Archive for the karamah Category

Umar bin Khattab r.a.

Posted in karamah on April 1, 2008 by albertjoko

    Kisah…   khatab  … Kisah 

 

    kubur     Kisah 1 : Penghuni Kubur

IBNU Abi Dunya meriwayatkan bahwa ketika Umar bin Khattab r.a. melewati pemakaman Baqi’, ia mengucapkan salam, “Semoga keselamatan dilimpahkan padamu, hai para penghuni kubur. Kukabarkan bahwa istri kalian sudah menikah lagi, rumah kalian sudah ditempati, kekayaan kalian sudah dibagi.”

Kemudian ada suara tanpa rupa menyahut, “Hai Umar bin Khattab, kukabarkan juga bahwa kami telah mendapatkan balasan atas kewajiban yang telah kami lakukan, keuntungan atas harta yang yang telah kami dermakan, dan penyesalan atas kebaikan yang kami tinggalkan.” (dikemukakan dalam bab tentang kubur)

Yahya bin Ayyub al-Khaza’i menceritakan bahwa Umar bin Khattab mendatangi makam seorang pemuda lalu memanggilnya, “Hai Fulan! Dan orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya, akan mendapat dua surga (QS Al-Ralunan [55]: 46).

Dari liang kubur pemuda itu, terdengar jawaban, “Hai Umar, Tuhanku telah memberikan dua surga itu kepadaku dua kali di dalam surga.” (riwayat Ibnu ‘Asakir). (*)

   

   legenda    Kisah 2 : Umat Melegenda

AL Taj al-Subki mengemukakan bahwa salah satu karamah Khalifah Umar al-Faruq r.a. dikemukakan dalam sabda Nabi yang berbunyi, “Di antara umat-umat sebelum kalian, ada orang-orang yang menjadi legenda. Jika orang seperti itu ada di antara umatku, dialah Umar.” (*)

    

    nihawan     Kisah 3 : Keajaiban di Nihawan

UMAR bin Khattab r.a. mengangkat Sariyah bin Zanim al-Khalji sebagai pemimpin salah satu angkatan perang kaum Muslimin untuk menyerang Persia.

Di Gerbang Nihawan, Sariyah dan pasukannya terdesak karena jumlah pasukan musuh yang sangat banyak, sehingga pasukan Muslim hampir kalah.

Di Madinah ketika itu, Umar naik ke mimbar dan berkhutbah. Di tengah khutbahnya, Umar berseru dengan lantang, “Hai Sariyah, berlindunglah ke gunung. Barangsiapa menyuruh srigala untuk menggembalakan kambing, maka ia telah berlaku zalim!

Allah membuat Sariyah dan seluruh pasukannya yang ada di Gerbang Nihawan dapat mendengar suara Umar di Madinah.

Maka pasukan Muslimin berlindung ke gunung, dan berkata, “Itu suara Khalifah Umar.” Akhirnya, mereka selamat dan memperoleh kemenangan.

Al Taj al-Subki menjelaskan bahwa ayahnya (Taqiyuddin al-Subki) menambahkan cerita di atas. Pada saat itu, Ali menghadiri khutbah Umar lalu ditanya, “Apa maksud perkataan Khalifah Umar barusan dan di mana Sariyah sekarang?

Ali menjawab, “Doakan saja Sariyah. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya.” Dan setelah kejadian yang dialami Sariyah dan pasukannya diketahui kaum Muslimin di Madinah, maksud perkataan Umar di tengah-tengah khutbahnya tersebut menjadi jelas

Menurut al Taj al-Subki, Umar r.a. tak bermaksud menunjukkan karamahnya ini, Allah-lah yang menampakkan karamahnya, sehingga pasukan Muslimin di Nihawan dapat melihatnya dengan mata telanjang.

Seolah-olah Umar menampakkan diri secara nyata di hadapan mereka dan meninggalkan majelisnya di Madinah, sementara seluruh panca inderanya merasakan bahaya yang menimpa pasukan muslimin di Nihawan.

Sariyah berbicara dengan Umar, seperti dengan orang yang ada bersamanya, baik Umar benar-benar bersamanya secara nyata atau seolah-olah bersamanya.

Para wali Allah terkadang mengetahui hal-hal luar biasa yang dikeluarkan Allah melalui lisan mereka dan terkadang tidak mengetahuinya. Kedua hal tersebut adalah karamah. (*)

 

     gempa    Kisah 4 : Gempa Bumi

KITAB al-Syamil, Imain al-Haramain menceritakan Karamah Umar yang tampak ketika terjadi gempa bumi pada masa pemerintahannya.

Ketika itu, Umar malah mengucapkan pujian dan sanjungan kepada Allah, padahal bumi bergoncang begitu menakutkan.

Kemudian Umar memukul bumi dengan kantong tempat susu sambil berkata, “Tenanglah kau bumi, bukankah aku telah berlaku adil kepadamu.” Bumi kembali tenang saat itu juga.

Menurut Imam al-Haramain, pada hakikatnya Umar r.a. adalah amirul mukminin secara lahir dan batin juga sebagai khalifah Allah bagi bumi-Nya dan bagi penduduk bumi-Nya, sehingga Umar mampumemerintahkan dan menghentikan gerakan bumi, sebagaimana ia menegur kesalahan-kesalahan penduduk bumi. (*)

  

    sungai nil    Kisah 5 : Tumbal Sungai Nil

IMAM al-Haramain mengisahkan sungai Nil dalam kaitannya dengan karamah Umar. Pada masa jahiliyah, sungai Nil tak mengalir, sehingga tiap tahun dilemparlah tumbal berupa seorang perawan ke sungai tersebut.

Ketika Islam datang, sungai Nil yang seharusnya sudah mengalir, tenyata tidak mengalir. Penduduk Mesir kemudian mendatangi Amr bin Ash dan melaporkan bahwa sungai Nil kering sehingga diberi tumbal perawan dengan perhiasan dan pakaian terbaiknya.

Amr bin Ash r.a. kemudian berkata kepada mereka, “Sesungguhnya hal ini tidak boleh dilakukan karena Islam telah menghapus tradisi tersebut.” Maka penduduk Mesir bertahan selama tiga bulan dengan tidak mengalirnya Sungai Nil, sehingga mereka benar-benar menderita.

Amr menulis surat kepada Khalifah Umar bin Khattab untuk menceritakan peristiwa tersebut. Dalam surat jawaban untuk Amr bin Ash, Umar menyatakan, “Engkau benar bahwa Islam telah menghapus tradisi tersebut. Aku mengirim secarik kertas untukmu, lemparkanlah kertas itu ke sungai Nil!”

Amr membuka kertas tersebut sebelum melempar ke sungai Nil. Ternyata kertas tersebut berisi tulisan Khalifah Umar untuk sungai Nil di Mesir yang menyatakan, “Jika kamu mengalir karena dirimu sendiri, maka jangan mengalir. Namun, jika Allah Yang Maha Esa dan Maha Perkasa yang mengalirkanmu, maka kami mohon kepada Allah Yang Maha Esa dan Maha Perkasa untuk membuatmu mengalir.”

Kemudian Amr melempar kertas tersebut ke sungai Nil, sebelum kekeringan benar-benar terjadi. Sementara itu penduduk Mesir telah bersiap-siap pindah meninggalkan Mesir. Pagi harinya, ternyata Allah SWT telah mengalirkan sungai Nil enam belas hasta dalam semalam. (*)

  

    bunuh    Kisah 6 : Berpaling dari Pembunuh

IMAM al-Haramain menceritakan karamah Umar lainnya. Umar pernah memimpin suatu pasukan ke Syam. Kemudian ada sekelompok orang menghalanginya, sehingga Umar berpaling darinya.

Lalu sekelompok orang tadi menghalanginya lagi, Umar pun berpaling darinya lagi. Sekelompok orang tadi menghalangi Umar untuk ketiga kalinya dan Umar berpaling lagi darinya. Pada akhirnya, diketahui bahwa di dalam sekelompok orang tersebut terdapat pembunuh Utsman dan Ali r.a. (*)

  

    dusta   Kisah 7 : Diam dan Dusta

IMAM Nawawi dalam Riyadh al-Shalihin, mengemukakan bahwa Abdullah bin Umar r.a. berkata, “Setiap kali Umar mengatakan sesuatu yang menurut prasangkaku begini, pasti prasangkanya itu yang benar.”

Saya tidak mengemukakan riwayat dari Ibnu Umar tersebut dalam kitab Hujjatullah ‘ala al-‘Alamin. Kisah tentang Sariyah dan sungai Nil yang sangat terkenal juga disebutkan dalam kitab Thabaqat al-Munawi al-Kubra.

Dalam kitab tersebut juga dikemukakan karamah Umar yang lainnya, yaitu ketika ada orang yang bercerita dusta kepadanya, lalu Umar menyuruh orang itu diam.

Orang itu bercerita lagi kepada Umar, lalu Umar menyuruhnya diam. Kemudian orang itu berkata, “Setiap kali aku berdusta kepadamu, niscaya engkau menyuruhku diam.” (*)

  

 api  Kisah 8 : Asal-usul

UMAR bertanya kepada seorang laki-laki, “Siapa namamu?” Orang itu menjawab, “Jamrah (artinya bara).” Umar bertanya lagi, “Siapa ayahmu?” Ia menjawab, “Syihab (lampu).”

Umar bertanya, “Keturunan siapa?” Ia menjawab, “Keturunan Harqah (kebakaran).” Umar bertanya, “Di mana tempat tinggalmu?” Ia menjawab, “Di Al Harrah (panas).”

Umar bertanya lagi, “Daerah mana?” Ia menjawab, “Di Dzatu Lazha (Tempat api).” Kemudian Umar berkata, “Aku melihat keluargamu telah terbakar.” Dan seperti itulah yang terjadi. (*)

   

    kebakaran   Kisah 9 : Kebakaran di Madinah

FAKHRURRAZI dalam tafsir surah Al-Kahfi menceritakan bahwa satu kampung di Madinah dilanda kebakaran.

Kemudian Umar menulis di secarik kain, “Hai api, padamlah dengan izin Allah!” Secarik kain itu dilemparkan ke dalam api, maka api itu langsung padam. (*)

    nacanKisah 10 : Berkuasa Tanpa Harta

FAKHRURRAZI menceritakan bahwa ada utusan Raja Romawi datang menghadap Umar. Utusan itu mencari rumah Umar dan mengira rumah Umar seperti istana para raja.Orang-orang mengatakan, “Umar tidak memiliki istana, ia ada di padang pasir sedang memerah susu.”

Setelah sampai di padang pasir yang ditunjukkan, utusan itu melihat Umar telah meletakkan kantong tempat susu di bawah kepalanya dan tidur di atas tanah.

Terperanjatlah utusan itu melihat Umar, lalu bergumam, “Bangsa-bangsa di Timur dan Barat takut kepada manusia ini, padahal ia hanya seperti ini.” Dalam hati ia berjanji akan membunuh Umar saat sepi seperti itu dan membebaskan ketakutan manusia terhadapnya.

Tatkala ia telah mengangkat pedangnya, tiba-tiba Allah mengeluarkan dua harimau dari dalam bumi yang siap memangsanya. Utusan itu menjadi takut sehingga terlepaslah pedang dari tangannya.

Umar kemudian terbangun, dan ia tidak melihat apa-apa. Umar menanyai utusan itu tentang apa yang terjadi. Ia menuturkan peristiwa tersebut, dan akhirnya masuk Islam.

Menurut Fakhrurrazi, kejadian-kejadian luar biasa di atas diriwayatkan secara ahad (dalam salah satu tingkatan sanadnya hanya ada satu periwayat). (*)