Archive for the lingkungan Category

Rahasia Umur Panjang ala Gorila Jenny

Posted in lingkungan on Mei 11, 2008 by albertjoko

AP/Tony Gutierrez
Jenny saat Ultah, Kamis (8/5) lalu.

SEEKOR gorila yang dikenal sebagai hewan peliharaan tertua di dunia, merayakan ulang tahunnya ke-55 pekan lalu dengan mengunyah fruit cake dingin berlapis empat yang terbungkus kulit pisang.

Menurut kurator Pameran Wilds of Africa di Dallas Zoo, penglihatan gorila yang diberi nama Jenny itu sudah tak awas kagi, meski masih dinilai realtif baik untuk hewan primata seusia Jenny.

The International Species Information System, yang memegang data hewan dari 700 kebun binatang di seluruh dunia, menyebut Jenny sebagai gorila tertua di database-nya.

“Ini luar biasa,” puji Kristen Lukas, kurator Konservasi dan Sains Cleveland Metroparks Zoo di Ohio.Mengapa? Lukas menjelaskan, gorila yang hidup di alam bebas, biasanya hanya bertahan hidup hingga usia 30-35 tahun.

Perawatan kesehatan dan proteksi terhadap Jenny di Dallas Zoo telah berperan memperpanjang usianya. Dari sekitar 360 gorilla yang terdapat di sejumlah kebun binatang di Amerika Utara, hanya 4 gorila yang bertahan hidup hingga usia 50 tahun. Seluruh gorila tersebut adalah gorila betina.

Jenny pernah melahirkan seekor gorila betina bernama Vicky pada tahun 1965, sebelum anaknya itu dipindahkan ke Alberta, Kanada pada usia 5 tahun. Para petugas di Dallas Zoo tidak mengetahui nasib Vicky. Sejak saat itu, Jenny tidak lagi mempunyai keturunan.

Oleh mereka yang memeliharanya di Dallas Zoo, Jenny digambarkan sebagai hewan yang senang berhadapan dengan manusia. “Jika tidak ingin keluar dari kandangnya pada hari tertentu, Jenny mengurung diri di kandangnya,” tutur Bowsher, sang perawat Jenny.

Saat para perawatnya meletakkan fruit cake dingin di suatu tempat di kandangnya, Jenny dengan perlahan menghampiri kue tersebut. Jenny mengambil fruit cake ini dengan tangan kanannya sebelum duduk lalu menggunakan tangan kirinya untuk mencomot bagian kue tersebut dan menyantapnya.

Gorila seberat 95 kilogram itu lahir dengan tanggal yang tidak jelas pada tahun 1953 di Afrika Tengah. Jenny sempat dirawat di Kepulauan Cape Verde, sebelum dipindahkan ke Dallas Zoo pada tahun 1957.

Lalu apa sebenarnya rahasia umur panjang Jenny? Pihak Dallas Zoo pun tidak bisa menjawabnya. Yang pasti, Jenny selama ini mengonsumsi makanan yang baik untuk kesehatan tubuhnya. Antara lain, biji-bijian, sereal, dan kulit pisang sebagai makanan favoritnya. (ap/kompas.com)

Gajah Mini ’Saksi Bisu’ Deforestasi Kalimantan

Posted in lingkungan on April 18, 2008 by albertjoko
  • Selamat Usai Ditelantarkan Sultan Sulu
  • Mata-rantai Keturunan Gajah Jawa

pygmy

gajah Jawa belum punah…?

GAJAH unik ditemukan di Kalimantan. Unik, karena ukurannya kecil alias mini. Bahkan lebih kecil dari gajah Asia yang notabene lebih kecil dari gajah Afrika.

WWF mengungkapkan keunikan gajah mini Kalimantan ini, Kamis 17 April 2008. Gajah unik yang diberi nama Pygmy Borneo itu berbeda dengan spesies gajah umumnya, baik dari daratan Sumatera, Afrika maupun Jawa.

Gajah jantan pygmy hanya setinggi sekitar 2,5 meter. Bandingkan dengan tinggi gajah Asia yang bisa mencapai 3 meter.

Mereka juga memiliki raut wajah yang lebih menyerupai bayi, telinga lebih besar, ekor hampir menyentuh tanah dan bentuknya lebih bulat-gemuk. Gajah ini juga tak seagresif gajah Asia umumnya.

Nama ilmiah gajah pygmy Borneo adalah Elephas maximus, kadang dikenal dengan Elephas maximus bomeensis, walaupun mereka tak secara resmi ditetapkan sebagai subspesies berbeda dari gajah daratan Asia.

Gajah pygmy paling banyak ditemukan di negara bagian Sabah, Borneo bagian Malaysia, dan beberapa ekor di antaranya memiliki wilayah jelajah hingga Kalimantan Timur, Indonesia.

Jumlah gajah pygmy di habitatnya diperkirakan mencapai 1.000 ekor. Dari pelacakan dengan rantai pelacak gajah menggunakan satelit (elephant satellite collar) pada 11 ekor gajah sejak 2005, diketahui gajah jenis ini lebih menyukai habitat hutan dataran rendah.

Runyamnya, habitat tersebut makin banyak ditebang untuk kepentingan perkebunan kelapa sawit, karet, dan hutan tanaman industri. Mencermati morfologi dan fisiologi gajah mini, mencuat dugaan keturunan gajah Jawa yang sudah punah.

borneo

pygmy Borneo

Bagaimana kisah gajah Jawa menyeberangi laut sampai Kalimantan? Inilah menariknya. Raja-raja zaman dulu memang punya kebiasaan bertukar hadiah. Gajah mini kemungkinan kuat diboyong Sultan Sulu dari Jawa ke Filipina.

“Pengiriman gajah lewat kapal dari satu tempat ke tempat lain di Asia telah berlangsung sejak beberapa ratus tahun lalu. Biasanya sebagai hadiah di antara para penguasa,” tutur pensiunan rimbawan Malaysia, Shim Phyau Soon.

Kisah masyarakat lokal di Borneo juga mendukung penjelasan Shim. Masyarakat setempat berkeyakinan gajah-gajah tersebut dibawa ke Kalimantan beberapa abad lalu oleh Sultan Sulu, sekarang Filipina. Gajah-gajah beruntung itu lalu ditelantarkan ke Kalimantan.

Gajah Jawa mulai punah setelah bangsa Eropa memasuki Asia Tenggara. Gajah di Sulu, yang tak pernah dianggap gajah asli pulau tersebut, diburu sekitar tahun 1800-an.

“Sangat menarik anggapan bahwa gajah Borneo yang tinggal di hutan, mungkin merupakan sisa terakhir subspesies yang telah punah di tempat asalnya di pulau Jawa, Indonesia, beberapa abad lalu,” jelas Shim.

Berapa jumlah gajah Jawa yang terlantar di Kalimantan tiga abad lalu, masih belum diketahui secara pasti. Namun, peneliti WWF, Junaidi Payne meyakinkan, sepasang gajah bisa berkembang biak sampai ribuan, bila habitatnya cocok.

“Hanya dengan seekor gajah betina subur dan seekor gajah jantan subur, yang dibiarkan tak terganggu di habitat yang cukup baik. Secara teori, dapat menghasilkan populasi gajah sebanyak 2.000 ekor selama sekitar 300 tahun. Kemungkinan hal itulah yang terjadi di Borneo,” tutur Junaidi Payne.

Misteri asal-usul gajah terkuak lewat penelitian DNA gajah pygmy oleh tim Universitas Columbia dan WWF, 2003 lalu. Hasilnya, gajah mini secara genetika berbeda dari subspesies gajah di Sumatera atau daratan asia lainnya.

Berdasarkan teori baru ini, baik Borneo maupun Jawa, adalah daerah asal yang paling memungkinkan bagi gajah Borneo.

Tapi laporan terbaru berjudul, Origins of the Elephants Elephas Maximus L of Borneo yang diterbitkan dalam Sarawak Museum Journal April 2008, mengungkapkan tiadanya bukti arkeologis keberadaan gajah dalam jangka panjang di Borneo. Ini memperkuat kemungkinan asal-usul satwa besar ini dari Jawa.

Kemungkinan asal usulnya yang berasal dari Jawa semakin menjadikan satwa ini sebagai prioritas konservasi. Apabila, gajah pygmy Borneo memang berasal dari Jawa, yang berjarak lebih dari 1.200 km, bisa dikatakan peristiwa perpindahan satwa ini merupakan translokasi gajah pertama dalam sejarah yang dapat bertahan hingga zaman modern.

Temuan ini memberi catatan penting bagi para ilmuwan, sekaligus hasil eksperimen yang berlangsung berabad-abad. Populasi gajah di Indonesia terancam punah akibat deforestasi yang berlangsung di era Soeharto. (dtc/*)

Raja, Buaya, dan Palembang

Posted in lingkungan on Maret 11, 2008 by albertjoko
  • Antara Fakta dan Fiksi Sungai Batanghari

 bila buaya kelaparan…  buaya2

Buaya bagi wong Sumatera Selatan, bukanlah hal asing. Daerah berawa-rawa dan berliku sungai, kehadiran buaya sudah biasa. Saking akrabnya sampi dikenal ilmu buaya.

ILMU baya yang dimaksud ilmu klenik, buaya jadi-jadian seperti dalam film-film fiksi zaman sekarang. ini merupakan produk pergulatan masyarakat dengan lingkungannya. Pemilik ilmu ini konon bisa berubah menjadi buaya, kalau sudah meninggal dunia.

Benarkah? Bisa benar, bisa tidak. Yang pasti, di tepian Sungai Musi, Palembang, banyak legenda mengenai buaya yang diceritakan turun-temurun. Di antaranya, legenda buaya putih. Beberapa tempat yang diyakini sebagai tempat munculnya buaya putih adalah Sungai Ogan, tepatnya di bawah jembatan Ogan, Kertapati, Palembang.

Munculnya buaya putih ini selalu menjadi pertanda akan terjadi bencana besar di Sumsel atau di Indonesia. Begitulah yang diyakini warga Pemulutan, Kabupaten Ogan Ilir, Sumsel. Mereka begitu percaya legenda-legenda mengenai buaya.

“Malah sebagian besar warga Pemulutan percaya nenek moyang mereka adalah buaya. Makanya banyak yang punya ilmu buaya, misalnya jadi pawang buaya,” tutur Koharuddin (62), warga Kertapati, Selasa, 11 Maret 2008.

Koharuddin meyakinkan banyak warga Pemulutan yang dapat berubah menjadi buaya, jika masuk sungai atau rawa. “Ini adalah ilmu hitam yang biasanya dikuasai para bandit,” katanya. Di masyarakat Palembang juga ada kisah menarik dari abad ke-16. Saat itu raja Palembang bingung bagaimana mengatasi buaya-buaya yang berada di Sungai Musi.

Buaya-buaya ganas itu mengancam keselamatan warga. Sang raja pun mendatangkan pawang buaya dari India. Sang raja minta si pawang menjinakkan buaya-buaya di sungai Musi. Buaya-buaya itu pun jinak. Si pawang pun menerima banyak hadiah.
Sang raja kemudian mengajak pawang itu ke pedalaman yang banyak buayanya. Lagi-lagi, sang pawang berhasil menaklukkan binatang buas itu. “Coba kau buat buaya-buaya itu kembali menjadi ganas. Aku mau tahu bagaimana kehebatan ilmumu?” perintah sang raja penuh heran.

Pawang yang sudah mabuk pujian itu kemudian membuat buaya-buaya itu menjadi
ganas. Ayam dan ternak yang dilempar ke sungai dengan sigap dilahap buaya. Dan, ketika si pawang lengah, seorang prajurit kerajaan Palembang mendorong pawang ke gerombolan buaya.

Tak ayal lagi, si pawang mati diterkam dan dimakan buaya. Lokasi terbunuhnya pawang itu diperkirakan di pesisir timur Sumatera Selatan, seperti Pulaurimau atau kawasan Pemulutan. “Kalau pawang ini tak dibunuh, saya khawatir dia dapat mempermainkan kita. Atau, kalau dia tak senang dengan kita, buaya-buaya di sungai Musi dibuatnya menjadi ganas lagi,” kata sang raja.

Oleh karena itu, tidaklah heran, buaya di sungai Musi dengan buaya pedalaman Sumsel beda karakternya. Di sungai Musi tak ada buaya bersifat ganas, meski kini jarang terlihat. sebaliknya, di pedalaman terkenal dengan keganasan buayanya.

 serang warga …   buaya1

Kini setelah berabad-abad, masyarakat di sepanjang bibir Sungai Batanghari Mukut, Pulaurimau, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan kembali diusik buaya. Tiga warga setempat dan puluhan ternak telah menjadi korban dalam tiga pekan terakhir.

Akankah buaya-buaya lapar itu bisa dijinakkan pawang? Terlepas ada-tidaknya pawang, seperti yang didatangkan dari India, kondisi rawa dan lebak di aliran Sungai Batanghari penuh sesak buaya. Bahkan berkembang mitos adanya seekor buaya sepanjang 9 meter dan buaya putih di Sungai Batanghari Mukut.

Tiga pekan terakhir masyarakat di sepanjang Sungai Batanghari Mukut, Pulaurimau, khususnya di desa Mukut, benar-benar kelabakan menghadapi serangan buaya. Jatuhnya sejumlah korban membuat pejabat setempat menerjunkan tim khusus pemburu buaya.

Tim yang terdiri dari 3 Anggota Koramil Pangkalan Balai, 3 Anggota Polres Banyuasin, 5 Polisi Kehutanan itu, Selasa 11 Maret 2008 mulai diterjunkan memerangi serangan buaya. Semua anggota tim dibekali senjata api. Juga ada personil dari Kesbangpol Banyuasin dan BKSDA Palembang.

searif steve…    steve1

Menurut Kepala Bidang Sarana Prasarana dan Perlindungan Dinas Kehutanan Sumsel, Mursyid, tim khusus itu akan melakukan survei lokasi dan identifikasi di lapangan. Pawang buaya belum disertakan dalam tim, sehingga buaya akan ditembak mati, bila kondisinya tak memungkinkan.

Akibat teror buaya itu telah meresahkan warga. Menurut Kepala Desa Mukut, Ismiyanto, banyak warga yang tak berani mencari ikan atau mencari kodok. Bahkan, lelang sungai yang seharusnya berlangsung sekarang, terpaksa dihentikan.

“Biasanya jauh hari sebelum proses lelang dibuka sekitar April, banyak warga yang mendaftar. Sekarang warga yang biasa mengemim (beli sungai) tak ada yang berani,” tuturnya. Harga jual sungai, paling tinggi ditawar Rp 50 juta.

Harga itu relatif tinggi, karena hasilnya cukup tinggi, terutama ikan dan udang. Jika sungai sudah dibeli warga, proses penangkapan ikan dilakukan di sepanjang sungai dengan jalan membuat empang di pingir-pinggir sungai.

Berbagai usaha sudah dilakukan warga, misalnya mendatangkan pawang dan paranormal. Tapi, buaya-buaya itu tetap mengamuk. Setidaknya tiga nyawa melayang akibat kebuasaan buaya. Para korban itu, antara lain Putra Rojal (25) diseret buaya saat mandi pagi, 2 Februari 2008. 10 Hari kemudian, giliran Andira (11) dan Padai (40) dimakan buaya.

            hutan rusak…       habitat rusak

Mengapa satwa yang dikenal ada sejak zaman purba ini mengamuk? Bukan faktor mistis belaka, jawabnya. Besar kemungkinan justru terkait kerusakan hutan. “Buaya-buaya itu bukan mengamuk, tapi insting hewan yang kelaparan atau untuk bertahan hidup,” jelas Aktivis lingkungan hidup, Sutrisman Dinah.

“Mereka kelaparan lantaran tak ada lagi makanan. Hutan yang berada di Desa Mukut dan sekitarnya rusak dirambah,” tegasnya meyakinkan. Sutrisman merupakan bagian tim khusus yang melakukan survei di sungai tersebut.

Dari fakta di lapangan, hutan yang rusak tak mampu menyediakan makanan, seperti ikan dan habitat monyet pun berkurang. Buaya yang berkumpul di sungai Batanghari pun mencapai ratusan ekor.

“Kami tak membunuhi buaya-buaya itu. Kami hanya melakukan survei, dan kesimpulan saya buaya-buaya itu mengamuk lantaran lingkungan hidup di sekitarnya sudah rusak,” tegas Sutrisman.

Sebelumnya sebagian warga Pulaurimau maupun masyarakat Sumsel cenderung mengaitkan amukan buaya dengan klenik. Buaya jelmaan jin yang terganggu keberadaan mereka. Apalagi sebelumnya sejumlah siswa di Sumsel kesurupan.

“Ini menjelang Pilkada, mungkin banyak jin yang tidak senang janji politik para calon,” kata Koharuddin, mencarai jawaban sekenannya. (dtc/*)