Archive for the politik global Category

Mengapa Ahmadinejad Menang?

Posted in politik global on Juni 13, 2009 by albertjoko

Oleh Abbas Barzegar, kandidat PhD studi keagamaan Universitas Emory, Atlanta, Georgia

BUKTI KESALEHAN - Ahmadinejad, putra sang pandai besi - ourkitchensink.com KESALEHAN Ahmadinejad, putra sang pandai besi – ourkitchensink.com

ELITE demokrat di negara maju, pakar serta media Barat, acapkali mengenyampingkan nilai-nilai lokal demi kelompok yang diidentifikasi sedang membawa nilai-nilai yang diyakini sebagai resultan prinsip yang berlaku global.

Taruhlah resultante itu pers dan pandangan liberal, atau imitasi gaya hidup global yang mendahului keperluan memperkuat fondasi lokal.

Pemilu Iran yang dimenangkan pemimpin garis keras Mahmoud Ahmadinejad,  Sabtu 13 Juni 2009, mengajarkan hal itu, di samping menjadi satu materi kuliah penting bagi demokrasi berkembang manapun di dunia, termasuk Indonesia.

Pemilu Iran mengajarkan, jangan pernah mengabaikan realitas lokal hanya karena menganggap nilai lokal telah tersisih oleh modernitas. Penyangkalan lokal,  misalnya tercermin dari perilaku liberal kaum perkotaan dan penepisan simbol atau atribut sosial yang melekat lama dalam masyarakat, karena dianggap kuno atau puritan.

Adalah Abbas Barzegar, sang akademisi AS keturunan Iran di antaranya, mengungkap  penyangkalan lokal itu yang berujung kekalahan kubu yang acapkali diatributi pers Barat, sebagai kaum reformis.

Inilah sadurannya….

KAMPANYE Ahmadinejad menjelang pemungutan suaraKAMPANYE Ahmadinejad menjelang pemungutan suara

SAYA berada di Iran, tepatnya sepekan untuk mengikuti pesta demokrasi pada Pemilu Iran 2009. Semenjak saya tiba di sana, hanya sedikit di negeri ini yang ragu bahwa calon incumbent Presiden Mahmoud Ahmadinejad yang provokatif ini bakal memenangkan Pemilu.

Sopir taksi yang menyertai saya mengingatkan bahwa Si Presiden telah mengunjungi semua provinsi di Irak dua kali dalam empat tahun terakhir.  “Iran itu bukan (hanya) Teheran,” katanya.

Ketika saya menanyai para pendukung Mir Hossein Mousavi (rival Ahmadinejad dari mazhab moderat), apakah tokoh jagoan mereka benar-benar akan meraih dukungan tak hanya di ibukota (Teheran)? Mereka mengutarakan jawaban-jawaban optimistis gaya Obama seperti,  “Ya, kita bisa,” “Saya kira begitu,” “Jika Anda memilih.”

Pertanyaan yang menghantui media internasional, bahwa “Bagaimana bisa seorang Mousavi kalah?” tampak tak begitu menjadi urusan Komisi Pemilihan Umum Iran dan itu tidak lebih dari persepsi keliru selama ini, yang menolak memahami peran agama di Iran.

Tentu saja, kemungkinan Pemilu curang tetap ada dan orang mesti menunggu sampai pekan-pekan mendatang untuk melihat bagaimana tuduhan itu dapat dibuktikan. Tetapi orang semestinya ingat, bahwa dalam tiga dekade Pemilu Presiden, tuduhan kecurangan jarang sekali dialamatkan ke penghitungan suara.

Pemilu di sini secara khusus dikendalikan dengan cara membatasi gerak-gerik kandidat atau menutup media massa kelompok oposisi. Sebagai tambahan lagi, dalam Pemilu kali ini, ada dua badan pengawas bentukan pemerintah yang terpisah, memungkinkan saksi semua kubu bisa mencegah terjadinya kecurangan massal dalam Pemilu.

ahmadinejad-milih

IKUT MEMILIH - Ahmadinejad bersama pejabat negara ikut memilih

KESANGSIAN atas kemenangan Ahmadinejad yang dituduh pendukung Mousavi sebagai bukti adanya kecurangan oleh negara, seyogyanya selaras ketidakpercayaan sama terhadap merajalelanya korupsi yang berlangsung terang-terangan.

Jadi, sampai ada bukti meyakinkan yang bisa membenarkan tuduhan-tuduhan oposisi, maka kita perlu melihat alasan lain yang menjelaskan, bagaimana begitu banyak orang tersihir oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi seharian itu.

Sejauh yang diperhatikan media internasional, tampaknya hanya wangsit yang layak diberitakan di balik kemenangan itu. Memang benar, bahwa para pendukung Mousavi telah membuat jalanan Kota Teheran macet selama berjam-jam tiap malam sepanjang pekan lalu. Padahal, itu hanya terjadi di bagian utara ibukota yang terkenal lebih makmur.

Para wanita menanggalkan hijabnya dan anak-anak muda berjingkrak di jalanan. Senin malam lalu, setidaknya 100.000 pendukung sang mantan perdana menteri (Mousavi) membuat rantai manusia di sepanjang Kota Teheran.

Namun, beberapa jam sebelumnya, saya juga menghadiri parade massal pendukung sang incumbent yang kurang diperhatikan pers Barat. Jumlah mereka luar biasa banyak, bahkan tidak pernah terjadi sebelum ini.

Perkiraan minimal jumlah massa yang mengikuti pidato kampanye Ahmadinejad saat itu sekitar 600.000 orang, bahkan banyak yang yakin mencapai satu juta orang. Dari loteng gedung, saya menyaksikan para wanita berjilbab dan pria-pria berjanggut, dari segala umur, berduyun-duyun berkerumun bagai aliran lava gunung berapi.

SHALAT - Di mana pun tak lupa Allah

SHALAT - Di mana pun tak lupa Allah

KEKELIRUAN dalam menaksir secara tepat hal-hal yang berkaitan Iran, bukan sekali ini terjadi. Ketika revolusi Islam 1979 berhasil menghancurkan kediktatoran militer negeri itu yang merupakan sekutu terkuat Amerika di Timur Tengah, hanya sedikit pakar di luar Iran yang memperkirakan bahwa kaum revolusioner Islam akan tumbuh menjadi satu kekuatan utama di Iran.

Tapi di Iran sendiri, cendekiawan sekuler seperti Jalal-e-Ahmad, pengarang buku Occidentosis yang terkenal itu pun telah memperkirakan rezim (Shah Iran), bakal tumbang di tangan gerakan revolusi Islam, satu dekade sebelum takdir tahun 1979 itu terjadi.

Filsuf Prancis pemberontak, Michel Foucault, juga secara meyakinkan telah meramalkan peristiwa itu, karena dia merekamnya dari dekat, dalam jarak yang para pengagumnya pun enggan melakukannya.

Sejak revolusi Islam Iran, para akademisi, intelektual dan para ahli telah meramalkan bakal runtuh cepatnya rezim (Islam Iran). Sampai sekarang ramalan mereka itu tak berbukti. Anomali-anomali seperti itu hanya bisa dijelaskan oleh sejarah.

Iran adalah masyarakat yang sangat religius. Nepotisme, otokrasi dan penindasan Shah Iran yang berdekade-dekade diperangi kaum komunis dan liberal gagal diakhiri, tetapi adalah serangan Shah terhadap kemapanan kalangan religiuslah yang mengantarkan kejatuhan Shah yang terjadi nyaris hanya dalam semalam.

Sejak itu rakyat Iran menyalurkan impian-impiannya melalui kotak suara.

2009525Rudal Iran

NUKLIR Iran mencemaskan AS dan Barat

PADA 1997 setelah asap perang Iran-Irak berhenti dan negara itu melewati satu dekade masa stabil, para pemilih berbondong-bondong memberi dukungan pada ulama yang mantan presiden (Mohammad Khatami) dalam menghadapi lawannya Natiq Nouri, anggota senior parlemen Iran.

Para wartawan Barat menyebut momen itu sebagai satu generasi yang terbelah. Yaitu, kaum muda liberal pecinta kebebasan melawan ulama-ulama tua konservatif.

Tetapi Pemilu saat itu sesungguhnya Pemilu untuk memilih kejujuran dan kesalehan (Khatami), melawan kekuatan yang dituduh korup. Dan, kini orang-orang sama yang dulu mendukung Khatami, menyalurkan suaranya untuk Ahmadinejad kemarin, padahal wajah Khatami menghiasai poster-poster kampanye kubu Mousavi.

Selama hampir sepekan dorongan sosial antikorupsi, kerakyatan dan kesalehan religius yang dulu melahirkan revolusi Islam tampak kembali di jalanan untuk dipungut oleh rakyat Iran. Untuk sebagian besar rakyat negeri itu, Ahmadinejad adalah perwujudan dorongan-dorongan impian (tentang pemimpin antikorupsi, merakyat dan saleh) ini.

Sejak pertamakali masuk ke kantornya, Ahmadinejad menolak mengenakan jas mahal. Menolak meninggalkan rumah yang diwarisinya dari sang ayah, dan menolak mengendurkan retorika yang digunakan melawan mereka yang dituduh sebagai pengkhianat bangsa.

Manakala secara terbuka dia menuduh mantan pesaingnya yang tanggal dari kekuasaanya, Ayatollah Ali Akbar Hashemi Rafsanji, sebagai singa terhadap revolusi, koruptor parasit dan membandingkan pengkhianatan Rafsanjani dengan pengkhianatan terhadap Nabi Muhammad SAW yang menyebabkan syiah dan suni bermusuhan selama 1.400 tahun.

Ahmadinejad menawarkan rakyat satu tarikan (moral) yang beberapa generasi lamanya diimpikan rakyat. Ketika Rafsanjani membela diri melalui suratkabar pro-Mousavi, maka tamatlah riwayat kaum reformis.

Iran_Presiden

SAHAJA - Di mana pun tidur bersahaja

Jujur

PEKAN lalu Ahmadinejad bak mengubah Pemilu menjadi referendum untuk menentukan bagaimana sikap bangsa Iran terhadap prinsip asasi revolusi Islam. Slogan jalanan mereka berbunyi, Matilah semua orang yang melawan Imam Tertinggi yang kemudian diikuti ritual dan pepujian religius khas syiah.

Slogan itu bukan tandingan semboyan ceria penuh semangat dari kaum muda Teheran utara, yang menyanyikan, Ahmedi-bye-bye, Ahmedi-bye-bye atau ye hafte-do hafte, Mahmud hamum na-rafte (Sepekan, dua pekan, Mahmoud tidak mandi).

Mungkin sejak awal Mousavi memang ditakdirkan akan gagal, begitu dia berharap bisa menggabungkan energi terang antara kelas sosial atas yang liberal dengan kepentingan bisnis pedagang pasar.

Kampanye lewat facebook dan via SMS pun tidak relevan dengan kaum pedesaan dan kelompok pekerja yang setiap hari berjuang memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mereka. Banyak sekali yang tidak mempunyai waktu untuk sekedar pergi ke warung-warung internet untuk mengecek blog mereka.

Kendati Mousavi berupaya menarik kelas pemilih seperti ini, dengan cara mengupas masalah seputar inflasi dan kemiskinan, mereka malah memilih lawan Mousavi.

Oleh karena itu, di masa mendatang, para pengamat (Barat) mesti mempelajari lebih dalam lagi masyarakat Iran, sehingga diperoleh gambaran lebih faktual mengenai struktur negara ini yang sangat religius organik, untuk kemudian disampaikan dalam narasi keniscayaan liberal.

Adalah aspek-aspek religius unik Persia yang mengantarkan seorang sufi terusir berusia 80 tahun menjadi kepala negara 30 tahun lalu (Ayatollah Ruhallah Khomeini), kemudian ulama kharismatis Khatami 12 tahun lalu, terus seorang putra pandai besi yang jujur, Ahmadinejad mpat tahun silam, dan hal sama terjadi Jumat 12 Juni 2009.  (reuters/antara)

Hussein Nama Istimewa Si Obama

Posted in politik global on Desember 12, 2008 by albertjoko
  • Teror Di Balik Topeng Demokrasi Koboi AS
saddam-kena-tangkap1

Presiden Saddam Hussein ditangkap secara keji tentara zionis - bp2.blogger.com

PRESIDEN Amerika Serikat terpilih, Barack Obama berjanji mengikuti tradisi pelantikan presiden khas Negeri paman Sam. Ia akan menggunakan nama lengkapnya saat disumpah sebagai presiden AS.

Barack Hussein Obama, nama penuh sang demokrat berkulit hitam ini. Nama tengah nan istimewa Obama itu, pernah menjadi sasaran ‘tembak’ McCain sepanjang kampanye melelahkan di AS.

Lawan politik Obama selalu menggunakan komoditas nama Hussein sebagai black campaign. Hussein diberi stigma, bahwa Obama sebagai pemeluk Islam yang secara diam-diam menjalin hubungan dengan jaringan teroris.

Sejatinya, Obama justru pemeluk Kristen. Nama berbau Timur Tengah ini, bisa jadi memberi kontribusi kemenangan Obama selain kepiawaian, integritas dan kapabilitas politik sang politikus muda itu.
“Saya kira tradisinya adalah mereka semuanya memakai tiga nama, dan saya akan mengikuti hal itu,” tegas Obama kepada Tribune dalam wawancara yang dilansir di laman internet Obama, Rabu, 10 Desember 2008 dinihari.

“Saya sama sekali tak berusaha membuat pernyataan apapun. Saya hanya akan melakukan apa yang diperbuat orang lain,” jelas Obama.

bush_iraq_oil_2003_450

Menjarah Di Balik Kata Mutiara Membela - http://www.dancewithshadows.com

SAINGAN Obama dari Partai Republik, John McCain, pernah menegur seorang pendukung dalam kampanye karena menyebut Obama dengan nama lengkapnya, dengan menyatakan hal itu sebagai ‘kurang tepat’.

Ketika menyatakan dukungannya pada Obama, Oktober 2008 lalu, mantan Menteri Luar Negeri Colin Powell mengecam mereka para penyebar desas-desus yang tidak benar dengan menyatakan Obama sebagai Muslimin.

Menurut jenderal purnawirawan kulit hitam itu, kabar angin itu mencerminkan prasangka keagamaan. Subhanallah…! Obama memang belum memeluk Islam, sebagaimana saudara Michael Jacson di AS.

Betapa indah dan nikmatnya Islam belum dipahami. Hidayah belum turun dalam diri Obama. Itu faktanya… Namun, gunjingan sampai rumor yang ‘menyerang’ Obama karena bernama Hussein (Muslim), membuktikan betapa menyedihkannya masyarakat yang mengklaim supermodern itu.

Amerika Serikat selalu menjalankan standar ganda dalam berpolitik. Dusta besar, bila mereka telah menerima secara ikhlas, menghormati dan menghargai Islam. Klaim negara demokratis, faktanya democrazy!!!

Amrozi, Imam Samudera dan Ali Gufron boleh secara hukum formil duniawi dianggap teroris. Tapi, sesungguhnya teror psikologik, teror hati ala Amerika Serikat lebih menyakitkan.

Apa yang dilakukan Amerika Serikat di Afghanistan? Irak? Pakistan? Dan, hampir di setiap jengkal bumi ini? Pembunuhan massal setiap invasi, apa pun dalihnya, agresi negeri adidaya itu hakekatnya terorisme yang dilegalkan. Allahu Akbar! (afp/TG/ant)

Panglima Pasukan AS di Timteng Mundur

Posted in politik global on Maret 12, 2008 by albertjoko
  • Menentang Kebijakan Bush Perangi Iran
  • Ironi Politik Atau Peringatan Allah

bush (kiri) dan fallon…     fallon1

NEGERI Koboi kian menunjukkan dinamika ‘rasa’ kemanusiaanya di abad 21 ini. Elit-elit negeri adidaya itu seolah mulai menyadari, betapa pentingnya nilai hidup dan persaudaraan dengan sesama manusia.

Apabila politik internasional Amerika selama ini dikenal adi gang adi gung alias ‘polisi dunia’ yang bertumpuh pada kepentingan ekonominya, Allah mulai sedikit membuka hati di antara pejabat negeri Paman Sam itu.

Yang teranyar adalah mundurnya Panglima Pasukan AS untuk Timur Tengah, Laksamana William Fallon. Selasa, 11 Maret 2008 lalu, Fallon mengungkapkan sikapnya undur diri menyusul meruyaknya berbagai laporan yang melansir perselisihannya dengan Presiden George W Bush mengenai Iran.

Sikap berseberangan itu tak urung meimbulkan gangguan dalam tugasnya. Menteri Pertahanan AS, Robert Gates juga telah mengumumkan ke publik, bahwa ia telah menyetujui pengunduran diri Fallon dengan berat hati dan perasaan menyesal.

Gates mengatakan ada salah persepsi yang menyebutkan laksamana tersebut berseberangan dengan pemerintah terkait Iran. Lewat pernyataannya, Bush memuji Laksamana Fallon y ang telah mengabdi selama lebih dari 40 tahun.

Sayang Bush sama sekali tak menyebutkan sikapnya yang berseberangan dengan Fallon mengenai Iran, seperti artikel dilansir majalah Esquire yang kemudian memicu pengunduran diri Fallon. “Fallon mengabdi kepada negara ini dengan terhormat, penuh tekad dan komitmen,” puji Bush.

Berakhir di sini sajakah? Tidak! Pengunduran diri Fallon itu dianggap aneh dalam tradisi politik Amerika. Adalah Partai Demokrat yang menggugat dengan penuh skeptisme. Partai lawan Bush (Republik), menilai pengunduran diri mendadak kepala komando pusat AS itu diyakini akibat paksaan pemerintah.

Pemimpin mayoritas di Senat, Harry Reid, menganggap peristiwa itu sebagai contoh lain bahwa kebebasan dan blak-blakan, dengan mengungkapkan secara terbuka pandangan ahli, tidak disambut pemerintahan ini.

Namun, Gates mencoba menepis. Ia menegaskan, tidak ada perbedaan berarti, pandangan Fallon dan pemerintah mengenai Iran. Apakah pengunduran diri Fallon pertanda AS bersiap memerangi Iran? “Wah, itu benar-benar menggelikan!” kata Gates.
potret perang Iran…perang iran

Penulis Esquire, Thomas Barnett, menggambarkan Fallon sebagai sosok di antara Perang dan Perdamaian. Ia memujinya, karena menenangkan ketegangan dengan Iran 2007 lalu, sekaligus menentang langkah Gedung Putih untuk berperang.

“Para pengamat saat ini mengemukakan bukanlah sesuatu yang mengejutkan, jika Fallon melepaskan kedudukan sebelum masa jabatannya habis pada musim semi mendatang, bahkan mungkin musim panas sekarang, demi panglima yang dianggap Gedung Putih lebih lunak,” tulis Barnett.

“Jika hal itu akan terjadi, mungkin artinya presiden dan wakil presiden bermaksud mengambil tindakan militer terhadap Iran, sebelum akhir tahun ini dan tidak ingin ada panglima yang menghalangi mereka.”

Fallon juga menarik perhatian media, November 2007 lalu, ketika Bush gencar menyudutkan Iran. Dalam wawancara dengan Financial Times, ia memperingatkan bahwa genderang spekulasi pers tentang aksi militer AS tidak membantu memperbaiki situasi.

Fallon mengatakan, “Berita-berita yang memperkirakan adanya perbedaan pandangan saya dengan sasaran kebijakan presiden telah menjadi gangguan pada saat kritis dan menghalangi langkah di wilayah yang menjadi kewenangan Centcom.”

“Meski saya tidak yakin pernah ada perbedaan pandangan mengenai sasaran kebijakan kami di wilayah kewenangan Komando Pusat, persepsi sederhana yang ada membuat saya sulit mengamankan kepentingan-kepentingan Amerika di sana.”

Letnan Jenderal Angkatan Darat Martin Dempsey, orang kedua di Komando Pusat, disebut-sebut akan menjadi pelaksana tugas menggantikan Laksamana tersebut. Fallon adalah mantan pilot pesawat tempur pada Perang Vietnam dan memimpin Komando Pusat setelah bertugas sebagai panglima pasukan AS di Pasifik, tempat ia memfokuskan perhatian pada peningkatan hubungan militer dengan China. (afp/ant/*)

Rombongan Presiden RI Serba Hitam di Iran

Posted in politik global on Maret 10, 2008 by albertjoko
  • Simbol RI tak Berada di Ketiak Amerika
  • Sibuk Sulap Penampilan Muslim di Pesawat

  keakraban ahmadinejad- SBY…   sby

KEPALA Negara RI, Susilo Bambang Yudhoyono tampil beda saat mengunjungi Iran, Senin 10 Maret 2008. Selain menegaskan simbol RI tak berada di ketikak Amerika Serikat, kunjungan ini terasa istimewa bagi rombongan wanita.

Mengapa bagi kaum wanita? Ya, karena adat kebiasaan di Iran yang mengharuskan kaum Hawa mengenakan busana muslim berwarna gelap menutupi seluruh badan, kecuali wajah.

Satu jam sebelum pesawat kepresidenan Airbus 330-300 mendarat di Bandara Internasional Mehrabad, Teheran, Iran, anggota rombongan wanita sibuk membongkar tas masing-masing. Mereka mengeluarkan baju panjang dan kerudung hitam.

Nah, lo! Suasana pesawat kepresidenan pun riuh ketika sesama anggota rombongan saling membantu rekannya mengenakan kerudung, mengingat hampir sebagian besar wanita yang turut dalam rombongan SBY tak mengenakan busana muslim.

Para staf kepresidenan, termasuk para ajudan dan wartawati tidak terkecuali harus mematuhi anjuran itu. Di saat para wanita dsbuk melilitkan kain untuk menutup kepalanya, sejumlah staf kepresidenan melenggang santai setelah mengemasi barang bawaannya.

 razia busana di Iran … razia

Usut punya usut, ternyata mereka berpikir lebih praktis membawa kerudung siap pakai. Kerudung yang sudah dijahit seluruh sisinya, sehingga tinggal dipakai seperti memakai topi.

Rampung ‘menyulap diri’ di antaranya mereka sibuk berfoto-ria, terutama mereka yang non-Muslim sehingga pengalaman pertama kalinya mengenakan kerudung.

Sudah rahasia umum, rangkaian kegiatan di Iran senantiasa mewajibkan kaum wanita mengenakan baju abaya atau rufus . Sedangkan bagi pria mengenakan kemeja. Mereka yang tak terbiasa, tentulah merepotkan.

Pejabat KBRI Teheran juga menganjurkan agar rombongan tak merokok di tempat umum dan mengucapkan kata salam sebagai pengganti hai atau hallo. Di Iran juga tabu bagi wanita mendendangkan lagu di depan umum atau bersalaman antara pria dan wanita.

 simbol kemandirian…  iran

Kehadiran SBY di Iran juga memberi makna simbolik dari resolusi PBB untuk ketiga kalinya yang memberi sanksi Iran. Belum sepekan PBB menjatuhkan sanksi. Iran dianggap membangkang dalam pengembangan teknologi nuklir.

Amerika Serikat dan sekutunya begitu keras menghadapi Iran, karena dilatari prasangka buruk dari karya nuklir negeri tentangga Irak ini. Presiden Iran Ahmadinejad telah sekuat tenaga meyakinkan, pengembangan nuklir Iran bertujuan untuk kemaslahatan umat.

Tidak seperti kecurigaan Barat, Iran sedang mengembangkan senjata pamungkas dengan memanfaatkan energi nuklir. Namun, Amerika bergeming. Indonesia kali ini menyatakan abstain dalam voting sidang PBB, awal Maret 2008.

“Kunjungan itu bisa bermakna Indonesia tak mau dicap negara berpenduduk mayoritas Islam terbesar di dunia yang berada di bawah kendali AS. Kita harus ubah citra itu. Kita tidak di ketiak AS,” tegas Dedy Djamaluddin Malik dari Fraksi Partai Amanat Nasiona DPR.

Dedy menilai kunjungan SBY itu sekaligus bisa memulihkan kembali hubungan harmonis RI – Iran, karena sikap Indonesia yang mendukung resolusi sebelumnya. Pasca dukungan pemerintah Indonesia saat itu, SBY sempat bolak-balik digugat DPR melalui hak interpelasi.
takut ledakan nuklir nih…     nuklir

Anggota Komisi I DPR RI, Andreas H Pareira memberi apresiasi sama atas `keberanian` SBY mengunjungi Iran selama 10-12 Maret 2008. Kunjungan SBY bisa diartikan balasan atas kunjungan Ahmadinejad 2007 lalu.

“Tapi, mungkin juga dimuati pesan AS, mengingat beberapa waktu lalu Menteri Pertahanan AS, Robert Gates menemui SBY di Jakarta. Bisa saja kunjungan ke sana dalam rangka membujuk Iran, agar lebih lunak dan mematuhi resolusi PBB mengenai pusat reaktor tenaga nuklirnya,” tuturnya.

Dari sudut kepentingan Indonesia, memang perlu mempererat hubungan dengan Iran. “Karena negara itu di bawah Presiden Ahmadinejad kelihatan mengarah menjadi kekuatan utama di Timur Tengah,” kata Andreas. (ant/*)