Archive for the obrolan ati Category

Tauladan Ibu PKL Miskin

Posted in obrolan ati on Oktober 24, 2012 by albertjoko

Gambar

BLOK S, blok S! Seru seorang sobat muda sambil mondar-mandir di depan meja kerjaku, menjelang tengah malam, Selasa 23 Oktober 2012.

Seperti biasa, sobat-sobat muda di kantor suka bercanda. Canda sebagai bumbu merajut tali silaturrahmi yang nyaris sulit didapat di ibukota, atau sekedar mengusir kepenatan kerja di kala malam larut.

Seruan si sobat muda ini bak pemantik “nyanyian.” Langgam lagu yang bersyair singkat dan sama. “Blok S, blok S!” Begitu sobat-sobat yang lain berseru bersahut-sahutan, bak nyanyian.

Saya memahami maksud sobat-sobat muda ini, kendati saya belum pernah tahu keistimewaan Blok S di Jakarta. Dan, memang bukan mengajak pergi ke Blok S, melainkan sekedar jalan-jalan dan makan di kedai-kedai berlampu neon di antara remang-remang Kota Jakarta.

Bisa dimaklumi, kala malam larut, apalagi dinihari, tentu langka restoran buka 24 jam. Kalau pun ada, di gedung-gedung pencakar langit dengan varian kafe atau hotel and cafe.

Ayo! Sekarang kah?” jawabku ketika sobat-sobat muda pada senyam-senyum. Jadilah kami berenam keluar kantor dinihari. Saya ikut saja ke mana sobat muda menancap gas mobil, mencari kedai-kedai neon di saat Jakarta terbebas kemacetan dinihari.

Sekitar 15 menitan melaju santai, arah mobil tak lagi menuju ke kawasan Hangtuah, Jakarta Selatan. Di kawasan PKL makanan dan minuman ini, ada nasi goreng kambing, lumayan enak dan relatif murah.

“Jadi, kita ke mana ini?” tanyaku pada sobat-sobat muda yang tampak riang melepas kepenatan kerja. “Blok M, Cak!” sahut sobat muda yang duduk di samping sobat yang menginisiasi keluar cari makanan.

Sejenak terbayang dalam benakku. Apa masih ada makanan di bilangan elite pada jam 02.30 WIB, Rabu 24 Oktober 2012? Saya diam saja sambil sesekali menikmati rokok tanpa asap kendaraan motor di Kota Batavia.

Tak lama kemudian, laju mobil melambat hingga berhenti di kawasan Bulungan, Jakarta Selatan. Setelah melongok ke sana-kemari sejenak, mobil kembali bergerak pelahan. Rupanya, kedai yang dicari sudah pada tutup.

Gambar

Joke Taman Ayodya
Jadilah mobil diparkir di pinggiran Taman Ayodya, masih kawasan Bulungan. Begitu aku turun, sempat tercenung sejenak saat menatap kerumunan kaum adam dan hawa berdua-duaan di atas rerumputan, di sela-sela tumbuhan atau di balik bangunan.

“Apa yang dicari di malam dingin begini? Mengapa tidak menggunakan waktu sepertiga malam di atas sajadah, atau istirahat,” begitu tanyaku dalam hati. “Ada apa Cak? Pengen sate paha?” seloroh sohib muda sambil tersenyum.

“Memang sate paha apa?” tanyaku. “Ya, beli sate kambing, ayam atau tikus, tapi dapat paha perempuan,” jelas sobat muda lalu cekikikan. “Edan!” seruku. Saya pun jadi bahan guyonan para sobat muda, layaknya orangtua yang katrok dunia gila kaum muda.

Beruntung mutar-muter di kawasan berkosmis syahwat ini tak lama. Allah Maha Penolong. Menu yang dicari para sobat muda ternyata sudah tutup juga, sehingga mereka memutuskan balik ke Aa’ di Kebayoran Lama, dekat kantor.

Semula saya tak mengerti sebutan Aa,’ saya kira panggilan kakak dalam dunia Arabian. Ternyata, warung mie instan di emperan toko yang terletak di sudut kantor. Begitu tiba di kedai Aa’ saya pun hanya bisa geleng-geleng kepala.

“Kenapa kita putar-putar, kalau hanya makan di sini?” ujarku sambil ngelus dada. Ya, namanya anak-anak muda, para sobat hanya tertawa. Setidaknya mereka berhasil mengerjai saya. Puas bercanda, kami memesan mie instan.

Gambar

Shalat Di Emperan
Jarum jam kala itu telah menunjuk sekitar pukul 03.05 WIB. Ketika kami hendak menikmati mie-mie dalam mangkok yang tersaji, ada pemandangan teramat istimewa.

Di depan kedai mie instan emperan toko, seorang ibu berdiri tanpa gerak menghadap ke arah kiblat. Ibu ini berdiri di atas kertas seadanya, di antara rombong jualan teh atau kopi. Suara riuh, celoteh yang kadang disertai tawa cekakakan, tak mengusik ketenangannya.

Sang muslimah ini tetap khusyuk menunaikan shalat malam. Iseng-iseng aku jepret menggunakan blackberry. “Coba kamu amati foto ini!” kataku sambil menyodorkan hasil jepretan ke sobat-sobat muda.

Para sobat terdiam saja. “Nih, golongan kaum yang sangat berpeluang masuk surga. Dia miskin tapi begitu cinta Allah SWT,” begitu kataku, sok tahu. “Coba kamu cari, berapa banyak orang-orang seperti dia di Kota Jakarta ini! Mungkin hanya hitungan jari,” tandasku mencoba meyakinkan para sobat muda.

Lagi-lagi para sobat hanya tersenyum tanpa kata-kata. “Bayangkan, tanpa rumah dan di saat semua orang tertidur pulas, dia ingat Allah dan menyembah-Nya,” kataku, membuat para sobat terdiam.

“Dia, patut jadi cermin bagi kita. Dan, jangan malu meneladani orang miskin yang saleh. Kita ini sering merasa pintar, hebat, elite dan berkuasa, tapi justru dia lah yang akan masuk surga,” celotehku.

Benar lah itu. Saya haqqul yaqin. Menatap gerak dan bahasa tubuh sang muslimah pedagang teh itu, saya teringat petuah-petuah ustadz, sobatku di Surabaya sekitar 10 tahun silam.

Kala itu, saya diingatkan bagaimana indahnya keutamaan mencintai kaum fakir miskin. Ada delapan hal yang tetap kuingat. “Pertama, mencintai orang miskin itu termasuk kebaikan,” tutur ustadz sohibku, kala itu. Beliau kemudian menyitir hadits Nabi SAW.

Wahai Muhammad, apabila engkau shalat, ucapkanlah doa, Allahumma inni as-aluka fi’lal khairaat wa tarkal munkaroot wa hubbal masaakiin, wa an taghfirolii wa tarhamanii, wa idza aradta fitnata qawmin fatawaffanii ghaira maftuunin. As-aluka hubbak wa hubba maa yuhibbuk wa hubba `amalan yuqorribu ilaa hubbik.

Artinya yang kuingat adalah, Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk mudah melakukan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran, serta aku memohon kepada-Mu supaya bisa mencintai orang miskin. Ampunilah (dosa-dosa)ku, rahmatilah aku. Jika Engkau menginginkan untuk menguji suatu kaum, maka wafatkanlah aku dalam keadaan tidak terfitnah. Saya memohon agar dapat mencintai-Mu, mencintai orang-orang yang mencintai-Mu, dan mencintai amal yang dapat mendekatkan diriku kepada cinta-Mu.

“Ini adalah benar. Belajar dan pelajarilah,” seru sang ustadz, menyitir hadist, HR Tirmidzi No 3235 dan Ahmad 5: 243.

Gambar

Cinta Allah
Keutamaan yang kedua, kata ustadz sohibku, mencintai orang miskin dan dekat dengan mereka akan memudahkan hisab seorang muslim pada hari kiamat.

Beliaupun mengutip Sabda Rasulullah SAW, “Barangsiapa menghilangkan satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, Allah akan menghilangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Dan, barangsiapa memudahkan kesulitan orang yang dililit utang, Allah akan memudahkan atasnya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim No 2699)

Ustadz sohibku pun terdiam, sebelum mengutip hadist yang bertalian. “Dua hal yang tak disukai manusia. Kematian, padahal kematian itu baik bagi muslim tatkala fitnah melanda. Dan, yang tak disukai pula, sedikit harta, padahal sedikit harta menyebabkan manusia mudah dihisab (pada hari kiamat).” (HR Ahmad 5: 427)

Benar dalam benakku. Mungkin tak seorang pun menetapkan mati sebagai cita-cita. “Lalu, keutamaan ketiga, dekat dengan orang miskin, berarti semakin dekat dengan Allah pada hari kiamat,” kata sang ustadz.

Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, matikanlah aku dalam keadaan miskin, dan kumpulkanlah aku bersama orang-orang miskin pada hari kiamat,” kata ustadz, mengutip hadist Tirmidzi.

`Aisyah berkata, Mengapa wahai Rasulullah, engkau meminta demikian? “Orang-orang miskin itu masuk ke surga 40 tahun, sebelum orang-orang kaya. Wahai `Aisyah, janganlah engkau menolak orang miskin walau dengan sebelah kurma. Wahai `Aisyah, cintailah orang miskin dan dekatlah dengan mereka karena Allah akan dekat dengan-Mu pada hari kiamat,” jawab Rasulullah. (HR Tirmidzi No 2352)

“Dan, mencintai orang miskin adalah landasan kecintaan pada Allah juga,” jelas ustadz tentang keutamaan keempat, mencintai orang miskin.

“Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena-Nya, memberi karena-Nya, dan tidak memberi juga karena-Nya, maka ia telah sempurna imannya.” (HR Abu Daud No 4681, Tirmidzi No 2521 dan Ahmad 3: 438)

Sang utadz kala itu makin bersemangat, ketika menjelaskan keutamaan kelima mencintai orang miskin, karena termasuk wasiat Rasulullah SAW.

“Kekasihku (Rasulullah) shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepadaku dengan tujuh hal. Pertama, supaya aku mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka. Kedua, beliau memerintahkan aku, agar melihat orang yang berada di bawahku dan tidak melihat orang yang berada di atasku. Ketiga, beliau memerintahkan agar aku menyambung silaturahmiku meskipun mereka berlaku kasar kepadaku. Keempat, aku dianjurkan memperbanyak ucapan Laa haula wa laa quwwata illa billah (tak ada daya dan upaya kecuali atas pertolongan Allah). Kelima, aku diperintah mengatakan kebenaran, meskipun pahit. Keenam, beliau berwasiat agar aku tidak takut celaan orang yang mencela dalam berdakwah kepada Allah, dan ketujuh beliau menasihatiku agar tidak meminta-minta sesuatu pun kepada manusia.” (HR Ahmad 5: 159)

Gambar

Termasuk Jihad
Uraian hadist yang begitu gamblang. Saya pun manggut-manggut mendengarnya. Ustadz sohibku kemudian menjelaskan keutamaan keenam, memperjuangkan kehidupan orang miskin itu termasuk jihad di jalan Allah.

“Orang yang membiayai kehidupan para janda dan orang-orang miskin, bagaikan orang yang berjihad fii sabiilillaah. Dan, bagaikan orang yang shalat tanpa merasa bosan, serta bagaikan orang yang berpuasa terus-menerus.” (HR Muslim No 2982)

Usai mendengar penjelasan ustadz ini, hatiku serasa adem dan memadat bak batu cadas. “Mengapa aku sering memalingkan muka kepada kaum miskin, bahkan seolah mereka sampah masyarakat,” begitu kata hatiku, penuh penyesalan.

Nah, kini yang (keutamaan) ketujuh!” seruh ustadz, menghentikan lamunanku. “Menolong orang miskin akan mudah memperoleh rizki dan pertolongan Allah, serta mudah mendapatkan barokah doa mereka,” jelas beliau.

“Kalian hanyalah mendapat pertolongan dan rizki dengan sebab adanya orang-orang lemah dari kalangan kalian” (HR Bukhari No 2896)

Ustadz sohibku kemudian memperjelas dengan mengutip hadist, HR an-Nasai No 3178. “Sesungguhnya Allah menolong umat ini dengan sebab orang-orang lemah mereka di antara mereka, yaitu dengan doa, shalat, dan keikhlasan mereka.”

Petuah Ibnu Baththol, “Ibadah orang-orang lemah dan doa mereka lebih ikhlas dan lebih terasa khusyuk, karena mereka tak punya ketergantungan hati pada dunia dan perhiasannya. Hati mereka pun jauh dari yang lain, kecuali dekat kepada Allah saja. Amalan mereka bersih dan doa mereka mudah diijabahi (dikabulkan)”. Al Muhallab berkata, “Yang Nabi shallallahu `alaihi wa sallam maksudkan adalah dorongan bagi Sa’ad agar bersifat tawadhu’, tidak sombong dan tidak usah menoleh pada harta yang ada pada mukmin lain” (Syarh al-Bukhari li Ibni Baththol, 9: 114)

Gambar

Nikmat Bersyukur
“Keutamaan yang kedelapan adalah, memiliki sifat tawadhu’ dan qona’ah,” tutur ustadz. Beliau kembali menunjukkan tuntunan melalui cakrawala hadist.

“Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.” (HR Muslim No 2963)

Mengenai konsepsi orang miskin dalam Islam, ustadz sohibku mengingatkan, bahwa bukanlah pengemis yang sering kita temukan sedang meminta-meminta di traffic light, jalanan atau yang door to door di permukiman.

“Perlu dipahami, orang miskin mana yang pantas dicintai? Tentu bukan orang miskin yang musyrik. Tentu bukan orang yang sering meninggalkan shalat, atau yang lebih parah, tidak pernah shalat,” tegas ustadz sohibku.

“Bukan pula yang malas puasa wajib di bulan suci Ramadhan. Tentu saja bukan juga yang gemar melakukan ajaran, yang tidak ada tuntunan dalam Islam,” tandas ustadz, memperingatkanku.

“Jadi, orang miskin yang bagaimanakah, Gus?” tanyaku. “Yang patut dicintai adalah, seorang muslim yang taat. Jadi, bukan masuk kategori miskin, jika malas-malasan bekerja, hanya menjadikan cara meminta-minta di jalan sebagai profesi harian,” jelas beliau.

Ustad sohibku kemudian mengajak meresapi makna hadits dari Abu Hurairah ra, di mana meriwayatkan Sabda Rasulullah SAW.

“Namanya miskin, bukanlah orang yang tidak menolak satu atau dua suap makanan. Akan tetapi miskin adalah orang yang tidak punya kecukupan, lantas ia malu atau tidak meminta dengan cara mendesak.” (HR Bukhari No 1476)

“Subhanallah…!” seruku. Selama ini banyak di antara kita yang tak paham konsepsi miskin dalam Ajaran Islam yang rahmatan lil al-Amin.

Sebelum mengakhiri ngaji menjelang Subuh, ustadz sohibku minta saya mengamalkan firman Allah SWT tentang ketawakalan.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang apabila disebut Asma Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan Ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), serta hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (QS Al Anfaal:2).

Alhamdulillah… ingatanku menjadi segar kembali atas pencerahan hati dari ustadz sohibku 10 tahun silam. Dan, Alhamdulillah pula kepada ibu pedagang yang shalat dinihari di emperan tokoh Kebayoran Lama. Muslimah miskin patut menjadi tauladan kalbu yang galau. Amin, amin, ya robba al-Amin.

Obrolan Hati Kamis Dinihari
Jakarta 25 Oktober 2012

Iklan

Memaafkan Pembakar Masjid

Posted in obrolan ati on Agustus 8, 2012 by albertjoko
Arang Masjid

Masjid Joplin di wilayah barat Missouri, Amerika Serikat dibakar orang tak dikenal pukul 03.40 waktu setempat, Senin 6 Agustus 2012.

PEKIK istighfar hingga pujian Asma Allah bak meledak, begitu sejumlah sobat menyaksikan layar gelas menayang sisa-sisa kobaran api yang membakar Masjid Joplin di wilayah barat Missouri, Amerika Serikat pukul 03.40 waktu setempat, Senin 6 Agustus 2012.

Muslimin mana pun, sulit menahan gejolak hati kala menyaksikan “rumah” Allah SWT dibakar. Manusiawi bagi umumnya, amarah sontak memuncak di ubun-ubun. “Ayo jihad, ayo habisi kaum thoghut!” seru sobat muda dengan eskpresi wajah sarat amarah.

Tragedi kelam ini memang begitu menusuk kalbu kaum muslimin. Api yang tak menyisakan selembar Kitab Suci Al Quran, termasuk bangunan masjid itu terjadi tepat momentum turunnya Al Quran. Hari ke-17 malam Ramadhan, di mana semua umat Islam berpengharapan tinggi diberkahi Lailatul Qadar oleh Allah SWT.

“Sesungguhnya kami menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.” Begitu Firman Allah SWT yang termaktub dalam Surah Al-Qodr 1, sebagaimana dikutip ustadz sohibku kalau mengingatku tiap Ramadhan.

Dan, “Sesungguhnya kami menurunkannya (Al Quran) pada malam yang diberkahi,” jelas sang ustadz menunjuk Ad-dukhon 3. Momentum kemuliaan tiada tara yang ternoda di Bumi Amerika.

Tragedi ini menurut catatan otoritas aparat keamanan setempat, kali kedua api menghanguskan Masjid Joplin dalam tempo hanya sebulan. Kuat dugaan kebakaran ini bukan hal lumrah, melainkan sengaja dibakar pihak tertentu. Astaghfirullah hal adziiim…!

Agen khusus FBI wilayah Kansas tegas menyatakan, investigasi sementara 30 aparat penyelidik gabungan FBI, Biro Alkohol Tembakau dan Senjata Api mendeteksi bukti awal adanya kesengajaan pembakaran.

FBI merilis video CCTV berisi seorang pria terlihat menyulut api dekat Masjid Joplin. “Kamera keamanan sekitar wilayah (Joplin) habis dibakar pada kebakaran kedua ini,” tutur Jubir Kepolisian Joplin, Sheriff Sharon Rhine. FBI menawarkan hadiah 15 ribu dolar AS bagi siapa saja yang menemukan lelaki pemantik api, seperti dalam video itu.

Kendati tak merenggut korban jiwa, komunitas Masyarakat Islam Joplin sangat terpukul, kehilangan “rumah” Allah SWT tepat malam 17 Ramadhan. “Kami sangat sedih dan terkejut atas peristiwa ini,” ujar Imam Masjid Joplin asal Indonesia, Lahmuddin kepada aparat FBI.

Kesaksian Imam

Imam Masjid Joplin asal Indonesia, Lahmuddin memberi keterangan pada penyelidik FBI

Kehendak Allah
Beberapa jam sebelum dibakar, Imam Lahmuddin masih di masjid hingga Minggu 5 Agustus 2012 malam. “Kini tak ada lagi yang bisa diselamatkan,” tutur sang Imam.

Yang patut kita cermati dan belajar dari beliau ini, kendati sedih dan kecewa, Imam Lahmuddin meyakinkan tragedi itu tak lepas dari kehendak Allah SWT. “Sebagai umat Islam yang memiliki iman, kita harus sabar menghadapinya, terutama di Bulan Suci Ramadhan ini,” kata beliau.

Petuah bersubstansi sama pernah disampaikan ustadz sohibku, ketika saya murka karena pemuka agama di Amerika membakar Kitab Suci Al Quran beberapa tahun lalu.

“Mengapa sampean begitu gampang marah? Kalau dipikir sedih, saya pun teramat sedih atas penghinaan itu. Tapi, percaya lah, semua terjadi juga tak lepas dari kehendak Allah SWT,” kata sang ustadz menasihatiku.

Saya pun diminta tetap tenang hati, jernih dan fokus mencerna fenomena apapun di muka bumi. “Dan, jangan pula gampang latah. Terus ikut-ikutan bisikan syetan, merusak aset atau simbol-simbol orang Amerika,” tegas ustadz sohibku.

“Meski ada kemungkinan peran negara (Amerika) dalam politik, kita kan tak bisa membuktikan serta-merta. Nanti, malah kita terjebak su’udzon. Nggak baik, kan? Jadi, istighfar, tetap tawadhu, dan berikhtiar yang cerdas secara lahir batin,” tutur beliau.

Pembakaran masjid dan Al Quran memang berbeda peristiwa, tapi substansinya sama. “Ini cobaan luar biasa bagi muslimin. Kenapa pas malam 17 Ramadhan?” begitu bisik dalam benakku.

Tragedi ini bagian karya iblis yang terus menggoda kita sebagai anak cucu Adam. Bagaimana tiranisme, kezaliman dan zionisme Israel atas kaum muslimin di Palestina selama berabad-abad.

Negeri zionis itu bahkan unjuk arogansi dengan cara menghalangi konferensi tingkat tinggi khusus Komite Palestina Negara Non Blok di Ramallah, Minggu 5 Agustus 2012 malam.

Kita sebagai muslimin pun menangis hati, manakala menatap derita saudara-saudara kita di Myanmar, Muslim Rohingya yang menghadapi genosida atas dalih agama. Iblis pun berpesta di China.

Pemantik Api

Seorang pria tertangkap kamera usai memantik api, sesaat sebelum membakar Masjid Joplin

Tanpa Dendam
Sesuai yang dilansir media alarabiyah, pejabat dan siswa-siswi muslim yang usianya belum 18 tahun di Xinjiang, dilarang pemerintah setempat untuk menunaikan ibadah puasa Ramadhan. Kezaliman serupa terjadi di Prancis.

Media presstv melaporkan empat pekerja Muslim dipecat Dewan Kota Genevelliers, gara-gara menjalankan puasa Ramadhan. “Apakah isyaroh ini, ya Allah?” begitu desah hatiku.

“Sampean harus ingat, tanda-tanda akhir zaman itu diwarnai banyak kemenangan kaum dajjal. Itu sebabnya, kelak menjelang kiamat, tak ada lagi suara adzan, tak ada pula orang berpuasa saat Ramadhan. Semoga kita bukan golongan masa itu, karena pasti masuk neraka jahanan,” begitu pesan ustadz sohibku.

“….dan balasan kejelekan itu adalah kejelekan pula, namun siapa yang memaafkan dan memperbaiki (hubungannya), maka pahala baginya di sisi Allah. Sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang dhalim,” tutur ustadz mengutip Surah Asy Syura 40 untuk mengingatkan gejolak amarahku.

Kala melihat jari-jari saya meremas-remas membentuk kepalan disertai dengus napas cepat, ustadz sohibku tersenyum. “Orang kuat itu, bukanlah yang menang dalam gulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan nafsu amarahnya,” tandas ustadz menyitir Hadist HR Bukhari dan Muslim.

Seolah dikunci mata batin saya, ustadz sohibku meminta menghayati dan mengamalkan Sabda Rasulullah SAW. “Jka rasa marah telah meyesakkan (menyusahkan) mu, maka hilangkanlah dengan memberi maaf. Sesungguhnya pada hari kiamat nanti akan ada suara yang memanggil,” kata ustadz.

“Berdirilah siapa yang memiliki pahala di sisi Allah! Tidak ada seorang yang berdiri, kecuali orang-orang pemaaf. Tidakkah kamu mendengar firman Allah SWT: Siapa yang memaafkan dan memperbaiki (hubungannya), maka pahala baginya di sisi Allah,” jelas ustadz menukas pesannya yang berpijak A’lamuddin hal 337.

“Ingat!” tegas ustadz mengejutkanku. “Sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mengadakan makar, maka Allah menghancurkan rumah-rumah mereka dari fondasinya, lalu atap (rumah itu) jatuh menimpa mereka dari atas, dan datanglah azab itu kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari.”

“Begitu Firman Allah SWT sebagaimana tertuang dalam An-Nahl 16:26. Jadi, tetap sabar dan ikhitiar yang benar. Jadilah muslimin mukmin yang madani, cerdas lahir batin. Insya Allah jalan ke surga terbuka lebar-lebar,” begitu ustadz sohibku menutup siraman rohaninya. Subhanallah….

 

Obrolan ati dinihari
Jakarta 8 Agustus 2012

 

Amarah Penguasa

Posted in obrolan ati on Agustus 6, 2012 by albertjoko
Konflik

Konflik elite Polri-KPK jadi edukasi buruk bagi rakyat

DI bawah temaram lampu neon butut pedagang pecel lele Jl Palmerah Barat, Sabtu 4 Agustus 2012 malam, dua sobat asyik berdebat. Kala itu jarum jam menunjuk pukul 02.50 WIB. Kelewat larut untuk ukuran diskusi bagi anak muda. Apalagi, Ramadhan. Hanya puluhan menit, menjelang sahur.

Kendati begitu, dua pemuda, perantau dari tetangga Desa Amrozi (Tenggulun, Solokuro, Lamongan) itu, makin bersemangat adu pendapat.

“Sudah salah, masih ngotot. Buktinya, KPK punya bukti, malah ada laporan apa itu PPAT.. Ah, PPATK! Apa jenderal itu tak takut sama Allah?” tegas sobat muda yang sehari-hari jual pecel lele.

Sang rekan, mencoba mempertahankan dukungannya kepada Kabareskrim Polri Komjen Sutarman yang yakin tak melanggar hukum menyidik dugaan korupsi di balik pengadaan driving simulator SIM di Korlantas tahun 2011.

“Begini, lhoiya banyak polisi nakal, tapi masak gak ada satu saja yang baik? Masak polisi salam semua, nggak mungkin!” tegas pemuda itu.

Perdebatan mereka terhenti, manakala ada sepasang pemuda masuk tenda untuk santap sahur. Saya pun coba meredakan mereka, karena perdebatan itu kembali memanas setelah melayani dua porsi pecel lele.

Apabila ada dua orang atau lebih beda pendapat, baiknya apa yang dilakukan? Kedua pemuda itu tak segera menjawab. Mereka sedikit bingung, sebelum mengatakan sekenanya. “Duh, Pak… saya nggak tahu, kan mereka itu orang-orang besar. Apa lapor presiden, Pak?” kata pemuda yang mendukung KPK.

Subhanallah… begitu seruku dalam hati. Perdebatan dua orang, sekawan ini seolah sebagai representasi panasnya perang pendapat, opini bahkan prasangka di antara orang-orang pintar dan punya kuasa di negeri ini belakangan.

Sejak 30 Juli 2012, tepatnya Hari Senin, Negeri Indonesia seolah hanya berisi satu peristiwa. Konflik otoritas penanganan dugaan korupsi simulator yang merugikan negara sekitar Rp 100 miliar itu.

Siang malam, pertikaian Polri-KPK jadi trending topic. Di warung, kantor, jalanan maupun rumah-rumah rakyat jelata. Dinihari pun kaum elite sibuk men-twitt, anasir hingga cercaan kepada pihak yang berseteru.

Kemuliaan bulan suci Ramadhan, seolah sirna. Tenggelam di bawah amarah, dendam dan ambisi kekuasaan yang menyelinap di balik sikap keras petinggi-petinggi penegak hukum yang berseteru.

Ingatan saya pun melayang jauh ke belakang. Mengingatkan saya pada kisah ustadz sohib saya di Surabaya. Waktu itu juga pas bulan suci Ramadhan, seperti biasa kami menyempatkan kumpul para kiai.

Sang ustadz muda, sohib saya berkisah tentang dua pejabat yang relatif besar kekuasaannya. Keduanya nyaris tak pernah akur. Bukan hanya dalam situasi resmi, kala bertemu dalam obrolan juga gak pernah klop.

“Peristiwa memalukan pun terjadi. Mereka gelut (berkelahi). Yang satu melempar gelas kopi, satunya melempar kursi. Ya jadi tontonan lah, padahal keduanya termasuk orang berpengaruh,” tutur ustadz sohibku.

Yang bikin malu lagi, kata Ustadz, kedua-duanya mengaku muslim. “Dan, keduanya mengaku tak bolong kalau puasa Ramadhan. Coba sampean pikir, apa yang dipuasai?” tanya Ustadz, tiba- tiba sambil memandangku kuat-kuat.

Maafkan

Memaafkan bagian integral ketakwaan

Kemuliaan Memaafkan
Ya, mereka cuma menahan lapar dan dahaga, apa begitu Ustadz? Begitu kataku. “Begitulah yang memalukan. Sudah puasanya Puasa ‘Aam (umum), puasa perut dan syahwat, gagal lagi. Malu kan sama yang membuat kita hidup.. Biar kita ini bilang puasa, kalau perbuatannya tidak, Allah Maha Tahu,” tutur Ustadz.

Esensi pertengkaran mereka pun membuktikan kegagalan menahan hawa nafsu. “Padahal, itu intisari puasa Ramadhan, supaya kita bisa merasakan sebagai umat hina dina di hadapan Allah SWT,” jelas Ustadz sohibku.

Ustadz yang gemar mengentas kaum delapan golongan segera menyitir Firman Allah dalam Hadits Qudsi. “Nabi Musa as telah bertanya kepada Allah. Ya Rabbi, siapakah di antara hamba-Mu yang lebih mulia menurut pandangan-Mu?” kata Ustadz.

“Lalu, Allah berfirman. Ialah orang yang apabila berkuasa atau menguasai musuhnya, dapat segera memaafkan,” tutur Ustadz, sebagaimana untaian Kharaithi dari Abu Hurairah ra. Saya sedikit mulai mengerti, ketika diminta membalas kejahatan seseorang dengan doa yang baik. Doa untuk membuka hati nurani si zalim.

“Balasan perbuatan jahat adalah kejahatan yang seimbang dengannya. Barangsiapa yang memaafkan dan berlaku damai, pahalanya ada di tangan Allah,” kutip Utadz dari QS 42:40. “Memaafkan itu lebih mendekatkan kepada takwa,” jelas beliau seraya menunjuk QS 2:237.

Mengingat petuah-petuah ustadz sohibku ini, betapa mudahnya sesungguhnya para petinggi Polri dan KPK menemukan jalan kebenaran dan kebaikan.

Andai mereka, apalagi sesama Muslim, mengamalkan Firman Allah (QS 3:159). “Maafkanlah mereka dan mintakanlah ampunan bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan (keduniaan).”

Adalah kebenaran haq, negeri kita Insya Allah tak dijejali konflik, prasangka dan kepura-puraan yang menyelinap di balik pencitraan apa pun. Penyidikan dugaan korupsi yang tujuannya memberi sanksi dunia atas kejahatan, pengkhianatan pada rakyat dan menjarah harta negara, akan terlaksana tanpa rebutan, jika petinggi penegak hukum, termasuk golongan bertakwa.

Ya, apa artinya kita disanjung-sanjung manusia, jika sesungguhnya apa pun yang kita lakukan hanya kebohongan besar, atau menipu Allah SWT,” tegas Ustadz sohibku, kala mengingatkanku agar tak membiasakan bohong sedetik pun. Subhanallah….

 

Obrolan ati dinihari
Jakarta, Minggu 5 Agustus 2012

Sabar

Posted in obrolan ati with tags on Agustus 2, 2012 by albertjoko
Muslimah Penyabar

Muslimah sholiha sabar dan pintar bersyukur

SaBaR… sepatah kata yang senantiasa kuingat dari bibir ayahanda. Kala itu tahun masehi masih 1987. Emosiku memuncak di ubun-ubun, meledak, dan membumbung bak setinggi langit.

Perlu waktu bermenit-menit. Berjam-jam, berhari-hari, bahkan bertahun-tahun untuk memahami makna dan hakekat seuntai kata, seruan ayah tercinta.

Perlu waktu sepanjang itu pula aku bisa sadar dan merasakan, betapa besar cinta ayahku. S-a-b-a-r, ternyata tombo ati (obat hati). Sarat nilai keindahan dan kemuliaan tanpa batas.

Amarah, dengus napas cepat, geram gigi, hingga genggam keras dua telapak tangan yang teruji dalam ilmu bela diri untuk meremukkan kepala, sirna bak pasir Arafah tersibak tiupan sang angin.

Ayahku sungguh guru besar dalam hidupku. Mengajarkan hikmah dan cara, bagaimana mengelola hati yang terluka dan murka, akibat timpahan musibah dari Allah SWT.

Dua dasa warsa berlalu, seruan ayahku makin mengkristal dalam kalbu. “Sampean beruntung punya Bapak yang mukmin,” sergah Ustadz Sohibku, memotong ceritaku di bawah temaram lampu kedai kecil di Jl Palmerah Jakarta, pekan pertama Ramadhan 1433 H.

Manakala saya masih terbengong, ustadz mencoba membuka bathinku. “Coba tanya Bapak sampean, saya yakin Beliau sedang men-syiarkan perintah Allah SWT.”

Sejenak saya terdiam. “Si Gus pasti menceramahiku dinihari,” begitu gumamku. “Kenapa? Sampean khawatir kalau dicereweti?” begitu sentilan Ustadz Sohibku.

“Coba sampean buka kitab (Al Quran) dan hadist. Sesungguhnya sabar itu memiliki posisi tinggi dan mulia dalam Agama Islam,” petuah Ustadz.

Beliau kemudian mengisahkan padanan ash-shabr alias sabar yang diajarkan Al Imam Ibnul Qayyim. “Ash-shabr itu setengah dari keimanan, dan setengahnya lagi adalah syukur,” tutur sang ustadz lalu menghisap rokok kreteknya dalam-dalam.

“Setidaknya ada delapan makna sabar yang indah dan mulia sebagai tolok ukur iman seseorang. Jika bisa diamalkan, haqqul yaqin orang itu kaum mukmin yang disayang Allah SWT,” ujar Ustadz sohibku seraya tersenyum.

Perintah

Sembah Allah

Menunaikan kewajiban ibadah sering terlupakan umat manusia yang menuhankan harta, tahta dan popularitas di zaman edan kini

Pertama, jelas ustadz sohibku. “Sabar itu perintah Allah. Perintah Gusti Allah itu tertuang dalam Surah Al-Baqarah: 153. Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Kedua, makna sabar itu pujian Allah terhadap orang beriman. “Coba sekarang buka Surah Al-Baqarah: 177. …dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan, mereka itulah orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”

Sejenak ustadz sohibku menyunggingkan bibirnya di tengah kepulan sap rokoknya. “Sampean tahu yang ketiga apa?” tanya Ustadz lalu terdiam sejenak. “Anugerah cinta Allah SWT!” ujar Ustadz secara tiba-tiba.

Belum lenyap kejutku, ustadz sohibku meminta buka Surah Ali Imran: 146. “…… dan Allah itu menyukai atau mencintai orang-orang yang sabar.” Begitu terangnya.

Lalu apa makna sabar kelima? Saya terdiam saja, menunggu petuah beliau daripada jawab keliru. “Shalawat, rahmat dan hidayah itu bersama orang sabar,” tegas beliau.

“Orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan inna lillaahi wa innaa ilaihi raajiuun atau sesungguhnya kami adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya kami kembal, maka mereka itulah yang mendapat keberkatan sempurna dan rahmat dari Allah. Mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk,” tutur ustadz lalu menyitir Surah Al Baqarah, ayat 156-157.

Saya mencoba mencerna, namun ustadz kembali mendekatkan bibirnya di telingaku. Beliau berbisik. “Barangsiapa yang membaca kalimat Istirja’ dan berdoa dengan doa kepada Allah, niscaya Allah SWT menggantikan musibah yang menimpanya dengan sesuatu yang lebih baik.”

Beliau kemudian menunjuk Hadits riwayat Al Imam Muslim 3/918 dari Shahabiyah Ummu Salamah.

Masih adakah makna mulia lainnya, Gus? “Ada! Kelima, orang sabar akan mendapatkan hadiah yang lebih baik dari amalannya,” tutur Ustadz.

“… Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik untuk orang-orang yang sabar,” urai beliau sambil menunjuk Surah An Nahl: 126.

Ampunan

Istighfar

Berserah diri dan memohon ampunan pintu menemukan kemukminan seorang muslim

“Nah, kalau makna sabar keenam, mendapat ampunan dari Allah SWT. Kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal salih, mereka itu beroleh ampunan dan pahala besar,” tutur Ustadz mengutip Surah Hud: 11.

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seorang muslim, melainkan Allah SWT telah menghapus dengan musibah itu dosanya. Meskipun musibah itu adalah duri yang menusuk dirinya,” kata ustadz.

“Kalau itu bisa sampean temukan di HR Al-Bukhari Nomor 3405 dan Muslim 140-141 atau 1062,” jelas Ustadz sohibku. “Kalau yang ketujuh, orang sabar mendapat martabat tinggi di dalam surga,” kata ustadz, membuat kantukku mendadak sirna.

Penjelasannya ustadz? Begitu kataku. Tahu saya terbawa emosi belaka karena ingin masuk surga secara instan, ustadz sohibku malah membisu beberapa menit. Beliau seolah menguji dan melatih batin sabarku.

“Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat tinggi dalam surga. Ya, karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya. Silakan resapi Surah Al Furqan: 75,” saran Ustadz sohibku.

Yang terkahir, kata ustadz, sabar adalah jalan terbaik. “Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin, sungguh semua urusannya baik baginya, yang demikian itu tidaklah dimiliki seorang pun kecuali hanya orang beriman,” tutur Ustadz sohibku.

“Jika mendapat kebaikan, kemudian ia bersyukur, maka itu merupakan kebaikan baginya, dan jika keburukan menimpanya, kemudian ia bersabar, maka itu merupakan kebaikan baginya,” urai sang Ustadz, mengutip HR Muslim.

“Jadi, setiap amalan akan diketahui pahalanya, kecuali kesabaran. Mengapa? Karena pahala kesabaran itu tanpa batas,” tegas beliau. “Sesungguhnya orang-orang yang bersabar, yang dicukupkan ganjaran atau pahala mereka tanpa batas.” Begitu firman Allah SWT dalam Az Zumar: 10.

“Alhamdulillah… subhanallah, ustadz… maturnuwun (terimakasih), nggih…,” kataku yang langsung dipotong ustadz sohibku. “Ya, sampean punya kewajiban tak hanya memahami, tapi mengamalkan!”

Alhamdulillah…Alhamdulillah…Alhamdulillah… kalbuku pun terasa sesejuk hawa alam pegunungan nan indah. Amin, amin, amin ya robba al-amiiin…!

Obrolan ati dinihari
Jakarta, 2 Agustus 2012

Fitnah Kekuasaan dan Harta (2)

Posted in obrolan ati on Juni 26, 2009 by albertjoko

*Kontemplasi Karyawan Yang Mukmin
*Kemenangan Semu Dari Tikungan Iblis



tahtaJARUM jam di dinding “kafe tombo ati” menunjuk pukul 02.13 WIB, 25 Juni 2009. Namun, sohib lamaku bukannya terkantuk. Sebaliknya, ia begitu bersemangat mendengarkan uraian dan kajian religius kontemporer sang ustadz sohibku di Kota Pahlawan.

Sohib lamaku seolah baru menyadari urgensi iman di era serba canggih. Safaat dan manfaat tahta dan harta pun tak punya “harga” dibanding kezuhudan iman kepada Allah SWT. Ia akhirnya tanpa rikuh mengakui, bahwa kenikmatan-kenikmatan tiada tara yang tertangkap panca indera, tak ubahnya ilusi kehidupan.

“Itulah, kalau kita terjebak perangkap syetan. Kita ini jadi boneka. Seharusnya sebagai pengendali nafsu, malah dikendalikan hawa nafsu sendiri. Kita pun jadi lupa keutamaan-keutamaan yang diwajibkan Allah SWT dalam menjalani hidup di dunia fana ini,” tutur ustadz menimpali sohib lamaku.

harta

“Memang, dunia fana senantiasa memesona setiap orang. Menggiurkan, dan sering membuat kita lupa (Allah). Apalagi, kalau kita diberi rizki, harta berlimpah-limpah oleh Allah. Pangkat dan jabatan tinggi, serta istri cantik… Waahh... lupa semua! Seolah-olah kita jadi raja diraja yang bisa hidup seribu tahun…,” kata ustadz lalu terkekeh.

Tawa ustadz sohibku sontak terhenti, manakala layar televisi menayangkan kematian mendadak seekor king cobra. Kedigdayaan ular yang banyak ditakuti manusia ini lenyap di bawah cengkeraman kuku- kuku seekor elang. Tubuh cobra yang licin dan gesit, koyak dicabik-cabik patukan sang rajawali.

“Itu contohnya… ular itu tak sakit apa-apa, mati mendadak. Sampean lihat kan… tadi si cobra itu begitu perkasa menyergap tikus. Begitu kenyang, dalam perjalanan malah mati diterkam rajawali… Begitulah hukum alam. Kita yang hidup di semesta raya ini, hendaknya jangan lupa Sang Maha Pencipta, bisa terpeleset jadi takabur… dan berakhir hancur!” tegas ustadz mewanti.

kematian

image5

MAUT - Ajal datang tanpa diundang

SOHIBKU pun terdiam seribu bahasa, seolah mencerna petuah sang ustadz. “Lahir, tumbuh dewasa, lalu mati. Jangan sampai terlena. Di antara hal ghoib di dunia adalah kematian. Tak seorang pun, dan apa pun, kecuali Allah SWT yang tahu ajal menjemput kita. Sejatinya, hidup kita adalah mempersiapkan kematian. Jangan dibalik, hidup untuk senang-senang, happy-happywaah.. celaka dua belas kita!” urai ustadz lalu tertawa renyah.

Ustadz “tanpa pondok” ini kemudian mengingatkan kami berdua tentang bahaya laten dari tipu daya iblis. Muslihat kaum dajjaal ini memiliki target utama pada ahli ibadah dan ahli amal (Hujjatul Islam Al Ghazaly). Dikisahkan, menjelang akhir zaman, tipu daya ini makin mengristal.

Terdapat lima muslihat jahat yang wajib diwaspadai kapan pun, dan di mana pun. Pertama, pedaya shalat. Kedua, terpedaya membaca Al-Qur’an. Ketiga, terpedaya dalam haji. Keempat, terpedaya dalam perjuangan (jihad), dan kelima terpedaya dalam zuhud.

“Zaman sekarang makin banyak saja ahli ibadah dan ahli amal yang terpedaya, tergelincir. Sepanjang nafas masih berdengus, amalkan Laa ilaha ilallah, Muhammad-da Rasulullah,” tegas ustadz seraya menatap kami kuat-kuat.

Harta, tahta dan wanita memang senantiasa menebarkan pesona “dajjalai” luar biasa. “Kita harus meneladani Rasulullah SAW. Iman beliau tak pernah goyah sedikitpun, meski mendapat godaan luar biasa. Harta dan kekuasaan yang ditawarkan kaum kafir Quraisy memang sangat menggiurkan orang umumnya. Tetapi, tidak bagi Nabi Muhammad,” tutur ustadz.

“Kenapa? Harta dan kekuasaan itu tak sebanding dengan dakwah yang beliau amalkan sepanjang hayatnya. Naif, kan? Karena dengan menerima tawaran kaum Quraisy itu, sama halnya berhenti berdakwah, sekaligus menolak kenabian beliau. Ini bertolakbelakang dengan perintah Allah SWT,” jelas ustadz.

cinta Allah

mahdi_2

JIHAD - Kafilah wajib menegakkan agama demi Allah SWT

HARTA dan tahta tak mungkin ditukar dengan kewajiban berdakwah bagi setiap Muslimin. Apa kata Rasulullah sebagaimana disampaikan Abu Thalib. “Wahai paman (Abu Thalib), meski pun mereka meletakkan matahari di kananku dan bulan di kiriku agar aku berhenti dari dakwah ini, pastilah tidak akan kulakukan. Hingga nanti Allah SWT menangkan dakwah ini, atau aku mati bersamanya,” tegas Rasulullah SAW.

Kecintaan mutlak Rasulullah untuk berdakwah, sesungguhnya manifestasi kecintaan beliau kepada Allah SWT. “Hanya orang beriman lah, yang selamat dan selalu perkasa menghadapi tipu daya iblis. Rasulullah sebagai nabi besar junjungan kita, harus diteladani. Beliau tak silau harta dan tahta, kecuali harta dan tahta yang diperoleh secara halal dan jujur. Oleh karena harta halal, kekuasaan yang diperoleh secara jujur, itu bagian rahmat dari Allah SWT,” kata ustadz.

Ketika mendengarkan uraian ini, saya teringat kisah Syaikh Haji Rasul, tokoh terkemuka dalam gerakan pembaharuan Islam di Minangkabau pada masa kolonial Belanda. Haji Rasul adalah satu dari beberapa mutiara dari Minangkabau.

Putra ulama terhormat, Syaikh Muhammad Amrullah yang lahir pada 10 Februari 1879 ini, merupakan tokoh di balik gerakan pembaharuan Islam (Reformis) di Minangkabau. Bukan gerakan berorientasi kekuasaan, melainkan pencerdasan umat dengan nilai-nilai dakwah Islam yang benar dan lurus.

Gerakan ini berdiri kokoh di sisi umat, bukan di sisi penguasa. Mereka mengambil jalan para nabi, bukan jalan para pendukung Firaun dengan Bal’am-nya  dan Qarun. Haji Rasul yang menimba ilmu di pusat Agama Islam, Mekkah, berguru pada Imam Masjidil Haram, Syaikh Ahmad Khatib, yang tak lain ulama asal Minangkabau.

Selain itu, ia berguru pada sejumlah ulama di Mekkah. Seperti Syaikh Abdullah Jamidin, Syaikh Thaher Jalaludin, sampai Syaikh Usman Serawak. Haji Rasul terinspirasi ulama-ulama pergerakan, sekaliber Muhammad Abduh dan Jamaludin al Afghani yang mengajarkan faham berbeda dengan arus utama Islam di Minangkabau saat itu, yakni Tarekat Naqsabandiyah.

tetap kokoh

ulama_haji_rasul

TELADAN - Ketegasan Haji Rasul jadi teladan

HAJI Rasul yang dikenal tegas dan berani menyatakan putih, jika putih. Hitam dikatakan hitam, tanpa kiasan. Kolonial Belanda pun menganggap tak bisa diajak bekerjasama. Operasi-operasi intelijen sistematis dilancarkan untuk mencoba menghancurkan kesufian Haji Rasul.

Berita-berita dusta disebar agar umat tidak percaya pada sosok ulama setipikal Haji Rasul. Berbagai dokumen palsu dibikin, isinya fitnah, karirnya dihambat, bahkan tempat mereka mencari nafkah coba dikacaukan.

Jalan terakhir yang dilakukan penjajah, menjebloskan ke penjara lewat peristiwa yang direkayasa. Jika perlu membunuhnya, baik dengan cara diracun atau operasi terselubung. Kematian seolah-olah akibat kecelakaan, atau sakit yang tak bisa disembuhkan.

Ketika kutanyakan kepada ustadz sohib saya, beliau tersenyum. “Sebab itu, ulama jenis ini sangat berhati-hati menjalani kehidupannya, senantiasa memasrahkan diri sepenuhnya kepada perlindungan Allah SWT,” kata ustadz.

Saadah darayn

PASRAH ALLAH - Saadah darayn

Rasulullah SAW telah memberi pedoman untuk memilah ulama baik, dan buruk. Al-Ghazali dalam Ihya `Ulum ad Din menyitir hadits Rasulullah SAW. “Ulama yang paling buruk adalah ulama yang suka mengunjungi penguasa. Sementara penguasa yang paling baik adalah yang sering mengunjungi ulama.” (HR Ibnu Majah)

Namun, Haji Rasul tetaplah Haji Rasul. Ia kokoh menjadi pelopor pembaharuan pemahaman Islam di Minangkabau. Beliau begitu tabah menghadapi serangan demi serangan, termasuk berbagai fitnah yang dilancarkan orang-orang yang tak sepaham dengannya.

“Makanya, kita sebagai umat Islam, selalu waspada, dan menyiapkan diri sebelum fitnah datang. Setiap kebenaran yang haq kita amalkan harus istiqomah, karena sepanjang itu pula iblis menghalangi dengan berbagai fitnah. Tak usah khawatir, apalagi takut. Teladani Rasulullah SAW, selalu pasrah kepada Allah SWT adalah benteng tiada tanding,” tegas ustadz sambil menatap tajam sohib lamaku.

Kami pun bak koor mengucap Alhamdulillah. “Sampean-sampean ini harus bisa lebih tegar. Dengan iman yang zuhud, senantiasa memasrahkan diri kepada Allah SWT, apapun yang sampean lakukan, Insya Allah mampu membalik fitnah terkeji sekalipun. Seorang kafilah sejati, tak boleh ragu, kan? Jihad adalah jalan terbaik dan termulia. Tapi, jangan salah. Jihad tak harus berperang secara fisik, lho,” kata ustadz, bak energi inti superdahsyat yang membuat sohib lamaku berseri-seri. (*)

Fitnah Kekuasaan dan Harta (1)

Posted in obrolan ati on Juni 25, 2009 by albertjoko

*Kontemplasi Karyawan Yang Mukmin
*Kemenangan Semu Dari Tikungan Iblis


fitnah3.jpgUJI IMAN – Indah menikmati fitnah sebagai ujian iman kita

DESAH nafas sohib lamaku begitu menyentak. Embusan angin dari rongga hidungnya, begitu membuncah, bak topan gurun menerjang cadas. Saking kuatnya, kertas bon kopi di atas meja tergelincir dan jatuh tertelungkup di lantai.

Kertas itu segera kupungut, lalu kuletakkan di atas meja. Kucoba tatap erat-erat wajah muram durja sang sohib, sambil tersenyum. Namun, sang sohib tak seperti biasanya. Ia tetap duduk terpaku tanpa ekspresi sambil menatap tayangan televisi.

Sejenak kami terdiam, demikian halnya ustadz sohibku yang duduk di antara kami. Sekitar tiga menit kami berada dalam kosmis kebisuan. Sunyi dan hening arena tombo ati, pekan keempat Juni 2009 itu. Kami hanya memperhatikan seksama rengekan tiga ekor anak elang di sarang, pucuk pepohonan yang ditayang televisi asing.

Suasana “tenang” tak setenang hati sohibku setelah berbulan-bulan tak berjumpa. Di tengah kebekuan suasana itu, ustadz sohibku mengejutkan kami berdua. “Coba, kenapa anak-anak elang itu menjerit- jerit? Apa kira-kira yang dikatakan?” kata ustadz.

Pertanyaan “sederhana” yang senantiasa tak gampang dijawab orang awam. Saya pun mencoba menjauhkan logika otak, dengan harapan mendapat safaat dari “kata hati.” Namun, sebelum saya menggerakkan bibir, sohib lamaku yang termenung, tiba-tiba mengusap-usap wajahnya… lalu pelahan menyunggingkan bibir.

“Ustadz..boleh saya jawab!” ujar sang sohibku lalu tertawa kecil “tanpa rasa.” Ustadz sohibku pun tersenyum sambil mengepulkan asap kreteknya. “Itu memang pertanyaan untuk sampean jawab…,” sahut Ustadz lalu tertawa renyah.

antitesa rasionalitas

32

CINTA - Indahnya kelahiran dan kematian di semesta

SEJENAK hening penuh arti.  “Maaf, Tadz.. Itu kan lazim dalam ilmu pengetahuan…ya, anak-anak elang itu kelaparan, sehingga teriak-teriak memanggilnya induknya…maaf, lho Tadz…,” kata sohibku coba menjelaskan dengan akal sehat.

Lalu apa reaksi sang ustadz? Beliau hanya manggut-manggut sambil tersenyum. Sejenak ustadz membiarkan sohibku larut dalam “kebenaran” atas keyakinan ilmu pengetahuan ilmiahnya. Kami pun kembali terdiam beberapa saat.

“Sampean mungkin benar, tapi bagaimana sampean bisa memastikannya?” tanya ustadz, membuat sohibku sedikit terperanjat. “Itulah kita, sebagai manusia kadang terlalu yakin dengan kemampuannya sendiri, merasa mengerti dari segala-galanya.. lalu lupa diri,” tutur Ustadz sohibku.

Sontak, sohibku yang mulai sedikit “berbinar” kembali terpaku tanpa ekspresi. Belum hilang penasarannya, ustadz meneruskan uraiannya.

“Sampean tak tahu, kan…kalau di bawah sarang elang itu ada seekor ular pohon? Sampean juga tak tahu, kan… kalau orang hutan menggapai dedaunan yang berpucuk sarang itu? Sampean juga mungkin tak tahu, kalau ada seekor elang asing yang terus memperhatikan anak-anak elang itu?” cecar ustadz.

Sohibku hanya bisa tersenyum kecut, seolah mengiyakan. Apa yang diuraikan ustadz betul adanya, saya juga menyaksikan. Namun, sohibku yang berada dalam fokus minimal saat menyaksikan tayangan dunia fauna itu gagal merekonstruksi peristiwa yang ia lihat secara komprehensif.

“Keberadaan ular, orangutan dan elang asing itu dirasakan sebagai teror. Anak-anak elang itu ketakutan. Ini lebih mungkin daripada kelaparan, karena temboloknya masih cukup berisi, kan? Itu coba sampean perhatikan seksama (kebetulan kamera meng-close up anak-anak elang),” pinta ustadz.

barokah senyum

G02b-3QulIKHLAS – Subhanallah.. Betapa indahnya keikhlasan kita…

SOHIBKU pun memperhatikan tayangan anak elang dengan cermat. “Betul…betul ustadz, saya khilaf!” ujarnya seraya tersenyum.

“Alhamdulillah… sampean tersenyum. Kita jangan kehilangan senyum, jika ingin merasakan nikmat Allah SWT. Senyum itu indah, karena sesungguhnya ekspresi nikmat yang dikaruniakan Allah. Dan, senyum menjadi indah, bila terucap dari keikhlasan kita mensyukuri apa pun yang diberikan Sang Maha Pencipta Alam Semesta Raya,” jelas ustadz.

Pelahan-lahan aura sohibku pun menuju derajat nol. Tingkat ketenangan “hati” yang mirip air dalam danau tanpa riak sedikit pun. “Iya, Ustadz… Saya mungkin merasa seperti anak-anak elang itu. Saya merasa diteror, diancam dan difitnah ketika saya coba bersikap dan bertindak benar. Kebenaran haq, dan bukan kebenaran atas dasar kepentingan saya pribadi…,” kata sohibku bertestimoni.

Rupanya, sohibku yang bekerja di perusahaan berplat “Antabrata” ini sedang risau dan gundah atas serangkaian tuduhan yang tidak ia perbuat. Tampak jelas naluriah akal sehatnya yang tak bisa menerima kenyataan yang dialaminya.

Ustadz pun kembali tersenyum dan manggut-manggut. “Ucapkan Alhamdulillah, Insya Allah sampean akan tetap pada kebenaran yang haq, dan tetap mendapatkan kebenaran nanti. Allah Maha Adil dan Maha Pengasih dan Penyayang, apalagi terhadap hamba-Nya yang mukmin!” seru Ustadz sohibku.

jebakan syetan

Copy of animation

SERUAN ustadz bak petir di keremangan “kafe hati.” Energi kebenaran haq pun menebarkan aura kebahagiaan yang terpancar di wajah sohibku. “Astaghfirullah…. Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillaah….Ustadz terimakasih, saya seperti bangun dari mimpi saja. Saya hampir lupa Kemaha- Kuasaan Allah SWT… Alhamdulillah…” ujar sohibku dengan berbinar.

Nah, sampean juga perlu bersyukur karena Allah senantiasa memberi cobaan terhadap keimanan hamba-hamba-Nya. Oleh karena iman yang sejati kepada Allah SWT, tak bisa diucapkan belaka. Tak cukup dengan atribut belaka, berpakaian seolah-olah muslim yang mukmin, tapi perbuatan tidak. Kita ini sering diplesetkan syetan, ya.. berada di tingkungan iblis.”

“Hanya orang-orang muknin yang senantiasa berpasrah diri kepada Allah SWT, ikhlas, sabar, tawadhu’ yang istiqomah mencintai Allah dan disayangi Allah. Haqqul yaqin lah Allah memberi rahmat dan hidayah untuk kehidupan di dunia maupun akherat…,” tutur Ustadz sohibku.

Berkali-kali sohib lamaku pun mengucapkan kata amin dan memanjatkan syukur kepada Tuhan. Ustadz pun menganjurkan senantiasa tenang bak air dalam telaga, dan senantiasa “mampu (hati)” tersenyum dalam mengarungi kehidupan. Artinya, kita tetap sepenuhnya sadar hati sebagai mukmin menghadapi dunia penuh angkara murka, bukan larut dalam perangkap iblis.

Saya pun jadi teringat kisah Rasulullah, sang figur pemimpin terbaik dan teladan sepanjang masa. Talenta cerdas, supel, jujur dan berani Nabi Besar Muhammad SAW menerangi dunia kegelapan melalui fondasi Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Kendati begitu, sepanjang masanya tak kurang dari fitnah hingga ancaman pembunuhan.

ikhlas

ikhlas

HANYA kepada Allah kami menyembah

PERJALANAN dakwah dan jihad adalah perjalanan hidup orang-orang mulia dan terpuji sepanjang sejarah. Perjalanan para Nabi, Rasul Allah dan orang-orang shalih. Episode perjalanan yang tak menawarkan aroma mutiara dan berlian bercahaya, sebaliknya dipenuhi duri, dan kerikil tajam, serta penuh liku.

Hampir tak ada yang ingin mengikuti dan menempuhnya, kecuali hamba-hamba-Nya yang diberi rahmat dan barokah. Teror dan aneka ancaman ditimpakan kepada para Rasul Allah, para sahabat dan orang-orang Shalih dari para ulama dan mujahid sesudah para sahabat, tak ada yang lepas dari kezaliman, siksaan, pembantaian dan pembunuhan.

Ustadz sohibku pun menyitir Surat Al Baqoroh (2) ayat 191: Wal fitnatu asyaddu minal qotli.. “Dan, fitnah itu lebih sangat (dosanya) daripada pembunuhan..” jelasnya. Imam Ibnu Katsir pun telah memberi pelajaran kepada kita, bahwa Imam Abul `Aliyah, Mujahid, Said bin Jubair, Ikrimah, Al Hasan, Qotadah, Ad Dhohak, dan Rabi’ ibn Anas mengartikan fitnah dengan makna syirik yang notabene lebih besar dosanya daripada pembunuhan.

Fitnah dalam konteks budaya negeri kita, mengusung arti tuduhan atas perbuatan yang tidak dilakukan oleh orang yang dituduh. Dalam Al Qur’an, fitnah mengandung makna beragam, sesuai konteks kalimatnya. Fitnah bermakna bala bencana, ujian, cobaan, musibah, kemusyrikan, sampai kekafiran.

Sikap tenang, ikhlas dan sabar pun menjadi senjata terampuh yang diajarkan Allah bagi seorang mukmin. Ustadz sohib saya pun mengingatkan saya dan sohib lamaku, bahwa seluruh sahabat Rasulullah perlu bersikap wara’ dan sangat hati-hati terhadap dunia dan fitnah kekuasaan.

“Dunia membuat orang sibuk dan melupakan urusan-urusan lain. Pengejar dunia tak pernah mendapat sesuatu, selain rasa tak puas. Sungguh, ia tak kan pernah puas pada setiap apa yang diperolehnya.” Begitulah yang tertulis dalam satu di antara surat Ali bin Abi Thalib r.a. kepada Mu’awiyah. (*)

Wanita Gila dan Harimau Merbabu

Posted in obrolan ati on November 22, 2008 by albertjoko
  • Belajar Cinta dari Tragedi Hutan Suroloyo
  • Kontemplasi Diri Dzat Sejati Manusia

copy-of-panthera-tigris

MINGGU 16 November 2008 lalu, seorang wanita ditemukan tewas di Gunung Merbabu. Tepatnya di kawasan hutan Suroloyo, Dukuh Krembyungan, Desa Ketundan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Wanita tanpa identitas itu diduga tewas akibat diterkam harimau. Adalah Ny Juminten (53), warga setempat yang menemukan jenazah wanita itu.

Betapa terkejutnya Juminten menatap jenazah yang tak utuh lagi. Spontan ia menjerit-jerit, dan membatalkan niatnya mencari rumput untuk ternaknya.

Kondisi jenzah wanita itu begitu mengenaskan. Kedua kakinya tinggal tulang. “Dari bekas lukanya, kayak habis dimakan macan.” Begitulah perkiraan Juminten, seperti dilansir detikcom, 17 November 2008.

Dukuh Krembyungan pun heboh. Apalagi, saat warga ramai-ramai melihat jenazah, melintas seekor harimau loreng. Ciri-ciri jenazah korban, berkulit sawo matang, berambut panjang, tinggi sekitar 160 sentimeter. Korban membawa tas punggung besar, lazimnya tas pendaki gunung.

Korban pun diprasangkakan pecinta alam. Kehebohan makin menjadi-jadi. Beragam rekaan dibangun warga setempat, mereka-reka tragedi kematian sang pendaki gunung.

Rekaan warga akhirnya terhenti pada kesimpulan aparat setempat. Korban bukan pecinta alam, melainkan orang gila. “Oohh…!” Begitulah reaksi seorang teman di kantor, di mana aku bekerja.
warga-merbabu1

archipelagongs.blogspot.com – Cinta seorang ibu warga Merbabu

SAYA melihat jelas ekspresi wajah sang teman, begitu tenang dan dingin. Jelas tak tergurat sedikit pun iba atau sekadar mengucap, “Innalillahi wa innalillahi roji’uun…!”

Benakku pun berkecamuk. Ingin rasanya aku mengetahui apa yang tersembunyi di balik kalbu temanku. Sengaja aku lontar pertanyaan, sedikit konyol. “Apa bedanya manusia sama harimau atau manusia dengan singa?”

Teman saya tadi terdiam sambil menatapku, lagi-lagi tanpa ekspresi. Dia mengira saya sekadar bercanda, sebelum kuulangi pertanyaan itu.

“Memangnya kenapa?” jawab sang teman, tak percaya dengan pertanyaanku yang mungkin bisa dijawab anak taman kanak-kanak, sekalipun. “Ya, aku ingin jawaban. Apa bedanya manusia dengan harimau? Itu saja!” begitu kataku.

“Serius, nih?” tanya dia seraya menatap erat-erat wajahku. Saya pun menganggukkan kepala. Sang teman pun mulai menjelaskan panjang-lebar tentang perbedaan manusia dengan harimau maupun singa.

Nyaris tak ada yang terlewatkan dari aspek fisik, sifat dan karakter, sampai nama latinnya. Saya pun memuji kecerdasan intelektual teman saya itu. “Bagaimana dengan kultur komunitas harimau?” cecarku langkah kaki temanku yang berpaling dariku terhenti.

“Maksudnya?” tanyanya. Tidakkah mereka punya budaya dalam masyarakat harimau, sebagaimana manusia punya budaya dan keluarga?
allahu_akbar

jemaah-islam.blogspot.com

SEJENAK temanku ini terdiam, lalu berlalu tanpa kata-kata. “Ohhh…!” Ya, kata itulah yang kudapat lagi. Jelas bukan jawaban yang saya cari. Tiada kudapat jawaban yang terurai dari hati temanku, sebagai makhluk yang diberi derajat tinggi oleh Allah Swt.

Ketika saya bilang antara manusia dan harimau punya kesamaan, dan satu perbedaan, sang teman balik mendatangiku. Ia seolah ingin menginterogasi bak polisi menanyai seorang tersangka.

Ia memaksa saya menjelaskan apa yang saya maksud. Menurut saya, manusia dan harimau, sama-sama ciptaan Tuhan. Lahir ke dunia, tumbuh dewasa, mati, dan ada yang lahir lagi. Kita tak tahu kemana perginya ruh harimau secara pasti, kecuali Tuhan.

Terus bedanya? “Belum…” sahutku. Jadi? “Yang lebih penting lagi, harimau punya hati. Coba perhatikan seksama, bagaimana induk harimau merawat anak-anak mereka yang penuh kasih sayang sampai dewasa.”

Sekelompok harimau pun punya ‘hukum.’ Bagi jantan yang mulai dewasa, harus pergi meninggalkan kelompoknya melalui pertarungan. Petualangan dan pencarian masyarakat harimau yang baru pun terjadi mulai awal kehidupan hingga kini.

Sekelompok harimau pun punya ikatan kekeluargaan, kebersamaan, dan cinta kasih luar biasa. Mereka selalu berbagi makanan hasil perburuan. Tak ada egoisitas dalam urusan perut.

Inilah yang membedakan dengan kita yang diberi akal budi luhur oleh Tuhan. “Maksudnya?” begitu temanku mendesak. Ya, kita yang berakal, menguasai ilmu pengetahuan, justru sangat egois. Tak peduli derita sesama kita yang kelaparan, karena kemiskinannya.

“Wah… sampean seperti pejabat atau kiai yang lagi ceramah saja!” hardik temanku. Saya pun terus bercuap-cuap, seingat yang pernah dikisahkan ustadz sohibku dulu. Lebih parah lagi, kita tak peduli kepada perempuan gila yang diterkam harimau itu.
uncategorized-nyh605

ahmad_hadi.blogs.friendster.com

Hanya karena dianggap orang gila, tak ada kesedihan dibanding yang meninggal pecinta alam. “Apa bedanya orang gila dengan pendaki gunung?” sergaku. Bukankah sama-sama manusia. Andai betul korban gila, betapa menyesalnya kita semua…

“Memang kenapa?” tanya temanku. Adakah di antara kita ingin gila sejak kecil? Bagaimana perasaan kita, jika ada keluarga yang kita cintai ada yang gila? Tidakkah kita ingin membantu agar sesama kita bisa hidup normal?

Sejenak semua teman-teman di kantor membisu, larut dalam obrolan kecil di sela penatnya pekerjaan rutin. Bayangkan keluarga kita gila dan terbuang dari masyarakat. Begitu sepinya dia, begitu laparnya dia, sehingga sampai tersesat di hutan. Dan, akhirnya meninggal secara tragis setelah diterkam harimau.

Keheningan pun menjadi kesunyian. Tiada komentar sepatah kata pun. Beberapa teman sekantor saya hanya bisa menghela napas. Kali ini jelas kutatap raut wajah mereka menjadi sedih. “Itulah sesungguhnya rasa sejati diri kita sebagai makhluk kesayangan Allah.”

Kalimat terakhir itu hanya mengutip petuah ayah saya saat remaja dua puluh lima tahun silam. Tak terasa air mata teman saya yang semula cuek itupun menitik. “OK, terimakasih! Saya mengerti sekarang,” katanya dengan mata nanar.

Ia memaksakan tersenyum, mencoba menegarkan diri lalu menuju kursinya. Peristiwa ini sekaligus pelajaran bagiku, betapa benarnya Allah Swt meniupkan ruh cinta kasih di setiap diri ciptaan-Nya. Subhanallah….! (*)