Archive for the tajuk Category

Kemiskinan Moral Pemimpin

Posted in tajuk on Agustus 4, 2012 by albertjoko
Simbol Kekuasaan

Kekuasaan yang tak amanah mengundang bencana kemanusiaan

ACUNGAN jari tengah Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo (Foke) di Senayan, Jakarta Selatan, Minggu 15 April 2012 sore, memantik keprihatinan publik.

Tak hanya jadi trending topics di jejaring sosial, Twitter maupun Facebook. Calon Wakil Gubernur Jakarta dari jalur independen, Biem Benyamin pun turut jengah.

Biem menilai simbol jari itu tak pantas, dan menyangsikan Foke yang beralasan tak tahu-menahu makna acungan jari tengah. Pelajaran teramat penting dan berharga bagi kita, terutama yang mengemban amanah sebagai pemimpin. Tak cukup kata-kata, bahasa tubuh, termasuk gerakan jari wajib benar dan bijak.Mencapai perbuatan benar dan bijak, tentu membutuhkan pemahaman. Apa pun yang kita hadapi dan kerjakan, termasuk acungan jari tengah, naif asal pakai. Simbol jari tengah yang notabene produk “budaya” asing, memiliki makna bertolak-belakang budaya adi luhung bangsa kita.

Pantangan, tabuh atau pamali bagi pejabat publik mengacungkan jari tengah ala anak band atau lainnya. Merujuk sejarah simbol acungan jari tengah ini, memiliki makna vulgar.

Simbol jari itu identik fuck you (F-word). Pertama kali digunakan dalam kata kerja, to have sexual intercourse (untuk melakukan hubungan intim) dalam tulisan Flen Flyys tahun 1475. Makna lainnya, dampratan. Seperti persetan dan sejenisnya. Secara politik bermakna ejekan pada masa perang Inggris-Prancis tahun 1415.

Prajurit Inggris yang tertangkap pasukan Prancis, jari tengahnya dipotong. Tujuannya, para prajurit Inggris tak mampu memanah dan menggunakan pedang untuk berperang.

Inggris memiliki senjata khas yang dinamakan English Longbow, buah karya suku asli Inggris yang hidup di pepohonan. Teknik menggunakan English Longbow itu disebut Plucking The Yew.

Hikmah Memilih

Memilih tak sesuai hati nurani akan berakhir nestapa

Segala Cara
Faktanya, Inggris tetap memenangi peperangan, lalu memunculkan ejekan pada Prancis dengan acungan jari tengah. Ejekan ala AS dimanifestasikan melalui F-wordtahun 1951.Makna ejekan ataupun berlatar niat seks, tetap tabuh bagi pejabat kita mengacungkan jari tengah. Ejekan memberi makna tak terkendalinya emosi. Manifestasinya, seseorang marah, kesal dan sejenisnya. Tentu bukan cermin patut bagi pejabat.

Apalagi, jika acungan jari tengah dimaksudkan terkait hubungan intim. Sangat naif, tragedi moral bagi pemimpin di negara kita. Seorang pemimpin wajib memahami sikap dan perbuatannya. Tak boleh bicara, tetapi tak memahami makna kata-katanya.

Jangan pula berbuat sesuatu tanpa memahami perbuatannya, termasuk manfaat dan mudharat-nya. Kita pun tak boleh asal ikut budaya populer saat ini, jika tak memahami maknanya. Alasan anak band gemar dan beken mengacungkan jari tengah, bukan berarti Foke maupun pemimpin lainnya mengikuti begitu saja.

Jika kita mencintai bangsa, tak boleh ambisi pribadi mengalahkan keutamaan visi bangsa. Tujuan menjaring suara sebanyak-banyaknya dari kaum muda saat pemilihan gubernur Jakarta bagi Foke, naif diraih melalui acungan jari tengah.

Tak mengerti arti atau guyonan, bukan alasan bijak dan bajik. Lazimnya, kita tetap tawadhu mengamalkan nilai-nilai religi, norma budaya dan norma sosial masyarakat tercinta.

Salah substansial dalam memilih kultur kepemimpinan, hanya memantik “api” kehancuran peradaban masyarakat. Ibarat guru kencing berdiri, maka murid akan kencing sambil berlari.

Cukup Foke keseleo. Pemimpin dan calon-calon kepala daerah di Tanah Air, patut memetik hikmah. Jangan sampai mengulangi cara serupa, atau menghalalkan segala cara untuk meraih jabatan di dunia.  (*)

Iklan

Debat Tanpa Beda Pendapat

Posted in tajuk on Juni 23, 2009 by albertjoko

*Bunga Rampai Pemilu Indonesia

*Kontemplasi Demi Bakti Negeri


idebate

DEMOKRASI - Niscaya perlu debat demi safaat rakyat

DEBAT calon presiden (Capres) yang disiarkan langsung dari Studio Trans Corporation, Jakarta, Kamis 18 Juni 2009 malam, memantik benih-benih kekecewaan publik Indonesia.

Jutaan rakyat di Tanah Air maupun di luar negeri yang berharap mengetahui pandangan dan strategi ketiga Capres dalam membangun pemerintahan bersih, menegakkan supremasi hukum dan hak asasi manusia (HAM), berakhir tanpa jawaban spesifik dan memuaskan.

Tak seorang pun kandidat menjelaskan secara gamblang dan terukur, isu-isu sentral yang diplot dalam tema Tata Kelola Pemerintahan yang Baik dan Bersih serta Menegakkan Supremasi Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Yang ada hanya pandangan-pandangan retorik nan usang, karena publik telah mengetahui sebelumnya, baik saat kampanye maupun pada kesempatan lain. Capres Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), maupun Jusuf Kalla (JK), lebih banyak berpidato daripada menyatakan pandangan serta strateginya memenuhi impian rakyat lima tahun mendatang.

Hampir dua jam debat yang dipandu Rektor Universitas Paramadina Jakarta, Anies Rasyid Baswedan, tak ubahnya “lomba pidato.” Ketika tiba sesi tanggapan Capres atas pandangan Capres lain pun, bukan beda pendapat, kritikan, apalagi serangan ala debat Capres di Amerika Serikat.

Yang terjadi justru sebaliknya. Ketiga Capres saling dukung, saling tawa. Bagus, akrab dan damai memang. Pendek kata, mereka satu visi dengan gaya berbeda.

april_03_rumah miskin_theglobejournal.com

ALLAH - Kepada siapa mereka menggantungkan masa depan?

RAKYAT pun sulit memahami Capres mana yang sungguh-sungguh mampu menciptakan good and clean government. Pemerintahan yang baik, bersih dan berwibawa. Tanpa pungutan liar (Pungli), antikorupsi, kolusi dan nepotisme, serta mampu melenyapkan sikap pejabat yang minta dilayani rakyat.

Harapan rakyat yang membuncah untuk menikmati pemerintahan bersih, tetap terpasung dalam “sejuta impian.” Pungli dan KKN tetap jadi momok, mulai urusan rakyat kecil tentang Kartu Tanda Penduduk, sampai izin usaha yang diperlukan kalangan entrepreneur.

Bukan rahasia umum, sampai saat ini sektor-sektor layanan publik kental gurita Pungli (KKN). Begitu kuatnya gurita ini di sektor layanan publik, Komisi Pemberantasan Korupsi sampai memberi perhatian khusus pada tahun ini.

Sayang seribu sayang, ketiga Capres gagal menjelaskan dan mengurai pandangan dan strateginya menanggulangi masalah pelik rakyat, sekaligus mengentas ke “surga” good and clean government. Isu strategis lain pun, kasus lumpur Lapindo, pertahanan negara (Alutsista TNI), jaminan hukum tenaga kerja Indonesia, terbengkalainya pembahasan RUU Tindak Pidana Korupsi sampai kepastian dan keadilan hukum bagi korban kejahatan HAM, gagal diapresiasi para kandidat presiden.

Ketiga Capres lebih mempertontonkan kesamaan pandangan retoriknya, dan saling dukung. Satu- satunya yang sedikit beda hanya pandangan Megawati tentang kasus Lapindo. Capres PDIP ini menilai pemerintah SBY tak tegas, sehingga memantik masalah makin pelik dan terkatung-katung.

demokrasi

PANCASILA - Urgen Anak Negeri yang berani menyatakan kebenaran danberjuang demi rakyat, bangsa dan negara tercinta ini

SELEBIHNYA Megawati, SBY dan JK “satu kata,” termasuk rekonsiliasi yang diyakini sebagai solusi terkatung-katungnya kasus pelanggaran berat HAM. Keluarga-keluarga korban HAM pun tak bisa dipungkiri kecewa berat. Bertahun-tahun berharap keadilan dan kepastian hukum, namun lima tahun ke depan seolah harapan itu terkubur.

Alasan SBY memilih solusi rekonsiliasi, karena kompleksitas penyelesaian kasus HAM yang menahun. Ironisnya, selama masa pemerintahannya, upaya rekonsiliasi gagal diwujudkan. Bahkan pengajuan nama calon anggota Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi justru berhenti di meja presiden. Ambiguitas yang sangat mungkin terkait masa lalu sang presiden.

Jawaban tak memuaskan serupa dikemukakan dua Capres lain, yang notabene mengusung mantan- mantan jenderal TNI sebagai Cawapres. Sinyal tiadanya komitmen membawa kasus pelanggaran berat HAM ke meja hijau, menjadi parameter kelabunya penegakan supremasi hukum dan HAM lima tahun mendatang.

Akankah janji-janji menggiurkan para kandidat hanya trik menarik dukungan rakyat? Janji terindah tentang kemakmuran rakyat, tak cukup membuat anak bangsa hidup damai lahir batin, tanpa jaminan tegas dan terukur tentang hak-hak asasi. Bukankah hak asasi dan supremasi hukum menjadi sendi berdirinya negara ini?

Sebagai warga yang mencintai negeri ini, kita berharap pada empat debat tersisa, para Capres tak terjebak kerikuhan pribadi dan golongan. Namun, tegas, jelas dan jujur mengurai pandangan dan strateginya secara terukur demi rakyat, bangsa dan negara. Saatnya Capres membuktikan kesungguhnnya kepada rakyat secara terbuka. Semoga! (*)

Momentum Kebangkitan Kalbar

Posted in tajuk on Desember 26, 2008 by albertjoko
  • Ritulisme dan Pengamalan Natal 2008
  • Nikmatnya Rahmat Cinta dari Perbedaan
NATAL

SILATURAHMI - Uskup Kardinal Julius Darmaatmadja menyalami seorang muslimah saat silaturahmi tokoh agama usai misa Natal di Gereja Katedral St Petrus, Bandung, Jawa Barat, Kamis, (25/12) - ANTARA/REZZA ESTILY

NATAL kembali tiba. Semua umat Kristiani di Kalimantan Barat, Indonesia dan di dunia begitu suka cita menyambut perayaan hari istimewa ini.

Di Jakarta, segenap umat Kristiani menggelar perayaan bersama di Jakarta Covention Center (JCC), 27 Desember 2008. Tak tanggung-tanggung, puncak perayaan Natal ini menyedot biaya yang fantastis.

Panitia perayaan bersama mengalokasikan dana Rp 3,4 miliar. Dana sebesar itu terbagi Rp 1,4 miliar untuk puncak perayaan Natal, dan Rp 2 miliar kebaktian sosial.

Luar biasa untuk momentum perayaan hari besar keagamaan yang diprakarsai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Purnomo Yusgiantoro ini.

Momentum indah, sekaligus istimewa. Umat Kristiani Jakarta tak hanya suka cita memeringati Natal, tapi sekaligus menjadikan momentum tersebut sebagai ajang mengamalkan hikmah Natal. Kebaktian sosial, identik upaya pengamalan nilai-nilai dasar dari cinta kasih sesama yang diajarkan Tuhan.

Melalui cinta kasih sesama yang tulus, kehidupan damai dan sentosa akan terbangun dengan kokoh. Pendek kata, surga terbuka lebar. Kegiatan nyata seperti inilah yang patut diteladani dan dikembangkan di semua wilayah negeri tercinta ini.

Kebaktian sosial tidak tertuju kepada umat agama Kristen saja, melainkan segenap umat manusia. Artinya, membantu sesama manusia tidak memandang asal agamanya. Tidak juga menilai suku, ras dan golongan apa.
love-clouds

KETULUSAN membantu lebih digerakkan dorongan rasa, hati nurani sebagai manusia sejati. Manusia dengan harkat dan martabat tertinggi di antara mahkluk yang diciptakan Tuhan Yang Maha Esa.

Suatu usaha sederhana yang luar biasa bagi kebangkitan persaudaraan antarumat manusia di Indonesia, bahkan dunia sekali pun. Upaya-upaya seperti ini, apabila dilandasi dengan ketulusan hati nurani, akan menjadi senjata terampuh dalam merekatkan segenap elemen bangsa Indonesia.

Selama tiga dasa warsa lebih, perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara kita, masih diwarnai kejadian-kejadian bermuatan SARA. Sentimen keagamaan begitu kuat tersembunyi di balik kehidupan sehari-hari.

Tak jarang benturan, konflik hingga kerusuhan pernah melanda beberapa daerah di negeri tercinta kita. Toleransi yang dibuktikan dengan kebaktian sosial seperti dilaksanakan umat Kristiani Jakarta, potensial menjadi pintu meluaskan persaudaraan antar anak bangsa.

Tidak lagi terjebak pemikiran sempit, apalagi dipolitisasi sehingga memantik sentimen antarumat beragama. Peristiwa demi peristiwa kerusuhan SARA yang terjadi, menjadikan kita sadar bahwa kita harus menerima perbedaan.

Kita harus kuat dan bersatu dari aneka agama, suku, ras, asal- usul dan golongan. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harus kita perjuangkan bersama melalui ke- Bhineka Tunggal Ika-an kita. Tak ada masyarakat, bangsa dan negara di jagad raya ini yang murni homogen agamanya.

Selalu ada yang beda. Ada yang beragama Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Budha, Khonghucu maupun lainnya. Hak asasi tiap manusia menentukan agama yang dipeluknya. Hak paling hakiki pula bagi manusia meyakini kepercayaannya.

kasih-sesama1

Afirmasi cinta sejari - photobucket.com

DI era global saat ini, tak lagi zamannya memaksakan kehendak. Kebersamaan kita dari keberagaman inilah yang melahirkan negara republik Indonesia. Kita sebagai generasi di abad global, wajib mengokohkan konsensus nasional ini. Bukan sebaliknya!

Para pejuang kemerdekaan telah membuktikan ketangguhan kebersamaan dalam perbedaan ini dalam melawan penjajah. Itu sebabnya, tidak ada alasan sepatah kata pun kita menyatakan tak bisa. Apalagi, situasi dan kondisi, ruang dan waktu kita jauh lebih baik dibanding zaman penjajahan yang dialami para pejuang kita.

Hidup di negara demokrasi seperti Indonesia, membuka peluang luas tiap anak bangsa bersikap dan berbuat kebaikan untuk keluarga, tetangga, masyarakat, daerah, bangsa dan negara tercinta kita.

Soliditas kerukunan umat beragama akan menjadi dasar kuat membangun kehidupan beraneka latar belakang. Kerusuhan etnik, seperti pernah melanda Kalbar, bisa dieliminir, apabila kerukunan antarumat bergama kita kokoh.

Kerusuhan etnik atau apa pun namanya, wajib kita jadikan pelajaran penting. Memetik hikmah dan membangun kemuliaan kehidupan, harus menjadi imperative ideas tiap warga yang mencintai bumi Kalbar ini.

Meneladani cinta kasih tulus Tuhan adalah sumber kemuliaan kehidupan. Di dunia maupun setelah kita mati. Tak setitik noda pun mengandung kebencian, apalagi nafsu membunuh di dalam ajaran Tuhan.

Oleh karena itu, kita wajib introspeksi diri, bila masih ada kebencian terhadap sesama yang berlatar perbedaan agama atau latar belakang lainnya. Apakah kita yang tak mengenal Tuhan atau kita berpura-pura paling taat Tuhan di hadapan sesama manusia.

Natal, sebagaimana Idul Adha dalam Islam, sama-sama memuat hikmah belas kasih sesama. Menyayangi sesama manusia ciptaan Tuhan. Kendati tak mungkin mencampur-adukkan ajaran antaragama, para pahlawan bangsa kita membuktikan mampu menyatukan hati dalam kebersamaan hidup berbangsa dan bernegara.

Kini Natal juga jatuh pada momentum krisis finansial global. Perekonomian negeri kita pun sedang kembang-kempis. Dan, puluhan juta sesama kita hidup di garis kemiskinan. Hanya ketulusan hati nurani kita yang menuntun perbuatan kebajikan demi kemuliaan Tuhan semesta alam. Selamat Natal, semoga Tuhan memberkati kita semua! (*)

Nikmat Kurban di Saat Krisis

Posted in tajuk on Desember 8, 2008 by albertjoko
  • Mencintai Sesama Demi Peradaban Mulia
  • Ironi Kemilau Harta Tahta Sesaat di Dunia
148467r78ouo1j9a2

Selamat Idul Adha saudaraku

SENIN 8 Desember 2008, umat Islam di seluruh dunia merayakan Hari Raya Idul Adha atau juga dikenal sebagai Hari Raya Haji.

Tiap tahun segenap kaum Muslimin diingatkan dan belajar peristiwa luar biasa tentang cinta Nabi Ibrahim As kepada Allah Swt. Begitu besar cinta dan ketulusan Nabi Ibrahim, sampai ikhlas mengorbankan putranya, Ismail As.

Teladan mulia untuk membangun ketaatan kepada Allah. Idul Adha juga potret usaha membangun ketabahan, kekuatan dan persaudaraan sesama manusia.

Idul Adha atau Idul Kurban juga mengandung makna mulia tentang nikmatnya ibadah. Tak hanya memberi teladan membangun persaudaraan tulus, Idul Kurban memberi petunjuk kepada kita semua untuk mencintai alam sekitar demi terwujudnya peradaban mulia.

Di era kini, Idul Adha menjadi pelajaran istimewa. Betapa urgennya dalam dunia super individualistik ini, kita mengamalkan nilai-nilai kemanusian. Bukan hanya yang tertuang dalam tatanan formal, seperti yang diemban Komisi Nasional tentang Hak Asasi Manusia (HAM).

Penghormatan nilai-nilai kemanusian bersifat universal, untuk semua umat Allah. Negara hanya membatasi komunitas manusia yang menjalin kesepakatan hidup bersama dalam tananan legal formal.

Nilai kemanusiaan yang terkandung dalam Idul Adha bersifat hakiki dalam kehidupan di dunia dan akhirat. Cinta ini seiring perjalanan waktu, cenderung aus, bahkan sirna akibat dominannya egoisme yang berpijak pada hawa nafsu.

Amat ekstrem ketika kita berada dalam masyarakat modern, atau negara yang mengklaim diri sebagai negara supercanggih. Kota-kota megapolitan, dan apa pun sebutannya yang umumnya lebih berorientasi pada penghargaan dunia materi.

Ibarat dua sisi mata uang. Makin tinggi menghargai materi, nilai kemanusiaan makin rendah nilainya. Segenap anggota masyarakat pun cenderung alpa terhadap indahnya mencintai sesama manusia, sekali pun bukan saudara sekandung.

Lebih parah lagi, ada yang sampai lupa jati diri sendiri. Dunia modern di Abad Global, memang cenderung  menenggelamkan kesadaran sejati. Kita lebih banyak terperangkap pada kesibukan rutin yang umumnya berorientasi pada materi, kekuasaan dan harta duniawi.

Hati seolah beku di bawah bayang-bayang rasionalitas otak. Tiap detik hanya memikirkan, bagaimana menghimpun dan menguasai harta sebanyak- banyaknya. Merintis karir setinggi-tingginya demi tahta. Kecenderungan nafsu tiada batas.

Tiada lagi kontrol diri. Pupus sudah kesadaran sejati, bahwa kita hanya manusia lemah di hadapan Allah. Manusia bahkan mengidentifikasi diri sebagai mesin hitung.  Semua diukur berapa tekanan pada tuts untuk menghasilkan uang dan kesenangan lain.

87642232

Hanya Allah tempat berlindung - photobucket.com

SIKAP dan perbuatan pun serba instan. Manusia telah bahagia menempatkan dirinya sebagai mesin. Apa saja diukur dari kepentingan diri. Individualistik, egois dan menjauhkan kepedulian kepada sesama.

Menjadi pejabat pun kita cenderung menempatkan diri bak raja. Menjadi penegak hukum juga suka mempedaya sesama. Jadi politikus pun suka-suka mengkhianati rakyat. Maka, korupsi, kolusi, dan nepotisme menjadi metode nyata.

Tak terkecuali saat kita menjadi pengusaha. Umumnya, lebih suka memupuk harta ketimbang mengempati penderitaan sesama. Tanggungjawab sosial perusahaan atau sebutan menterengnya corporate social responsibility (CSR), hanya dijadikan tameng mengatasi kecemburuan sosial.

Allah Maha Adil, lambat laun, pengusaha-pengusaha tak berhati pun terjebak korupsi dan masuk bui.  Siapa pun kita, dan apa pun identitas kita, tak lebih manusia biasa. Manusia yang lahir tanpa daya.

Lahir dengan fitra makhluk berderajat tinggi di antara ciptaan Allah.  Derajat ini merosot, manakala kita lebih menuruti hawa nafsu angkara murka. Allah senantiasa memberi jalan kebenaran sejati menuju dunia akhir, pasca kematian.

Tetapi, kita cenderung mengabaikannya. Terlalu sedikit orang menyadari hakekat hidup sejati. Dan, terlampau banyak yang terpesona harta dan kekuasaan dunia. Kita lupa, bahwa kematian datang kapan saja, menyudahi nafsu tak terbatas kita.

Sentuhan dan kampanye tentang urgensi nilai-nilai kemanusiaan pun jadi ‘tak laku’. Oleh karena dunia modern identik egoisme inheren. Indikator lain dalam tatanan formal, penghormatan HAM di negeri kita terjebak di tataran formalistik.

Belum ada kesungguhan, good will, dan ketulusan mengamalkan sepenuh hati. Perjuangan HAM dalam sejarahnya, bahkan banyak merenggut nyawa. Andai kita meneladani kecintaan Nabi Ibrahim As kepada Allah, tentu penghargaan HAM kita tempatkan di level tertinggi dalam peradaban bangsa dan negara ini.

Tak pernah ada perjuangan tanpa pengorbanan. Perjuangan selalu diikuti pengorbanan. Dan, pengorbanan untuk perjuangan. Filosofi seperti ini benar adanya. Kita semua telah membuktikan sejak RI ini tegak di Bumi Pertiwi.

adha23

Masjid menjadi rumah indah menuju surga - photobucket.com

BANGSA kita mampu merdeka pada tahun 1945, bukan tiba-tiba. Perjuangan teramat panjang telah banyak merenggut jiwa dan harta nenek moyang kita. Pengorbanan para pejuang yang kini jadi pahlawan kita.

Inilah yang hilang dari kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini. Mari periksa diri sendiri, sebelum mencibir orang lain. Berapa banyak, dan apa saja yang kita dapat dari cara halal? Seberapa besar perjuangan kita berpijak kebenaran sejati?

Sebaliknya, seberapa banyak harta dan kekuasaan yang kita rengkuh melalui cara-cara instan atau mengabaikan kebenaran agama?  …. Kita telah banyak terpengaruh kehidupan serba instan ala negara modern (Barat).

Sikap dan mental kita tak mencerminkan lagi sebagai anak bangsa yang berbudaya adi luhung. Yang haram dan halal tak jelas batasnya. Kita cenderung tak mau berjuang dengan tetes keringat sendiri untuk memperoleh harta halal.

Sekadar ingin menjadi PNS, bahkan suka melalui pintu belakang. Suap-menyuap menjadi kebiasaan untuk membangun pegawai pemerintahan kita. Wajar kemudian muncul penipu-penipu CPNS.

Kalau pun lolos menjadi PNS, bukan pelayanan penuh pengabdian kepada rakyat. Sebaliknya, lebih terobsesi mencari uang tak resmi (pungli) untuk mengganti uang suap, sekaligus memperkaya diri.

Momentum Idul Adha, sepatutnya kita hayati. Mari renungkan diri untuk berselanjar pada kedalaman hati. Temukan diri sejati, sebagaimana fitra diri saat lahir dari rahim sang ibu.

Ibu yang senantiasa mencintai anak-anaknya. Nyawa seorang ibu senantiasa dipertaruhkan ketika melahirkan anak-anaknya. Namun, seberapa banyak dan besar kita membalasnya? Durhaka atau berbhakti kita ini?

Nabi Ismail As patut kita teladani pula. Ketika sang ayah mendapat wahyu untuk menyembelihnya, sedikit pun tiada keraguan menerimanya. Ismail justru menyambut gembira, dan meminta sang ayah segera melaksanakan perintah Allah.

Subhanallah… ! Nabi Ibrahim dan Ismail telah lulus ujian Allah Swt. Oleh karena itu Nabi Jibril datang memberitahu pada Ibrahim yang kesulitan menggorok leher Ibrahim. Bukannya menolong dengan menggantikan pedagang dari surga, melainkan meminta mengganti Ismail dengan hewan kurban.

Daging domba-domba pun bisa dinikmati kaum fakir miskin, sebagai bukti cinta sesama. Kini saatnya mengukur sejatinya diri kita. Siapakah saya? Mengapa ada di dunia? Untuk apa? Bagaimana bila kita dipanggil Allah sekarang? Semoga kita menemukan jalan sejati menuju surga. Amin ya robbal alamin! (*)

Ujian Jati Diri Kapoltabes

Posted in tajuk on Desember 6, 2008 by albertjoko
  • Menggugat Ketulusan Polri Mengabdi
  • Hikmah Perjudian di Kota Khatulistiwa
gambling

Wanita menjadi barang judi - illustrationbydido.com

KEPOLISIAN Republik Indonesia (Polri) akhirnya mengungkap secara transparan alasan penggantian Kapoltabes Pontianak, Kombes Pol Son Ani.

Pekan lalu, Kadiv Humas Polri, Irjen Abubakar Nataprawira menepis rumor pencopotan di balik penggantian Son Ani. Kata yang dipilih Abubakar adalah mutasi biasa, tour of duty, penyegaran di tubuh Polri.

Tenaga dan pikiran orang nomor satu di jajaran Poltabes Pontianak itu, diperlukan untuk mengemban tugas sebagai Deputi Biro Perencanaan dan Pengembangan (Renbang) Mabes Polri.

Suatu jabatan yang tak memerlukan pangkat lebih tinggi dari pangkat seorang Kapoltabes.

Rabu (2/12) kemarin, Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri tegas menyatakan telah mencopot tiga dari empat Kapoltabes di Indonesia. Antara lain, Kapoltabes Samarinda (Kaltim), Kapoltabes Pekanbaru (Riau), Kapoltabes Padang (Sumbar), dan Kapoltabes Pontianak (Kalbar).

Khusus Kapoltabes Padang dicopot dalam pekan ini. Tiga kapoltabes lainnya telah dicopot, bersamaan mutasi 78 perwira Polri, 21 November 2008.

Para kapoltabes tersebut, dianggap terbukti mengabaikan sikap tegas dan cepat menanggulangi perjudian di wilayah hukumnya. Kendati tak terlibat membekingi perjudian, kapoltabes yang tak mengambil inisiatif atas maraknya perjudian, dinilai membiarkan.

Kapoltabes yang tak tahu-menahu perjudian pun bisa dicopot, bila anggotanya terlibat. Tiada salah anak buah, komandan lah yang bersalah. Begitulah filosofi Kapolri.

400_f_7289849_aycywj25axifabixgscxb2jaalujav3b

KEBIJAKAN seperti ini, sebelumnya juga memakan korban di Kalbar. Tak tanggung-tanggung, jabatan Kapolda Kalbar saat itu Brigjen Pol Zainal Abidin Ishak, dicopot.

Alasan pimpinan Polri sama, Zainal dianggap membiarkan terjadinya illegal logging di hutan lindung Ketapang.

Pencopotan Zainal hanya beberapa hari setelah Tim Bareskrim Polri menyergap Kapolres Ketapang, AKBP Akhmad Sun’an, Kasatreskrim Polres Ketapang, AKP M Khadapy Marpaung, dan mantan Kapospol Airud Ketapang, Iptu Agus Luthfiardhi.

Ketiga pejabat Polri di Ketapang itu diduga terlibat penyelundupan kayu ke Malaysia senilai Rp 217 miliar. Apa arti kebijakan tegas Kapolri ini? Tujuan Kapolri, baik saat dijabat Jenderal Sutanto maupun Jenderal Bambang Hendarso, hakekatnya sama.

Pucuk pimpinan Polri ingin membuat masyarakat tertib, aman, dan nyaman. Judi dalam syair lagu Rhoma Irama, bisa membawa mati. Mati dalam arti sesungguhnya maupun mati akhlak.

Kenyataannya, judi makin memiskinkan rakyat. Tak ada dalam sejarah, orang jadi miliarder karena judi. Penyakit masyarakat ini justru membawa dampak luas di bidang keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas).

Penjudi yang kehabisan uang, potensial mencuri, merampok atau berbuat kejahatan lainnya. Secara moral, penjudi potensial bersikap dan bertindak menyimpangi norma adat, budaya dan hukum formil.

Kejahatan perjudian pun memiliki dampak buruk yang luas dalam masyarakat. Begitu besarnya mudaratnya, perjudian dilarang negara dan diharamkan agama.

Tak hanya Kapoltabes, warga negara yang baik tak akan membiarkan ‘virus’ perjudian di wilayahnya.  Sesungguhnya, perjudian tak hanya  tanggungjawab polisi.

Tindak perjudian menjadi tanggungjawab kita bersama, termasuk tokoh agama dan masyarakat. Polri menjadi institusi paling bertanggungjawab, semata-mata terkait tugas dan fungsinya menciptakan keamanan dan ketertiban masyarakat.

kapolridlm1

Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri - DETIK.COM

KENDATI demikian akan berbahaya, bila ada penegak hukum sengaja membiarkan praktik perjudian di wilayah hukum yang menjadi tanggungjawabnya. Ini sekaligus menjadi parameter integritas dan loyalitas tiap personel Polri kepada bangsa dan negara.

Apabila kejahatan kecil-kecil, semacam Toto Gelap (Togel), dingdong dan lainnya dibiarkan, bagaimana yang gede-gede? Jangan ditanya kejahatan berkualitas tinggi semacam illegal logging!

Kepekaan sangat diperlukan tiap personel polisi. Tegas juga tak boleh diabaikan. Dan, syarat yang bersifat niscaya adalah memiliki integritas tinggi. Polisi tak boleh lagi silau memandang tugas utamanya.

Tak boleh lagi memanfaatkan jabatan untuk mengail keuntungan. Kapolri memiliki imperative ideas membasmi gurita perjudian, pungli, hingga illegal logging, illegal mining, illegal fishing dan lainnya.

Premanisme jalanan maupun yang berdasi pun diberangus. Kapolri begitu menginginkan Polri kembali jatidirinya. Polri wajib menjadikan dirinya sebagai instituasi kepolisian sipil yang dipersenjatai.

Artinya, tiap personel polisi melekat status kesipilannya di tengah-tengah masyarakat. Senjata api (Senpi) yang dibawa, bukan alat untuk menakut-nakuti masyarakat.

Senpi hanya digunakan bila keadaan darurat, dan bersifat melumpuhkan saja. Tidak membunuh sebagaimana senpi tentara dalam peperangan. Di sinilah urgen dituntut sikap profesional, proporsional polisi.

Tiap anggota polisi tak boleh melupakan jatidiri dan sejarah kelahirannya. Polisi mengemban amanah menciptakan Kamtibmas. Menjadi polisi yang dicintai rakyat. Mampu melindungi atau mengayomi tanpa pamrih.

Stigma buruk polisi menakutkan rakyat harus dikikis habis. Polri ada, karena masyarakat memerlukan keamanan dan ketertiban. Kini, saatnya AKBP Asep Syahrudin menyiapkan diri secara lahir batin. Jangan sia-siakan amanah Kapolri.

Doa dan dukungan penuh masyarakat Pontianak mengiring tiap pelaksanaan tugas polisi yang berorientasi tugas utama dan pengabdian nyata pada masyarakat.  (*)

Selamat Datang Era Demokrasi Thailand

Posted in tajuk on Desember 6, 2008 by albertjoko
  • Thailand Memasuki Babak Kehidupan Baru
  • Belajar Kebijakan dari Sang Penoda Pemilu
ap0812020816

AIR mata bahagia dari impian hidup tanpa kezaliman - AP PHOTO

SELASA 2 Desember 2008 pagi, Pengadilan Konstitusi Thai menorehkan sejarah baru di Negeri Gajah Putih.

Pengadilan memutuskan membubarkan pemerintahan. Sejam kemudian, mahkota Perdana Menteri (PM) Somchai Wongsawat melayang.

Detik-detik menegangkan, sekaligus mencuatkan kecemasan terjadinya pertumpahan darah. Menghadapi situasi genting dan tak menentu, Wongsawat menunjukkan kebesaran jiwanya sebagai negarawan.

Kendati baru 75 hari memangku jabatan PM, ia memilih mundur. Tak ada perlawanan. Wongsawat menyerah tanpa syarat.

Adik ipar mantan PM Thaksin Shinawatra ini menyatakan tak pernah bekerja untuk diri sendiri, melainkan untuk bangsanya. Itu sebabnya Wongsawat tunduk putusan pengadilan.

Inilah yang patut dicontoh, terutama bagi elit politik Indonesia dari seorang Wongsawat. Apalagi, republik ini tak lama lagi menggelar pemilihan umum legislatif dan pemilihan presiden.

Yang patut diteladani lagi, Wongsawat tak tertarik menggunakan kekerasan dengan cara mengerahkan massa Baju Merah. Massa Front Demokrasi Bersatu Anti Kediktatoran (UDD).

Ia tahu betul betapa loyalnya massa Baju Merah. Tinggal perintah, massa militan dari Thailand Utara dan Timur Laut akan bergerak dan melawan.

Wongsawat tak seperti umumnya elit di Indonesia. Sedikit-sedikit suka mengerahkan massa untuk memaksakan kehendak.

Demokratisasi Thailand selangkah lebih maju. Kekuasaan di tangan rakyat yang diidam-idamkan rakyat telah tiba. Selamat memasuki gerbang dunia baru Thailand!

Tak hanya pegiat anti pemerintah, People’s Alliance for Democracy (PAD) yang menginginkan pemerintahan demokratis. Semua warga negara di dunia, termasuk di Indonesia mengimpikan terciptanya pemerintahan bersih, adil, makmur dengan menghargai nilai-nilai hak asasi manusia.

copy-of-ap0812020271811

PERDANA Menteri Somchai Wongsawat Terguling - AP PHOTO

BERAKHIRNYA pemerintahan Wongsawat, bukan lah semata-mata tekanan kuat barisan Aliansi Rakyat untuk Demokrasi (PAD) yang mencuatkan krisis politik.

Wongsawat mundur juga bukan karena desakan Kepala Staf Angkatan Darat, Anupong Paochinda, 26 November 2008. Putusan pengadilan lah yang menjadi ‘skak mat’ Wongsawat.

Ketua Pengadilan Konstitusi Thai, Chat Chalavorn memvonis People’s Power Party (PPP), partai yang dipimpin Wongsawat, bersalah. Melakukan kecurangan dalam Pemilu Desember 2007, sehingga tampil sebagai pemenang.

Pengadilan memutuskan membubarkan PPP, sekaligus pemerintahan Wongsawat. Dua partai lain yang bernasib sama, partai Machima Thipatai dan partai Chart Thai.

PPP merupakan partai besar dari koalisi tujuh partai di Thailand. Putusan pengadilan itu didasarkan pertimbangan penting dan mulia. Demokrasi dalam politik!

Putusan pengadilan ini diharapkan menjadi standar politik dan contoh. Hakekatnya, dalam politik urgen etika.  Berpolitik memerlukan kesantuan sebagai perwujudan budaya bangsa. Bukan set back ke abad lampau, di mana budaya dan taraf kehidupan masyarakat terbelakang.

Berpolitik di era global, patut menghindarkan dominasi kekuatan fisik. Di negara-negara fasis, kekuatan militer menjadi pisau politik. Demikian pula di negeri komunis.

Thailand telah menunjukkan diri. Tak ingin menyontek penyelenggaraan pemerintahan fasis maupun komunis. Pengadilan meyakinkan, partai-partai politik yang tidak jujur, dianggap hanya akan mengancam sistem demokrasi.

Sungguh luar biasa! Wongsawat pun tak kuasa melawan. Terlalu mahal, jika Wongsawat membangkang. Apalagi, selama ini dia dituding menyelewengkan kekuasaan dan menghalangi penyelidikan kakak iparnya, Thaksin yang korup serta menginjak-injak HAM di Thailand.

hakim-thailland_chart_ap

Ketua Pengadilan Konstitusi Thai, Chat Chalavorn - AP PHOTO

MELAWAN hanya memantik pertumpahan darah. Belum lagi tekanan dan opini dunia internasional. Negara mana pun, akan kehilangan jatidiri kalau menafikkan urgensi hukum.

Ketentuan formal yang mendasari terciptanya masyarakat dan negara, bersifat niscaya di abad global. Tiadanya penghargaan konstitusi, mengundang stigma tiran, fasis, komunis, bahkan barbar.

Wongsawat sadar. Ia tak ingin reputasinya makin hancur, dan bangsanya tercerai-berai. Kendati kita tak tahu apa yang ada dalam benak Wongsawat, setidaknya politisi yang dituding sebagai boneka Thaksin itu telah memberi pelajaran teramat berharga.

Di luar mainstream pemerintahan Wongsawat, PAD mendapat sokongan militer dan Raja Thailand. Tak heran, jika tentara hanya show of force. Nyaris tiada kekejaman, ‘lazim’-nya tindakan represif militer.

Polisi antihuru-hara pun memilih balik kanan, saat mendapat perlawanan massa PAD yang memblokir bandara internasional Suvarnabhumi beberapa hari lalu.

Wongsawat sadar betul rapuhnya dukungan aparat keamanan, meski telah mencopot Kepala Polisi Nasional, Jenderal Pacharawat Wongsuwan.

Kini rakyat Thailand berpesta. Menyambut era dan babak baru negerinya. Akankah Deputi Perdana Menteri, Chavarat Charnveerakul yang ditunjuk menjadi pejabat sementara PM Thailand, mampu mewujudkan impian rakyat?

Atau justru sebaliknya, Chavarat membangun pemerintahan lebih rapuh dan tiran dibanding Thaksin? Hanya Tuhan yang tahu. Yang pasti, mulai pukul 09.00 2 Desember 2008, bandara Suvarnabhumi dibuka kembali.

Thailand tak perlu kehilangan pendapatan Rp 72 triliuan sampai akhir Desember 2008. Ratusan rute penerbangan ke negara lain, dan sebaliknya berangsur pulih. Pemerintah RI pun tak perlu panik menjemput ratusan WNI di Thailand. (*)

Horor Mumbai dan Jati Diri Pejabat BI

Posted in tajuk on November 27, 2008 by albertjoko
  • Tragedi Kemanusiaan Berselimut Politik Narsis
  • Kontemplasi Hidup Sang Pejabat Pabrik Uang
300434-01-02

Taj Hotel Mumbai Membara Dalam Drama Serangan Enam Jam - AP PHOTO

KAMIS (27/11), menjadi hari buruk di dunia. Serangan bersenjata kelompok yang menamakan diri Mujahidin Dakkah mengguncang Taj Hotel Mumbai India.

Serangan bersenjata disertai ledakan granat telah merenggut lebih dari seratus nyawa. Sekelompok teroris ini membidik warga negara Amerika Serikat dan Inggris.

Sekitar enam jam, horor maut melanda Taj Hotel. Tragedi kemanusiaan kembali membuahkan tangis dunia, pasca serangan 11 September terhadap World Trade Center di AS dan bom Bali, 2002.

Sungguh mengerikan, dan memilukan menatap begitu banyak tubuh manusia tewas berlumuran darah di seputar Taj Hotel. Manusia seolah tak berharga lagi. Apa pun dalihnya, kejahatan terorisme seperti ini, hanya menciptakan nestapa baru.

Orang-orang tak bersalah, dan tak tahu menahu politik, ikut menjadi korban. Mereka bukan orang-orang yang berpaham selibat. Ratusan korban itu memiliki keluarga, kerabat dan sahabat. Betapa banyak orang berduka atas serangan maut yang mendadak itu.

Benarkah Tuhan mengajarkan pembunuhan massif seperti ini? Tiada seayat pun di kitab agama mana pun yang menghalalkan nyawa untuk mengajak anak manusia memasuki jalan ke surga.

Sekelompok anak muda yang menembaki dan memborbardir Taj Hotel, boleh jadi mengklaim sebagai mujahidin Dakkah. Tetapi sungguh naif, jika mengatasnamakan Islam sejati.

holygod4

Cahaya Islam Menciptakan Keindahan Dunia Akhirat - photobucket.com

AGAMA Islam sungguh agung dan mulia. Agama Islam begitu menyanjung perdamaian. Nabi Besar Muhammad Saw telah membuktikan, bahwa Islam begitu cinta akan perdamaian.

Rasulullah hanya berperang melawan kekuatan iblis yang ingin memusnahkan umat Islam, bukan menembaki orang-orang tak bersalah. Nabi Muhammad pula telah memberi teladan kita semua, betapa sabarnya beliau menghadapi orang-orang yang sempat membencinya.

Olokan dan lemparan batu, dibalasnya dengan cinta kasih. Terbukti ketika sang penista jatuh sakit, justru Rasulullah lah orang pertama yang menjenguk dan memberi roti serta kurma.

Kenyataan ini menunjukkan betapa ekstremnya perbedaan klaim-klaim kelompok teroris yang menghalalkan nyawa manusia dengan apa yang diperbuat junjungan umat Islam di dunia. Kelompok teroris di India, mungkin pula Osama bin Laden hingga kelompok Amrozi, naif disejajarkan semangatnya membela Islam.

Darah baru mengucur, nyawa baru melayang, apabila umat Islam diberangus penguasa zalim. Jihad mempertahankan agama menjadi kewajiban!

Jihad itu sungguh mulia. Tak bisa disejajarkan dengan serangan teroris yang kenyataannya membawa korban orang-orang tak bersalah. Orang-orang yang tidak memiliki kaitan dan afiliasi terhadap kezaliman maupun motif politik dengan subjek sasaran utama.

Berpesta lah iblis menyaksikan bunuh-membunuh anak Adam di dunia. Seolah-olah ingin membela agama, justru digelincirkan syetan ke kubangan neraka jahanam. Seolah-olah dekat Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang, kenyataannya sangat berjauhan.

Syetan makin cerdas dan pintar menguasai anak-anak Adam yang tersihir peradaban modern saat ini. Umat manusia cenderung silau, tak mampu menatap dengan gamblang jalan berliku menuju kebahagiaan sejati pascakematian.

DITAHAN KPK

Mantan Deputi Gubernur BI Aulia Pohan Akhirnya Ditahan KPK - FOTO ANTARA

KETULUSAN dan kejujuran sejati menurut agama, saat ini menjadi langka. Syetan senantiasa membisikkan jalan berliku menuju ‘surga’ dunia belaka. Ruh- ruh ahli neraka ini mengajak manusia menikmati dunia tanpa batas nafsu.

Oleh karena itu mereka mengabaikan belas kasih kepada sesama, apalagi terhadap flora, fauna maupun bebatuan ciptaan Allah Swt di dunia. Manusia telah banyak digelincirkan syetan. Jadilah tragedi-tragedi kemanusiaan di dunia, termasuk peristiwa berdarah di Mumbai India.

Dalam realita sehari-hari, bekerjanya syetan bisa kita temukan dalam sikap dan perbuatan pejabat-pejabat yang gemar mengambil harta negara, harta rakyat di negeri kita. Kolusi, nepotisme dan korupsi, terus menggurita.

Perbuatan korup, jelas bukan pengamalan agama mana pun. Tiada seayat pula yang menghalalkan penikmatan harta yang bukan milik kita. Mana yang haq dan batil sungguh berbeda 180 derajat.

Kenyataannya, terlalau banyak pejabat kita tergelincir bujuk-rayu syetan. Rata-rata mereka ingin kaya mendadak dengan harta melimpah-ruah, yang seolah-olah bisa dibawa mati. Terlampau banyak disebutkan, hampir tiap wilayah di negeri ini telah terperosok ke KKN.

Di pusat apalagi. Tak pandang bulu, pejabat di berbagai instansi larut dalam korupsi. Yang mengejutkan bangsa ini dulu, kasus suap kepada Ketua Tim Jaksa Penyelidik kasus pengembalian aset Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI), Urip Tri Gunawan.

Kasus serupa juga melanda Anggota Komisioner Komisi Pengawas Persaingan usaha (KPPU), M Iqbal. Para wakil rakyat, Hamka Yandhu dan Anthony Zeidra dari Golkar pun tak kuasa menahan nafsu menguasai dana Rp 35 miliar dari Rp 100 miliar yang disediakan Bank Indonesia.

Kamis (27/11) sore pun menjadi hari buruk bagi Aulia Pohan, Maman Soemantri, Bun Bunan Hutapea, dan Aslim Tadjuddin. Keempat mantan deputi gubernur BI itu ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Mereka dianggap bertanggungjawab atas mengalirnya dana Rp 100 miliar dalam penyelamatan para petinggi BI yang tersandung perkara di Kejaksaan Agung, dan menyuap DPR terkait revisi UU BI. Saatnya kita renungkan, apa sejatinya hidup kita ini. (*)