Archive for the korupsi Category

Orang Terkaya No 31 Kembalikan Uang Prajurit Rp 117 M

Posted in korupsi on Maret 10, 2008 by albertjoko
  • 9 Jam Tan Kian Kelelahan Diperiksa Kejagung
  • Tersangka Korupsi Dana Asabri

tan kian
   Tan Kian (kiri) dikawal kuasa hukumnya. Foto/detik.com

SIAPA yang kenal Tan Kian? Pengusaha yang satu ini dikenal luas di kalangan pebisnis Tanah Air, apalagi setelah namanya dicatat majalah Forbes sebagai orang terkaya nomor 31 di Indonesia.

Sisi negatifnya, namanya belakangan disebut-sebut ikut menggunakan dana Asabri senilai 13 juta dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp 117 miliar untuk pembelian Plaza Mutiara. Kasus korupsi dana Asabri senilai Rp 410 miliar ini telah menyeret beberapa tersangka, termasuk Henri Leo, rekanan yayasan milik angkatan bersenjata itu.

Kejaksaan Agung telah berulangkali memanggil Tan Kiang, namun baru, Senin (10/3) datang. Itu pun setelah Kejagung mengancam memasukkan nama Tan Kiang dalam daftar pencaruian orang (DPO).

Begitu memenuhi panggilan, Tan Kian diperiksa selama sekitar 9 jam mulai pukul 09.00 WIB. Hasilnya, pria berkulit putih bersih ini bersedia mengembalikan uang Asabri, Selasa, 11 Maret 2008.

“Besok (11 Maret 2008) dikembalikan, karena uang itu cukup besar. Nanti kami akan dapatkan ke mana rekeningnya. Dan pembuatan berita acaranya besok pagi,” kata Kuasa Hukum Tan Kian, Denny Kailimang, usai mendampingi kliennya di Gedung Bundar Kejagung Jakarta, Senin, 10 Maret 2008.

Tan Kian yang tampak kelelahan tak banyak memberi keterangan. Mengenakan hem motif kotak-kotak, Tan Kian hanya memberi pernyataan sekalimat. “Saya dipanggil hari ini (10 Maret 2008) sebagai warga negara untuk memberikan keterangan. Sisanya biar pengacara yang menjelaskan,” katanya.

Menurut Denny, tak hanya Tan Kian yang terlibat dalam pengembalian dana Asabri, melainkan semua pihak terkait jual beli Plaza Muutiara di bilangan Kuningan Jakarta. Satu di antaranya, Henry Leo.

Setelah uang dikembalikan, Denny minta perlindungan hukum dalam perkara perdata antara Tan Kian dan Henry Leo. “Kami menginginkan proteksi dalam perdatanya,” katanya.

Jaksa Agung Muda Bidang Pidana Khusus (Jampidsus), Kemas Yahya Rahman menunggu janji Tan Kiang. “Mudah-mudahan sesuai janjinya, walaupun ini bukan urusan kita. Karena ini menyangkut dana prajurit, dia akan mengembalikan. Nah, kita tunggu,” kata Kemas Yahya.

Pemilik Plaza Mutiara itu sebelumnya mangkir 3 kali dari panggilan Kejagung, sehingga sempat diancam dipanggil paksa. Aset-aset Tan Kian juga akan disita. setelah sanggup mengembalikan uang, tersangka penyalahgunaan dana pensiunan prajurit ini pun tak ditahan Kejagung.

“Salah satu pertimbangan tidak ditahan, dia (Tan Kian) itu kooperatif. Dia datang ke Kejagung dan mau mengembalikan dana 13 juta dolar AS. Itu niatnya sendiri. Maka terhadap yang bersangkutan tidak ditahan,” tegas Ketua Tim Penyidik Kasus Asabri, Salman Maryadi.

Mantan Kapuspenkum Kejagung ini tak mau tahu soal penghentian perkara perdata antara Tan Kian dengan Henry Leo. Ditanya keterlibatan Tan Kian dalam kasus kredit macet BII dan pengambilalihan Plaza Mutiara, Salman mengatakan masalah itu tak muncul dalam negoisasi pengembalian dana Asabri.

Lagi pula pemeriksaan Tan Kian masih seputar seputar kasus Asabri. “Ini masalahnya yang berkaitan dengan Asabri dulu,” kata Salman.

Kasus ini sempat menggemparkan kalangan prajurit Indonesia. Selain nilai korupsi mencapai Rp 410 miliar, yang mengungkap kasus ini mantan Dirut Asabri, Mayjen (Purn) Subarda Midjaja (67) sendiri.

Uniknya, diungkpakan melalui buku berjudul Subarda Bicara Kasus Asabri yang diluncurkan 15 Juni 2007 silam. Aib ini dibongkar setelah Subarda membisu selama 10 tahun. (dtc/ant/mio/*)

Iklan

Bau Suap Rp 100 M Pencalonan Gubernur BI

Posted in korupsi on Februari 29, 2008 by albertjoko

Di Balik Tarik Ulur Persetujuan DPR

suap

SUASANA menjelang fit and proper test calon gubernur BI kian menghangat. Tidak heran, sejumlah isu seputar pencalonan Gubernur BI merebak di kalangan DPR, Jumat 29 Februari 2008.

Isu paling panas adalah suap terhadap satu fraksi DPR oleh seorang calon. Nilainya tidak tanggung-tanggung, Rp 100 miliar! Fantastis, bukan? Terbetik informasi, kemungkinan uang haram tersebut akan dibagi-bagikan ke seluruh anggota Komisi XI, jika fit and proper test jadi digelar.

Benarkah para wakil rakyat masih lekat D4 alias Datang, Duduk, Diam dan Duit? Ketua DPR RI, Agung Laksono serta merta membantahnya. Isu itu hanya isapan jempol. “Nggak ada itu. Itu isu yang menyesatkan, nggak perlu ditanggapi,” tegasnya.

Agung yang juga menjabat Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar, menjamin kadernya tidak akan terlibat aib seperti itu. “Saya jamin tidak ada dari fraksi Golkar yang seperti itu. Jadi nggak ada itu,” tukasnya.

Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengajukan 2 nama calon yang berasal dari luar lingkungan BI pertengahan Februari 2008. Mereka adalah Direktur Bank Mandiri, Agus Martowadoyo dan Wakil Direktur PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA), Raden Pardede.

Wakil Presiden Jusuf Kalla sempat menggelitik. “Tak ada alasan DPR menolak!” katanya, usai mengunjungi Korea Selatan lalu. Namun, apa lacur? Enam raksi di DPR, ramai-ramai menolak.

Fraksi Partai Amanat Nasional, Fraksi Partai Keadilan Sejahtera, Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Fraksi PBR, Fraksi Kebangkitan Bangsa, dan Fraksi Partai Demokrasi Sejahtera plus Kaukus Muda Parlemen yang tergabung dalam shadow government menilai Agus dan Raden tidak memiliki kompetensi dan kredibilitas di bidang fiskal-moneter.  Fakta atau retorika menjelang pesta demokrasi 2009? (dtc)