitam dan mendamprat Sr yang diyakini perempuan idaman lain suaminya.

Merasa terhina, Sr buru-buru mengambil kaleng cat dan memukulkan pada kepala Asyiah berulang kali. Asyiah pun tak berdaya. Kejadian itulah yang mengantar Sr ke tahanan Mapolres Semarang Selatan, 23 Januari 2008 lalu.

Runyamnya, setelah beberapa hari menjalani penahanan, Sr giliran jadi korban. Bukan penganiayaan, tapi pemerkosaan oleh polisi jaga. Sr yang kasmaran terhadap Sastro, tak bisa menerima perlakuan Briptu Sp sehingga mengalami depresi.

polisi oh.. polisi …  polisi1

Penyidik telah memeriksakan kondisi kejiwaan perempuan itu, namun belum juga diketahui hasilnya, trauma atau tidak. “Hasil pemeriksaan belum keluar. Dia masih ditahan karena hingga kini dia berstatus tahanan,” tutur Kabid Humas Polda Jateng, AKBP Syahroni.

Semula ulah Briptu Sp ditengarai akibat mabuk alkohol atau Narkoba, mengingat peristiwa itu belum pernah terjadi di negeri ini alias langka. Namun, setelah diperiksa secara laboratoris, hasilnya nihil.

Memerkosa tahanan bagi Sr, bukanlah tindak kejahatan pertama. Polisi yang sehari-hari bertugas di bagian Samapta ini, pernah ditahan karena memukuli orangtuanya tanpa alasan. Dia juga sering bolos. Meski pernah menghirup pengapnya jeruji besi, Briptu Sp tak jera juga.

“Tindakan tegas harus dikenakan penegak hukum itu. Sebab seorang tahanan menjadi tanggungan polisi, terlebih para tahanan wanita, seharusnya mendapatkan perlindungan,” tegas Direktur LBH-APIK, Estu Rakhmi Fanani.

Estu menilai ulah oknum polisi tak bisa ditolerir. Polisi seharusnya bertugas melindungi, bukannya jadi pelaku kejahatan. “Dia telah menyalahgunakan kewenangannya. Dan, ini mematikan harkat dan martabat kaum perempuan,” tegas Estu.

Anggota Kepolisian Nasional (Kompolnas), Novel Ali pun menilai kasus ini langka, dan membuktikan masih adanya persoalan mental di tubuh Polri. “Ini tak lepas bagaimana dia dididik saat di Sekolah Polisi Negara. Masalah disiplin dan kepatuhan asas cukup baik, tapi sepertinya pendidikan mental yang kurang,” tutur Novel. (dtc/*)

Iklan

Anak Kandung Bunuh Bapak

Posted in crime story on Maret 1, 2008 by albertjoko

 

bunuh bapak

Polisi menunjuk barang bukti luku di depan tersangka Basuki


TRAGEDI memilukan menimpa keluarga Dilar (72), warga Dusun Sanan, Desa Mojoduwur, Kecamatan Ngetos, Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu 1 Maret 2008. Gara-gara menolak disuruh mencuci baju, Basuki (49), tega membunuh Dilar yang notabene ayah kandungnya.

Anak durhakakah Basuki? Begitulah para tetangganya menista. Oleh karena gara-gara sepele, sang anak tega menghabisi nyawa lelaki renta yang mengukir jiwa raganya. Basuki pun bertingkah bak orang gila, ketika ditangkap tetangganya usai membunuh bapaknya.

Polisi mengidentifikasi pembunuhan yang dilakukan Basuki tergolong sadis. Kepala Dilar hancur setelah dipikul berkali-kali menggunakan benda tumpul. Tetangga korban sempat kesulitan mengenali lelaki renta yang bertahun-tahun membesarkan Basuki itu.

Pembunuhan sadis ini pertama kali diketahui warga saat menemukan korban tergeletak dengan bersimbah darah di dapur rumahnya sekitar pukul 09.00 pagi. Di tempat itu, warga mendapati luku (alat pembajak sawah dari kayu) berlumur darah.

Warga pun mencurigai Basuki yang sehari-hari tidur seatap dengan bapaknya. Apalagi saat Dilar ditemukan tewas, Basuki tak ada di tempat. Beberapa warga yang curiga lantas mencari Basuki.

Ia ditemukan saat berjalan di jalanan desa. Mengetahui dicari sejumlah tetangganya, Basuki mendadak berlagak seperti orang gila. Ia mengomel tak karuan, seakan-akan dia tak pernah mengetahui tragedi yang menimpa ayahnya.

Melihat gerak-gerik Basuki seperti ini, petugas segera mengamankan dan mencoba menginterogasinya. Hasilnya? Basuki akhirnya mengakui telah membunuh ayahnya dengan dalih kesal. Berkali-kali ia menyuruh ayahnya untuk mencucikan bajunya, tapi sang ayah mengabaikan.

“Saya kesal karena Bapak tak mau mencuci baju saya,” kilahnya enteng. Basuki mengaku memukulkan luku beberapa kali ke muka Dilar hingga kakek renta itu meninggal seketika.

Mendapat bukti meyakinkan, Basuki langsung digiring ke Mapolres Nganjuk untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. “Setelah saya tahu Pak Dilar meninggal seperti itu, saya langsung berpikir Basuki yang membunuh. Ya, karena sikapnya kepada Bapaknya sehari-hari tak baik. Kasihan Pak Dilar, dia sudah renta dan mungkin tak bisa melawan saat dipukuli,” tutur Yanto.

Kapolres Nganjuk, AKBP Subiyanto menyatakan kasus ini cukup menghebohkan, karena  kejahatan dalam keluarga yang sulit diterima masyarakat. “Kasus ini sedang kami sidik intensif,” katanya.

Tersangka Basuki yang berlagak seperti orang gila, segera dibawa ke psikiater untuk mengetahui kondisi mentalnya. “Jangan-jangan tersangka hanya berlagak gila saja, untuk menghindari hukum. Tapi akan kami buktikan nanti,” katanya. Siang tadi, korban langsung dimakamkan di desa setempat setelah divisum.  (ozc)