Untuk Apa Hidup?

Posted in religi on November 5, 2012 by albertjoko

ASAL MULA – Manusia lahir, hidup dan mati dari tanah kembali ke tanah

 

SUFYAN bin Abdullah berkata:  “Ya Rasulullah, terangkan kepadaku tentang Islam. Aku tidak akan bertanya lagi kepada orang lain.”  Rasulullah SAW menjawab: “Ikrarkanlah (katakan), Aku beriman kepada Allah, kemudian berlakul ah jujur (istiqomah).” (HR Muslim)

Peliharalah (perintah dan larangan) Allah, niscaya kamu selalu merasakan kehadiran-Nya. Kenalilah Allah saat kamu senang, niscaya Allah mengenalimu saat kamu dalam kesulitan.  Ketahuilah, apa yang luput dari kamu adalah sesuatu yang pasti tak mengenaimu, dan apa yang akan mengenaimu pasti tak akan meleset dari kamu. Kemenangan (keberhasilan) hanya dapat dicapai dengan kesabaran. Kelonggaran bersamaan kesusahan, dan datangnya kesulitan bersamaan kemudahan. (HR Tirmidzi)

Iman terbagi dua, separo dalam sabar, dan separo dalam syukur. (HR Al-Baihaqi)

Pokok segala urusan ialah Al Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya (atapnya) berjihad. (HR Tirmidzi)

Tiada lurus iman seorang hamba, sehingga lurus hatinya. Dan, tiada lurus hatinya, sehingga lurus lidahnya. (HR Ahmad)

HANYA ALLAH – Hanya Allah SWT punyak pengabdian kehidupan manusia

UMAT terdahulu selamat (jaya), karena teguhnya keyakinan dan zuhud. Dan, umat terakhir kelak binasa, karena kekikiran (harta dan jiwa) dan cita-cita kosong.” (Ibnu Abi Ad-Dunia)

Menyitir pemikiran Direktur LKIM Pondok Pesantren Ali Maksum Krapyak, Mukhtar Salim MAg, sebagai agama haq, Islam menegaskan posisi manusia di dunia sebagai `abdullah (hamba Allah).  Posisi ini menunjukkan bahwa, tujuan hidup manusia di dunia sejatinya mengabdi atau beribadah kepada Allah SWT.

Mengabdi kepada Allah SWT adalah, taat dan patuh seluruh perintah Allah, dengan menjalankan seluruh perintah-perintah-Nya, dan menjauhi seluruh larangan-Nya dalam segala aspek kehidupan.

Allah SWT Berfirman
“Dan, aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS Adz-Dzariyat: 56)

“Padahal mereka tidak disuruh, melainkan supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus (tauhid, dan supaya mereka mendirikan shalat serta menunaikan zakat. Dan, yang demikian itulah agama lurus.” (QS Al Bayyinah: 5)

Wirid Hati Rabu Dinihari
Jakarta 31 Oktober 2012

Mutiara Sakit

Posted in religi on November 5, 2012 by albertjoko

SAKIT – Sabar dan ikhtiar kunci ujian sakit

Rasulullah SAW bersabda 
“Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus-menerus, kepayahan, penyakit, juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengan dosa-dosanya.” (HR Muslim)

“Bencana senantiasa menimpa orang mukmin dan mukminah, anaknya dan hartanya, sehingga ia berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak ada kesalahan pada dirinya.” (HR Tirmidzi, Ahmad, Al-Hakim dan Ibnu Hibban)”Sesungguhnya Allah benar-benar akan menguji hambaNya dengan penyakit, sehingga ia menghapuskan setiap dosa darinya.” (HR Al-Hakim)

“Allah menurunkan penyakit dan menurunkan pula obatnya, diketahui oleh yang mengetahui dan tidak akan diketahui oleh orang yang tidak mengerti.” (HR Bukhari dan Muslim)

“Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba-Nya, disegerakan baginya kesusahan (balasan) selagi di dunia. Sebaliknya, jika Allah menghendaki kejahatan bagi hamba-Nya, ditangguhkan pembalasan kepadanya hingga hari Kiamat.” (HR At-Tirmizi: 2395, Hadis Hasan, Sahih Al-Jami’ As-Saghir: 308)

SENYUM MUSLIMAH – Pandai bersyukur atas semua cobaan dan ujian Allah SWT

“Apabila seorang hamba sakit sedang dia biasa melakukan sesuatu kebaikan, maka Allah berfirman kepada malaikat: “Catatlah bagi hambaKu pahala seperti yang biasa ia lakukan ketika sehat.” (HR Abu Hanifah)”Allah tidak menjadikan penyembuhanmu dengan apa yang diharamkan atas kamu.” (HR. Al-Baihaqi)

“Mohonlah kepada Allah keselamatan dan afiat (kesehatan). Sesungguhnya tiada sesuatu pemberian Allah sesudah keyakinan (iman) lebih baik daripada kesehatan.” (HR Ibnu Majah)

Allah SWT Berfirman 
“Tidak ada kesusahan (atau bala bencana) yang menimpa (seseorang), melainkan dengan izin Allah. Dan, siapa yang beriman kepada Allah, Allah akan memimpin hatinya (untuk menerima apa yang telah berlaku itu dengan tenang dan sabar) dan (ingatlah), Allah Maha Mengetahui akan tiap-tiap sesuatu.” (QS At-Tagaabun: 11)

Wirid Hati Senin Dinihari
Jakarta 29 Oktober 2012

Prasangka

Posted in religi on November 5, 2012 by albertjoko

Sabda Rasulullah SAW

Jauhilah olehmu purbasangka. Sesungguhnya purbasangka itu pendusta benar (sedusta-dustanya pembicaraan). Dan, janganlah kamu mendengar rahasia orang. Jangan mengintip aib orang. Jangan tambah-menambahi harga untuk menipu. Jangan saling mendengki, benci-membenci. Dan, jangan pula bermusuhan. Jadilah kamu hamba Allah yang bersaudara.” (HR Abu Daud dari Abdullah bin Maslamah)

Firman Allah SWT
“Hai orang-orang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, serta janganlah sebagian kamu     mempergunjingkan sebagian yang lain..” (Al-Hujurat: 12)

Wirid Hati Minggu Dinihari
Jakarta 28 Oktober 2012

Congkak vs Miskin

Posted in religi on Oktober 26, 2012 by albertjoko

Kesombongan merupakan simbol tirisnya iman manusia akibat pedaya syaitan

Sabda Rasulullah SAW:  “Surga dan neraka berbantah-bantahan.”

  • Neraka berkata: Orang-orang congkak dan sombong memasukiku.
  • Surga berkata: Orang-orang lemah dan orang-orang miskin memasukiku.

 

Allah SWT berfirman

  • Kepada neraka: Kau adalah siksa-Ku, denganmu Aku menyiksa siapa pun yang Aku kehendaki.
  • Kepada surga: Kau adalah rahmat-Ku, denganmu Aku merahmati siapa saja yang Aku kehendaki dan masing-masing dari kalian berdua berisi penuh. (HR Muslim No:5081)

Wirid Hati Sabtu Dinihari
Jakarta  27 Oktober 2012

Kemuliaan Berqurban

Posted in religi on Oktober 25, 2012 by albertjoko

Wajib bagi muslimin yang mampu demi cinta kepada Allah SWT

Arti
Dalam Bahasa Arab, Udhhiyyah. Idhhiyyah, Dhahiyyah, Dhihiyyah, Adhhat, Idhhat dan Dhahiyyah, berarti hewan yang disembelih dengan tujuan taqarrub atau mendekatkan diri kepada Allah pada hari raya Idul Adha sampai akhir hari-hari tasyriq.

Kata-kata tersebut berasal dari dhhahwah. Disebut demikian, karena awal waktu pelaksanaannya dhuha. (Lisanul Arab 19:211, Mu’jam Al-Wasith 1:537)

Hukum

Firman Allah SWT:
“Maka dirikanlah shalat, karena Rabbmu, dan berkurbanlah.” (Al-Kautsar:2)

“Dan, kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian dari syi’ar Allah.” (Al-Hajj:36)

Hukum qurban sunnah muakkadah bagi yang mampu, sebagaimana diriwayatkan bahwa Nabi SAW, berqurban dengan menyembelih dua ekor domba jantan berwarna putih dan bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelih dengan menyebut Asma Allah dan bertakbir, serta meletakkan kaki beliau di sisi tubuh domba itu. (Hadits Muttafaq ‘Alaih)

Hewan

  • Hewan yang akan diqurbankan hendaklah diperhatikan usianya.
  • Unta usia 5 tahun, sapi 2 tahun, kambing setahun atau hampir setahun.
  • Ulama madzhab Maliki dan Hanafi membolehkan kambing berumur 6 bulan, asal gemuk dan sehat (Al-Mughni: 9:439, Ahkamu Adz-Dzabaih oleh Dr M Abdul Qadir Abu Faris:132)

Firman Allah SWT:
“Supaya mereka menyebut nama Allah terhadap hewan ternak yang telah dirizkikan Allah kepada mereka.” (Al-Hajj:34)

Sabda Rasulullah SAW:
“Empat cacat yang tidak mencukupi dalam berqurban adalah hewan buta yang jelas, sakit yang nyata, pincang yang sampai kelihatan tulang rusuknya, dan lumpuh atau kurus yang tidak kunjung sembuh.” (HR at-Tirmidzi)

Cinta Nabi Ibrahim kepada Allah SWT melampui apapun yang beliau miliki, termasuk anak kandung sendiri

Waktu

Setelah Shalat Idul Adha usai, penyembelihan baru diizinkan dan berakhir saat tenggelam matahari hari tasyriq atau 13 Dzulhijjah. (Ibnu Katsir, 3/301)

Sabda Nabi SAW:
“Siapa yang menyembelih sebelum shalat (Ied), maka sesungguhnya ia menyembelih untuk dirinya sendiri, dan siapa menyembelih setelah shalat, maka sungguh dia telah menyempurnakan qurbannya dan sesuai sunnah kaum muslimin.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Perlakuan

Sabda Rasulullah SAW:
“Sesungguhnya Allah Ta’ala mewajibkan berbuat baik kepada segala sesuatu, maka jika kalian membunuh, bunuhlah dengan cara yang baik. Jaka kalian menyembelih, sembelihlah dengan cara yang baik. Haruslah seseorang mengasah mata pedangnya, dan membuat nyaman hewan sembelihannya.” (HR al-Jamaah kecuali al-Bukhari).

Rasulullah SAW menyuruh agar mempertajam pisau dan menyembunyikan dari pandangan hewan yang akan disembelih. (Ibnu Umar ra)

Ibnu Abbas ra mengkisahkan seseorang yang membaringkan kambing, sedang ia masih mengasah pedangnya.

Sabda Nabi SAW:
“Apakah kamu akan membunuhnya berkali-kali? Mengapa tidak kamu asah pedang sebelum membaringkannya.” (HR al-Hakim).

Umar bin Khaththab ra pernah memukul orang yang menjauhkan, atau menutupi penyembelihan dari hewan-hewan lain, sebab itu termasuk menyakiti dan menjauhkan rahmat. (Mughni al-Muhtaj: 4/272)

Memberi minum atau memperlakukan binatang qurban dengan sebaik-baiknya. (Al-Halal wal Haram: 58)

Penyembelihan

Disunnahkan bagi yang bisa menyembelih agar menyembelih sendiri. Orang yang tak bisa menyembelih sendiri, hendaklah menyaksikan dan menghadirinya.

Doa Rasulullah SAW:
“Bismillah wallahu Akbar, Ya Allah ini dariku dan dari orang yang tidak bisa berqurban dari umatku.” (HR Abu Daud dan At-Tirmidzi).

Pembagian

Firman Allah SWT:
“Maka makanlah sebagiannya (dan sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang sengsara lagi fakir.” (Al-Hajj: 28)

“Maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta), dan orang yang meminta.” (Al-Hajj: 36).

Sebagian kaum salaf lebih menyukai membagi qurban menjadi tiga bagian. Sepertiga untuk diri sendiri, sepertiga untuk hadiah orang-orang mampu, dan sepertiga lagi shadaqah untuk fuqara. (Tafsir Ibnu Katsir: 3/300)

Perhatikan usia, kesehatan dan berat hewan qurban

Anjuran

Apabila seseorang ingin berqurban dan memasuki Bulan Dzulhijjah, agar tak memotong atau mengambil rambut, kuku atau kulitnya sampai dia menyembelih hewannya.

Sabda Rasulullah SAW:
“Jika kamu melihat hilal Bulan Dzulhijjah dan salah seorang di antara kamu ingin berqurban, hendaklah menahan diri dari (memotong) rambut dan kukunya.” (HR Ummu Salamah ra)

Hal ini, mungkin untuk menyerupai orang yang menunaikan ibadah haji yang menuntun hewan qurbannya.

Firman Allah SWT:
“…dan jangan kamu mencukur (rambut) kepalamu, sebelum qurban sampai di tempat penyembelihannya …” (Al-Baqarah: 196)

Larangan ini, menurut zhahirnya, hanya dikhususkan bagi orang yang berkurban, tidak termasuk istri dan anak-anaknya, kecuali jika masing-masing dari mereka berqurban.

Hikmah

  1. Bersyukur kepada Allah atas nikmat hayat (kehidupan) yang diberikan.
  2. Menghidupkan ajaran Nabi Ibrahim kholilullah (kekasih Allah) `alaihis salaam yang ketika itu Allah memerintahkan beliau untuk menyembelih anak tercintanya sebagai tebusan, yaitu Ismail `alaihis salaam ketika hari an nahr (Idul Adha).
  3. Agar setiap mukmin mengingat kesabaran Nabi Ibrahim dan Isma’il `alaihimas salaam, yang ini membuahkan ketaatan pada Allah dan kecintaan pada-Nya lebih dari diri sendiri dan anak.
  4. Ibadah qurban lebih baik daripada bersedekah dengan uang yang senilai hewan qurban.

“Penyembelihan yang dilakukan di waktu mulia lebih tepat daripada sedekah senilai penyembelihan tersebut. Oleh karenanya, jika seseorang bersedekah untuk menggantikan kewajiban penyembelihan pada manasik tamattu’ dan qiron, meskipun dengan sedekah bernilai berlipat ganda, tak bisa menyamai keutamaan udhiyah.” (Ibnul Qayyim)

Renungan Hati Jumat Dinihari
Jakarta 26 Oktober 2012

Tauladan Ibu PKL Miskin

Posted in obrolan ati on Oktober 24, 2012 by albertjoko

Gambar

BLOK S, blok S! Seru seorang sobat muda sambil mondar-mandir di depan meja kerjaku, menjelang tengah malam, Selasa 23 Oktober 2012.

Seperti biasa, sobat-sobat muda di kantor suka bercanda. Canda sebagai bumbu merajut tali silaturrahmi yang nyaris sulit didapat di ibukota, atau sekedar mengusir kepenatan kerja di kala malam larut.

Seruan si sobat muda ini bak pemantik “nyanyian.” Langgam lagu yang bersyair singkat dan sama. “Blok S, blok S!” Begitu sobat-sobat yang lain berseru bersahut-sahutan, bak nyanyian.

Saya memahami maksud sobat-sobat muda ini, kendati saya belum pernah tahu keistimewaan Blok S di Jakarta. Dan, memang bukan mengajak pergi ke Blok S, melainkan sekedar jalan-jalan dan makan di kedai-kedai berlampu neon di antara remang-remang Kota Jakarta.

Bisa dimaklumi, kala malam larut, apalagi dinihari, tentu langka restoran buka 24 jam. Kalau pun ada, di gedung-gedung pencakar langit dengan varian kafe atau hotel and cafe.

Ayo! Sekarang kah?” jawabku ketika sobat-sobat muda pada senyam-senyum. Jadilah kami berenam keluar kantor dinihari. Saya ikut saja ke mana sobat muda menancap gas mobil, mencari kedai-kedai neon di saat Jakarta terbebas kemacetan dinihari.

Sekitar 15 menitan melaju santai, arah mobil tak lagi menuju ke kawasan Hangtuah, Jakarta Selatan. Di kawasan PKL makanan dan minuman ini, ada nasi goreng kambing, lumayan enak dan relatif murah.

“Jadi, kita ke mana ini?” tanyaku pada sobat-sobat muda yang tampak riang melepas kepenatan kerja. “Blok M, Cak!” sahut sobat muda yang duduk di samping sobat yang menginisiasi keluar cari makanan.

Sejenak terbayang dalam benakku. Apa masih ada makanan di bilangan elite pada jam 02.30 WIB, Rabu 24 Oktober 2012? Saya diam saja sambil sesekali menikmati rokok tanpa asap kendaraan motor di Kota Batavia.

Tak lama kemudian, laju mobil melambat hingga berhenti di kawasan Bulungan, Jakarta Selatan. Setelah melongok ke sana-kemari sejenak, mobil kembali bergerak pelahan. Rupanya, kedai yang dicari sudah pada tutup.

Gambar

Joke Taman Ayodya
Jadilah mobil diparkir di pinggiran Taman Ayodya, masih kawasan Bulungan. Begitu aku turun, sempat tercenung sejenak saat menatap kerumunan kaum adam dan hawa berdua-duaan di atas rerumputan, di sela-sela tumbuhan atau di balik bangunan.

“Apa yang dicari di malam dingin begini? Mengapa tidak menggunakan waktu sepertiga malam di atas sajadah, atau istirahat,” begitu tanyaku dalam hati. “Ada apa Cak? Pengen sate paha?” seloroh sohib muda sambil tersenyum.

“Memang sate paha apa?” tanyaku. “Ya, beli sate kambing, ayam atau tikus, tapi dapat paha perempuan,” jelas sobat muda lalu cekikikan. “Edan!” seruku. Saya pun jadi bahan guyonan para sobat muda, layaknya orangtua yang katrok dunia gila kaum muda.

Beruntung mutar-muter di kawasan berkosmis syahwat ini tak lama. Allah Maha Penolong. Menu yang dicari para sobat muda ternyata sudah tutup juga, sehingga mereka memutuskan balik ke Aa’ di Kebayoran Lama, dekat kantor.

Semula saya tak mengerti sebutan Aa,’ saya kira panggilan kakak dalam dunia Arabian. Ternyata, warung mie instan di emperan toko yang terletak di sudut kantor. Begitu tiba di kedai Aa’ saya pun hanya bisa geleng-geleng kepala.

“Kenapa kita putar-putar, kalau hanya makan di sini?” ujarku sambil ngelus dada. Ya, namanya anak-anak muda, para sobat hanya tertawa. Setidaknya mereka berhasil mengerjai saya. Puas bercanda, kami memesan mie instan.

Gambar

Shalat Di Emperan
Jarum jam kala itu telah menunjuk sekitar pukul 03.05 WIB. Ketika kami hendak menikmati mie-mie dalam mangkok yang tersaji, ada pemandangan teramat istimewa.

Di depan kedai mie instan emperan toko, seorang ibu berdiri tanpa gerak menghadap ke arah kiblat. Ibu ini berdiri di atas kertas seadanya, di antara rombong jualan teh atau kopi. Suara riuh, celoteh yang kadang disertai tawa cekakakan, tak mengusik ketenangannya.

Sang muslimah ini tetap khusyuk menunaikan shalat malam. Iseng-iseng aku jepret menggunakan blackberry. “Coba kamu amati foto ini!” kataku sambil menyodorkan hasil jepretan ke sobat-sobat muda.

Para sobat terdiam saja. “Nih, golongan kaum yang sangat berpeluang masuk surga. Dia miskin tapi begitu cinta Allah SWT,” begitu kataku, sok tahu. “Coba kamu cari, berapa banyak orang-orang seperti dia di Kota Jakarta ini! Mungkin hanya hitungan jari,” tandasku mencoba meyakinkan para sobat muda.

Lagi-lagi para sobat hanya tersenyum tanpa kata-kata. “Bayangkan, tanpa rumah dan di saat semua orang tertidur pulas, dia ingat Allah dan menyembah-Nya,” kataku, membuat para sobat terdiam.

“Dia, patut jadi cermin bagi kita. Dan, jangan malu meneladani orang miskin yang saleh. Kita ini sering merasa pintar, hebat, elite dan berkuasa, tapi justru dia lah yang akan masuk surga,” celotehku.

Benar lah itu. Saya haqqul yaqin. Menatap gerak dan bahasa tubuh sang muslimah pedagang teh itu, saya teringat petuah-petuah ustadz, sobatku di Surabaya sekitar 10 tahun silam.

Kala itu, saya diingatkan bagaimana indahnya keutamaan mencintai kaum fakir miskin. Ada delapan hal yang tetap kuingat. “Pertama, mencintai orang miskin itu termasuk kebaikan,” tutur ustadz sohibku, kala itu. Beliau kemudian menyitir hadits Nabi SAW.

Wahai Muhammad, apabila engkau shalat, ucapkanlah doa, Allahumma inni as-aluka fi’lal khairaat wa tarkal munkaroot wa hubbal masaakiin, wa an taghfirolii wa tarhamanii, wa idza aradta fitnata qawmin fatawaffanii ghaira maftuunin. As-aluka hubbak wa hubba maa yuhibbuk wa hubba `amalan yuqorribu ilaa hubbik.

Artinya yang kuingat adalah, Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk mudah melakukan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran, serta aku memohon kepada-Mu supaya bisa mencintai orang miskin. Ampunilah (dosa-dosa)ku, rahmatilah aku. Jika Engkau menginginkan untuk menguji suatu kaum, maka wafatkanlah aku dalam keadaan tidak terfitnah. Saya memohon agar dapat mencintai-Mu, mencintai orang-orang yang mencintai-Mu, dan mencintai amal yang dapat mendekatkan diriku kepada cinta-Mu.

“Ini adalah benar. Belajar dan pelajarilah,” seru sang ustadz, menyitir hadist, HR Tirmidzi No 3235 dan Ahmad 5: 243.

Gambar

Cinta Allah
Keutamaan yang kedua, kata ustadz sohibku, mencintai orang miskin dan dekat dengan mereka akan memudahkan hisab seorang muslim pada hari kiamat.

Beliaupun mengutip Sabda Rasulullah SAW, “Barangsiapa menghilangkan satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, Allah akan menghilangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Dan, barangsiapa memudahkan kesulitan orang yang dililit utang, Allah akan memudahkan atasnya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim No 2699)

Ustadz sohibku pun terdiam, sebelum mengutip hadist yang bertalian. “Dua hal yang tak disukai manusia. Kematian, padahal kematian itu baik bagi muslim tatkala fitnah melanda. Dan, yang tak disukai pula, sedikit harta, padahal sedikit harta menyebabkan manusia mudah dihisab (pada hari kiamat).” (HR Ahmad 5: 427)

Benar dalam benakku. Mungkin tak seorang pun menetapkan mati sebagai cita-cita. “Lalu, keutamaan ketiga, dekat dengan orang miskin, berarti semakin dekat dengan Allah pada hari kiamat,” kata sang ustadz.

Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, matikanlah aku dalam keadaan miskin, dan kumpulkanlah aku bersama orang-orang miskin pada hari kiamat,” kata ustadz, mengutip hadist Tirmidzi.

`Aisyah berkata, Mengapa wahai Rasulullah, engkau meminta demikian? “Orang-orang miskin itu masuk ke surga 40 tahun, sebelum orang-orang kaya. Wahai `Aisyah, janganlah engkau menolak orang miskin walau dengan sebelah kurma. Wahai `Aisyah, cintailah orang miskin dan dekatlah dengan mereka karena Allah akan dekat dengan-Mu pada hari kiamat,” jawab Rasulullah. (HR Tirmidzi No 2352)

“Dan, mencintai orang miskin adalah landasan kecintaan pada Allah juga,” jelas ustadz tentang keutamaan keempat, mencintai orang miskin.

“Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena-Nya, memberi karena-Nya, dan tidak memberi juga karena-Nya, maka ia telah sempurna imannya.” (HR Abu Daud No 4681, Tirmidzi No 2521 dan Ahmad 3: 438)

Sang utadz kala itu makin bersemangat, ketika menjelaskan keutamaan kelima mencintai orang miskin, karena termasuk wasiat Rasulullah SAW.

“Kekasihku (Rasulullah) shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepadaku dengan tujuh hal. Pertama, supaya aku mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka. Kedua, beliau memerintahkan aku, agar melihat orang yang berada di bawahku dan tidak melihat orang yang berada di atasku. Ketiga, beliau memerintahkan agar aku menyambung silaturahmiku meskipun mereka berlaku kasar kepadaku. Keempat, aku dianjurkan memperbanyak ucapan Laa haula wa laa quwwata illa billah (tak ada daya dan upaya kecuali atas pertolongan Allah). Kelima, aku diperintah mengatakan kebenaran, meskipun pahit. Keenam, beliau berwasiat agar aku tidak takut celaan orang yang mencela dalam berdakwah kepada Allah, dan ketujuh beliau menasihatiku agar tidak meminta-minta sesuatu pun kepada manusia.” (HR Ahmad 5: 159)

Gambar

Termasuk Jihad
Uraian hadist yang begitu gamblang. Saya pun manggut-manggut mendengarnya. Ustadz sohibku kemudian menjelaskan keutamaan keenam, memperjuangkan kehidupan orang miskin itu termasuk jihad di jalan Allah.

“Orang yang membiayai kehidupan para janda dan orang-orang miskin, bagaikan orang yang berjihad fii sabiilillaah. Dan, bagaikan orang yang shalat tanpa merasa bosan, serta bagaikan orang yang berpuasa terus-menerus.” (HR Muslim No 2982)

Usai mendengar penjelasan ustadz ini, hatiku serasa adem dan memadat bak batu cadas. “Mengapa aku sering memalingkan muka kepada kaum miskin, bahkan seolah mereka sampah masyarakat,” begitu kata hatiku, penuh penyesalan.

Nah, kini yang (keutamaan) ketujuh!” seruh ustadz, menghentikan lamunanku. “Menolong orang miskin akan mudah memperoleh rizki dan pertolongan Allah, serta mudah mendapatkan barokah doa mereka,” jelas beliau.

“Kalian hanyalah mendapat pertolongan dan rizki dengan sebab adanya orang-orang lemah dari kalangan kalian” (HR Bukhari No 2896)

Ustadz sohibku kemudian memperjelas dengan mengutip hadist, HR an-Nasai No 3178. “Sesungguhnya Allah menolong umat ini dengan sebab orang-orang lemah mereka di antara mereka, yaitu dengan doa, shalat, dan keikhlasan mereka.”

Petuah Ibnu Baththol, “Ibadah orang-orang lemah dan doa mereka lebih ikhlas dan lebih terasa khusyuk, karena mereka tak punya ketergantungan hati pada dunia dan perhiasannya. Hati mereka pun jauh dari yang lain, kecuali dekat kepada Allah saja. Amalan mereka bersih dan doa mereka mudah diijabahi (dikabulkan)”. Al Muhallab berkata, “Yang Nabi shallallahu `alaihi wa sallam maksudkan adalah dorongan bagi Sa’ad agar bersifat tawadhu’, tidak sombong dan tidak usah menoleh pada harta yang ada pada mukmin lain” (Syarh al-Bukhari li Ibni Baththol, 9: 114)

Gambar

Nikmat Bersyukur
“Keutamaan yang kedelapan adalah, memiliki sifat tawadhu’ dan qona’ah,” tutur ustadz. Beliau kembali menunjukkan tuntunan melalui cakrawala hadist.

“Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.” (HR Muslim No 2963)

Mengenai konsepsi orang miskin dalam Islam, ustadz sohibku mengingatkan, bahwa bukanlah pengemis yang sering kita temukan sedang meminta-meminta di traffic light, jalanan atau yang door to door di permukiman.

“Perlu dipahami, orang miskin mana yang pantas dicintai? Tentu bukan orang miskin yang musyrik. Tentu bukan orang yang sering meninggalkan shalat, atau yang lebih parah, tidak pernah shalat,” tegas ustadz sohibku.

“Bukan pula yang malas puasa wajib di bulan suci Ramadhan. Tentu saja bukan juga yang gemar melakukan ajaran, yang tidak ada tuntunan dalam Islam,” tandas ustadz, memperingatkanku.

“Jadi, orang miskin yang bagaimanakah, Gus?” tanyaku. “Yang patut dicintai adalah, seorang muslim yang taat. Jadi, bukan masuk kategori miskin, jika malas-malasan bekerja, hanya menjadikan cara meminta-minta di jalan sebagai profesi harian,” jelas beliau.

Ustad sohibku kemudian mengajak meresapi makna hadits dari Abu Hurairah ra, di mana meriwayatkan Sabda Rasulullah SAW.

“Namanya miskin, bukanlah orang yang tidak menolak satu atau dua suap makanan. Akan tetapi miskin adalah orang yang tidak punya kecukupan, lantas ia malu atau tidak meminta dengan cara mendesak.” (HR Bukhari No 1476)

“Subhanallah…!” seruku. Selama ini banyak di antara kita yang tak paham konsepsi miskin dalam Ajaran Islam yang rahmatan lil al-Amin.

Sebelum mengakhiri ngaji menjelang Subuh, ustadz sohibku minta saya mengamalkan firman Allah SWT tentang ketawakalan.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang apabila disebut Asma Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan Ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), serta hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (QS Al Anfaal:2).

Alhamdulillah… ingatanku menjadi segar kembali atas pencerahan hati dari ustadz sohibku 10 tahun silam. Dan, Alhamdulillah pula kepada ibu pedagang yang shalat dinihari di emperan tokoh Kebayoran Lama. Muslimah miskin patut menjadi tauladan kalbu yang galau. Amin, amin, ya robba al-Amin.

Obrolan Hati Kamis Dinihari
Jakarta 25 Oktober 2012

Senjata Pemusnah Spiritualitas Muslim

Posted in perang on Agustus 10, 2012 by albertjoko
Sirkuit Qolbu

Neraca keseimbangan jiwa dan raga manusia

JIKA rumor ini benar, petaka bagi muslimin di dunia. Seorang analis politik terkemuka asal Amerika Serikat, mengungkap rahasia pemusnahan potensi spiritualitas yang dirancang negerinya.

Adalah Kevin Barrett, yang membocorkan bahwa negaranya sedang merencanakan produksi senjata biologis yang mampu memusnahkan bagian otak manusia berkaitan potensi spiritualitas.

“Video tentang Pentagon yang dibocorkan kelompok hacker anonim, menampilkan detail rencana militer AS mengembangkan dan menyebarkan senjata biologis yang mampu menghancurkan penerimaan orang terhadap agama,” begitu tulis Barret dalam artikel yang dilansir Press TV, 9 Agustus 2012 lalu.

“Senjata ini ditargetkan untuk populasi Muslim,” tegas Barrett. Aktivis Muslim-Jewish-Christian Alliance (MUJCA) ini menuturkan, senjata biologis yang masih dalam perencanaan itu akan didistribusikan dengan cara disisipkan dalam vaksin penyakit flu. Gila!

Barrett menyebut, materi biologis itu mampu mengubah ekspresi genom manusia untuk memproduksi semacam lobotomi kimia.

“Kultur dari masyarakat Islam adalah budaya yang sangat religius. Kekuatan religius inilah yang mengikat masyarakat Islam bersatu,” jelasnya.

Muslimah

Regenerasi kaum muslimah pun terancam

“Pemusnahan terhadap ciri utama dari budaya 1,5 miliar orang ini, secara lebih jauh, merupakan genosida terburuk yang pernah diupayakan atau terpikirkan,” tandas Barrett, memperingatkan kaum muslimin.

Rencana negeri Paman sam itu bertujuan untuk menumpas seluruh bentuk resistensi religius dan spiritual. “Ini ditujukan untuk mendapatkan kekuasaan lebih luas,” tulis Barrett, meyakinkan.

Program yang memberangus hakekat kemanusiaan itu dinilai sebagai ancaman bagi seluruh aspek kemanusiaan, di mana semua agama dan spiritualitas selalu menuntut adanya keadilan bagi seluruh umat manusia.

Astaghfirullahal adzim wa atubu ilaykh…