Archive for the kisah hidup Category

Bersihkan Sisa Longsor Malah Mati Tertimbun

Posted in kisah hidup on November 29, 2008 by albertjoko
  • Tragedi Kerja Bhakti di Mojotengah Wonosobo
  • Hikmah Urgensi Senantiasa Mencintai Allah
jalan-longsor2

Longsor di wilayah jalan perbukitan Wonosobo - FOTO KOMPAS

KERJA bakti berujung maut. Begitulah tragedi yang menimpa Tudji Mustangin (45) dan Pawit (55) sekitar pukul 09.00 WIB, Sabtu 29 November 2008.

Tudji adalah warga Desa Kleyangjurang, Kecamatan Mojotengah, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Sedangkan Pawit, tercatat sebagai warga Desa Kalitulang, Gondang, Kabupaten Wonosobo.

Keduanya tewas dalam sekejab ketika suara gemuruh disertai ambrolan tanah dalam hitungan detik, mendadak mengubur mereka hidup-hidup.

Tudji dan Pawit tak sempat beringsut, karena longsoran begitu cepat dan dahsyat. Musibah mendadak yang mencuatkan tangis warga setempat. Tak seorang pun mudah menerima kenyataan tragis itu.

Hanya dalam hitungan detik, Tudji dan Pawit yang sedang bekerja keras membersihkan saluran irigasi di desa mereka, justru dijemput maut. Tepatnya di Desa Pungungan, Kecamatan Mojotengah.

Tak seorang pun mampu menyelamatkan mereka. Meski warga setempat segera membongkar timbunan tanah longsor, mereka hanya mampu menyelamatkan dua warga lain yang terluka.

Mereka adalah Sadali (60) dan Basir (50). Keduanya segera dilarikan ke RSUD Setjonegoro Wonosobo. Sedangkan Tudji dan Pawit ditemukan sudah tak bernyawa.

200804272051551

Pemandangan Indah Wonosobo - http://www.kabarindonesia.com

KEPALA Kantor Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat Wonosobo, Makmun Asmara pun hanya mampu menghela nafas panjang.

Ia mengatakan, musibah ini berlangsung saat korban bersama ratusan warga lain dari tiga desa, Gondang, Kaliasem dan Kleyangjurang melakukan kerja bakti bersama.

“Lokasi saluran irigasi yang diperbaiki persis di bawah bukit. Keduanya langsung dimakamkan di tempat pemakaman umum desa kami,” tuturnya.

Menurut Makmun, saat kejadian cuaca di tempat tersebut cerah. Kendati begitu naas tak bisa dielakkan. Wilayah Mojotengah memang rawan longsor, karena kondisi geografisnya yang dipenuhi perbukitan dan pegunungan.

“Karena itu kami meminta warga selalu berhati-hati. Sewaktu-waktu bisa terjadi longsor,” kata Makmun. Desember tahun 2007, dua warga Dusun Jaraksari, Kelurahan Jaraksari, Kecamatan Wonosobo, Kabupaten Wonosobo juga jadi korban amarah alam.

Ketika jarum jam menunjuk pukul 01.30, Jumat 28 Desember 2007, Faturahman (60) dan Zaini (16) tak mampu berkelit dari maut. Di tengah lelap tidur itu pula nyawa mereka melayang. Ketika itu hujan deras mengguyur Wonosobo.

allah-8

Sungguh Indah nan Nikamt Mencintai Allah - picasaweb.google.com

TEBING di Dusun Jaraksari pun tak mampu menahan laju air hingga memicu longsor, dan menimbun Faturahman dan Zaini. Menurut Kabag Kesra Wonosobo, M Rosyid, longsor dinihari itu mengubur dua rumah.

Namun, korban yang tewas hanya dari satu rumah. “Kebetulan para korban tewas ini sedang tidur, dan tak menyadari tebing di belakang rumahnya longsor,” jelasnya.

Pelajaran teramat berharga. Betapa nyawa manusia bisa melayang kapan saja. Subhanallah… tak seorang pun anak Adam tahu, kapan dan dengan cara apa ajal datang.

“Makanya, jangan sampai kita lupa diri kepada Allah Swt. Umumnya orang merasa seolah umurnya seribu tahun, sehingga lupa daratan. Cenderung menuruti hawa nafsu, cari senang- senang saja saat merasa sehat,” tutur Ustadz sohib saya di Surabaya.

“Kita semua baru ingat Allah, ketika terjadi musibah. Atau saat kita jatuh sakit. Coba kalau sehat wal afiat.. kesandung batu saja, tak akan istighfar. Umumnya malah mengumpat. Coba sampeyan renungkan..” kata Ustadz sahabat saya itu.

Subhanallah…! Benar adanya, marilah kita takut kepada Allah Swt! Tak perlu takut jatuh miskin, jika kita telah bekerja keras dengan cara yang dibenarkan agama.

“Memang harus begitu, sebab rizki tak bisa dipaksa. Allah Maha Kaya, dan Pemberi Rizki, bertakwalah kepada-Nya!” kata Ustadz mengingatkan kita semua. Amin.. amiiin, ya robbal al amin! (okezone/kompas.com/*)

Iklan

Ayah 25 Anak Sunting Istri ke-4

Posted in kisah hidup on Juni 11, 2008 by albertjoko

Antara Hak dan Harga Diri Manusia

keikhlasan poligami

ABU baru berusia 49 tahun. Namun, pria ini telah memiliki 25 anak dan 3 cucu. Ya, anak-anak itu dari pernikahannya dengan 3 wanita. Kini, pria bernama lengkap Abu Bakar Embong ini menambah istri lagi.

Lelaki itu telah mendapat izin dari pengadilan agama di negara bagian Terengganu, Malaysia. Izin diberikan pengadilan setelah Abu Bakar meyakinkan mampu memenuhi kebutuhan finansial keempat istrinya.

Muslim di Malaysia memang diperbolehkan menikahi maksimal 4 istri. Namun, pengadilan agama harus lebih dulu menyetujui rencana pernikahan tersebut.

“Pengadilan telah mempertimbangkan bukti tertulis yang diajukan Abu Bakar, di sana dia katakan bahwa dia berpenghasilan 20.000 ringgit per bulan dan telah menyediakan rumah dan mobil untuk masing-masing istrinya,” kata Hakim Shaikh Ahmad, seperti dilansir harian The Star, 10 Juni 2008.
realita selingkuh

Abu Bakar yakin telah memperlakukan ketiga istrinya dengan adil. “Selama saya mampu punya istri lagi dan saya kuat, saya tak melihat alasan kenapa saya tak bisa menikah,” kata pria yang bekerja sebagai negosiator properti tersebut.

Dari ketiga istrinya, Abu telah dikaruniai 11 anak laki-laki dan 14 anak perempuan. Usia anak-anaknya berkisar dari 4 bulan hingga 25 tahun.

Ketiga istri Abu mengatakan, pria tersebut merupakan suami penyayang, adil dan bertanggung jawab. Bahkan mereka bertiga telah bekerjasama untuk mengatur pernikahan Abu dengan istri keempatnya yang digelar pertengahan Juni 2008. (the star/dtc/*)

Pria Amerika Hamil 5 Bulan

Posted in kisah hidup on April 5, 2008 by albertjoko
  • Istri Derita Endometriosis Kronis
  • Beli Sperma Untuk Inseminasi

thomas

Para dokter mengusir kami karena agama 
Paramedis menolak mengakui Nancy istri saya 
Para resepsionis ikut menertawakan kami
Teman-teman dan keluarga juga tak mendukung
Keluarga Nancy tak tahu, kalau saya transgender

BEGITULAH keluh-kesah Thomas Beatie ketika dihadirkan dalam talkshow terpopuler di televisi Amerika Serikar, 3 April 2008. Acara yang paling banyak menyedot perhatian publik AS itu langsung dipandu Oprah Winfrey.

Beatie tak hadir seorang diri, melainkan didampingi istri (Nancy), dokter kandungannya serta sejumlah sejawatnya untuk memberi kesaksian. Ya, Beatie pria transgender ini memang benar- benar hamil 5 bulan.

Pekan keempat Maret 2008, pria kelahiran Hawaii 34 tahun silam ini membuat sensasi tak terkira di jagad ini. Beatie nongol dalam gambar dengan perut buncit dan mengaku mengandung janin perempuan.

Siapa pun terhenyak menyaksikan gambar berikut uraian artikelnya yang dilansir Advocate.com. Warga Kota Bend, Oregon, AS ini meyakinkan kehamilannya yang unik. Ia blak-blakan sejatinya dia dilahirkan sebagai wanita.

Semula tetangganya, Ron Schlieper menganggap membual belaka. “Mana mungkin pria bisa hamil.” Begitulah pikir Schlieper, demikian juga umumnya manusia. Tak mungkin, karena Allah SWT hanya menciptakan dua jenis kelamin manusia.

Namun, apa yang tak mungkin bagi manusia, mungkin saja bagi Allah SWT. Schlieper baru terbengong-bengong, ketika menyaksikan talkshow terpopuler yang dipandu Winfrey.
“Keinginan memiliki anak biologis, bukanlah keinginan pria atau wanita, tapi keinginan manusia,” kata Beatie meladeni pertanyaan Winfrey. Sebelum tampil di televisi, Beatie diwawancarai khusus majalah terkemuka AS, People.

Sejak itulah kontroversi kehamilan Beatie jadi polemik. Di majalah gay, The Advocate, memajang artikel berjudul, Labour of Love. “Saya merasa, bukan masalah wanita atau pria punya anak. Itu kebutuhan manusia. Saya seseorang yang punya hak mempunyai anak,” tegas Beatie.

Kepada Winfrey, Beatie dan Nancy menceritakan bahwa Nancy tak dapat mengandung, pasca menjalani operasi pengangkatan rahim akibat penyakit endometriosis kronis. “Jika Nancy bisa hamil, saya tak akan melakukan ini,” tutur Beatie.

Kehamilan Beatie ini merupakan kali kedua. Kehamilan pertama tak bisa dipertahankan, karena hamil di luar kandungan. Beatie sesungguhnya dilahirkan sebagai wanita bernama Tracy Lagondino.

Ia kemudian memutuskan berganti kelamin, operasi rekonstruksi dada dan terapi testosteron pun dijalani. Meski begitu, Beatie mempertahankan organ-organ reproduksi wanitanya.

Ketika menginginkan anak, Beatie menghentikan suntikan testosteron tiap 2 bulan sekali. Pria itu kembali mengalami menstruasi. Saat itulah ia melakukan inseminasi buatan dengan menggunakan sperma orang tak dikenal yang dibeli di bank sperma.

Beatie diperkirakan melahirkan sekitar 3 Juli 2008. “Bagaimana rasanya pria hamil? Mengagumkan! Walaupun perutku bertambah besar karena ada kehidupan di dalamnya, saya cukup stabil dan percaya diri sebagai seorang pria,” tegas Beatie dengan wajah berseri.

Caci maki publik AS tak cukup membuatnya goyah. Bahkan ia mendapat dukungan aktivis transgender, Robert Haaland. “Kehamilan Beatie adalah cara keluarga Beatie memilih menggunakan alat reproduksi yang tersedia. Sebagian warga AS tahu itu,” kata Haaland.

Menurut Ahli Kandungan RSUD Dr Soetomo Surabaya, dr Soehartono DS SpOG-KFER, kehamilan Beatie tak ada yang luar biasa. Alasannya, pada dasarnya Beatie perempuan dan rahimnya belum diangkat.

Beatie akhirnya bahagia. Ia tak peduli cemoohan orang, termasuk sikap diskriminatrif dokter AS. “Saya sangat beruntung punya istri yang begitu mencintai dan mendukung. Saya akan menjadi ayah dari anak perempuan saya, dan Nancy menjadi ibunya. Kami akan menjadi sebuah keluarga,” harap Beatie. (afp/dtc/sm)

Ibu Lempar 2 Anaknya dari Jalan Layang?

Posted in kisah hidup on Maret 13, 2008 by albertjoko

bayang-bayang maut … suicide

BEGINILAH jika seorang putus dicekam keputus-asaan. Ia tega melempar dua anaknya dari jembatan layang, setelah itu ia sendiri menyusul menuju keramatullah.

Sontak peristiwa tragis ini mengejutkan para pengendara yang menyaksikan ulah seorang ibu bernama Khandi Busby (27) di Dallas Amerika Serikat, seperti dilansir Sydney Morning Herald, Kamis 13 Maret 2008.

Pemandangan mengerikan itu menurut kepolisian setempat, Busby melemparkan anaknya satu per satu. Kedua bocah laki-laki itu sempat meronta-ronta ketika akan dilempar ibunya. Namun Tuhan masih menyelamatkan nyawa kedua anak itu.

Secara ajaib, sejumlah kendaraan yang melintas dengan kecepatan tinggi mampu menghentikan laju kendaraan dengan mendadak. Nyawa Busby dan kedua anaknya pun selamat. Dua anak Busby itu berumur 8 tahun dan 6 tahun.

Mereka dilarikan ke rumah sakit, karena mengalami luka-luka lumayan serius. “Sangat mengagumkan, karena tidak ada korban jiwa dalam insiden ini,” kata juru bicara Kepolisian Dallas, Sersan Gil Cerda. Kepolisian saat ini menyelidiki apa motif percobaan bunuh diri Busby itu. (dtc/* )

Ibu Meninggal Usai 38 Tahun Rawat Putrinya yang Koma

Posted in kisah hidup on Maret 8, 2008 by albertjoko

Kasih ibu kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa…  

Hanya memberi, tak hanya kembali..

                     ibu2

BEGITU syair lagi yang tak asing bagi kita sebagai bangsa Indonesia. Lagu itu menggambarkan betapa besar cinta ibu kepada anak kandungnya. Inilah yang suunguh-sungguh terjadi dam dilakukan Kaye O’Bara, warga Amerika Serikat.

Ibu berusia 80 tahun ini hampir separo usianya digunakan khusus merawat putrinya yang mengalami koma. Sampai akhirnya Kaye, sang ibu penuh kasih itu menghembuskan nafas terakhirnya.

Ia mendahului putrinya yang sampai saat ini terbaring dalam kondisi koma. Kaye menutup mata untuk selamanya di rumahnya di Miami Gardens, Florida. Kaye meninggal di samping putrinya, Edwarda. Ia meninggal dalam dalam kamar tidur yang ditempati bersama putrinya sejak 1970 silam.

Dia telah bertahun-tahun menderita penyakit jantung. Semasa hidupnya Kaye pernah berjanji tak akan meninggalkan Edwarda yang ketika itu masih remaja. Janji itu dimulai sejak Edwarda jatuh koma akibat penyakit diabetesnya 38 tahun lalu.

“Kami kira dia akan hidup melampaui kami semua. Wanita itu begitu kuat,” tutur Pamela Burdgick, keponakan Kaye, seperti dilansir News.com.au, Sabtu, 8 Maret 2008. Selama kurun waktu 38 tahun, kisah pengabdian Kaye kepada putrinya, menarik simpati banyak orang.

Para pengunjung yang jumlahnya tak terhitung lagi mendatangi rumah Kaye. Bahkan ada pula sebagian orang yang datang dari Jepang untuk ikut merayakan ulan g tahun Edwarda.

        surga di telapak kaki ibu        logo

Kisah Kaye telah dituangkan dalam buku laris karya Dr Wayne Dyer yang berjudul A Promise Is A Promise: An Almost Unbelievable Story of a Mother’s Unconditional Love and What It Can Teach Us.

Edwarda, penderita diabetes, mengalami flu sebelum Natal 1969. Beberapa hari kemudian kondisinya memburuk dan orangtuanya, Kaye dan suaminya, Joe, membanya ke rumah sakit.

Beberapa saat sebelum Edwarda kehilangan kesadarannya, remaja putri itu sempat bertanya kepada ibunya:  “Janji ibu tidak akan meninggalkan saya, janji, ya?” Kaye pun berjanji tidak akan pernah meninggalkan anak perempuannya itu.

Itulah kata-kata terakhir yang disampaikan Kaye sebelum anaknya koma berkepanjangan. Dan Kaye menepati janjinya. Kaye dengan teratur membalik tubuh putrinya tiap dua jam supaya tidak mengalami nyeri akibat berbaring terlalu lama.

Kaye memberinya makan berupa campuran makanan bayi dan susu bubuk melalui tube, menyuntikkan insulin, memutar alunan musik, membacakan buku untuk Edwarda dan tak lelah berdoa di samping tempat tidur Edwarda supaya suatu hari nanti putrinya itu akan sadar kembali.

Bagi Kaye, mengurus putrinya itu bukanlah beban, melainkan berkat. Kaye sangat yakin, Edwarda akan terbangun. “Bagi saya, dia hampir sadar. Kadang-kadang saya merasa mendengar dia bicara: Ibu, saya baik-baik saja,” kata Kaye kepada media AS, Miami Herald beberapa waktu lalu.

Kini, Kaye telah pergi selamanya. Dia meninggalkan Edwarda yang masih koma entah sampai kapan. Adik Edwarda, Colleen O’Bara mengatakan, keluarga akan terus merawat Edwarda di rumah mereka. Sama seperti Kaye, Colleen juga yakin kakaknya itu akan sadar suatu hari nanti.

Suami Kaye, Joe mengalami serangan jantung pada tahun 1972 dan meninggal dunia empat tahun kemudian. Sejak itu, Kaye mengurus Edwarda dengan menggunakan tunjangan sosial dari pemerintah dan dana pensiun suaminya, ditambah lagi dengan sumbangan dari orang-orang. (nca/dtc)

Wanita Australia Perkosa Anak Kandung

Posted in kisah hidup on Maret 8, 2008 by albertjoko

  metamorfose kasih ibu…?        perempuan

ADA-ADA saja kejadian di dunia ini. Nun jauh di negeri Kanguru, ada seorang wanita yang diyakini telah memperkosa anaknya sendiri.

Lebih gila lagi, bukan anak laki-laki, tetapi anak perempuannya yang baru berusia 8 tahun. Tindakan teramat tak lazim ini, diduga dilakukan sang ibu di kamar putrinya. Astaga!

Perempuan berusia 41 tahun itu kini sedang menjalani peradilan di Pengadilan Distrik Brisbane, Australia. Begitulah kejadian unik yang dilansir News.com.au, Selasa, 12 Februari 2008.

Wanita yang dirahasiakan identitasnya itu dikenai dakwaan pemerkosaan atas putrinya yang terjadi sekitar November 2005 dan Februari 2006.
Dalam persidangan terungkap, korban melihat ibunya berdiri di pintu masuk kamarnya dengan memegang sex toy (alat bantu seks). Ibunya kemudian masuk kamar dan menyuruh anaknya berbaring di tempat tidur.

Wanita itu kemudian membuka celana dalam korban dan memasukkan sesuatu ke vagina korban. Korban kemudian mengaku dirinya pingsan dan tidak ingat apapun lagi tentang kejadian itu.

Usai kejadian itu, korban mengadu kepada neneknya mengenai perbuatan ibunya. Sang nenek yang marah segera melapor itu ke polisi. Namun dalam pengadilan, sang ibu ngotot tak bersalah atas dakwaan pemerkosaan putrinya. Memangnya, benarnya bagaimana? (dtc/*)

Ibu Hamil dan Anaknya Meninggal Kelaparan

Posted in kisah hidup on Maret 6, 2008 by albertjoko
  • Kisah Pilu Keluarga Miskin dari Makassar

Jumat 29 Februari 2008 ajal menjemput Daeng Basse dan Bahir, sang anak. Kematian dua warga Jl Dg Tata I Blok 4D, Makassar ini memang sesuai kehendak Ilahi. Tapi kerabat dan tetangganya tak pernah melupakan

Masihkah Surga di Telapak Kaki Ibu?... ibu

DAENG Basse yang sedang hamil tujuh bulan dan Bahir yang baru berusia 5 tahun meninggal, bukan karena penyakit! Mereka tewas mengenaskan karena kelaparan, setelah empat hari tak makan.

Sebuah kematian memilukan di negeri tercinta kita ini.  Kemiskinan mencengkeram! Basse dan Bahir pun dikubur dalam satu liang lahat di tanah garapan, daerah Bantaeng, Sulawesi Selatan.

“Saya kuburkan di kebun, karena saya tak punya biaya,” tutur Bahri, sang suami Basse.  “Seandainya saya punya uang, jangankan pekuburan, saat masih hidup saja saya pasti bawa ke rumah sakit,” kata Bahri dengan suara lirih.

Basse dan Bahir adalah ‘korban’ kelaparan. Sudah tiga hari Basse dan anak-anaknya, Bahir dan Aco tak makan. Beruntung Aco, bungsu yang berusia empat tahun lolos dari maut. Ia masih bisa diselamatkan, meski kondisinya memprihatinkan.

Kabar kematian ibu dan anak ini langsung membuat gempar Makassar dan bangsa ini esoknya. Warga, ketua RT, lurah, camat dan pejabat dinas setempat kelabakan, setelah kematian Basse dan anaknya dilansir media massa.

Mereka mengaku kaget atas kejadian yang menimpa warganya. Mereka pun kompak berkilah tidak mengetahui kondisi yang dialami keluarga Bahri, lantaran keluarga itu tertutup dan tidak pernah mengeluh soal kekurangannya.

Basse oleh tetangga dikenal sebagai penyabar. Sebab sekalipun hidup kekurangan mereka tidak mengeluh. Keluarga ini tinggal di Kelurahan Parang Tambung, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar, lima bulan lalu.

Bahri dan Basse tinggal di rumah panggung yang terbuat dari kayu berukuran 3×5 meter bersama empat anaknya, Salma, Baha, Bahir, dan Aco. Untung saja mereka dibebaskan dari biaya sewa oleh Daeng Dudding, pemilik kontrakan.

Tak Terjangkau Program Rp 1 Trilun…             ibu anak

Sebagai gantinya Basse diminta mencuci dan menjaga anak-anak pasangan Mina dan Daeng Dudding. Sekalipun hidup jauh dari kecukupan, nama mereka tak masuk daftar rumahtangga miskin (RTM) yang mendapat bantuan pemerintah.

Misalnya Program Keluarga Harapan (PKH), yang diluncurkan Departemen Sosial pertengahan tahun silam. Dana yang digelontorkan untuk program ini mencapai Rp 1 triliun. Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah tak bisa diakses telepon selulernya saat dikonfirmasi tentang PKH. Bak setali mata uang dengan Chazali Situmorang, Sekjen Depsos.

Ketika program itu diluncurkan Juli 2007, Chazali mengatakan, bantuan PKH ditujukan untuk meningkatkan jangkauan atau aksesibilitas masyarakat yang tak mampu terhadap pelayanan publik, khususnya pendidikan dan kesehatan.

Sasaran PKH ditujukan untuk 500.000 rumahtangga sangat miskin (RTSM). Bantuan uang tunai itu diharapkan mengurangi beban pengeluaran keluarga sangat miskin.

Bantuan yang diberikan terdiri bantuan tetap Rp 200 ribu, bantuan pendidikan untuk SD Rp 400 ribu dan SMP Rp 800 ribu, serta bantuan kesehatan Rp 800 ribu untuk Balita, dan Rp 800 ribu untuk ibu hamil atau menyusui.

Cuci Tangan….?   pulitzer1.jpg

Besaran bantuan seluruhnya, minimal Rp 600.000 per tahun, bila memiliki satu anak. Jika lebih, bantuan mencapai Rp 2,2 juta per tahun. Jaminan untuk anak ini ditetapkan maksimal tiga anak. Dan program ini bergulir selama enam tahun.

Soal Penentuan RTSM penerima PKH ditentukan BPS. Sayang program ini hanya ada di tujuh provinsi, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Barat, Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Nusa Tenggara Timur.

Sasaran bantuan itu tersebar di 49 kabupaten/kota serta 348 kecamatan. Sedangan Sulawesi Selatan, tak masuk daerah sasaran. Soal ini, Biro Humas Depsos, Herri Krisritanto mengatakan, penentuan tujuh provinsi, berdasarkan kesediaan daerah yang disampaikan saat Musyawarah Perencanaan Pembangunan.

“Semuanya tergantung kesiapan daerah. Depsos hanya mungucurkan anggaran,” kilah Herri. Bukan hanya tak masuk program Depsos, keluarga Bahri juga tak tercatat di wilayah itu. “Dia bukan warga kita,” dalih Lurah Parang Tambung, Firnandar.

Alasan Firnandar, Basse dan keluarganya hidup berpindah-pindah. “Memang di lingkungan saya rata-rata dihuni keluarga yang hidupnya berpindah. Umumnya penduduk di sini kerjanya sebagai tukang becak, tukang batu dan penjual sayur,” jelas Firnandar, meyakinkan.

Firnandar mengaku, petugas kelurahan baru mengetahui masalah ini ketika Aco, anak keempat Basse dibawa ke rumah sakit, karena kelaparan. Oleh karena tak tercatat, Basse sekeluarga tak mendapat jatah beras miskin alias Raskin hingga ajal menjemput. (dtc/* )